200 research outputs found
ANALISIS EKSPRESI IL-4, IFN- DENGAN MUC5AC PADA SEKRET HIDUNG PASIEN COVID-19
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit pernapasan akut yang disebabkan oleh SARS CoV-2yang menyebabkan destruksi epitel paru. Penelitian bertujuan untuk menganalisis bagaimana hubungan ekspresi mRNA IL-4, IFN-γ dan ekspresi MUC5AC pada sekret hidung COVID-19.
Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan pada pasien terdiagnosa positif dan negatif COVID-19 terkonfirmasi melalui pemeriksaan Rt-qPCR yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel penelitian terdiri dari 40 orang kelompok kasus positif COVID-19 dan 40 orang kelompok kontrol negatif COVID-19 yang dipilih secara simple random sampling. Data diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan sekret hidung denga RT-PCR. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan program SPSS.
Pada analisis karakteristik sampel, didapatkan 58% wanita terkonfirmasi positif COVID-19. Didapatkan peningkatan ekspresi relatif IL-4, IFN- γ dan MUC5AC pada sekret hidung pasien COVID-19. IL-4 didapatkan peningkatan ekspresi 7.18 kali, IFN- γ meningkat sebanyak 4.93 kali dan gen MUC5AC meningkat sebanyak 2.07 kali. Ekspresi IL-4 pada COVID-19 dengan gejala hidung berair meningkat 4.75 kali, IFN- γ meningkat 1.58 kali dan MUC5AC meningkat sebanyak 9.77 kali. Ekspresi IL-4 pada COVID-19 dengan anosmia meningkat 1.65 kali, IFN-γ meningkat 1.96 kali, MUC5AC meningkat sebanyak 13.18 kali.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan ekspresi sitokin pro- inflamasi dan anti-inflamasi pada sekret COVID-19
Diagnosis dan Penatalaksanaan Abses Retrofaring pada Anak
Abstrak
Pendahuluan: Abses retrofaring adalah terkumpulnya nanah di ruang retrofaring yang merupakan salah satu
daerah potensial di leher dalam. Abses retrofaring merupakan kasus yang jarang tetapi dapat menyebabkan
kematian terutama pada umur di bawah 5 tahun. Sejak ditemukannya antibiotika, angka kesakitan dan kematian
akibat abses menurun drastis. Metode: Dilaporkan satu kasus abses retrofaring dengan riwayat ketulangan pada
anak gizi kurang umur 9 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
radiologi. Pada pemeriksaan foto polos jaringan lunak leher, terlihat gambaran pelebaran ruang retrofaring dan air
fluid level. Diskusi: Penatalaksanaan meliputi pemberian antibiotika, drainase dan eksplorasi abses serta perbaikan
keadaan umum.
Kata kunci: abses retrofaring, benda asing, drainase
Abstract
Introduction: Retropharyngeal abscess is defined as accumulation pus in retropharyngeal space which is a
potential area in deep neck space. Retropharyngeal abscess is a rare case but it can cause death especially in
children under five years old. Since antibiotics were found, morbidity and mortality of this case was drastically
decreased. Methods: A retropharyngeal abscess of child 9 years old with history of swallowed foreign body
(fishbone) and lack of nutrition has been reported. Diagnosis was based on anamnesis, physical examination and
radiographic finding. In soft tissue cervical radiograph we found, widening of retropharyngeal space with air fluid
level. Discussion: Management for abscess is intravenous antibiotics, drainage and exploration abscess and
improve general condition has been performed
Keywords:Retropharyngeal abscess, foreign body, drainag
PANDUAN KETERAMPILAN KLINIS PEMERIKSAAN, TELINGA, HIDUNG, TENGGOROKAN, BEDAH KEPALA DAN LEHER
Otomycosis
AbstrakOtomikosis adalah salah satu kondisi yang umum ditemukan di klinik THT. Penyakit ini merupakantantangan dan menimbulkan rasa frustrasi bagi pasien dan dokter ahli THT. Hal ini disebabkan pengobatan yangmemerlukan waktu lama dan rerata kekambuhan yang tinggi.Dilaporkan satu kasus otomikosis pada seorang wanita umur 41 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkananamnesis, pemeriksaan fisik dan tes KOH. Dari pemeriksaaan laboratorium ditemukan Aspergillus niger sebagaipenyebab. Dengan terapi pembersihan liang telinga dan obat oles telinga kombinasi gentian violet terdapatperbaikan.Kata kunci: Otomikosis, Aspergillus sp, TerapiAbstractOtomycosis is one of the common conditions encountered in a general otolaryngology clinic. The diseaseprocess a challenging and frustrating entity for both patients and otolaryngologists for it requires long termtreatment and recurrence rate remains. One case of otomycosis in a 41 years old woman is reported. Thediagnosis was based on anamnesis, physical examination and KOH test. From laboratory examination, Aspergillusniger was isolated as etiologic agent. With the treatment of ear toilet and combination of Gentian violet animprovement was observed.Keywords: Otomycosis, Aspergillus sp,Therap
Posterior Nasal Neurectomy in Allergic Rhinitis
Abstract
Introduction: Allergic rhinitis is an immunological response mediated by IgE from the nasal mucosa which is characterized by clear discharge from the nose, nasal congestion, itching of the nose. Endoscopic sinus surgery is performed in cases of allergic rhinitis that have comorbid factors such as chronic rhinosinusitis and nasal polyps. Therapy for rhinitis allergy including anti histamine, intranasal corticosteroid and immunotherapy. Surgical techniques such as selective posterior nasal neurectomy can be performed in patients with severe allergic rhinitis. Rhinosinusitis is based on sinonasal symptoms and inflammation of the sinonasal mucosa. Case Report: We report a case of a 20-year-old female patient who was diagnosed with chronic rhinosinusitis and allergic rhinitis which was managed by Functional Endoscopic Sinus Surgery (BSEF) and posterior nasal neurectomy. Conclusion: Posterior nasal neurectomy is one of the surgical procedures that can be performed on patients with allergic rhinitis who do not improve with treatment
Penatalaksanaan Sinusitis Frontalis Menggunakan Pendekatan Axillary Flap Ke Resesus Frontalis
Pendahuluan: Bedah sinus frontal dan resesus frontalis masih menimbulkan masalah karena anatominya yang kompleks sehingga beresiko menimbulkan komplikasi yang berat. Selain itu pembedahan sinus frontal dan resesus frontalis membutuhkan penggunaan alat-alat khusus yang berbentuk sudut seperti lengung 30 dan 70. Pembedahan sinus frontal dengan pendekatan axillary flap ke resesus frontalis merupakan teknik yang memudahkan ahli bedah karena cukup menggunakan alat dengan lengkung 0 dan dapat meminimalisir resiko komplikasi. Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus laki-laki 35 tahun dengan nyeri kepala hilang timbul sejak 10 tahun yang lalu. Dari pemeriksaan fisik dan penunjang pasien kemudian didiagnosis dengan sinusitis frontalis, massa et sinus frontal sinistra, konka bulosa dan septum deviasi. Pada pasien kemudian dilakukan tindakan frontal sinusektomi dengan pendekatan axillary flap, ekstirpasi massa et sinus frontal, konkotomi dan septoplasti dengan hasil yang baik. Kesimpulan: Bedah sinus frontal dengan pendekatan axillary flap memudahkan ahli bedah dalam mengakses sinus frontal tanpa menimbulkan komplikasi yang berat
Penatalaksanaan Pott’s Puffy Tumor dengan Pendekatan Bedah Sinus Endoskopi Fungsional dan Kraniektomi
Pott’s puffy tumor adalah abses subperiosteal pada dinding anterior sinus frontal yang berhubungan dengan osteomielitis. Insiden pott’s puffy tumor lebih sering terjadi pada usia remaja. Faktor penyebab utama pott’s puffy tumor adalah sinusitis frontalis dan trauma kepala bagian frontal. Pott’s puffy tumor mempunyai risiko tinggi menyebabkan komplikasi ke intrakranial. Tujuan: Memberikan pengetahuan tentang diagnosis dan tata laksana pott’s puffy tumor yang tepat sehingga mencegah terjadinya komplikasi. Laporan kasus: Dilaporkan seorang laki-laki berusia 56 tahun dengan diagnosis pott’s puffy tumor et causa sinusitis frontalis. Dari pemeriksaan tomografi komputer sinus paranasal dan kepala didapatkan kesan pott’s puffy tumor (osteomielitis sinus frontal). Pasien ditatalaksana dengan drainase abses melalui pendekatan Bedah Sinus Endoskopi Fungsional dan kraniektomi. Kesimpulan: Pott’s puffy tumor paling sering disebabkan oleh sinusitis frontalis. Pemeriksaan tomografi komputer memiliki peranan penting untuk diagnosis dan mendeteksi perluasan pott’s puffy tumor ke intrakranial. Kolaborasi antara ahli THT-KL dan ahli Bedah Saraf serta pemberian antibiotik yang adekuat diperlukan untuk penatalaksanaan pott’s puffy tumor
Diagnosis dan Penatalaksanaan Tumor Ganas Laring
Abstrak Laring berperan dalam koordinasi fungsi saluran aerodigestif atas seperti bernafas, berbicara dan menelan.Laring terbagi tiga yaitu supraglotis, glotis dan subglotis. Laring merupakan daerah tersering kedua untuk kasuskarsinoma sel skuamosa kepala-leher, biasanya berhubungan dengan tembakau dan alkohol. Lebih dari 95% kasustumor ganas laring adalah karsinoma sel skuamosa. Pasien tumor ganas laring datang dengan berbagai keluhanseperti disfonia, obstruksi jalan napas, disfagia, odinofagi dan hemoptisis. Diagnosis tumor ganas laring ditegakkanberdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis menggunakan endoskopi kaku, serat optik dan biopsi. Penatalaksanaantumor ganas laring tergantung stadium dengan modalitas berupa operasi, kemoterapi, radiasi atau terapi kombinasi.Dilaporkan kasus laki-laki 53 tahun dengan karsinoma glotis stadium III (T3N0M0) squamous cell ca keratinized welldifferentiated. Penatalaksanaan pada pasien ini dengan melakukan laringektomi total.Kata kunci: Tumor ganas laring, karsinoma, laringektomi, tembakau Abstract Larynx plays a certain role in coordinating functions of the upper aerodigestive tract, such as respiration,speech, and swallowing. The larynx is divided into three region; supraglottic, glottic, and subglottic. Larynx is thesecond most common site for squamous cell carcinoma in the head and neck and usually related to tobacco andalcohol exposure. Primary malignant tumors of the larynx are squamous cell carcinomas can found more than 95% ofcases. Patients with laryngeal tumors usually present with complaints of hoarseness, respiratory obstruction,dysphagia, odynophagia and hemoptysis. Diagnosis of laryngeal cancer is made by medical history, clinicalexamination using a rigid or fiberoptic endoscope and biopsy. Management of laryngeal tumour depends on stadiumwith various modality included surgery, chemotheraphy, radiotheraphy or combined therapy. Reported case of 53years old male with Glottic carcinoma of the larynx stage III (T3N0M0) squamous cell ca keratinized well differentiatedis presented. The treatment undergoes with total laryngectomy.Keywords: Laryngeal cancer, carcinoma, laryngectomy, tobacco<br /
Bedah Basis Kranii Hipofisektomi Tahap Kedua dengan Pendekatan Endoskopi Transfenoid pada Adenoma Hipofisis
Latar Belakang: Teknik operasi bedah basis kranii dengan pendekatan endoskopi transfenoid memberikan kualitas visualisasi lapang pandang operasi lebih baik dibanding menggunakan mikroskop dan morbiditas lebih rendah dibanding teknik lainnya. Selama dua dekade terakhir bedah endoskopik telah mendapatkan dukungan sebagai pendekatan utama untuk lesi sellar dan parasellar termasuk adenoma hipofisis. Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus seorang laki-laki 34 tahun dengan keluhan penurunan penglihatan dan didiagnosis dengan adenoma hipofisis. Pada pasien dilakukan tindakan reseksi tumor oleh ahli bedah saraf dengan pendekatan endoskopi transfenoid berkolaborasi dengan ahli THT-KL. Kesimpulan: Bedah basis kranii pendekatan endoskopi transfenoid adalah tindakan bedah yang menjadi pilihan utama untuk lesi basis kranii. Tindakan ini memberikan visualisasi struktur anatomi yang baik, lapang pandang operasi yang lebih luas, manipulasi struktur neurovaskular minimal, meminimalisir morbiditas dan meningkatkan kualitas hidup pasien, memiliki tingkat keberhasilan yang cukup tinggi dan memberikan hasil yang memuaskan
Diagnosis dan Tatalaksana Rinosinusitis Kronis dengan variasi anatomi Sel Haller dan Seromucinous Hamartoma
Abstrak
Pendahuluan: Rinosinusitis kronis (RSK) adalah inflamasi kronis pada hidung dan sinus paranasal yang terjadi lebih dari 12 minggu. Salah satu faktor resiko terjadinya RSK yaitu variasi anatomi seperti sel haller yang dapat menyebabkan gangguan ventilasi maupun drainase sinus. RSK juga dapat disertai dengan polip nasal dimana polip memiliki berbagai diagnosis banding berdasarkan hasil histopatologi, salah satunya adalah Seromucinous Hamartoma (SH). Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus RSK dengan polip nasal dan sel haller pada perempuan usia 48 tahun dengan keluhan hidung tersumbat dan keluar ingus kental dari hidung. Pasien dilakukan tindakan Bedah Sinus Endoskopi Fungsional dan ekstirpasi massa lalu didapatkan hasil histopatologi berupa SH. Kesimpulan: SH adalah kondisi yang jarang terjadi pada rongga hidung atau sinonasal. Etiologi hamartoma tidak diketahui, tetapi peradangan kronis pada mukosa hidung yang berhubungan dengan RSK dan variasi anatomi adalah hipotesis yang bisa diterima. SH hampir selalu dapat disembuhkan dengan ekstirpasi massa dan kekambuhan hampir jarang ditemukan.
Kata kunci: Rinosinusitis kronis, Sel Haller, Seromusinosa Hamartoma
- …
