32 research outputs found

    PENINGKATAN DAKTILITAS HOLLOW PILE DENGAN PENAMBAHAN RATIO SPIRAL DAN BETON COR SETEMPAT

    Get PDF
    AbstrakPrecast hollow pile adalah jenis tiang pancang yang banyak digunakan di Indonesia, Berdasarkan SNI 03-1726-2012 pasal 7.14.2.2.5, tiang pancang sebagai bagian dari struktur harus mampu berprilaku daktail dalam mendisipasi energi akibat beban gempa terutama pada peralihan lapisan tanah lunak dan tanah keras. Penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa hollow pile tidak dapat berprilaku daktail sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan hollow pile yang mampu berprilaku daktail sesuai dengan yang disyaratkan. Metode penelitian ini, dilakukan dengan analisa perhitungan manual dan finite element dengan program Abaqus 6.10 dan Xtract 3.6.  Model benda uji di bagi menjadi tiga, yaitu model 1 (model validasi eksisting), model 2 (hollow pile dengan ratio volumetric spiral maksimum ACI dan SNI), dan model 3 hollow pile dengan penambahan material beton cor 67.8 MPa didalam rongga. Pada hasil penelitian, model 1 menunjukan hasil yang hampir sama dengan hasil eksperimental sebelumnya. Sedangkan, model 2 terjadi peningkatan daktilitas displacement sebesar 82.1 % dan daktilitas kurvatur sebesar 96.84%, model 3 terjadi peningkatan daktilitas displacement sebesar 88.97 % dan daktilitas kurvatur 137.15%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penambahan material beton cor dan ratio volumetric spiral memberikan dampak yang baik pada peningkatan nilai daktilitas tetapi belum cukup untuk memenuhi persyaratan minimum yang disyaratkan dalam peraturan di Indonesia.Kata kunci: Tiang Pancang Bulat Berongga, Daktilitas Simpangan, Kurvatur, Daktilitas

    Re-Design Jembatan THP dengan Sistem Box Girder Segmental

    Get PDF
    Jembatan Surabaya atau yang lebih dikenal oleh warga Surabaya dengan jembatan THP Kenjeran, dibangun diatas laut atau pantai kenjeran dengan menghubungkan Jl. Raya Pantai Lama (sisi utara) dengan Jl. Sukolilo Lor (sisi selatan). Merupakan jembatan baru dan menjadi ikonik di Kota Surabaya, sehingga banyak didatangi pengunjung dari berbagai tempat. Didesain menggunakan struktur beton pratekan, dimana balok I-Girder menjadi gelagar utama, Pier Head sebagai tumpuan perletakan gelagar, pilar beton sebagai penyangga, dan tentunya pondasi tiang pancang sebagai pendukung struktur atas jembatan. Karena dengan bentang jembatan yang tidak panjang, yaitu 32 meter, dan membutuhkan banyak pilar, sehingga volume beton yang diperlukan untuk membangun Jembatan Surabaya menjadi besar dan kurang efisien. Maka penulis merencanakan penelitian ulang dengan memodifikasi jembatan menjadi sistem box girder segmental dengan bentang 48 meter guna mengoptimasi jumlah pier head dan pilar, dan diharapkan menjadi lebih efisien. Penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data – data perencanaan dan literatur yang diperlukan seperti jurnal, buku referensi, dan sumber lainnya. Dalam penelitian ini akan mengacu pada SNI 1725-2016, SNI 2833-2016, dan RSNI T-02-2005 yang dikhususkan untuk merencanakan struktur jembatan. Hasil akhir dari penelitian ini adalah mendapatkan bentuk dan dimensi penampang box girder dengan tinggi 3,2 meter dan lebar 16 meter, jumlah tendon prtegang 18 tendon dengan masing-masing tendon memiliki 24 strand, dan jumlah pilar berkurang dari 7 pilar menjadi 5 pilar dengan jumlah atau kuantiti volume beton yang sama seperti perencanaan sebelumnya

    ANALISIS PERKUATAN STRUKTUR GEDUNG PASCA KEBAKARAN DENGAN PENAMBAHAN PROFIL SIKU SEBAGAI PERKUATAN STRUKTUR BALOK

    Get PDF
    Beton yang mengalami kebakaran pada suhu diatas 200°C dapat menyebabkan mutu beton mengalami penurunan, sehingga mengakibatkan penurunan kekuatan struktur. Masalah ini dapat diselesaikan dengan perkuatan struktur yaitu dengan penambahan profil untuk perkuatan struktur balok pasca kebakaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan kekuatan struktur balok pasca kebakaran dengan penambahan profil siku. Hasil analisis yang dilakukan bahwa nilai momen nominal balok pasca kebakaran pada suhu 900°C dengan durasi 3 jam pada beton dan 2 jam pada baja tulangan sebelum penambahan profil siku menunjukan nilai momen nominal Mn = 7161,7 Kg.m  Mu = 8231 kg.m pada balok 1 (ekterior) dan Mn = 7891,8Kg.m  Mu = 8096,41 kg.m pada balok 1 (interior). Setelah penambahan profil siku dengan dimensi profil L65x65x7 pada balok pasca kebakaran menunjukan nilai momen nominal mengalami kenaikan dengan Mn = 24927,03 kg.m  Mu = 8096,41.kg.m pada balok 1 (interior) dan Mn = 16449,5 kg.m   Mu = 8231 kg.m pada balok 1 (eksterior)

    STUDI PERBANDINGAN NILAI DAKTILITAS HOLLOW PILE DENGAN DAN TANPA PENAMBAHAN MATERIAL PENGISI BETON COR SETEMPAT

    Get PDF
    Precast hollow pile diameter 600 mm, adalah jenis tiang pancang yang umum digunakan dikontruksi Indonesia. Berdasarkan SNI 03-1726-2013 pasal 7.14.2.2.5, tiang pancang sebagai bagian dari struktur bawah diharuskan untuk bisa berprilaku daktail dalam mendisipasi energi akibat beban gempa dan akibat tahanan lateral pada peralihan lapisan tanah lunak dan tanah keras.Penelitian eksperimental sebelumnya yang dilakukan oleh Budek et al (1997), menyimpulkan bahwa tiang pancang jenis hollow pile tidak dapat berprilaku daktail, hal ini ditunjukan dari hasil uji daktilitas displacement dan kurvatur yang tidak memenuhi persyaratan minimum. Pada penelitian ini, hasil eksperimental digunakan sebagai validasi untuk benda uji model 1 yaitu analisa perhitungan manual dan finite element dengan program bantu Abaqus 6.10 dan Xtract 3.6 untuk tiang pancang eksisting tanpa pengisi, dan dengan mengacu kepada metode yang sama, penelitian dilakukan terhadap model 2  yaitu hollow pile dengan penambahan material beton cor 67.8 MPa. Hasil analisa penelitian pada model 1, menunjukan bahwa hollow pile eksisting tidak dapat berprilaku daktail sesuai dengan persayaratan SNI maupun ACI. Sedangkan model 2 menunjukan peningkatan yang signifikan terhadap nilai daktilitas yaitu sebesar 88.9 % untuk daktilitas displacement dan 137.15 % untuk daktilitas kurvatur. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa, penambahan material beton cor ke dalam rongga adalah salah satu cara effektif peningkatan nilai daktilitas tiang pancang jenis hollow pile

    STUDI PENGARUH STRUKTUR BAWAH PADA FLYOVER JLLB SURABAYA TERHADAP PENGGUNAAN PRECAST CONCRETE-I GIRDER DAN PRECAST CONCRETE-U GIRDER

    Get PDF
    Volume kendaraan bermotor pada kota-kota besar, khususnya di Surabaya, semakin lama semakin meningkat yang akhirnya berdampak terhadap kemacetan lalu-lintas. Dalam mengatasi pertambahan volume kendaraan terutama di Surabaya bagian barat, pemerintah setempat membangun flyover Jalan Lingkar Luar Barat guna memberi solusi terhadap kemacetan di Surabaya. Pada penelitian ini diharapkan bisa mengetahui perbandingan penggunaan PC-I girder dengan PC-U girder. pada flyover JLLB Metode yang digunakan untuk perhitungan balok prategang adalah fully prestressed atau prategang penuh. Pada penelitian ini, perbandingan penggunaan PC-I girder dengan PC-U girder pada flyover JLLB yang dimana ditinjaui dari segi perilaku, reaksi dan juga dampak terhadap struktur jembatan secara keseluruhan dari sebuah struktur tersebut. Dalam Analisa perhitungan struktur menggunakan bantuan software SAP 2000 V.14.2.5. Berdasarkan hasil analisis perhitungan yang telah dilakukan terdapat perbedaan.

    STUDI PERBANDINGAN PERILAKU STRUKTUR BANGUNAN TERHADAP POSISI DINDING GESER

    Get PDF
    Sistem ganda (open frame dan shearwall) telah banyak digunakan dalam pembangunan struktur gedung bertingkat tahan gempadi Indonesia. Bentuk dan penempatan shearwall untuk sistem ganda pun beragam. Dalam aplikasinya di lapangan, shearwall di tempatkan di sisi luar atau di bagian tengah sebuah struktur bangunan. Untuk mengetahui letak shearwall yang lebih efektif, akan dibandingkan dua buah struktur bangunan 10 lantai dengan menggunakan sistem ganda. Perbedaan analisis terletak pada penempatan shearwall, di sisi luar dan di tengah struktur bangunan. Hasil dari perbandingan kedua struktur ini berupa analisis perioda getar struktur, partisipasi massa, simpangan, dan gaya geser gempa. Dimana struktur dengan letak shearwall di sisi luar (struktur tipe 1) bangunanlebih efektif dari pada struktur dengan shearwall di tengah (struktur tipe 2) struktur bangunan. Kesimpulan ini diperoleh berdasarkan hasil analisis bahwa periode getar struktur tipe 2 tidak memenuhi periode getar ijin, partisipasi massa struktur tipe2 lebih besar 1,01%, simpangan struktur tipe2 lebih besar 1,1% dan gaya geser gempa struktur tipe2 lebih besar 3,04% dari pada struktur tipe1

    Penambahan Stressing Bar Pada Perencanaan Struktur Baja Gedung Parkir di Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

    Get PDF
    Perencanaan pada gedung parkir terpusat di Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya dengan acuan data survey SRP volume puncak kendaraan oleh made dkk (2017) jumlah kendaraan yang parkir 1299 motor, angka ini akan meningkat pada kondisi tertentu hingga mencapai 2000 kendaraan. Gedung parkir terpusat direncanakan dengan menggunakan metode strukrur baja konvensional, dalam perencanaan ini dilakukan peninjauan salah satu girder-nya yang direncanakan dengan penambahan stressing bar (baja pratengang) pada sayap bawah girder. Berdasarkan hasil perbandingan dalam perencanaan dengan menggunakan metode strukrur baja konvensional profil girder menggunakan WF350x175x7x11 dengan ratio momen 0.8, metode ini mendapatkan profil yang lebih besar dibandingkan dengan cara penambahan stressing bar (baja pratengan) yang menggunakan profil girder WF300x150x6.5x7 didapatkan ratio momen 0.87 dengan strand mutu G270 diameter 9.5 mm dan tarikan sebesar 9272.81 kg. Dalam penggunaan profil WF300x150x6.5x9 dengan penambahan stressing bar dapat mengefisiensi berat tiap balok utamanya hingga ±25%. Tetapi dengan penambahan stressing bar pada balok utama akan menambah waktu dalam pelaksanaannya di lapangan

    Comparative Performance of Precast Column-To-Foundation Connections: A Review

    Get PDF
    Since the introduction of precast concrete as a structural element in the early 20th century, precast concrete has evolved significantly into an essential construction technology in various modern construction projects. This is due to several advantages of precast concrete, such as time efficiency, relatively lower costs, good quality control, and environmental friendliness. However, precast con- crete also has disadvantages when applied as part of a seismic-resistant building framework, primarily in the connection between elements, which does not per- form as well as monolithic joints in terms of structural performance. The precast column-to-foundation connection is one of the most critical connections, as it experiences the largest axial-moment combination forces in a structure. Com- monly used types of precast connections include pocket connections, baseplates, anchor connections, and grouting sleeves. The results of previous research reviews suggest that pocket connections demonstrate reliable structural performance, pro- vided the column’s embedment length into the foundation exceeds 1.0 Diameter. Meanwhile, the structural performance of baseplate and anchor connections is significantly influenced by the thickness of the baseplate, the number of anchors, and their configuration. For grouting sleeve connections, the key factors are the diameter and spacing of the sleeves, as well as the length of the reinforcement bars. On average, test results for precast column-to-foundation connections indicate that all the connections above can achieve the strength of monolithic joints. However, structural performance characteristics such as ductility, energy dissipation, and stiffness degradation require further modifications to match the performance of cast-in-place monolithic joints

    Redesign Struktur Gedung Rusun dengan Half Slab System dan Balok Precast U-Shell

    Get PDF
    Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi konstruksi di Indonesia, dibuktikan dengan semakin banyaknya gedung bertingkat tinggi yang telah dibangun. Seiring dengan perkembangan tersebut, diperlukan inovasi – inovasi dari enginner untuk mendapatkan solusi yang efektif dan efisien untuk perencanaan gedung bertingkat, salah satunya pengunaan beton precast / pracetak. Penelitian ini bertujuan untuk Mendapatkan hasil perbandingan reaksi struktur berat keseluruhan dengan metode balok Precast U-shell dan pelat Half Slab terhadap reaksi struktur berat keseluruhan pada kondisi eksisting. fungsi U-Shell disini sebagai bekisting permanen. Pada dasarnya perencanaan balok U-Shell sama dengan perencanaan balok dengan menggunakan metode konvensional, namun yang membedakannya adalah pada perencanaan balok U-Shell harus menghitung kondisi pemasangan saat usia beton masih mudah. Sehingga dengan kondisi tersebut harus memperhitungkan kapasitas tulangan untuk mencegah terjadinya retak, metode precast U-Shell dibutuhkan analisa dan desain tersendiri yang tidak diperhitungkan dalam menganalisa beton secara monolite atau konvensional. Dengan hasil sebesar Perbandingan berat struktur dari kedua pemodelan terdapat perbedanaan selisih pada pemodelan eksisting struktur lebih ringan 408,558 ton terhadap struktur kondisi remodeling, hal ini dipengaruhi karena dimensi pada kondisi eksisting lebih bervasiasi dibandingkan dengan remodeling dan untuk persentase perbadingannya antar pemodelan mendapatkan nilai sebesar 17 %

    Modifikasi Struktur Jembatan Sumber Sari, Kalimantan Timur dengan menggunakan Sistem Busur

    Get PDF
    Indonesia merupakan negara kepulauan, serta dilewati oleh sungai-sungai di setiap pulaunya. Jembatan memiliki peranan yang penting di Indonesia, jembatan bentang panjang maupun bentang pendek yang menghubungkan antar pulau maupun dengan hambatan sungai telah banyak dibangun di Indonesia. Penelitian ini fokus pada Perencanaan Jembataan dengan menggunakan sistem busur baja yang mengandung nilai seni, selain memiliki struktur yang kuat, jembatan ini juga memiliki nilai estetika yang tinggi. Jembatan Sumber Sari, yang terletak di Kutai Barat, Kalimantan Timur memiliki bentang 82 m dengan 2 lajur kendaraan masing-masing selebar 4 m. Jembatan ini merupakan Jembatan bentang Panjang. Tahap awal perencanaan adalah perencanaan bangunan atas yang terdiri dari lantai kendaraan dan trotoar, gelagar memanjang dan gelagar melintang, kemudian konstruksi pemikul utama. Analisa dengan menggunakan program SAP 2000 dilakukan setelah dketahui beban – beban yang bekerja pada konstruksi tersebut untuk mendapatkan gaya – gaya dalam yang bekerja, khususnya untuk konstruksi pemikul utama dan konstruksi sekundernya. Setelah gaya – gaya tersebut diketahui besarnya maka dilakukan perhitungan kontrol tegangan dan perhitungan sambungan. Untuk struktur bangunan bawah direncanakan abutment (kepala jembatan) dengan pondasi tiang pancang
    corecore