1,721,003 research outputs found
Strategi penyampaian materi salat dalam pembelajaran pendidikan agama islam di SDN se Kelurahan Pendahara Kabupaten Katingan Kecamatan Tewang Sangalang Garing
Penelitian ini dilatar belakangi dari hasil observasi yang penulis lakukan pada siswa kelas VI di SDN sekelurahan Pendahara Kecamatan Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan dengan hasil bahwa mereka masih belum bisa menghafal bacaan Ṣalat dan mempraktekan gerakan Ṣalat dengan baik dan benar. Keadaan ini tentunya mengindikasikan telah terjadi permasalahan pada strategi penyampaian pembelajaran yang dilakukan oleh para guru SDN se Kelurahan Pendahara Kecamatan Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan, oleh sebab itu maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisi media, interaksi, dan bentuk pembelajaran Ṣalat di SDN se Kelurahan Pendahara Kecamatan Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan.
Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kualitatif dengan jenis kualitatif deskriptif, penelitian ini dilakukan di SDN se Kelurahan Pendahara Kecamatan Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan, subyek penelitian ini adalah guru 3 guru PAI di SDN se Kelurahan Pendahara dan informan adalah kepala sekolah dan siswa kelas II. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi, kemudian teknik analisis data yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data sedangkan teknik pengabsahan mengunakan triangulasi sumber dan metode.
Hasil penelitian ini adalah: 1) Media pembelajaran yang digunakan di SDN se Kelurahan Pendahara Kecamatan Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan adalah papan tulis, orang dan buku, 2) Interaksi guru dan siswa yang terjadi di SDN se Kelurahan Pendahara Kecamatan Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan adalah interaksi satu arah, 3) Bentuk pembelajaran yang dilakukan di SDN se Kelurahan Pendahara Kecamatan Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan yaitu bentuk pembelajaran dalam kelompok kecil.
Abstract
This research is based on the results of observations made by the author on grade VI students at SDN in Pendahara sub-district, Tewang Sangalang Garing District, Katingan Regency with the result that they still cannot memorize prayer readings and practice prayer movements properly and correctly. This situation certainly indicates that there has been a problem in the delivery strategy of learning carried out by SDN teachers in Pendahara Village, Tewang Sangalang Garing District, Katingan Regency, therefore this study aims to describe and analyze media, interactions, and forms of prayer learning in SDN in the Kelurahan. Pendahara, Tewang Sangalang Garing District, Katingan Regency.
This research is a qualitative research with a descriptive qualitative type, this research was conducted in SDN throughout Pendahara Village, Tewang Sangalang Garing District, Katingan Regency, the subjects of this study were 3 PAI teachers in SDNs throughout Pendahara Village and the informants were the principal and grade II students. Data collection techniques used observation, interview and documentation techniques, then data analysis techniques were data collection, data reduction, data presentation, and data verification, while the validation technique used source and method triangulation.
The results of this study are: 1) The learning media carried out in SDN throughout Pendahara Village, Tewang Sangalang Garing District, Katingan Regency are blackboards, people and books, 2) Teacher-student interactions that occur in SDNs in Pendahara Village, Tewang Sangalang Garing District, Katingan Regency are One-way interaction, 3) The form of learning carried out in SDNs in Pendahara Village, Tewang Sangalang Garing District, Katingan Regency, is a form of learning in small groups
SISTEM POLITIK DAULAH/KERAJAAN: KONSEPSI, BENTUK PEMERINTAHAN DAN INSTITUSI POLITIK ALIRAN SYI’AH
Perang Shiffin berakhir dengan arbitrase yang berakibat terbentuknya tiga fraksi politik waktu itu, pertama golongan khawarij, kedua golongan muawiyah, dan ketiga golongan Ali yang kemudian terkenal dengan sebutan Syi’ah. Kaum Syi’ah adalah pengikut setia Ali bin Abi Thalib. Keyakinan mereka yang amat tinggi kepadanya membawa kepada satu keyakinan bahwa Ali Bin Abi Thalib adalah al-Khalifah al-Mukhtar (khalifah terpilih) dari Nabi Muhammad Saw., karena dianggap sahabat terbaik di antara sahabat-sahabat lain. Artinya mereka meyakini bahwa yang berhak mengendalikan pemerintahan pasca Nabi meninggal adalah Iman; baik kepemimpinan politik maupun kepemimpinan spiritual (agama). Dan jabatan Imam adalah istimewa ahlul al-bait (keluarga Nabi), yaitu Ali Bin Abi Thalib dan keturunanya. Dalam hubungan ini al-Muzaffar mengatakan “kami meyakini bahwa Imamah adalah salah satu ajaran Islam yang fundamental (ushul al-din), dan keyakinan seseorang tak pernah menjadi sempurna tanpa meyakini imamah itu”. Tulisan ini mengupas sisi lain dari perkembangan aliran politik syi’ah dalam peradaban Islam. Tulisan ini menggunakan pendekatan sejarah dan sosiologi Politik. pergolakan politik mazhab Syi’ah dalam pentas sejarah Islam melahirkan paham dan sekte-sekte yang beragam dan saling berseberangan. Para pemimpin dalam sekte Syi’ah saling mengklaim dan berebut pengaruh untuk mendapatkan pengikut dari dulu hingga sekarang. harus diakui dalam peta sejarah Islam Mazhab Syi’ah telah mampu membangun sebuah peradaban dan memberikan kontribusi dalam peradaban Islam ketika mazhab Syi’ah Ismailiyah membangun dinasti Fatimiyyah di mesir. Konsep Imamah dalam Mazhab Syi’ah merupakan konsep yang mempercayai Ali bin Abi Thalib yang berhak menggantikan posisi Nabi Muhammad sebagai pemimpin agama dan pemimpin Negara dari pada sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman. Sebagian sekte-sekte tersebut tidak mengakui akan kepemimpinan Abu Bakar. Umar, dan Utsman dan menganggap mereka telah merampas hak Ali bin Abi Thalib sebagai penerima wasiat dari Nabi. Namun di sisi lain sekte-sekte syi’ah ada juga yang mengakui dan menerima kepemimpinan Abu Bakr, Umar, dan Utsman, sebagaimana halnya Syi’ah Zaidiyah namun tidak semua pecahan dari sekte Zaidiyah ini memiliki satu pendapat tentang hal demikian
PEMBAGIAN WARIS PADA MASYARAKAT BIMA DI TINJAU DARI ASPEK SOSIOLOGI HUKUM
Pembagian waris pada masyarakat Bima sangat mengedepankan asas hukum Islam yang dianggap sebagai yang utama untuk menyelesaikan persoalan waris tersebut. Namun disisi lain juga justru persoalan warisan menjadi salah satu aspek yang menimbulkan perselisihan yang berimbas pada renggangnya silaturahmi antara sesama saudara kandung, paman, bibi, dan bukan saaudara kandung. Bahkan yang lebih parah lagi adalah mengklaim warisan milik anak yatim dan piatu hanya karena hubungan sedarah dengan orang tua anak tersebut. Perilaku tersebut disebabkan karena menganggap anak yang ditinggalkan tersebut tidak memiliki pendidikan atau pemahaman tentang masalah tersebut. Tulisan ini mencoba mengurai pola pembagian waris pada masyarakat Bima di tinjau dari aspek sosiologi hukum. Tulisan ini akan menggunakan pendekatan sosiologi Hukum dengan teori Hukum sebagai perilku sosial. Digunakan untuk melihat implementasi perubahan perilaku kehidupan masyarakat Bima dalam hal pembagian harta waris. Persoalan warisan menjadi salah satu aspek yang menimbulkan perselisihan yang berimbas pada renggangnya silaturahmi antara sesama saudara kandung, paman, bibi, dan bukan saaudara kandung. Bahkan yang lebih parah lagi adalah mengklaim warisan milik anak yatim dan piatu hanya karena hubungan sedarah dengan orang tua anak tersebut. Dalam pembagian warisan, ada kecenderungan yang dilakukan oleh masyarakat, bahwa tanah warisan yang dibawah oleh bapak akan diwariskan kepada anak laki-laki jika punya anak laki-laki; sedangkan tanah warisan yang dibawah oleh ibu cenderung menjadi bagian warisan anak perempuan, kecuali tidak ada anak perempuan turun ke anak laki-laki dan sebaliknya. Namun ada juga pembagian warisan dilakukan berdasarkan atas dasar kesepakatan bersama tanpa membedakan haarta bawaan masing-masing (suami atau istri)
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI LATIHAN MENYELESAIKAN SOAL SECARA SISTEMATIS PADA SISWA KELAS XI. IPA1 SMA NEGERI 2 SUNGGUMINASA
Keaktifan siswa mengikuti pelajaran matematika biasanya sangat kurang, karena matematika dianggap sebagai pelajaran yang sangat menakutkan bagi sebagaian siswa. Semua diperparah oleh strategi pembelajan yang dibawakan guru. Pembelajaran yang dibawakan guru pada umumnya masih berpusat pada guru tidak pada siswa. Bisanya hasil akhir atau hasil belajar dari siswa tidak sesuai dengan harapan. Berbagai masalah di atas, peneliti melakukan riset dengan tujuan meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas XI IPA1 SMA Negeri 2 Sungguminasa dengan jumlah siswa 41 orang. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi, angket respon siswa, dan tes hasil belajar yang diberikan pada setiap akhir siklus. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA1 SMA Negeri 2 Sungguminasa. Ini dapat dilihat dari skor rata-rata hasil belajar matematika siswa yang pada siklus I sebesar 59,39. Pada siklus II skor rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 83,93. Data hasil observasi di setiap siklusnya menunjukkan adanya perubahan sikap siswa ke arah yang lebih positif, baik dari segi sikap dalam belajar, keaktifan, maupun kedisiplinan.Keaktifan siswa mengikuti pelajaran matematika biasanya sangat kurang, karena matematika dianggap sebagai pelajaran yang sangat menakutkan bagi sebagaian siswa. Semua diperparah oleh strategi pembelajan yang dibawakan guru. Pembelajaran yang dibawakan guru pada umumnya masih berpusat pada guru tidak pada siswa. Bisanya hasil akhir atau hasil belajar dari siswa tidak sesuai dengan harapan. Berbagai masalah di atas, peneliti melakukan riset dengan tujuan meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas XI IPA1 SMA Negeri 2 Sungguminasa dengan jumlah siswa 41 orang. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi, angket respon siswa, dan tes hasil belajar yang diberikan pada setiap akhir siklus. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA1 SMA Negeri 2 Sungguminasa. Ini dapat dilihat dari skor rata-rata hasil belajar matematika siswa yang pada siklus I sebesar 59,39. Pada siklus II skor rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 83,93. Data hasil observasi di setiap siklusnya menunjukkan adanya perubahan sikap siswa ke arah yang lebih positif, baik dari segi sikap dalam belajar, keaktifan, maupun kedisiplinan
PEMBAGIAN HARTA WARISAN; TELAAH PEMBAGIAN WARISAN OLEH PEWARIS KEPADA AHLI WARIS SEBELUM PEWARIS MENINGGAL PADA MASYARAKAT BIMA
Pembagian harta warisan sebelum pewaris meninggal sudah menjadi bagian dari kebiasaan yang senantiasa hidup dalam kehidupan masyarakat Bima. Proses pembagiannya yakni orang tua melakukan musyawarah bersama keluarga serta para calon ahli waris untuk dilakukan pembagian dan menentukan bagian-bagian yang akan menjadi hak ahli waris. Hal ini dianggap oleh masyarakat Bima bahwa pembagian harta warisan sebelum pewaris meninggal merupakan pembagian warisan, sedangkan berdasarkan syariah Islam pembagian yang dilakukan dengan cara seperti ini merupakan bukan pembagian warisan melainkan hibah. Hal ini dilakukan bertujuan agar tidak terjadi selisih terhadap persoalan harta yang telah dibagikan ketika orang tua sudah meninggal.Pembagian Warisan oleh Pewaris kepada ahli waris sebelum pewaris meninggal pada masyarakat Bima merupakan cara adat dan kebiasaan dalam membagikan warisan kepada anak-anaknya sebagai ahli waris dengan harapan untuk mendapatkan kemaslahatan terhadap anak-anak dalam menunjang kebutuhan ekonomi dan menghindari konflik dalam keluarga. Pembagian Warisan oleh Pewaris kepada ahli waris sebelum pewaris meninggal memiliki kesamaan dengan pembagian dalam hukum Islam karena aturan yang diterapkan diambil dari hukum Islam yaitu perempuan mendapat setengah dari bagian laki-laki, namun pembagian dengan cara Pembagian Warisan oleh Pewaris kepada ahli waris sebelum pewaris meninggal bukan merupakan pembagian warisan berdasarkan hukum Islam karena pembagiannya dilakukan sebelum orang tua atau pewaris meninggal dunia
Tinjauan Fikih Lingkungan Terhadap Kebijakan Pemerintah Pusat Tentang Pemindahan Ibu Kota Negara
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tinjauan fikih
lingkungan mengenai kebijakan pemerintah pusat mengenai pemidahan
ibu kota negara Republik Indonesia. Perencanaan kota haruslah
mempertimbangkan lingkungan, lokasi dan kerusakan yang mungkin
ditimbulkan. Pemeliharaan lingkungan merupakan upaya untuk
mewujudkan kemaslahatan dan menghindari kemudharatan. Akibat
kebijakan ini menimbulkan beralih fungsinya hutan tentunya proses ini
telah merusak kawasan hutan dan mengancam flora dan faunanya, hal ini
menjadikan dampak lingkungan yang sangat serius.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif
dengan menggunakan sejumlah literatur sebagai bahan hukum dengan
tujuan untuk menggambarkan secara mendalam (diskriptif analisis)
mengenai konsep pengelolaan lingkungan hidup dalam perspektif fikih
lingkungan dalam pengambilan kebijakan pemindahan Ibu Kota Negara
yang baru dan Peraturan Presiden serta Undang-Undang tentang Ibu Kota
Nusantara.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembangunan ibu kota
baru nantinya akan membawa dampak buruk terhadap ekosistem dan
sumber daya alam. Pembukaan sejumlah besar hutan dan lahan gambut
untuk pembangunan ibu kota baru akan mengundang terjadinya bencana
alam. Jika dilihat dari kondisi Jakarta sebagai ibu kota saat ini
pemindahan ibu kota merupakan kemaslahatan dan menghindari
kemafsadatan. Namun jika dilihat dari kondisi Kalimantan saat ini
pemindahan ibu kota ini banyak membawa kerusakan atau kemafsadatan
terutama dampak pada lingkungan. Kemafsadatan ini harus dihindari
bahkan harus di tutup jalannya. Dalam fikih terdapat kaidah yang artinya
“menghilangkan mafsadah didahulukan daripada meraih maslahat.
Peranan Orang Tua Dalam Menunjang Keberhasilan Belajar Anak Tuna Grahita Pada Sekolah Luar Biasa Negeri (Slbn) Kotamadya Palangka Raya
Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kotamadva Palangkaraya. sebelumnya adalah SLB/BC "Budi Karya". didirikan pada tanggal 16 Pebruari 1977 disponsori oleh sebuah organisasi wanita yaitu PD Pertiwi.
Adapun faktor yang mendorong berdirinya Sekolah Luar Biasa ini adalah karena terdapat banyak anak yang berkelainan fisik atau mental yang tidak dapat mengikuti program sekolah umum. karena tersedianya tenaga kependidikan luar biasa, karena adanya motivasi dari orang tua yang mempunyai anak yang berkelainan fisik dan mental. Disamping itu pula karena Palangkaraya sebagai Ibukota Propinsi Kalimantan Tengah belum mempunyai Sekolah Luar Biasa. Sejak berdirinya sampai melaksanakan udian akhir 10 (sepuluh) kali. Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kotamadya Palangkarava terletak di jalan RTA. Milono Km 2.5 kelurahan Langkai Kecamatan Pahandut.
Penelitian ini pada dasarnya ingin mengetahui bagaimana peranan orang tua dalam menunjang keberhasilan belajar anak tuna grahita di sekolah. Di samping itu pula. penelitian ini adalah untuk menjawab hipotesa yang berbunyi "Ada peranan orang tua dalam menunjang keberhasilan belajar anak tuna grahita" dan "Semakin baik peranan orang tua dalam menunjang keberhasilan belajar anak, maka semakin baik hasil belajar anak tuna grahita". Untuk memecahkan masalah di atas, maka dalam penelitian ini dilakukan pengumpulan data tertulis dan data tidak tertulis dengan melalui beberapa teknik yaitu teknik observasi. teknik angket. teknik wawancara. dan teknik dokumenter.
Untuk memecahkan masalah di atas, maka dalam penelitian ini dilakukan pengumpulan data tertulis dan data tidak tertulis dengan melalui beberapa teknik yaitu : teknik observasi. teknik angket. teknik wawancara. dan teknik dokumenter. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah berjumlah 80 orang yang terdiri dari orang tua siswa dan siswa tuna grahita Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kotamadya Palangkaraya. Karena populasi tersebut kurang dari 100. maka penelitian ini merupakan penelitian populasi.
Dari hasil analisa data dapat diketahui bahwa peranan orang tua lebih banyak berada pada kategori sangan berperan (50%). Sedangkan nilai hasil belajar anak tuna grahita lebih banyak berada pada kategori cukup (72.5%).
Antara peranan orang tua dengan keberhasilan belajar anak menundukkan ada hubungannya. Hal ini berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus koefesien Korelasi Product. Moment (r) diketahui bahwa nilai diperoleh sebesar 0.475. sedangkan nilai r tabel dengan d.b. 40. maka diperoleh nilai sebesar 0.304 pada taraf kepercayaan 5%. Dengan demikian bahwa nilai r lebih besar jika dibandingkan dengan nilai r tabel (0.475 0.304). berarti menunjukkan bahwa variabel X dengan variabel Y ada hubungan yang positif.
Berdasarkan garis regresi linier Y 1.456 0.337 (X) tersebut. dapat diinteprestasikan bahwa setiap kenaikan satu satuan X akan menyebabkan kenaikan Y sebesar 0.337. Berarti bahwa peranan orang tua dapat menunjang keberhasilan belajar anak tuna grahita. Hal Jin berarti hipotesa kedua dapat diterima
Islamphobia: Perlindungan dan Peneggakan Hak Asasi Manusia
kajian ini mengkaji terkait dengan islampbobia sebagai sesuatu pengaruh yang tidak bisa ditanggapi sebagai sesuatu yang normal. Islamphobia telah merugikan umat islam. Agama islam telah disudutkan sebagai agama kekerasan. Kebabasan beragama serta lemahnya perlindungan terhadap hak beragama menjadi pintu masuk bagi oknum manusia yang saling merendahkan agama tertentu, terutama agama islam. Maka perlu ada perlindungan agama yang tidak hanya melindungi pada aspek tertentu saja. Tetapi harus dilakukan perlindungan secara universal. Metodo penelitian yang digunakan dalam tulisan ini ialah normatif empiris yaitu mengkaji dokumen-dokumen hukum nasional maupun internasioal yang berkaitan dengan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia dalam aspek keyakinan dan kepercayaan serta menganalis peristiwa kasus yang terjadi karena dilatarbelakangi islamophobia
ISLAM DAN POLITIK ORDE LAMA; “DINAMIKA POLITIK ISLAM PASCA KOLONIAL SEJAK KEMERDEKAAN SAMPAI AKHIR KEKUASAAN SOEKARNO”
Setelah mengeluarkan dekret, Soekarno yang sudah terobsesi untuk menjadi penguasa mutlak di Indonesia, memaksa pembubaran partai Masyumi pada 17 Agustus 1960. Pemberlakuan Demokrasi Terpimpin oleh Soekarno ternyata menimbulkan respon yang beragama dari kalangan partai Islam. Ahmad syafi’i ma’arif membagi era Demmokrasi Terpimpin ini menjadi periode kristalisasi dan Periode Kolaborasi. Periode kristalisasi ditandai dengan pemilihan kawan dan lawan, pendukung dan oposisi terhadap kebijakan Soekarno tersebut. Sementara periode kolaborasi ditandai dengan kerja sama partai-partai Islam yang ikut bersama demokrasi terpimpin, termasuk dengan komunis, yang merupakan salah satu pilar penyangganya. Islam dipandang sebagai salah satu unsur Nasakom dengan NU sebagai wakil utamanya, Partai-partai Islam yang lain dalam menghadapi berbagai isu politik lebih banyak meniru gaya NU sebagai kekuatan Islam terbesar saat itu.
 
Efektivitas Peraturan Daerah Nusa Tenggara Barat Nomor 5 Tahun 2021 Tentang Pencegahan Perkawinan Anak
Perkawinan anak di bawah umur bukan lagi masalah yang baru muncul di tengah masyarakat, tapi sudah sejak lama terjadi. Penegahan perkawinan anak masih terus saja menjadi wacana menarik yang terus-menerus digerakkan oleh pemerintah. Namun, keluarnya kebijakan oleh pemerintah tidak begitu mampu menghilangkan problem perkawinan anak di bawah umur, salah satunya adalah Peraturan Daerah Nusa Tenggara Barat Nomor 5 Tahun 2021 Tentang Pencegahan Perkawinan Anak. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perkawinan anak di bawah umur khususnya di Kecamatan Langgudu, diantarannya yaitu masalah ekonomi, kenakalan remaja, perjodohan, dan penyebab yang paling krusial sehingga terjadinya perkawinan anak di bawah umur di Kecamatan Langgudu adalah kenakalan remaja. Jenis penelitian ini adalah penelitian Hukum Empiris Normatif yaitu penelitian yang dilakukan langsung dengan instrumen penelitian berbentuk wawancara terhadap pemangku jabatan yang memilik peran penting ditengah masyarakat Kecamatan Langgudu, seperti Kepala Desa, KUA, masyarakat, dan juga pelaku perkawinan anak di bawah umur. Hasil penelitian yang dilakukan di Kecamatan Langgudu masih banyak masyarakat yang belum tentang adanya PERDA nomor 5 tahun 2021 tersebut. Hal ini terjadi karena kurangnya sosialisasi yang di lakukan oleh pemerintah. Sehingga pengetahuan masyarakat tentang upaya pencegahan perkawinana anak di bawah umur dan dampak dari perkawinan di bawah umur sangat minim sekali
- …
