1,264 research outputs found
The effect of corncob biochar application and dose reduction of N, P, K fertilizer on growth and yield of soybean (Glycine max L.) in regosol soil, Bantul, Yogyakarta
During the period of growth and development, soybeans need loose soil that is rich in organic matter. Biochar is a soil amendment with high porosity and large surface area, resulting in nutrients and water to be well absorbed and retained. Intensive agricultural cultivation requires a supply of nutrients by the application of inorganic fertilizers such as N, P, and K. Organic matter needs to be applied to maintain soil fertility and balancing the dose of inorganic fertilizers. The study aimed to determine the effect of corncob biochar application and the dose reduction of N, P, K fertilizer on the growth and yield of soybean. The research was conducted from November 2020 to March 2021, located at Tridharma Farm, Yogyakarta. Randomized complete block design was used with the application of 10 t/ha of biochar and without biochar as the first factor. The second factor was the use of N, P, K fertilizers in 100%, 75%, 50%, and 0% of recommended doses. The application of biochar 10 t/ha on soybeans was able to increase physiological components which include stomatal opening, stomatal density, and N, P, K uptake; growth components which include root length density, root area density, leaf area, leaf area index, net assimilation rate, crop growth rate, plant dry weight, harvest index, and yield components which include number of nodes and pods per plant, 100 seed weight, grain weight per plant and grain yield. Dose reduction of fertilizers did not lead to decreasing the physiological activity, growth, and yield of soybeans
Laporan penelitian pengaruh pemupukan kalium dan molybdenum terhadap pertumbuhan dan hasil kacang tanah
Evaluasi Ketahanan Padi Sawah terhadap Keracunan Besi (< 500 ppm) melalui Pemupukan Organik (10 t/ha) untuk Mencapai HasilTinggi (> 6 t/ha) di Lahan Sulfat Masam Pasang Surut.
Tanggapan Akar dan Bintil Akar Kacang Tanah Terhadap Kekeringan Pada Beberapa Umur Tanaman
Laporan penelitian pengaruh dosis dan konsentrasi pemupukan urea lewat daun pada tanaman jagung
Tanggapan Akar Dan Bintil Akar Kacang Tanah Terhadap Kekeringan pada beberapa umr tanaman
ABSTRACT
Some experiments of water stress on peanut yield have been done, but there is a lack of information concerning the water stress effects on root growth and root nodule. A pot experiment was done with completely randomized design with 4 replications. The treatments were drought imposed at several periods of age of plants, with the length of each period was 4 weeks. Observations were done for plant and soil water status, root growth, root dry matter and number of root nodules.
Results of the experiment showed that soil water potential and relative water content of plant reduced under drought condition. Length of drought period, wet period occurred previously did not affect soil and water status of drought stressed plants. Drought condition increased root growth and root dry weight of peanut, but volume and length of main root were not affected. Root dry weight was not affected by the age of plant when the drought occurred, but plant stressed for 8 weeks or more had root dry weight heavier then those stressed for 4 weeks. Drought reduced the number of root nodules, especially when it occurred during the fastest growth from 6 up to 12 weeks after planting. The longer the drought occurred the lower the number of root nodules produced.
Key words: Root, root nodules, drought, peanut.
INTISARI
Penelitian tentang pengaruh kekeringan terhadap }Iasi/ biji kacang tanah telah banyak dilakukan, namun masih sangat sedikit yang memperhatikan pengaruhnya terhadap perakaran. Suatu penelitian pot telah dilakukan dengan rancangan acak lengkap dengan 4 ulangan. Perlakuan kekeringan diberikan pada beberapa periode umur tanaman dengan lama perlakuan masing-masing sepanjang 4 minggu. Pengamatan dilakukan terhadap status lengas tanah dan tanaman, pertumbuhan akar dan bobot kering akar.
Hasil penelitian menunjukkan potensial air tanah dan kandungan air nisbi tanaman menurun saat terjadi kekeringan. Panjang periode kekeringan dan periode basah sebelum kekeringan tidak rnempengaruhi status air tanah dan tanaman pada tanaman yang mengalami kekeringan. Keadaan kering meningkatkan pertumbuhan akar dan bobot kering akar kacang tanah, namun volume dan panjang akar utama tidak terpengaruh. Bobot kering akar tidak terpengaruh oleh umur tanaman saat terjadinya kekeringan, namun tanaman yang mengalami kekeringan 8 minggu atau lebih mempunyai bobot kering akar yang lebih berat dibanding yang mengalami selama 4 minggu. Kekeringan menurunkan jumlah bintil akar, terutama bila terjadi .pada saat pertumbuhan maksimum dart 6 sampai 12 minggu sesudah tanam. Semakin lama kekeringan terjadi semakin sedikit jumlah bintil akar yang terbentuk.
Kata kunci : akar, bintil akar, kekeringan, kacang tana
PENGARUH PEMANGKASAN PUCUK PADA BERBAGAI FASE PERTUMBUHAN, JARAK TANAM, DAN GENANGAN DALAM PARIT TERHADAP PROSES FISIOLOGIS, PERTUMBURAN, DAN HASIL TANAMAN KEDELAI
Peningkatan hasil kedelai dalam negeri perlu dilakukan untuk mengurangi impor. Peningkatan hasil dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: cara pengairan, pemangkasan pucuk, dan pengaturan jarak tanam. Ada informasi bahwa petani di daerah Bantul dapat menghasilkan kedelai sekitar 4,0 ton/ha dan masih dapat ditingkatkan menjadi 4,5 ton/ha dengan pemangkasan pucuk. Dengan hasil rata rata nasional sekitar 1,14 ton/ha maka hasil tersebut sangat luar biasa dan perlu diklarifikasi melalui penelitian yang mendalam. Pengairan diketahui dapat meningkatkan hasil kedelai. Yang utama adalah bukan lagi perlu pengairan atau tidak, melainkan bagaimana cara pengairan yang bak pengairan yang selama ini diterapkan petani adalah pengairan luapan yang diberikan dua minggu sekali. Dengan cara ini tanaman mengalami cekaman berganti ganti, yaitu tergenang dan kekeringan. Genangan dalam parit atau budidaya basah dapat menghindarkan tanaman dari cekaman dan hasil kedelai dapat meningkat 20 70%. Apakah tanaman yang dipangkas pucuknya dapat ditingkatkan lagi hasilnya dengan genangan dalam parit masih belum ada informasi yang pasti. Pemangkasan pucuk dapat menghilangkan dominansi apikal sehingga muncul cabang baru yang menambah indeks luas daun dan jumlah polong. Hasil penelitian selama ini memberikan kesimpulan yang berbeda beda namun sebagian besar menunjukkan bahwa pemangkasan pucuk tidak meningkatkan hasil dan bila terjadi peningkatan hasilnya kecil. Penambahan cabang baru akibat pemang-kasan pucuk memerlukan pengaturan jarak tanam baru. Rekomendasi saat ini untuk populasi antara 300.000 sampai 500.000 bisa menjadi tidak tepat lagi. Atas dasar permasalahan tersebut, penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk melihat pengaruh cara pengairan, pemangkasan pucuk, dan jarak tanam terhadap proses fisiologis, pertumbuhan, dan hasil kedelai. Selain itu, akan dicari pula jarak tanam optimum bagi tanaman kedelai yang dipangkas dan diberi genangan dalam parit. Bahan bahan yang diperlukan adalah benih kedelai varietas, Wilis, pupuk urea, TSP, dan KCl, pupuk kandang, Marshall, Decis, dan Dursban. Penelitian di Godean disusun dalam rancangan antar lokasi 2 x 2 acak kelompok dengan tiga ulangan. Sebagai lokasi adalah cara pengairan terdiri dari 2 aras, yaitu: Cara. pengairan luapan dua minggu sekali seperti yang biasa dilakukan petani sebagai kontrol dan genangan dalam parit terus menerus dengan jeluk muka air ᠑
ISOLASI DAN SELEKSI PSEUDOMONAD FLUORESCENS PADA RISOSFER PENYAMBUNGAN TOMAT
[ENGLISH] Fluorescen pseudomonad had been isolated from the rhizosphere of grafting tomato with resisten rootstock (H 7996 and EG 203 from Asian Vegetable Research Development Center). Tomato varieties Permata and Fortuna were used as scion in grafting. Fluorescen pseudomonad was isolated on King’S B medium and used phosphate buffer 0,1 M + 0,1 % pepton. About 230 isolates of P. fluorescens were isolated from tomato rhizosphere at 14 HST and about 454 isolates at 28 HST. All isolates were tested for their capability to suppress the growth Ralstonia solanacearum in vitro. All isolates inhibited the growth of R. solanacearum with an inhibition zone of 1 mm to 7 mm or more. The mechanism growth of inhibition was bacteriostatic. About Ten isolates of P. fluorescens which had large inhibition zone, were not inhibit each other and inhibition against R. solanacearum due to nutrient competition. Keywords : tomato; grafting; Fluorescens pseudomonad [INDONESIAN] Pseudomonad fluorescens diisolasi dari risosfer tomat hasil penyambungan dengan batang bawah tahan yaitu tomat H 7996 dan terung EG 203 dari Asian vegetebles Research Development Center (Taiwan). Sebagai batang atas digunakan varietas Permata dan Fortuna. Isolasi dilakukan pada media King’s B dan menggunakan buffer phospat 0,1 M + pepton 0,1 %. Sejumlah 230 isolat P. fluorescens berhasil diisolasi dari risosfer pada 14 HST dan 454 isolat pada 28 HST. Semua isolat diuji kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan Ralstonia solanacearum secara in vitro. Semua isolat P. fluorescens mampu menghambat R. solanacearum dengan zona hambatan antara 1 mm sampai dengan lebih dari 7 mm. Semua isolat mempunyai mekanisme penghambatan bakteriostatik. Sebanyak sepuluh isolat P. fluorescens yang mempunyai daya hambat besar, tidak saling menghambat satu dengan yang lain dan penghambatan terhadap R solanacearum yang terjadi karena adanya kompetisi nutrisi. Kata kunci: Tomat; Penyambungan; Pseudomonad fluorescens How to citate: Nurcahyanti SD, T Arwiyanto, D Indradewa, J Widada. 2013. Isolasi dan seleksi pseudomonad fluorescens pada risosfer penyambungan tomat. Berkala Ilmiah Pertanian 1(1): 15-1
- …
