1,721,009 research outputs found

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    SANKSI BAGI PELANGGAR HAK MEREK DAGANG DALAM PERSPEKTIF HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM (STUDI KASUS PADA PUTUSAN NOMOR 2/PDT.SUS.HKI/MEREK/2022/PN.NIAGA SBY)

    No full text
    Penelitian ini berjudul Sanksi Bagi Pelanggar Hak Merek Dagang dalam Perspektif Hukum Positif dan Hukum Islam (Studi Kasus Pada Putusan Nomor 2/Pdt.Sus. HKI/Merek/2022/PN.Niaga Sby). Sengketa merek antara Magic Fof Skin (MS Glow) dengan Putra Siregar Glow (PS Glow) berujung di Pengadilan dikarenakan adanya kemiripan. Sehingga berdampak pada menurunnya omset penjualan yang tentunya menimbulkan kerugian besar bagi pemilik merek yang sebenarnya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1). Bagaimanakah sanksi bagi pelanggar hak merek dagang perspektif hukum positif? 2). Bagaimanakah sanksi bagi pelanggar hak merek dagang perspektif hukum Islam? 3). Bagaimanakah persamaan dan perbedaan sanksi bagi pelanggar hak merek dagang perspektif hukum positif dan hukum Islam? Penelitian ini termasuk penelitian yuridis normatif dengan menggunakan data deskriptif kualitatif serta menggunakan metode penggumpulan data melalui studi kepusakaan. Hasil penelitian ini yaitu 1). Sanksi bagi pelanggar hak merek dagang dalam perspektif hukum positif yaitu dikenakan hukuman perdata berupa denda ganti rugi sebesar Rp 37.990.726.332 (tiga puluh tujuh miliar sembilan ratus sembilan puluh juta tujuh ratus dua puluh enam ribu tiga ratus tiga puluh dua rupiah) hal ini sesuai dengan pasal 83 Undang-undang nomor 20 tahun 2016. 2). Sanksi bagi pelanggar hak merek dalam hukum Islam yaitu dikenakan sanksi ta‟zir yaitu sanksi yang ditetapkan oleh penguasa berat ringannya sanksi diserahkan kepada keputusan hakim dengan mempertimbangkan kemaslahatan. 3). Adapun persamaan sanksi antara hukum positif dan hukum Islam yaitu terletak pada kewenangan hakim dalam menjatuhkan sanksi, sedangkan perbedaannya yaitu jenis hukuman yang ditetapkan dan batas hukuman yang diberikan

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    PENATAAN DAN PENGEMBANGAN WANA WISATA MONUMEN SOERDJO NGAWI

    Full text link
    1.1. Latar Belakang Pariwisata merupakan salah satu sumber penghasilan suatu daerah. Dengan pengelolaan yang baik, suatu obyek wisata dapat menjadi sumber pendapatan yang besar. Terlebih dengan dikeluarkannya UU No.22 tahun 1999 tentang otonomi daerah dan UU No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah, sector pariwisata menjadi salah satu andalan tiap daerah untuk meningkatkan pendapatan daerahnya. Kabupaten Ngawi yang terletak paling barat dari propinsi Jawa Timur dan berbatasan langsung dengan propinsi Jawa Tengah memiliki banyak obyek wisata alam maupun obyek wisata budaya, hiburan dan rekreasi. Obyek wisata itu antara lain Waduk Pondok, Wana Wisata Monumen Soerjo, Perkebunan Teh Jamus, Air Terjun Srambang, Museum Trinil, Benteng Van Den Bosch, Pesanggrahan Srigati dan Pemandian Tawun. Obyek-obyek wisata tersebut ada yang dikelola oleh Pemerintah Daerah, swasta atau Perusahaan Umum Negara (Perhutani). Dari sekian banyak obyek wisata, Wana Wisata Harian Monumen Soerjo memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan karena lokasinya yang sangat strategis, yaitu ditepi jalan yang menghubungkan Solo dan Surabaya. Wana Wisata Harian Monumen Soerjo Ngawi terletak ± 19 km sebelah barat kota Ngawi, di tepi jalur Solo-Surabaya yang cukup padat dilalui kendaraan. Karena merupakan jalur utama selatan Jawa, selalu ada orang yang mengunjun tempat ini, baik pribadi maupun rombongan wisatawan, yang memang sengaja ingin mengunjungi obyek ini maupun hanya sekedar beristirahat karena melakukan perjalanan jauh. Letaknya yang berada di tengah hutan jati menyebabkan obyek wisata ini berhawa segar sehingga mengundang minat pengunjung untuk beristirahat di tempat ini. Obyek ini didirikan pada tahun 1974 untuk mengenang peristiwa gugurnya Gubernur I Jawa Timur yaitu Gubernur Soerjo, Kombespol M.Doerjat, dan Kompol Tk.I. Soeroko yang dibunuh oleh PKI pada tahun 1948, sepulang mereka menghadiri rapat di Yogyakarta. Untuk memperingati kepahlawanan mereka yang demi tugas telah mengorbankan jiwa mereka maka dibangunlah monument Soerjo. Obyek ini memiliki banyak pendukung. Selain wisata hutan, ada wisata sejarah yaitu monument Soerjo, pasar burung, penangkaran rusa juga kerajinan kayu jati yang banyak terdapat di daerah ini. Selama ini pengelolaan Wana Wisata ini dilakukan oleh perum Perhutani PKH Ngawi karena letaknya berada ditengah hutan produksi milik Perhutani. Karena memiliki potensi, maka sudah selayaknyalah bila Wana Wisata ini ditata dan dikembangkan lebih lanjut agar dapat menjadi obyek wisata baik tingkat local maupun regional yang lebih baik. Pengenbangan Wana Wisata Monumen Soerjo direncanakan menampilkan ciri khas daerah, untuk itu penekanan desainnya adalah dengan gaya arsitektur Neo-Vernakular yang menampilkan unsur-unsur budaya setempat ke dalam bentuk modern. Dengan penataan dan pengembangan Wana Wisata Harian Monumen Soerjo ini diharapkan dapat menarik lebih banyak pengunjung ke onyek ini sehingga mampu menumbuhkan potensi wisata daerah, potensi ekonomi warga sekitar dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). 1.2. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan Menata dan mengembangkan Wana Wisata monumen Soerjo Ngawi sebagai obyek wisata alam yang berwawasan lingkungan, yaitu menjaga keseimbagan lingkungan/ alam dan sebagai tujuan akhir adalah meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. 2. Sasaran Penyusunan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) Penataan dan Pengembangan Wana Wisata Monumen Soerjo di Ngawi. 1.3. Manfaat 1. Secara Subyektif • Memenuhi salah satu persyaratan dalam menempuh Tugas Akhir sebagai ketentuan kelulusan Sarjana Strata 1 (S1) pada Jurusan Arsitekur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. 2. Secara Obyektif • Usulan tentang Penataan dan pengembangan Wana Wisata Monumen Soerjo Di Ngawi diharapkan dapat menjadi salah satu masukan yang berarti bagi masyarakat dan pemerintah daerah Kabupaten Ngawi pada khususnya. • Sebagai sumbangan perkembangan ilmu dan pengetahuan arsitektur pada khususnya. 1.4. Ruang Lingkup 1. Ruang Lingkup Substansial • Lingkup perencanaan dan perancangan tentang penataan dan pengembangan Wana Wisata Monumen Soerjo Ngawi termasuk dalam kategori perencanaan dan perancangan bangunan massa banyak yang diwujudkan dengan penataan kembali lingkungan dan fasilitas-fasilitas yang telah ada serta penambahan fasilitas baru yang dapat mewadahi aktivitas kawasan sebagai wisata alam yang berwawasan lingkungan. • Wana Wisata Monumen Soerjo yang direncanakan merupakan suatu wadah kegiatan wisata yang rekreatif dan edukatif yang akan menyejiksn hutan dengan segala daya tariknya yaitu daya tarik alam, daya tarik budaya dan daya tarik buatan serta akan meningkatkan pemahaman wisatawan akan pentingnya melestarikan hutan. 2. Ruang Lingkup Spasial Wana wisata Harian Monumen Soerjo ini secara administrative terletak di Desa Sidolaju, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Saat ini dikelola oleh Perum Perhutani KPH Ngawi. Luas tapaj yang tlah terbangun ± 4 Ha, sedangkan luas tapak keseluruhan dari Wana Wisata ini adalah ± 12,5 Ha. 1.5. Metode Pembahasan Metode untuk melakukan penataan dan pengembangan di Wana Wisata Monumen Soerjo ini diperlukan survey lapangan sehingga diperoleh data-data eksisting kawasan yang askurat, potensi dan permasalahan yang ada sehingga dapat dibahas lebih jelas dan sistematis. Maka metode pemahaman yang dilakukan dalam penulisan ini adalah pembahasan secara deskriptif analitis untuk menggambarkan keadaan atau fenomena yang sedang berkembang di lapangan dengan mengumpulkan data melalui studi literature, wawancara dan observasi lapangan, untuk kemudian dianalisa dan dilakukan suatu pendekatan yang menjadi dasar penyusunan konsep program perencanaan dan perancangan. Metode yang lain adalah metode komparatif, yaitu membandingkan data yang diperoleh dengan data studi banding. 1. Pengumpulan Data Data yang diperlukan adalah : a. Data primer, yaitu data utama yang berupa informasi mengenai aspek pembahasan. Data diperoleh melalui survey lapangan dan wawancara. b. Data sekunder, yaitu data yang didapatkan dari sumber kedua, merupakan informasi yang bersifat melengkapi data primer, seperti data monografi dan kebijakan pemerintah. Data tersebut diperoleh dengan metode dokumentasi, yaitu penelusuran dan penyalinan arsip. 2. Analisis dan Penampilan Data Analisis dilakukan sejak berada dilapangan dengan melakukan organisasi data dilanjutkan dengan menghubungkan yang satu dengan data yang lain untuk kemudian diidentifikasi. Dalam rangka mengolah data yang telah dikumpulkan, digunakan teknis analisis logic untuk data yang bersifat kualitatif dalam bentuk uraian sistematis. Untuk mengolah data kuantitatif digunakan teknis anlisis statistic, dalam bentuk penyajian tabel atau grafik. Proses dalam melakukan analisis adalah : a. Melakukan reduksi data, merupakan proses seleksi, pemfokusan, dan penyederhanaan, sehingga didapatkan data yang benar-benar diperlukan dalam proses perencanaan dan perancangan. b. Data display, menampilkan data yang penting berupa tabel atau grafik untuk memudahkan analisis. c. Pendekatan-pendekatan, dilakukan terhadap unsur-unsur yang berperan dalam perancangan, seperti pendekatan tapak, kebutuhan ruang, persyaratan bangunan, tata ruang luar dan arsitektural. 3. Kesimpulan Berupa kesimpulan dari analisa yang dipakai sebagai dasar untuk membuat design guildeline yang akan melandasi perancangan. 1.6 Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan disusun dengan urutan sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Menguraikan tentang latar belakang perlunya penataan dan pengembangan Wana Wisata Monumen Soerjo, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, lingkup, metode, dan sistematika. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Menguraikan tentang tinjauan umum wisata, wisata alam, wana wisata, arsitektur neo vernakuler, dan tinjauan lansekap. BAB III TINJAUAN TENTANG WANA WISATA MONUMEN SOERJO NGAWI Menguraikan tentang Landasan kebijakan pariwisata lingkup regional dan kabupaten Ngawi, tinjauan Wana Wisata Monumen Soerjo yang meliputi kondisi fisik, kondisi non fisik deserta analisisnya, serta studi banding. BAB IV BATASAN DAN ANGGAPAN Menguraikan tentang kesimpulan, batasan dan anggapan, yang akan digunakan dalam perencanaan dan perancangan. BAB V PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PARANCANGAN Berisi tentang dasar pendekatan, pebdekatan tapak, pendekatan kebutuhan ruang, pendekatan persyaratan bangunan, pendekatan tata ruang luar, serta pendekatan arsitektural. BAB VI KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERANCANGAN Berisi tentang konsep dasar perancangan, factor pnentu perancangan, konsep dasar perancangan bangunan, konsep dasar perancangan tata ruang luar, program ruang dan kebutuhan luas tapak

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
    corecore