1,721,000 research outputs found
Pemerintahan Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar di Kerajaan Mughal 1556-1605
Skripsi ini menjelaskan studi tentang Pemerintahan Sultan Jalaluddin
Muhammad Akbar di Kerajaan Mughal. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk
mendeskripsikan dan menganalisis secara interpretatif latar belakang kehidupan
Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar. 2) Untuk mendeskripsikan dan menganalisis
secara interpretatif usaha-usaha Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar dalam
pemerintahan di kerajaan Mughal. 3) Untuk mendeskripsikan dan menganalisis
secara interpretatif pengaruh pemerintahan Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar di
India.
Penulis menggunakan bebereapa pendekatan, diantaranya adalah pendekatan
historis, agama, sosiologi dan antropologi. Penelitian ini adalah jenis penelitian
sejarah dengan menggunakan data kualitatif. Data diperoleh melalui penelitian
pustaka atau Library Research. Library Research yaitu penelitian dengan mengambil
beberapa literature dari buku-buku atau kajian pustaka sebagai bahan pendukung.
Langkah-langkah penelitian yang dilakukan adalah heuristik, kritik, interpretasi, dan
historiografi.
Dari penelitian ini ditemukan: 1) Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar adalah
raja ketiga dari kerajaan Mughal dan ia merupakan keturunan dari Bangsa Mongol.
2) Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar melakukan banyak usaha dalam
pemerintahannya di kerajaan Mughal, seperti aspek politik dengan diterapkannya
politik sulakhul dan aspek keagamaan yang ditandai dengan dibentuknya Ibadat
Khana dan Din-i-Ilahi. Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar juga melakukan usaha
perluasan wilayah kekuasaan. Ia menjadikan kerajaan Mughal sebagai kerajaan
penguasa India saat itu. 3) Di masa pemerintahan Sultan Jalaluddin Muhammad
Akbar, kerajaan Mughal mencapai puncak kejayaan yang meliputi bidang politik,
agama, ekonomi, seni budaya, sosial, dan ilmu pengetahuan
PERAN SULTAN JALALUDDIN MUHAMMAD AKBAR DALAM PENGEMBANGAN LITERATUR INDIA DI KESULTANAN MUGHAL
The objective of this research was to know (1) the life of Sultan Jalaluddin
Muhammad Akbar, (2) roles of Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar in the
development of Indian literature in the Mughal Empire and (3) the literature
development impacts the world of science in the Mughal empire. This research is
more focused on the role played by Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar. This
research was conducted by the method of historical research with the type research
was the study of literature and as well as qualitative research. The approach used
was a sociological approach, the concept of social role. The collecting data
techniques used was documentation. The analysis of data was done in this research
was Historical analysis technique that consists of four stages, namely: heuristic,
verification, interpretation, and historiography. Based on this research, it was able
to be elaborated that: (1) Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar was a descendant of
two great rulers of Central Asia and beyond, that Tamerlane (Ethnic Turk) and
Chengis Khan (Mongol), which were known to both the ruling tolerant religion.
Therefore, the position of Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar was marking the
union of two great family spirit of the Central Asia. (2) The role of Sultan Jalaluddin
Muhammad Akbar in the development of Indian literature in the Mughal sultanate
can be known by his policies. The policies are: translating Indian literature into
Persian, promoting literature writing, and protecting the development of regional
literature. The most prominent development of Indian literature during the time of
Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar is the development of Persian literature, the
field of historical writing, and local languages, mainly Sanskrit and Hindi. (3) The
existence of literature development conducted by Sultan Jalaluddin Muhammad
Akbar, both directly and indirectly impacts the world of science in the Mughal
empire. These impacts are: (a) high book production (b) developing science; (c)
advanced education; (d) advanced libraries; (e) the appearance of the poet; (f) the
appearance of translators and historians; (g) illustrated book develops
KONSEP DIN-I-ILAHI JALALUDDIN MUHAMMAD AKBAR (1556-1605)
Raja Jalaluddin Muhammad Akbar adalah seorang pemimpin Kerajaan Mughal pada tahun 1556-1605 M. Ia sendiri juga dikenal sebagai Raja yang memiliki sifat toleransi tinggi kepada semua agama-agama. Disebut juga Din-i-Ilahi yang memiliki arti dan pemaknaan yang berbeda bagi setiap orang mempelajarinya. Sebagian orang berfikir bahwa Din-i-Ilahi adalah agama baru, kemudian aliran sesat, serta tatanan aturan baru seperti bentuk perundang-undangan. Oleh sebab itu, Din-i-Ilahi menimbulkan kekacauan kontoversi antara setiap agama-agama di masa itu. Demikian halnya terjadi disebabkan beberapa para sejarawan memberikan penerjemahan secara tidak benar dan menjadikan para peneliti lainnya ikut serta memberikan masukan buruk terhadap Din-i-Ilahi. Walaupun demikian, hanya sebagian saja yang memberikan penjelasan secara pro dan kontra sehingga tidak begitu menimbulkan bentuk yang sangat buruk. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretatif, mencari tahu akar-akar Din-i-Ilahi, serta menjelaskan kembali dengan benar konsep-konsep dari Din-i-Ilahi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sejarah (historical aproach). Dalam metode pengumpulan data penulis gunakan adalah penelitian pustaka (library research). Yang menjadikan sumber utama pada penelitian ini adalah The Ain-i-Akbari tulisan asli dari Abu Fazl. Analisis dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu menjelaskan suatu fenomena dengan mendalam dan dilakukan mengumpulkan data sedalam-dalamnya kemudian dianalisis secara kritis dan menganalisa masa lampau.
Hasil dari penelitian ini disimpulkan bahwa peneliti dapat menemukan akar-akar dari Din-i-Ilahi serta menjelaskan secara rinci konsep-konsep dari Din-i-Ilahi. Kebenaran yang ditemukan bahwa Din-i-Ilahi adalah Tauhid Ilahi dan bukan sebagai agama baru melainkan suatu keteraturan yang dibuat oleh Raja Jalaluddin Muhammad Akbar. Tauhid Ilahi tidak lain adalah suatu perkumpulan yang tidak ada maksud dan hubungannya dengan agama Islam, agama Hindu, ataupun agama lainnya. Terbentuknya Tauhid Ilahi berdasarkan motif politik dan peristiwa keagamaan yang terjadi di Kerajaan Mughal. Tauhid Ilahi hanya bertahan hingga Raja Jalaluddin Muhammad Akbar meninggal dan tidak dilanjutkan oleh penerus Kerajaan Mughal yakni Pangeran Salim. Oleh sebab itu, Tauhid Ilahi disuguhkan melalui para sejarawan dalam memberikan keterangan dan penjelasan yang akurat. Sehingga para peneliti lainnya yang ingin melakukan penelitian terhadap Din-i-Ilahi atau Tauhid Ilahi bisa dilakukan secara baik dan benar
JEJAK SANG PENYAIR PERSIA: CORAK SASTRA SUFISTIK JALALUDDIN MUHAMMAD MAULAVI DALAM KARYANYA “MATSNAWI”
his paper analyzes sufistic literature of Jalaluddin Muhammad Maulavi through<br />his works Matsnawi al-Ma‟nawi. Based on analyze, this book not only contain basic<br />principles of religion, but also contain other universal values. His view about unity of<br />existence (wahdatul wujud) is the character of his thought about live and the existence of<br />God. Love can deliver human in real peace and happiness. Besides, Maulavi has his own<br />view about woman. Woman is people bring in positive and negative energy. The Sufis<br />describes woman as creature having same ability with man. Although in certain phrase,<br />he dramatizes woman position as despicable creature. <br /><br /></jats:p
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
