52 research outputs found
Pengaruh Pemberian Diethyl Stilbestrol Pellet Sub Cutan terhadap Pertambahan Berat Badan Dan Berat Testis Pada Anak Ayam Jantan Pedaging
Dari percobaan 10 ekor anak ayam jantan pedaging dengan pemberian hormon DIETHYL STILBESTROL selama 1 bulan ternyara bahwa tidak didapatkan kualitas karkas yang lebih baik dengan adanya lemak intra mokuler dan subkutm. Perhitungan secara sistematik menunjukan bahwa anak ayam yang dengan pemberian hormon DIETHYL STILBESTROL menyebabkan konsumsi makanan lebih banyak tanpa diikuti dengan kenaikan berat badan yang nyata sehingga akan lebih banyak dikeluarkan biaya untuk makananan tersebu
Buku ajar fisiologi reproduksi pada ternak
Pemahaman tentang Ilmu Fisiologi Reproduksi sangat dibutuhkan karena merupakan dasar dari ilmu-ilmu Reproduksi lainnya seperti ilmu Kebidanan dan Kemajiranserta berbagai cara teknologi reproduksi. Buku ini meliputi 7 pokok permasalahan yang meliputi Sistem Perkembangbiakan, Anatomi dan Fisiologi Alat Kelamin Jantan dan Betina, Endokrinologi Reproduksi, Siklus Reproduksi, Fisologi Kebuntingan dan Kelahiran, Kelenjar Susu, Anatomi dan Fisiologi Unggas Betina
Teknik Pembekuan Embrio Sapi Dengan Menggunakan Metode Vitrifikasi
Telah banyak kemajuan yang dicapai oleh para penelitl dalam hal pembekuan suatu sel atau jaringan hidup. Selain sel spermatozoa, ternyata embrio telah pula berhasil dibekukan. Banyak keuntungan yang didapat dari hasil pembekuan tersebut. Diantaranya adalah mempermudah transportasi dan pengawetan embrio. 'Namun demikian ada beberapa kendala yang masih menghambat keberhasilan pembekuan embrio ini, selain peralatannya yang mahal, juga harus dilakukan euatu laboratorium yang lengkap.
D1 Indonesia, masalah pengadaan peralatan sudah lama menjadi kendala bagi kemajuan penelitian, oleh sebab itu diupayakan suatu trobosan guna mengatasi kendala itu. Teknik pembekuan embrio dengan menggunakan metode vitrifikasi telah diperkenalkan oleh Rall dan Fahy tahun 1985, tetapi penerapannya pada. embrio sapi oleh Massip et al pada tahun 1987.
Penelitian inl bertujuan untuk mengetahui apakah pembekuan embrio dengan menggunakan metode vitrifikasi ini dapat dlterapkan di lapangan dengan kondisi yang ada di Indonesia.
Dari penelitian ini disimpulkan bahwa pembekuan embrio dengan menggunakan metode vitrifikasi dapat diterapkan pada kondisi lapangan yang ada
PERBAIKAN METODE PEMBELAJARAN MATA KULIAH FISIOLOGI DAN TEKNOLOGI REPRODUKSI
Kegiatan metode mata kuliah Fisiologi dan Teknologi Reproduksi ini bermanfaat untuk proses belajar mengajar dan peningkatan ranah kognitif mahasiswa yang dapat dilihat dari perolehan nilai mahasiswa berupa :
Jumlah nilai A, B, BIC dan E pada tahun 2003 masing-masing sebesar 4,86%, 16,67%, 34,72% dan 5,56% sedang pada tahun 2004 masing-masing meningkat sebesar 8,22%, 17,81%, 40,41% dan 6,16%.
o Jumlah Nilai A/B dan D pada tahun 2003 masing-masing sebesar 11,8% dan 9,03% sedang pada tahun 2004 menurun menjadi 6,85% dan 5,48%
PEMBUATAN ANTI-PROSTAGLANDIN F2alfa TERLABEL ALKALIN FOSFATASE : Suatu Upaya Penelusuran Jalur Luteolitik Prostaglandin F2alfa Sebagai Hormon Gertak Birahi Dengan Menggunakan Teknik Imunohistokimia
Aplikasi teknologi gertak birahi secara hormonal masih dinilai terlalu mahal bagi peternak di Indonesia. Harga hormon yang mahal serta keberhasilan yang belum begitu memuaskan menarik minar profesi kedokteran hewan untuk terus meneliti dengan tujuan untuk memperoleh suatu metoda gertak birahi yang mudah, murah, efisien dan selanjutnya dapat menunjang program inseminasi buatan dan transfer embrio Preparat hormon yang dapat digunakan untuk gertak birahi pada ternak adalah hormon progesteron dan Prostaglandin F2a (PGF2a ). Aplikasi pemberian PGF2a dapat secara intramuskular, subkutan dan intrauterin (Hafez,2000) akan tetapi terdapat kendala yaitu besarnya dosis yang dipakai serta memerlukan ketrampilan khusus. Untuk itu dilakukan altematif pemberian PGF2a secara submukosa vulva dengan asumsi dosis lebih rendah, caranya mudah, tidak memerlukan keahlian khusus sehingga menjadi lebih murah dan efisien.
Tujuan penelitian ini adalah membuat suatu model teknologi pembuatan anti- PGF2a yang dapat digunakan pada ternak lain serta untuk membakukan teknik gertak birahi dengan hormon PGF2a.
Manfaat penelitian ini dapat untuk mengkaji pembuatan anti- PGF2a serta jalur luteolitik yang dilalui hormon PGF2a sebagai gertak birahi yang diberikan secara submukosa vulva.
Metode penelitian ini terdiri dari dua tahap, tahap I pembuatan antibodi PGF2a. Dengan cara imunisasi PGF2a. Pada 8 ekor kelinci lokal jantan dengan dosis imunisasi 250 µg, 500 µg dan 750 pg dengan penambahan ajuvant CFA, booster dilakukan tiga kali dengan penambahan IFA. Pengambilan darah dilakukan sebanyak 9 kali. Selanjutnya dilakukan isolasi dan purifikasi serum dengan SAS 50%. Serum hasil purifikasi dilakukan uji karakterisasi dengan metoda dot blot, indirect elisa dan SDS PAGE. Selanjutnya dilakukan labelling anti- PGF2a dengan ensim alkalin fosfatase. Penelitian tahap II pembuktian jalur luteolitik dengan cara penyuntikan PGF2a secara submukosa vulva pada kambing dengan dosis 7,5 mg (perlakuan) dan 7,5 mg PBS (kontrol). Setelah 2 jam penyuntikan kambing dipotong, saluran reproduksi diambil dan dibuat preparat histologis serta dilakukan pewarnaan imunohistokimia.
Hasil penelitian tahap I pada uji karakterisasi dengan metoda dot blot terlihat bahwa pada timbulnya antibodi PGF2a +CFA sudah mulai nampak pada bleeding I (minggu ke-3) dan tingkat kegelapan yang paling tajam terlihat pada kelompok II dan III pada bleeding ke 4,5,6 (minggu ke-6,7 dan 8) hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi antibodi cukup tinggi. Dengan metoda Indirect Elisa, pada preimun dan ulangan kontrol menampakkan titer negatif terhadap anti- PGF2a sedang pads kelompok perlakuan mulai bleeding ke-2 menunjukkan titer positif karena nilai titer anti- PGF2a diatas nilai dua kali COV (cut of value) , hal ini menunjukkan respon imun terbaik terhadap PGF2a dengan terbentuknya anti- PGF2a dihasilkan pada bleeding ke-5 Perlakuan II. Dan penentuan berat molekul antibodi dengan metode SDS-PAGE 10% terlihat bahwa antigen (PGF2a) dapat mendeteksi antibodi (anti- PGF2a) sebagai suatu pita-pita protein dengan rataan BM sebesar 139,7237kD.
Penelusuran jalur luteolitik pada alat kelamin kambing betina dengan teknik imunohistokimia menunjukkan adanya warna kecoklatan pada slide-slide saluran alat kelamin betina yang meliputi vulva, vagina serviks, korpus uteri dan kornua uteri pada pemotongan dua jam setelah penyuntikan hormon PGF2a secara submukosa vulva, hal ini menunjukkan bahwa jalur luteolitik hormon PGF2a yang diberikan secara submukosa vulva dapat dirunut perjalanannya dengan mengggunakan anti-prostglandinF2a terlabel alkalin fosfatase dengan menggunakan teknik imunohistokimia
Profil Protein Oosit Dari Berbagai Ukuran Folikel Pada Proses Maturasi Oosit: Sebuah Upaya Meningkatkan Kualitas Produksi Embrio In Vitro
Penelitian ini bertujuan jangka panjang untuk memperoleh dasar dasar ilmu dan pengembangan produksi embrio in vitro yang mempunyai viabilitas tinggi dengan teknologi biomolekuler reproduksi melalui pengkajian profil protein yang berperan dalam proses maturasi oosit yang selanjutnya dapat dikembangkan untuk penyiapan kit deteksi kualitas oosit sebagai sumber embrio. Kualitas produksi embrio sapi secara in vitro masih cukup rendah. Dari beberapa penelitian produksi embrio in vitro tahap blastosis pada sapi sekitar 30% - 40% (Van Blerkom et ai, 1990). Salah satu faldor yang ikut mempengaruhi rendahnya produksi embrio adalah populasi oosit yang dimaturasi sangat heterogen sehingga proses pematangan akhir tidak berjalan secara sempurna (Hytell et al., 1997; Hagemann et al., 1992). Dari penelitian yang telah dilakukan Widjiati dan Rimayanti (2001) diketahui bahwa oosit yang dipanen dari folikel ukuran 30-12 mm prosentase jumlah oosit yang mencapai tahap metafase IT adalah 50%, sedangkan oosit yang dikoleksi dari folikel ukuran kurang dari 3 nun hanya mencapai 12%. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas oosit yang dihasilkan secara in vitro dari folikel yang bercliameter besar lebih baik daripada oosit yang dikoleksi dari folikel berdiameter kecil. Pentingnya mengetahui peran protein yang mempunyai fungsi menjaga kualitas oosit untuk dipakai dalam produksi em brio in vitro dan pencarian metode altematif untuk deteksi kualitas oosit berdasarkan profil protein sekama proses maturasi. Dipilihnya fraksi protein oosit dari berbagai ukuran folikel sebagai antigen untuk produksi antibocli, karena berdasarkan kajian immunologi antibodi ini akan mengenali fraksi protein yang mempunyai peran penting dalam proses maturasi, sehingga memungkinkan untuk dikembangkan menjadi kit deteksi kualitas oosit yang dipersiapkan untuk produksi embrio in vitro
Ilmu Reproduksi Ternak
Pemahaman tentang ilmu reproduksi ternak diperlukan karena merupakan ilmu yang mendasari perkembangbiakan ternak. Buku ini membahas anatomi dan fisiologi alat reproduksi ternak jantan dan betina, endokrinologi, siklus reproduksi, kebuntingan dan kelahiran serta fisiologi kelenjar susu dari beberapa jenis ternak. Buku ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan bagi mahasiswa Fakultas Peternakan, Kedokteran Hewan, Sarjana Peternakan, Dokter Hewan dan semua pihak yang berminat dalam mempelajari reproduksi terna
Breeding Programme Development of Bali Cattle at Bali Breeding Centre
Growth performance of Bali cattle has been a major concern especially in the character of body weight at a certain age, birth weight and weaning weight. Efforts to increase the quality of the performance of Bali cattle have been carried out by the government by forming P3Bali. In the activities of quality improvement, the government is guided by the breeding program which has been prepared. To strengthen these activities further, the breeding program has been modified based on weaning weight data for 10 years (1994-2004). Data were analyzed using the VCE and PEST to estimate the components of genetic variance and covariance. The breeding program was set up based on the results of the accuracy of some methods of selection. The results showed that the ratio of male to female optimum (1:5) would increase the selection response per generation about 53.08 percent. Selection responses were obtained when males were maintained for three years and females over six years in the population. (Animal Production 13 (1):45-51 (2011)Key Words: Bali cattle, breeding program, selection respons
Perbaikan Metode Pembelajaran Mata Kuliah Fisiologi Dan Teknologi Reproduksi
Hasil dari kegiatan metocie mata kuliah Fisiologi dan Teknologi Reproduksi Inl bermanfaat untuk proses belajar mengajar dan peningkatan ranah kognitif mahasiswa yang dapat dilihat dari perolehan nilai mahasiswa berupa :
Jumlah nilai A, B, B/C dan E pada tahun 2003 masing-masing sebesar 4,86%, 16,67%, 34,72% dan 5,56% sedang pada tahun 2004 masing-masing meningkat sebesar 8,22%, 17,81%, 40,41% dan 6,16%. Q Jumlah Nilai NB dan 0 pada tahun 2003 masing-masing sebesar 11,8% dan 9,03% sedang pada tahun 2004 menurun menjadi 6,85% dan 5/r8%
PERFORMANSI SAPI BALI PADA TIGA DAERAH DI PROVINSI BALI
The aim of the research was to know qualitative and quantitative traits of Bali cattle at three different areas geographically (lowland, midland and highland) at Bali province whether there are deviations or not. Variation in coat colour and some description about phenotypic Bali cattle are the main aspect for qualitative trait whereas body weight, some statistical vital (height at hip, body lenght, heart girth) and reproduction traits (mating system, origin of sire, condition of physiology, service per conception, calving interval and days open) of Bali cattle are the main aspect for quantitative trait. Sample of Bali cattle was taken in Tabanan (midland), Pulukan (lowland) and Karang Asem (highland) area about 2 percent of the total population. Each trait was measured at different age group. The age for each cattle was based on permanent incicy (PI) wich divided into 5 PI (PI0, PI1, PI2, PI3, PI4). The qualitative traits were found by direct observation at the field together with measurement of quantitative traits, body weight and some statistical vital. The result showed that in general Bali cattle are sexually dimorphic spesies, with bull being dark chestnut brown and cow and juveniles reddish brown. Both sexes have white rump patches and leggings. Both sexes carry horns, although they are much heavier and larger in the males.Quantitatively, bali cattle in Pulukan are much smaller than any other area followed in lack reproduction traits.</jats:p
- …
