1,720,963 research outputs found
MANAJEMEN KOMUNIKASI “INANG-INANG” DALAM MENJALANKAN PEKERJAAN DI PADANG JAYA KABUPATEN BENGKULU UTARA
Profesi sebagai Inang-inang yang memiliki stereotip Rentenir di Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara memerlukan kemampuan untuk memanajemen komunikasi secara verbal dan non verbal untuk mempertahankan dan mengembangkan pekerjaan yang inang-inang jalankan. Selain itu pekerjaan yang mereka jalankan memerlukan banyak langganan supaya pekerjaan mereka dapat berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stereotip Rentenir masyarakat Padang Jaya terhadap inang-inang bisa muncul dan bagaimana manajemen komunikasi inang-inang dalam mengembangkan pekerjaan ditengah stereotip yang beredar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui data primer (observasi partisipan dan wawancara mendalam) dan data sekunder (studi literatur dan dokumentasi). Wawancara dilakukan terhadap informan kunci yaitu masyarakat yang ada di Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara dan informan pokok yaitu inang-inang yang memiliki pekerjaan meminjamkan uang dengan mengambil bunga yang besar. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa masyarakat mempunyai stereotip Rentenir terhadap inang-inang dikarenakan pekerjaan yang mereka lakukan adalah meminjamkan uang dengan mengambil bunga yang besar. Dengan adanya stereotip tersebut inang-inang memanajemen komunikasi mereka untuk mengembangkan pekerjaan terhadap para langganan dan calon langgananya menggunakan komunikasi intrapersonal dan interpersonal secara verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal yang dilakukan oleh inang-inang dengan sesama berupa penggunaan bahasa asli asal mereka yaitu Batak, dan bahasa yang digunakan untuk para langgan dan calon langganan adalah bahasa Jawa. Sedangkan komunikasi non verbalnya berupa sentuhan, parabahasa, kontak mata, penampilan, buku tagihan, isyarat dan gerakan tubuh serta topi yang selalu mereka pakai sebagai ciri khas mereka
PENYAJIAN KESENIAN GAMBUS INANG-INANG GAYA PAK YUYU DI DESA BATU PENYU KECAMATAN GANTUNG KABUPATEN BELITUNG TIMUR
Gambus Inang-inang merupakan alat musik dawai yang teknik permainan gambusnya dipetik dan dipukul, dimainkan oleh dua orang secara bersamaan. Kesenian Gambus Inang-inang sampai saat ini sering disajikan oleh masyarakat sebagai media hiburan dalam kegiatan upacara Maras Taun (Selamatan Taun) di Desa Batu Penyu Kecamatan Gantung Kabupaten Belitung Timur.
Permasalahan dalam penelitian ini yaitu tentang penyajian kesenian Gambus Inang-inang di Desa Batu Penyu Kecamatan Gantung Kabupaten Belitung. Tujuan dalam penelitian untuk mengetahui struktur pertunjukan, teknik petikan dan pukulan, serta penyajian syair lagu pada kesenian Gambus Inang-inang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif melalui paradigma kualitatif untuk memberikan paparan secara akurat mengenai data-data yang ada dalam objek penelitian.
Berdasarkan uraian mengenai penyajian kesenian Gambus Inang-inang di Desa Batu Penyu Kecamatan Gantung Kabupaten Belitung Timur dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Dilihat dari penyajian kesenian Gambus Inang-inang merupakan perpaduan antara instrumen musik yaitu gambus dengan vokal yang intinya tentang nasehat dan ungkapan hati. Penyajian syair lagunya disajikan menggunakan bahasa Belitung asli, dengan cengkok khas gaya Pak Yuyu, keduanya sangat berhubungan dan tidak dapat dipisahkan dengan penyajian instrumen gambusnya.
Teknik petikan yang digunakan dalam permainan Gambus Inang-inang oleh Pak Yuyu yaitu teknik Nyangkup, yaitu memetik senarnya mulai dari atas ke bawah, bawah ke atas dilakukan secara berulang-ulang dengan menggunakan pick (alat bantu petik). Sedangkan, teknik pukulan yang digunakan oleh Pak Bachtiar yaitu dengan menggunakan alat bantu pukul penyaca (Alat Pemukul Senar). Fungsi pemukul disini untuk memberikan tempo dan pola ritmik pada melodi gitar gambus dan pantun yang dibawakan
The Meaning And Dimensions of Work: Women Traders Toba-Batak (Inang-Inang) in Medan, North Sumatera, Indonesia
Abstract The research was conducted in the city of Medan on the meaning and dimensions of women's work Toba-Batak traders (inang-inang (honor). Education for Toba-Batak people is the only way to achieve "the glory of life." TobaBatak women traders with trading activities completely to achieve the task of the cultural mission. is a multicultural city and is a typical interaction center for the residents of various ethnic and religious groups. This research is a case study focusing analysis unit areten family and household inang-inang. Location of the study will be concentrated at the center of the Market or Central Market. The technique used for the data collection process, among others, is the study of literature, participation observation and in-depth interviews. This study uses a framework of thinking of the meaning of work and labor dimensions o
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
