1,721,037 research outputs found

    PEMANFAATAN VSTI SEBAGAI MEDIA PENCIP[TAAN MUSIK OLEH IWAN GUNAWAN

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi ketertarikan peneliti terhadap karya-karya musik yang dibuat oleh Iwan Gunawan dalam menggunakan teknologi virtual instruments dan hasil dari karya tersebut terdengar sangat realistis meskipun menggunakan virtual instruments yang umumnya terdengar kaku dan monoton. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui VSTi apa saja yang digunakan Iwan Gunawan dalam membuat karya “Migrations” dan apa saja tahapan yang dilalui oleh Iwan Gunawan dalam memanfaatkan VSTi sebagai media penciptaan musik. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu analisis dokumen, observasi, wawancara, dan studi literatur yang bertujuan untuk memberikan gambaran apa saja VSTi yang digunakan dan bagaimana tahapan yang dilalui dalam membuat karya “Migrations” tersebut oleh Iwan Gunawan. Temuan yang peneliti dapatkan adalah Iwan Gunawan menggunakan sebanyak tiga belas VSTi yang beragam jenis dan peruntukannya. Adapun tahapan yang dilalui Iwan Gunawan dalam membuat karya “Migrations” menggunakan teknologi VST adalah (1) melakukan interpretasi terhadap sajian film yang akan dibuat film scoring-nya tersebut. (2) Melakukan eksplorasi terhadap VSTi apa yang akan digunakan. (3) Membuat dan merekam data MIDI untuk trek VSTi tersebut. (4) Melakukan mixing, mastering, dan export terhadap project file yang telah dibuat. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah bahwa kualitas dari VSTi sangat mempengaruhi kesan realistis dari instrumen tersebut, kreativitas dari pengguna VSTi juga mempengaruhi apakah VSTi tersebut akan terdengar realistis atau tidak dan dibutuhkan perangkat yang mumpuni agar VSTi dapat berjalan dengan baik.Kata kunci: virtual instruments, penciptaan musik

    PEMANFAATAN VSTI SEBAGAI MEDIA PENCIPTAAN MUSIK OLEH IWAN GUNAWAN

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi ketertarikan peneliti terhadap karya-karya musik yang dibuat oleh Iwan Gunawan dalam menggunakan teknologi virtual instruments dan hasil dari karya tersebut terdengar sangat realistis meskipun menggunakan virtual instruments yang umumnya terdengar kaku dan monoton. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui VSTi apa saja yang digunakan Iwan Gunawan dalam membuat karya “Migrations” dan apa saja tahapan yang dilalui oleh Iwan Gunawan dalam memanfaatkan VSTi sebagai media penciptaan musik. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu analisis dokumen, observasi, wawancara, dan studi literatur yang bertujuan untuk memberikan gambaran apa saja VSTi yang digunakan dan bagaimana tahapan yang dilalui dalam membuat karya “Migrations” tersebut oleh Iwan Gunawan. Temuan yang peneliti dapatkan adalah Iwan Gunawan menggunakan sebanyak tiga belas VSTi yang beragam jenis dan peruntukkannya. Adapun tahapan yang dilalui Iwan Gunawan dalam membuat karya “Migrations” menggunakan teknologi VST adalah (1) melakukan interpretasi terhadap sajian film yang akan dibuat film scoring-nya tersebut. (2) Melakukan eksplorasi terhadap VSTi apa yang akan digunakan. (3) Membuat dan merekam data MIDI untuk trek VSTi tersebut. (4) Melakukan mixing, mastering, dan export terhadap project file yang telah dibuat. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah bahwa kualitas dari VSTi sangat mempengaruhi kesan realistis dari instrumen tersebut, kreativitas dari pengguna VSTi juga mempengaruhi apakah VSTi tersebut akan terdengar realistis atau tidak dan dibutuhkan perangkat yang mumpuni agar VSTi dapat berjalan dengan baik. Kata kunci: virtual instruments, penciptaan musik ABSTRACT This research is motivated by the researcher's interest in the musical piece created by Iwan Gunawan using virtual instrument technology, but the results of the musical piece sound realistic despite using virtual instrument technology which known for robotic and monotonous sound. The purpose of this study is to find out what VSTi is used by Iwan Gunawan in making the work "Migration" and what are the stages that Iwan Gunawan went through in utilizing VSTi as a medium for making music. The research method used in this study is a descriptive method with a qualitative approach with data collection techniques, namely document analysis, observation, interviews, and literature studies which aim to provide an overview of what VSTi is used and what are the stages passed in making the "Migration" work. by Iwan Gunawan. The findings that the researchers got were that Iwan Gunawan used as many as thirteen VSTi of various types and their designations. The stages that Iwan Gunawan went through in making the work "Migration" using VST technology were (1) interpreting the film presentation for which the film scoring would be made. (2) Exploring what VSTi will be used. (3) Creating and recording MIDI data for the VSTi track. (4) Mixing, mastering, and exporting the project files that have been created. The conclusion that can be drawn from this study is that the quality of the VSTi greatly affects the realistic impression of the instrument, the creativity of VSTi users also affects whether the VSTi will sound realistic or not and requires high-end devices so the VSTi can work properly. Keyword : virtual instruments, music makin

    Teknik Bernyanyi Dalam Musik Kontemporer Fry Karya Iwan Gunawan

    Get PDF
    Penelitian ini berjudul “TEKNIK BERNYANYI DALAM MUSIK KONTEMPORER FRY KARYA IWAN GUNAWAN” penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana teknik bernyanyi musik kontemporer Fry karya Iwan Gunawan. Fokus penelitian ini lebih tertuju pada teknik bernyanyi dalam karya Fry, maka dilakukan teknik pengumpulan data melalui metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Data yang diperoleh melalui studi literatur berupa media internet dan buku kemudian wawancara. Berdasarkan hasil temuan penelitian untuk menyanyikan karya musik kontemporer sebagai seorang penyanyi harus menguasai berbagai macam teknik bernyanyi. Tentunya ini menjadi tantangan bagi seorang penyanyi untuk mengeksplor yang akan dinyanyikan dan penyanyi harus lebih proaktif mengambil inisiatif untuk mengekspresikan karya komposer tersebut, agar karya tersebut diproduksi dengan baik melalui teknik yang benar. Kata Kunci: Vokal, Teknik bernyanyi kontemporer ABSTRACT The research entitled “SINGING TECHNIQUE IN CONTEMPORARY MUSIK FRY BY IWAN GUNAWAN”. This research aims to determine how the contemporary music singing technique of Fry by Iwan Gunawan. The focus of this research is more focused on singing technique in Fry’s creation, then the data collection technique was carried out through a case study method with a qualitative approach. Data obtained through literature studies in the form if internet media and books then interviews. Based on the research findings. To sing contemporary music as a singer, you have to be master a variety of singing to explore what will be sung and the singer must be more proactive in taking the initiative to express the composer’s work. So that the work is produced properly through the correct technique. Keywords: vocals, contemporary singing technique

    Karya Iwan Gunawan Di Dalamensemble Kyai Fatahillahdi Bandung Jawa Barat

    Get PDF
    Perkembangan musik gamelan di Indonesia telah menunjukkan peningkatanyang cukup pesat. Salah satu kelompok musik gamelan di Bandung yangmengalami perkembangan yaitu Ensemble Kyai Fatahillah. Sebagai salah satukelompok musik gamelan yang mengalami perkembangan akhirnya mengarahterhadap bagaimana bentuk musik karya Iwan Gunawan dan bagaimana pengaruhIwan Gunawan terhadap eksistensi Ensemble Kyai Fatahillah yang penelitian inimenggunakan pendekatan etnomusikologi. Ensemble Kyai Fatahillah di BandungJawa Barat merupakan salah satu kelompok musik gamelan yang mengalamiperkembangan juga merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa dalam bidangkreasi gamelan yang ada di Jurusan pendidikan Musik Fakultas Pendidikan Senidan Desain UPI Bandung. Sebagai salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa di tingkatjurusan, aktivitas kelompok musik ini yaitu konsisten dalam mengembangkanrepertoar musik gamelan baik karya tradisi maupun karya kontemporer.Salah satu karya Iwan Gunawan selaku pimpinan Ensemble Kyai Fatahillahyaitu “Minutes” yang merupakan musik dengan bentuk free form dan merupakanmusik minimalis yang merupakan karya tentang pandangan hidup orang Sundaterhadap waktu yakni manusia sebagai pribadi, tentang hubungannya denganmasyarakat, tentang hubungannya dengan alam, dan tentang hubungannya denganTuhan. Penggarapan musik gamelan Iwan Gunawan tersebut dipengaruhi olehlatar belakangnya yang merupakan komponis musik tradisi Sunda dan musikBarat dan penggarapan musik gamelannya merupakan inovasi terhadap sistemsepuluh nada yaitu sistem nada laras campuran pelog dan slendro yang hasil darisistem sepuluh nada tersebut menghasilkan karya yang berjudul Noname andNothing (2010) dan Minutes (2016)

    GENDING “KULU-KULU 2004” KARYA IWAN GUNAWAN

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan komposisi musik Gending ”Kulu-kulu 2004” Karya Iwan Gunawan. Pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini berkaitan dengan bentuk (form) dan pengolahan tema. Untuk menjawab rumusan masalah, peneliti berusaha menganalisis Gending ”Kulu-kulu 2004” dengan tahapan penelitian dari umum ke khusus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik yang memberikan gambaran secara sistematis dan akurat mengenai faktor-faktor dan sifat-sifat tertentu yang terdapat di dalam objek penelitian.Berdasarkan hasil analisis pada pembahasan, penulis menyimpulkan, bahwa Konsep karya ini berdasar pada pengolahan ritmik dari sebuah peristiwa bunyi yang dibangun dari tiga buah nada. Tiga buah nada tersebut dikembangkan dengan teknik menggeser struktur ritmenya sehingga membentuk tiga buah motif, motif tersebut diulang dengan beberapa pengulangan yang berbeda sehingga membentuk kalimat melodi yang memiliki berbagai macam birama. Selanjutnya kalimat melodi tersebut dijadikan satu kesatuan pola yang disebut tema utama. Tema utama ini akan membentuk keseluruhan karya dengan berbagai macam pengolahan bunyi. Bentuk (form) Gending ”Kulu-kulu 2004” memiliki 3 bentuk bagian besar, Setiap bagian besar memiliki bentuk pengolahan masing-masing, tetapi tetap saling terhubung karena dalam satu kesatuan tema. Setiap melodi yang menjadi pembangun bagian besar merupakan hasil pengolahan tema. Secara keseluruhan pengolahan tema dalam teknik membangun Gending ”Kulu-kulu 2004” karya Iwan Gunawan menggunakan teknik variasi pengulangan (repitisi) harafiah, pengulangan retrograde, pengulangan secara terus menerus (ostinato), pengulangan tingkat (sekuens), pembesaran interval (augmentation of the ambitus) dan variasi melodi kecil

    ANALISIS KOMPOSISI MUSIK GAMELAN “NONAME AND NOTHING” KARYA IWAN GUNAWAN

    No full text
    Skripsi ini berjudul ”Analisis Komposisi Musik Gamelan ”Noname and Nothing” Karya Iwan Gunawan”. Judul tersebut diambil atas dasar ketertarikan peneliti terhadap inovasi yang dilakukan Iwan Gunawan dalam menggarap komposisi musik gamelan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep garap campuran laras pelog dan laras salendro, serta bentuk (form) dari komposisi musik gamelan ”Noname and Nothing”. Untuk mengungkap hal tersebut, peneliti menggunakan metode deskriptif analitik yang memberikan gambaran secara sistematis dan akurat mengenai faktor-faktor dan sifat-sifat tertentu yang terdapat dalam objek penelitian. Berdasarkan hasil analisis pada pembahasan, peneliti menyimpulkan bahwa konsep garap campuran laras pelog dan laras salendro pada komposisi musik gamelan “Noname and Nohting” menghasilkan sebuah sistem sepuluh nada. Sistem sepuluh nada tersebut diolah dengan cara menggunakan nada-nada yang bersifat vertikal dan horizontal serta membangun sebuah motif berdasarkan tinggi rendah bunyi, durasi bunyi dan warna suara. Selain itu juga, menciptakan bunyi-bunyi yang bersifat perkusif dan bersifat interlocking dari instrumen yang digunakan dan menonjolkan nada-nada yang memiliki aspek mikro intervalis. Bentuk (form) dari komposisi musik gamelan ”Noname and Nothing” memiliki tiga bagian besar dan setiap bagian besar memiliki dua bagian kecil. Setiap bagian tersebut, memiliki struktur yang berbeda. Meski demikian, bagian-bagian tersebut saling terhubung dengan adanya beberapa motif dan figur yang diulang pada beberapa bagian komposisi tersebut. This thesis entitled " Analysis of Composition Music Gamelan " Noname and Nothing " Work by Iwan Gunawan". The title is taken on the basis of interest a researchers to innovation conducted Iwan Gunawan in creating the composition music gamelan. This study aims to determine the concept of working on a mix laras (scale) pelog and salendro, as well as the form of composition music gamelan "Noname and Nothing". To uncover that, the researchers used a descriptive analytic method that provides a systematic and accurate description of the factors and certain properties contained in the object of research. Based on the discussion of the results of the analysis, the researchers concluded that the concept of working on a mix laras (scale) pelog and salendro on composition music gamelan "Noname and Nothing" resulted in a ten-tone scale system. The ten-tone scale system processed by using tones that are vertically and horizontally as well as build a motif based on high and low sounds, duration of sound and timbre. In addition, creating sounds that are percussive and interlocking from the instrument used and highlight tones that have micro intervalis aspects. Form of composition music gamelan "Noname and Nothing" has three large sections and each section has a two small parts. Each of these parts, has a different structure. However, these parts are connected with the presence of several motifs and figures that are repeated in several parts of the composition

    TEKNIK PERMAINAN VIOLIN PADA “VIOLIN AND PERCUSSIONS” KARYA IWAN GUNAWAN DALAM PERTUNJUKKAN SMELL OF BLISS

    Get PDF
    “Violin and Percussions” is a music art written by Iwan Gunawan, Andre Leine with Harijono Roebana as coreographer, and Liza Ferschtman as solo violinist for Smell Of Bliss show in the Netherlands in 2014. The data was collected using a qualitative descriptive method. This research process using content analysis techniques, seeing the data or documents already owned are in the form scores that can be classified as unstructured data. This study aims to describe the fingering and bowing in the violin playing techniques at “Violin and Percussions” on the B – L – Q – R part. The results of this study has found two main problems that must be solved, that is playing octave intervals and applying contrasting dynamics. To overcome the two problems in the violin playing techniques, the researcher and violinist agreed to slow down the tempo before it becomes ‘a tempo’ for transitional melodies that have contrasting dynamics. Next, the octave intervals played slowly from prime – sekonde – terz intervals and so on to octaves, so that the composition of the melody can be played according to the composer's desire

    FENOMENA INTERKULTURAL PADA KOMPOSISI MUSIK GAMELAN KONTEMPORER: ANTARA HIBRIDITAS DAN AURENTISITAS

    Get PDF
    ABSTRAK Disertasi ini berjudul Fenomena Interkultural pada Komposisi Musik Gamelan Kontemporer: Antara Hibriditas dan Autentisitas. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konsep artistik dan mengidentifikasi elemen-elemen interkultural dalam komposisi gamelan kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus pada empat komponis, yaitu Roderik de Man, Dieter Mack, Dewa Alit, dan Iwan Gunawan, dengan pendekatan berbasis seni (art-based research). Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini mencakup: (1) fenomena artistik yang menjadi landasan karya komponis yang menggunakan gamelan, (2) gagasan konseptual yang dikembangkan dalam komposisi mereka, dan (3) interaksi budaya menjadi faktor penting dalam membentuk proses kreatif dan ekspresi musikal para komponis. Untuk menjawab permasalahan tersebut, data dikumpulkan melalui wawancara, studi dokumentasi, dan observasi. Analisis data dilakukan berdasarkan unsur-unsur parametris musik, proses kreatif dan ekspresi musikal, serta konteks budaya yang melingkupinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun masing-masing komponis memiliki latar belakang dan pendekatan yang berbeda, karya-karya mereka mencerminkan beragam bentuk hibriditas dan autentisitas dalam musik gamelan kontemporer. Roderik de Man, yang tidak memiliki latar belakang mendalam dalam gamelan, dikenal akan kemampuannya dalam mengintegrasikan teknologi elektronik dengan instrumen akustik, menciptakan tekstur bunyi gamelan Jawa yang inovatif dan kompleks. Karyanya, “Orkes Bercahaya,” mencerminkan ekspresi personal yang bebas dari keharusan menghadirkan gamelan dalam konteks budaya Jawa, melainkan sebagai ekspresi artistik yang unik. Sebaliknya, Dieter Mack, yang mendalami gamelan secara intensif, dalam karyanya “The Time After-Reset,” memilih untuk meninggalkan pendekatan tradisional gamelan, menghasilkan karya yang kritis dan autentik tanpa nuansa tradisional gamelan, meskipun ia memiliki pemahaman yang mendalam tentang teknik gamelan tradisional. Dewa Alit, dengan akar yang kuat dalam tradisi gamelan, terbuka terhadap inovasi dengan instrumen Barat walaupun tanpa latar belakang formal dalam musik Barat. Dalam karya-karyanya untuk instrumen Barat, seperti pada “Open My Door,” ia sering kali mengadaptasi ide musikal gamelan ke dalam konteks instrumen Barat, menunjukkan fleksibilitas dan keterbukaan dalam proses kreatifnya. Iwan Gunawan, dengan latar belakang yang serupa dengan Dewa Alit serta pengalaman belajar musik Barat di bawah bimbingan Dieter Mack, mengembangkan karya yang menggabungkan hibriditas dan autentisitas, memadukan elemen gamelan Sunda dan musik Barat dalam karyanya “Meeting in the Kitchen” yang kadang menunjukkan sifat hibrid dan kadang autentik. Penelitian ini mengungkapkan bahwa fenomena interkultural dalam komposisi musik gamelan kontemporer merupakan proses yang kompleks, melibatkan ekspresi personal, eksplorasi artistik, serta interaksi lintas budaya. Para komponis yang dikaji, meskipun memiliki latar belakang dan pendekatan yang berbeda, menunjukkan kesamaan dalam upaya mereka menciptakan karya yang tidak hanya inovatif, tetapi juga berdialog dengan tradisi, mencerminkan hibriditas dan autentisitas dalam komposisi gamelan kontemporer. Kata Kunci: Komposisi gamelan kontemporer, fenomena interkultural, hibriditas dan autentisitas, ekspresi artistik, interaksi lintas budaya ABSTRACT This dissertation is titled Intercultural Phenomena in Contemporary Gamelan Music Composition: Between Hybridity and Authenticity. The purpose of this research is to explore the artistic concepts and identify intercultural elements in contemporary gamelan compositions. This study employs a case study method, focusing on four composers—Roderik de Man, Dieter Mack, Dewa Alit, and Iwan Gunawan—using an art-based research approach. The key issues examined in this research include (1) the artistic phenomena underlying the composers' work with gamelan, (2) the conceptual ideas present in their compositions, and (3) how cultural interactions influence their creative processes and musical expressions. Data was collected through interviews, document analysis, and observation to address these issues. The data were then analyzed based on the parametric elements of music, the creative process, and musical expression, as well as the surrounding cultural context. The findings indicate that, although each composer has a distinct background and approach, their works exhibit various forms of hybridity and authenticity in contemporary gamelan music. Roderik de Man, who lacks a traditional background in gamelan, is recognized for integrating electronic technology with acoustic instruments, producing innovative and complex Javanese gamelan sound textures. His work, “Orkes Bercahaya”, reflects a personal expression free from the necessity to represent gamelan within a Javanese cultural framework, instead serving as a unique artistic expression. In contrast, Dieter Mack, who has studied gamelan intensively, chose in his work “The Time After-Reset” to depart from traditional gamelan forms, creating a critical and authentic piece without traditional gamelan characteristics, despite his deep knowledge of gamelan techniques. Dewa Alit, deeply rooted in the gamelan tradition, is open to innovation with Western instruments, even without formal training in Western music. In works like “Open My Door”, he often adapts gamelan musical ideas to Western instruments, demonstrating flexibility and openness in his creative process. Iwan Gunawan, with a similar background to Dewa Alit and experience studying Western music under Dieter Mack, develops compositions that combine hybridity and authenticity, blending elements of Sundanese gamelan and Western music in his piece “Meeting in the Kitchen”, which at times displays hybrid and at other times authentic characteristics. This research reveals that the intercultural phenomena in contemporary gamelan music composition involve a complex process of personal expression, artistic exploration, and cross-cultural interaction. Despite their diverse backgrounds and approaches, the composers studied share a common goal of creating works that are innovative and engage with tradition, reflecting hybridity and authenticity in contemporary gamelan composition. Keywords: contemporary gamelan composition, intercultural phenomena, hybridity and authenticity, artistic expression, cross-cultural interactio

    INTEGRASI ANTAR WADITRA PADA KENDANG SET DALAM VIDEO “JAIPONG KASTAWA-DAW CAST”

    Get PDF
    Penelitian ini menganalisis konsep permainan kendang set dalam video “Jaipong Kastawa-DAW CAST” yang diunggah di kanal YouTube ‘Iwan Gunawan’. Kendang set dalam jaipong terdiri dari empat waditra utama, yaitu kendang, kentrung, goong, dan kecrek, yang dimainkan berintegrasi untuk membentuk komposisi ritmis khas. Fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi konsep instrumentasi serta peran dan fungsi masing-masing waditra dalam membangun struktur ritmis dalam estetika musik jaipong, serta interaksi antar waditra yang menciptakan dinamika permainan yang kompleks dan variatif. Selain itu, penelitian ini mengeksplorasi pola tepak kendang, variasi ritmis, motif ritmik, serta tabuhan saling mengisi (interlocking) yang berkembang dalam permainan tersebut. Metode yang digunakan adalah analisis konten, dimulai dengan studi dokumentasi pada data MIDI dari DAW yang kemudian dijabarkan dengan transkripsi ke dalam notasi musik untuk memetakan pola ritmis. Analisis mencakup identifikasi konsep instrumentasi kendang set, peran dan fungsi masing-masing waditra-nya, pola tepak kendang, kalimat ritmis, dan variasi motif pada setiap waditra, serta teknik permainan kendang dan waditra pendukung lainnya dalam tabuhan saling mengisi (interlocking) untuk memahami interaksi antar waditra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan kendang set tidak hanya menghasilkan pola ritmis dinamis, tetapi juga memperlihatkan interaksi kuat antara kendang dan waditra lainnya, yang bersama-sama menciptakan karakter ritmis yang khas dalam jaipong. This study analyzes the performance of the kendang set in the video “Jaipong Kastawa-DAW CAST”, uploaded on the YouTube channel ‘Iwan Gunawan’. The kendang set in Jaipong consists of four main instruments: kendang, kentrung, goong, and kecrek, which are played together to create a unique rhythmic composition. The primary focus of this research is to identify the concepts of instrumentation, as well as the roles and functions of each instrument in constructing the rhythmic structure of Jaipong, and the interactions between the instruments that create the complex and varied dynamics of the performance. Additionally, this study explores the patterns of tepak kendang, rhythmic variations, rhythmic motifs, and interlocking techniques that develop within the performance. The method used is content analysis, beginning with a study of MIDI data from a DAW, which is then transcribed into musical notation to map rhythmic patterns. The analysis includes identifying the concepts of kendang set instrumentation, the roles and functions of each instrument, kendang patterns, rhythmic phrases, and motif variations in each instrument, as well as kendang playing techniques and other supporting instruments in interlocking patterns to understand the interaction between instruments. The analysis includes identifying the concepts of kendang set instrumentation, the roles and functions of each instrument, kendang patterns, rhythmic phrases, and motif variations in each instrument, as well as kendang playing techniques and other supporting instruments in interlocking patterns to understand the interaction between instruments. The results of the study show that the kendang set not only produces dynamic rhythmic patterns but also demonstrates a strong interaction between the kendang and other instruments, which together create the characteristic rhythmic character of Jaipong
    corecore