205 research outputs found
EVALUASI JUMLAH ERITROSIT DAN KADAR HEMOGLOBIN AYAM BROILER YANG DIBERI PAKAN ADITIFPROBIOTIK Bacillus DIPERKAYA VITAMIN DAN MINERAL
MIA MITASARI. 23010114120066. 2018. Evaluasi Jumlah Eritrosit dan
Kadar Hemoglobin Ayam Broiler yang Diberi Pakan Aditif Probiotik
Bacillus Diperkaya Vitamin dan Mineral (Evaluation the Number of
Erythrocytes and Research of Hemoglobin Broiler Chicken Which are Provided
Probiotic Additive Bacillus Traded Vitamin and Mineral). (Pembimbing: ISROLI
dan HANNY INDRAT WAHYUNI).
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi jumlah eritrosit dan kadar
hemoglobin ayam broiler pada umur 14 dan 28 hari yang diberi pakan aditif
probiotik Bacillus diperkaya vitamin dan mineral dalam ransum.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2017 sampai bulan Juli 2017.
Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah 240 ekor day old chick (DOC)
ayam broiler (unsex) dengan rata-rata bobot badan awal 45,90 3,24 gram.
Probiotik yang digunakan yaitu Bacillus dengan diperkaya vitamin dan mineral
yang ditambahkan dalam ransum komersial. Kandang yang digunakan adalah
jenis kandang litter sebanyak 16 unit dengan ukuran 1 × 1 × 1 m. Rancangan
percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 4
perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuan meliputi berbagai dosis probiotik Bacillus
diperkaya vitamin dan mineral dalam ransum komersial (T0 = 0%, T1 = 0,1%, T2
= 0,5% dan T3 = 1%).
Hasil penelitian menunjukkan penambahan pakan aditif probiotik Bacillus
diperkaya vitamin dan mineral tidak berpengaruh terhadap jumlah eritrosit, namun
memberikan pengaruh nyata (P<0,05) pada kadar hemoglobin umur 14 hari.
Simpulan dari penelitian ini adalah penambahan probiotik berbasis Bacillus
diperkaya vitamin dan mineral sampai level 1% dalam pakan komersial mampu
memperbaiki jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin ayam broiler
PROFIL DARAH MERAH AYAM KAMPUNG UMUR 30 HARI AKIBAT PENAMBAHAN PROBIOTIK Rhizopus oryzae DALAM RANSUM
MUHAMMAD ROIS FATAH. 23010112140331. 2015. Profil Darah Merah
Ayam Kampung Umur 30 Hari Akibat Penambahan Probiotik Rhizopus
oryzae dalam Ransum (Erythrocytes Profile of 30 Days of Age Native
Chickensdue to Administration of Probiotic Rhizopus oryzae in the Ration).
(Pembimbing: ISROLI dan SUGIHARTO).
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data profil darah merah (jumlah
eritrosit, kadar hemoglobin dan hematokrit) pada ayam kampung umur 30 hari
yang diberi tambahan pakan probiotik Rhizopus oryzae dalam ransum.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2015 sampai September 2015.
Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah 100 ekor day old chick (DOC)
ayam kampung (unsex)dengan bobot badan awal 39,65± 1,46 gram. Probiotik
yang digunakan yaitu fungi Rhizopus oryzae yang sudah diinokulasikan dalam
media bahan pakan berupa jagung dan bekatul. Kandang yang digunakan adalah
jenis battery sebanyak 20 petak dengan ukuran 60×35×35 cm. Rancangan
percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 4
perlakuan dengan 5 ulangan. Perlakuan meliputi berbagai konsentrasi probiotik
Rhizopus oryzae dalam ransum (0%, 0,2%, 0,4% dan 0,6%).
Hasil penelitian menunjukkanbahwa tidak ada pengaruh penggunaan
probiotik Rhizopus oryzae dalam ransum terhadap rataan jumlah eritrosit, kadar
hemoglobin dan hematokrit pada ayam kampung umur 30 hari.
Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian probiotik Rhizopus oryzae
tidak mengubah profil darah merah ayam kampung umur 30 hari
PENGARUH PENGGUNAAN GATHOT (KETELA POHON FERMENTASI) DALAM RANSUM TERHADAP PROFIL ERITROSIT, HEMOGLOBIN DAN HEMATOKRIT AYAM BROILER
ALTRINA NUGRAHESTININGRUM. 23010112130105. 2016. Pengaruh
Penggunaan Gathot (Ketela Pohon Fermentasi) dalam Ransum terhadap
Profil Eritrosit, Hemoglobin dan Hematokrit Ayam Broiler. (The Effect of
Gathot (Fermented Cassava) in Ration on Profile of Erythrocytes, Hemoglobin
and Hematocrit Broiler). (Dosen Pembimbing : ISROLI dan ENDANG
WIDIASTUTI).
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh gathot dalam ransum
terhadap jumlah eritrosit, hemoglobin dan hematokrit ayam broiler, dilaksanakan
pada tanggal 16 Oktober – 19 November 2015 di Fakultas Peternakan dan
Pertanian, Universitas Diponegoro.
Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah Day Old Chick (DOC)
ayam broiler sebanyak 160 ekor (unsex) dengan bobot badan 45,39 ± 3,28 g.
Bahan ransum terdiri dari gathot, jagung kuning, tepung ikan, bungkil kedelai,
bekatul, Poultry Meat Meal (PMM), pollard dan top mix disusun menjadi ransum
isoprotein dan isokalori (20% dan 2900 kkal/kg). Rancangan percobaan yang
digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh
dianalisis menggunakan analisis ragam pada taraf 5%. Perlakuan yang diuji
adalah penggunaan gathot dalam ransum terdiri atas T0 (tanpa gathot), T1
(penggunaan 2,5% gathot), T2 (penggunaan5% gathot) dan T3 (penggunaan 10%
gathot).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gathot dalam ransum
tidak mengakibatkan perbedaan rata-rata terhadap profil eritrosit, hemoglobin dan
hematokrit darah ayam broiler. Rata-rata eritrosit untuk perlakuan T0, T1, T2 dan
T3 masing-masing 2,42, 2,37, 2,31 dan 2,45(x 106/mm3), hemoglobin masingmasing
8,02, 7,72, 7,40 dan 7,78 (g/dL), hematokrit masing-masing 30,76, 29,68,
30,28 dan 30,70(%).
Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan gathot sampai kadar10%
dapat digunakan pada ransum ayam broiler, karena secara fisiologis tidak
mengganggu kesehatan ayam broiler
PENGARUH PENAMBAHAN PROBIOTIK KAPANG Chrysonilia crassa TERHADAP PROFIL DARAH MERAH DAN BOBOT BADAN AKHIR AYAM BROILER
SUKMA PURBANDARI WIDOWATI. 203010114120028. 2018. Pengaruh
Penambahan Probiotik Kapang Chrysonilia crassa terhadap Profil Darah Merah
dan Bobot Badan Akhir Ayam Broiler (Pembimbing: SUGIHARTO dan
ISROLI).
Penelitian dilaksanakan bulan Juli – Agustus 2017. Lokasi penelitian di
Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang. Analisis
profil darah merah dilakukan di Laboratoroium Kesehatan Hewan, Semarang.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh penambahan probiotik
kapang Chrysonilia crassa terhadap profil darah merah dan bobot badan akhir
ayam broiler.
Penelitian menggunakan 200 ekor day old chick (DOC) ayam broiler
dengan bobot awal rata-rata 41,11 ± 0,16 g. Bahan pakan disusun menjadi ransum
dengan kandungan PK 21,93% dan EM 3300 kkal/kg. Percobaan dirancang
berdasar Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan.
Perlakuan yang diterapkan yaitu T0 (Pakan Basal), T1 (Pakan Basal + 0,04% Zinc
bacitracin), T2 (Pakan Basal + 0,01% Bacillus sp.) dan T3 (Pakan Basal + 1%
Chrysonilia crassa). Parameter yang diukur meliputi total eritrosit, kadar
hemoglobin, persentase hematokrit, serta nilai indeks eritrosit yang meliputi mean
corpuscular volume (MCV), mean corpuscular haemoglobin (MCH), mean
corpuscular haemoglobin concentration (MCHC) dan bobot akhir ayam broiler.
Data dianalisis keragamannya dengan analisis ragam (uji F) dan apabila terdapat
pengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan untuk
mengetahui perbedaan rata-rata.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Chrysonilia crassa tidak
memberikan pengaruh terhadap kadar eritrosit, hemoglobin, persentase
hematokrit, serta nilai indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC), namun berpengaruh
nyata terhadap bobot badan akhir ayam broiler. Kisaran total eritrosit yaitu 2,17 –
2,42 juta/mm
3
,
kadar hemoglobin yaitu 9,36 – 10,04 g/dL, persentase hematokrit
yaitu 30,36 – 31,32%, nilai indeks eritrosit yaitu MCV 134,8 – 135,5 fl, MCH
42,88 – 43,52 pg, dan MCHC yaitu 31,04 – 32,20 g/dL, serta bobot badan akhir
ini yaitu 1601,4 – 1730,92 g.
Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian Chrysonilia crassa tidak
menaikkan profil darah merah, namun dapat meningkatkan bobot badan akhir
ayam broiler sehingga mampu menggantikan antibiotik Zinc Bacitracin sebagai
pemacu pertumbuhan
PENGARUH KEPADATAN KANDANG YANG BERBEDA TERHADAP BOBOT ORGAN LIMFOID PADA AYAM BROILER
NURUL DWI APRILLIA. 23010113140274. Pengaruh Kepadatan
Kandang yang Berbeda terhadap Bobot Organ Limfoid pada Ayam Broiler
(Pembimbing : UMIYATI ATMOMARSONO dan ISROLI).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan kandang yang sesuai
untuk pertumbuhan tanpa mengganggu dan mempengaruhi kondisi organ limfoid
pada ayam broiler. Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan
informasi mengenai pengaruh pemeliharaan pada kepadatan kandang yang
berbeda terhadap pemeliharaan ayam broiler dan memberikan informasi mengenai
kepadatan kandang yang optimal untuk ayam broiler. Penelitian ini dilaksanakan
pada bulan April – Juni 2017 di kandang Produksi Ternak Unggas, Fakultas
Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.
Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 280 ekor ayam broiler
umur 14 hari dengan bobot badan rata-rata 298,37 ± 23,33 g (CV = 7,81%) dan
jenis kelamin unsexed. Perlakuan kepadatan kandang dilakukan ketika ayam
mencapai umur 14 sampai 42 hari. Ransum menggunakan kadar protein kasar
22,84% dan energi metabolis 3.151,57 kkal/kg. Kandang yang digunakan adalah
kandang litter dengan alas sekam berukuran 1x1 m
2
. Rancangan percobaan yang
digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5
ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu pemeliharaan pada kepadatan kandang
berbeda dengan taraf sebagai berikut : T1 = 8 ekor/m
2
, T2 = 12 ekor/m
, T3 = 16
ekor/m
2
dan T4 = 20 ekor/m
2
. Parameter yang diukur yaitu bobot relatif organ
bursa fabrisius, limpa dan timus. Data yang diperoleh kemudian dianalisis
menggunakan analisis ragam dengan uji F pada taraf 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot relatif bursa fabrisius
secara berurutan adalah T1 = 0,11%, T2 = 0,10%, T3 = 0,09% dan T4 = 0,07 %,
rata-rata bobot relatif limpa adalah T1 = 0,13%, T2 = 0,14%, T3 = 0,11% dan T4
= 0,15 %, rata-rata bobot relatif timus adalah T1 = 0,25%, T2 = 0,24%, T3 =
0,21 % dan T4 = 0,18 %. Hasil analisis ragam menunjukkan tidak ada pengaruh
nyata (P>0,05) kepadatan kandang terhadap bobot relatif organ limfoid seperi
bursa fabrisius, limpa dan timus
Simpulan dari penelitian ini kepadatan kandang mencapai 20 ekor/m
tidak
memberikan pengaruh negatif pada kesehatan ayam broiler, hal ini dapat dilihat
dari bobot relatif bursa fabrisius, limpa dan timus yang relatif sama
PENGARUH PENAMBAHAN ANTIBIOTIK DAN PROBIOTIK Bacillus PLUS VITAMIN DAN MINERAL DALAM PAKAN TERHADAP PROFIL DARAH PUTIH AYAM BROILER
RENGGANIS WIDYA PUTRI. 23010114120016. Pengaruh Penambahan
Antibiotik dan Probiotik Bacillus Plus Vitamin Mineral dalam Pakan terhadap
Profil Darah Putih Ayam Broiler. (Pembimbing : ISROLI dan HANNY
INDRAT WAHYUNI)
Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas
Diponegoro Semarang pada bulan September – Oktober 2017. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh pemberian antibiotik dan probiotik
Bacillus plus vitamin dan mineral terhadap profil darah putih ayam broiler.
Materi yang digunakan adalah Day Old Chik (DOC) ayam broiler strain
Lohman berjumlah 160 ekor dengan bobot awal rata-rata 35,42 ± 0,42 g, ayam
dipelihara di kandang tipe panggung, dilengkapi peralatan makan ayam dan
peralatan minum selama 35 hari. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan
Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan yaitu T1 (Pakan basal),
T2 (Pakan basal + antibiotik 0,04%), T3 (Pakan basal + probiotik 0,05%) dan T4
(Pakan basal + antibiotik 0,04% + probiotik 0,05%). Parameter yang diamati
adalah leukosit dan diferensial leukosit meliputi heterofil, eosinofil dan limfosit.
Data dianalisis keragamannya pada taraf 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan antibiotik dan probiotik
Bacillus plus vitamin dan mineral tidak berpengaruh nyata terhadap leukosit dan
deferensial leukosit. Rerata jumlah leukosit pada perlakuan T0 = 25,56 × 10
/µL,
T1= 21,76 × 10
3
/µL, T2 = 23,20 × 10
3
/µL, T3 = 20,56 × 10
3
/µL; Heterofil pada
perlakuan T0 = 1,04 × 10
3
/µL, T1= 0,66 × 10
3
/µL, T2 = 0,60 × 10
/µL, T3 = 0,56
× 10
3
/µL; Eosinofil pada perlakuan T0 = 1,20 × 10
3
3
/µL, T1= 1,10 × 10
/µL, T2 =
1,04 × 10
3
/µL, T3 = 0,96 × 10
3
/µL; Limfosit pada perlakuan T0 = 23,32 × 10
/µL,
T1= 20,00 × 10
3
/µL, T2 = 21,54 × 10
3
/µL, T3 = 19,00 × 10
3
/µL; Rasio H/L pada
perlakuan T0 = 0,04, T1= 0,03, T2 = 0,03, T3 = 0,03.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Bacillus plus vitamin
dan mineral dapat untuk menggantikan antibiotik dilihat dari profil darah putih
ayam broiler
TOTAL LEUKOSIT DAN DIFERENSIAL LEUKOSIT AYAM BROILER YANG DIBERI PROBIOTIK KAPANG Chrysonilia crassa DALAM RANSUM
ADE SETYA WIBOWO. 23010114120026. 2018. Total Leukosit dan
Diferensial Leukosit Ayam Broiler yang Diberi Probiotik Kapang Chrysonilia
Crassa dalam Ransum (Total Leukosit and Differential Leukosit Chicken Broiler
Given Probiotic Chrysonilia Crassa In Ranks). (Pembimbing SUGIHARTO dan
ISROLI)
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji profil darah putih (total leukosit,
heterofil, eosinofil dan limfosit) pada ayam broiler yang diberi
probiotik Chrysonilia crassa dan antibiotik. Manfaat dilaksanakan penelitian ini
adalah memberikan informasi kepada masyarakat mengenai potensi Chrysonilia
crassa sebagai alternatif pengganti AGPs dalam menunjang kesehatan ayam
broiler yang diindikasikan dari profil darah putih.
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 24 Juli – 28 Agustus 2017. Lokasi
pemeliharaan ayam kampung berada di kandang unggas Fakultas Peternakan dan
Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang. Materi yang digunakan pada
penelitian ini adalah 200 ekor day old chick (DOC)dengan bobot rata-rata
41,11±0,16 g. Antibiotik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu zinc
bacitracin dan kapang Chrysonilia crassa yang ditumbuhkan pada media bekatul.
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL)
dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu penambahan
probiotik Chrysonilia crassa dalam pakan dengan pola T0 (pakan kontrol), T1
(pakan kontrol + antibiotik Zinc bacitracin 0,04%), T2 (pakan kontrol + probiotik
Bacillus sp. 0,01 %) dan T3 (pakan kontrol + probiotik Chrysonilia crassa 1%).
Analisis total leukosit dan diferensial leukosit dilaksanakan di Lab. Kesehatan
Hewan Type B Setiabudi, Semarang. Data yang diperoleh dianalisis dengan
menggunakan sidik ragam. Parameter yang diamati adalah total leukosit,
heterofil, eosinofil dan limfosit.
Hasil penelitian menunjukkan penambahan probiotik Chrysonilia crassa
dalam ransum dapat meningkatkan (P<0,05) jumlah total leukosit dan limfosit
ayam broiler. Rata-rata jumlah leukosit untuk T0, T1, T2 dan T3 masing – masing
adalah 16,94×10
3
/mm
3
, 25,48×10
3
/mm
3
, 19,72×10
3
/mm
3
dan 20,06 × 10
.
Rata-rata persentase heterofil untuk T0, T1, T2 dan T3 masing – masing adalah
0,54%), 0,54%, 0,46% dan 0,60%. Rata-rata persentase eosinofil untuk T0, T1, T2
dan T3 masing – masing adalah 0,86%, 0,98%, 0,96% dan 0,92%. Rata-rata
persentase limfosit untuk T0, T1, T2 dan T3 masing – masing adalah 15,54%,
23,96%, 18,30% dan 18,54%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan
bahwa probiotik Chrysonilia crassa memiliki kemampuan yang sebanding dengan
antibiotik Zinc Bacitracin dan probiotik Bacillus sp. dalam memperbaiki profil
leukosit, sehingga berpotensi dijadikan sebagai alternatif pengganti Antibiotik
Zinc Bacitracin
Performance of indigenous chicken under intensive rearing with various litter materials
The purpose of the research was to obtain information regarding the performance of indigenous chicken under intensive rearing. The performance criteria were the increasing body abdominal weight, fat, rectal temperature, and the indigenous chicken’s mortality within the 5-week starter phase treatment. Research was conducted using 108 Day Old Chick (DOC). Data variance was analysed based on the split plot design (3 types of cage litter materials, 5 weeks of data collection, and 4 replications) for weight gain and abdominal fat parameters, and completely randomized design in time for rectal temperature. The result indicated a significant effect of different litter materials towards weight gain (P <0.01), the highest body weight was found on chicken treated with rice straw litter; there was no effect of litter material on abdominal fat percentage; there was a significant effect (P < 0.01) of age towards rectal temperature; and there were no interactions between litter material with age, on body weight gain, abdominal fat, and rectal temperature. Chickens under intensive rearing in rice straw floored cages were proven to have a mortality rate reduced by 3.7% in the starter phase.
doi: http://dx.doi.org/10.12777/ijse.4.2.2013.52-56
[How to cite this article: Sulistyoningsih, M., Sunarti, D., Suprijatna, E., & Isroli, I. (2013). Performance of indigenous chicken under intensive rearing with various litter materials. INTERNATIONAL JOURNAL OF SCIENCE AND ENGINEERING, 4(2), 52-56; doi: http://dx.doi.org/10.12777/ijse.4.2.2013.52-5
ENGARUH ONGGOK FERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP BOBOT HATI, ENZIM SERUM GLUTAMAT OKSALOASETAT TRANSMINASE DAN SERUM GLUTAMAT PIRUVAT TRANSMINASE PADA BROILER
AGUS DARMAWAN. 23010113130200. 2017. Pengaruh Onggok Fermentasi
dalam Ransum terhadap Bobot Hati, Enzim Serum Glutamat Oksaloasetat
Transminase dan Serum Glutamat Piruvat Transminase pada Broiler (Pembimbing
: ISROLI dan SUGIHARTO)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kadar enzim
Serum Glutamat Piruvat Transaminase (SGPT), enzim Serum Glutamat
Oksaloasetat Tranasminase (SGOT) dan bobot hati ayam broiler akibat pemberian
ransum yang mengadung onggok fermentasi Acremonium charticola dan/atau
mengandung antibiotik. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2016
di kandang ayam broiler Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas
Diponegoro, Semarang
Materi yang digunakan adalah 160 day old chick (DOC) Ayam Broiler
strain Lohman (jantan) dengan bobot badan awal rata-rata 41,30 ± 2,68 gram.
Kandang yang digunakan berukuran 1 x 1 x 1 m, terdapat 20 petak. Masing –
masing petak berisi 8 ekor broiler. Perlakuan yang diberikan berupa T0 (kontrol),
T1 (ransum ditambah antibiotik), T2 ( ransum ditambah onggok fermentasi dan
antibiotik), T3 (ransum ditambah onggok fermentasi). Antibiotik sintetik yang
digunakan adalah neomycin. Perlengkapan dan peralatan analisis kadar SGOT dan
SGPT meliputi spektrofotometer, SGOT reagen kit, dan SGPT reagen kit.
Parameter yang diukur meliputi kadar SGPT, SGOT, dan bobot relatif hati. Data
hasil penelitian dianalisis ragam pada taraf 5% dan dilanjutkan uji jarak berganda
Duncan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa onggok fermentasi dengan
Acremonium charticola dalam ransum dan atau antibiotik tidak berpengaruh nyata
terhadap kadar SGOT, SGPT, dan bobot relatif hati. Rataan kadar SGOT pada
perlakuan T0, T1, T2 dan T3 masing-masing 280,06±47,8 U/L, 239,18±41,31
U/L, 207,34±66,10 U/L, 249,38±46,01 U/L. Rataan kadar SGPT pada perlakuan
T0, T1, T2 dan T3 masing-masing 13,62±1,62 U/L, 19,00±6,58 U/L, 15,50±2,34
U/L, 13,18±2,79 U/L. Rataan bobot relatif hati pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3
masing-masing 2,93±0,08 %, 2,97±0,60 %, 2,65±0,19 %, 2,76±0,31 %.
Simpulan dari penelitian adalah pemberian onggok yang difermentasi
dengan kapang Acremonium charticola dalam ransum dan atau mengandung
antibiotik aman diberikan dan dikonsumsi ayam broiler
- …
