1,720,997 research outputs found
Demokratisasi Komunikasi Dengan Empati (Studi Eksplorasi pada Pemikiran Idi Subandy Ibrahim terkait Kajian Komunikasi Indonesia)
Secara umum pendekatan sejarah komunikasi belum banyak yang mengkaji
atau belum begitu kuat perkembangannya di Indonesia. Pendekatan sejarah
komunikasi bertujuan untuk memahami konteks sejarah ilmu komunikasi di
Indonesia. Salah satu cara untuk mengetahui perkembangan kajian komunikasi
Indonesia adalah melalui studi pemikiran. Penelitian ini meneliti studi pemikiran
Idi Subandy Ibrahim untuk melihat bagaimana pemikiran Idi Subandy Ibrahim
dalam mengembangkan kajian komunikasi Indonesia. Dengan menggunakan
metode hermeneutika milik Gadamer dan menganalisis tulisan-tulisanya mulai
tahun 1995 sampai 2017 yang memiliki fokus penelitian; Bagaimana proses
perjalanan dan pemikiran Idi Subandy Ibrahim yang tidak bisa dilepaskan dari
kondisi sosial yang mempengaruhi pemikirannya pada saat itu. Pendekatan yang
digunakan antara lain pendekatan sejarah dalam kajian komunikasi, sociology of
knowledge dan pendekatan cultural studies. Ditemukan bahwa Idi Subandy Ibrahim
dapat dikatakan sebagai seseorang yang telah memberikan kontribusinya terhadap
perkembangan kajian komunikasi Indonesia selain melalui tulisannya tetapi juga
perannya dalam beberapa lembaga atau forum seperti ISKI, FSK, LSPP, FDIB dan
lain sebagainya. Selain itu juga perannya sebagai dosen tidak tetap di beberapa
Universitas perguruan tinggi Indonesia. Kemudian, yang mempengaruhi
pemikirannya antara lain (1). Pendidikan, (2). Lingkungan sosial (3). Lingkaran
pertemanan dan organisasi, (4). Keluarga. Kemudian, ditemukan bahwa tulisannya
tersebut merupakan bentuk kekhawatiran Idi Subandy Ibrahim melihat ruang publik
menjadi tempat praktik-praktik komoditas dan komersialisasi sehingga Idi
memberikan gagasan alternatif tentang bagaimana jurnalisme harus menerapkan
komunikasi empati
Kritik budaya komuikasi: budaya, media, dan gaya hidup dalam proses demokratisasi di Indonesia
Media massa, khususnya elektronik seperti televisi, memiliki peran yang sangat vital dalam mempengaruhi, mengubah, atau bahkan membentuk dan menciptakan budaya.Peran yang sesungguhnya sangat diharapkan bisa membangun budaya yang sehat. Namun, sayangnya, media justru mengambil jalan lain, tidak seperti yang diharapkan. Media lebih mementingkan dirinya sendiri, mengabaikan peran vitalnya. Di titik inilah, kritik terhadap media perlu dilakukan.Buku Idi Subandy Ibrahim ini berupaya menghidupkan sikap kritis terhadap budaya komunikasi dan media dalam konteks perjalanan demokratisasi bangsa ini sekarang. Kritik seperti ini sangat diperlukan.Tanpa sikap kritis, media alih-alih berperan menjadi pembangun, justru menjadi perusak bangsa. Douglas Kellner (1995), seperti dikutip Idi, mengatakan budaya media telah muncul dalam bentuk citra, bunyi, dan tontonan yang membantu membangun struktur kehidupan sehari-hari, mendominasi waktu luang, membentuk pandangan politik, dan perilaku sosial, serta menyediakan bahan bagi kita untuk membangun identitas.Menurut Idi, ada dua corak budaya komunikasi dan media yang menonjol berlangsung dalam proses demokratisasi di Indonesia.Pertama, budaya media yang berpusat pada media itu sendiri. Sebagai entitas bisnis, media tertentu telah cenderung menekankan pada keuntungan bisnis semata. Logika komersialisme pers dan komodifikasi berita telah menjadi primadona dalam cara berpikir pengelola pers dan jurnalis. Pers diarahkan menjadi mesin pencetak uang, pemasok iklan, dan pemburu rating. Dalam logika budaya semacam ini jelas sulit kita menempatkan kepentingan publik di atas atau setara dengan kepentingan modal dan kuasa.Kedua, budaya media yang berpusat pada publik. Sebagai entitas ideal, media sesungguhnya bisa menjadi kekuatan penting dalam pembentukan budaya pemerintahan, politik, hukum, ekonomi, pendidikan dan lingkungan hidup yang sehat.Logika bahwa pers sebagai kekuatan signifikan dalam proses demokratisasi memungkinkan pers berada di garis depan dalam menyuarakan kritik terhadap dekadensi dan degradasi budaya yang berlangsung dalam ruang publik.Dalam kondisi kehidupan demokrasi yang tidak sehat dan ruang publik yang tidak fair serta budaya masyarakat sipil yang belum matang, peran media amat dibutuhkan dalam pembelajaran publik akan arti penting budaya kewargaan yang menjunjung tinggi hukum dan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia (hlm. 2).Dominasi Televisi Media televisi, yang Idi ulas di buku ini, tidak disangsikan kini telah mendominasi waktu luang kebanyakan orang Indonesia. Televisi menjadi sumber informasi politik dan dalam satu dan lain hal sebagai rujukan budaya dan nilai bagi sebagian orang.Kekuatan televisi terletak pada kemasifan, keseketikaan, dan pesona citra serta jangkauannya yang luas. Dibandingkan jenis media lain, televisi begitu mudah dikonsumsi/ditonton, karena dengan hanya menekan tombol dan memilih saluran, ia langsung bisa hadir ke dalam rumah dan dinikmati keluarga Indonesia. Media ini bahkan dianggap sebagai ‘agama’ dan ‘tuhan’ sekuler.Salah satu yang mencemaskan adalah tayangan kekerasan, selain hedonisme. Dalam teks dan imajinasi budaya pop, kata Idi, pementasan kekerasan dijadikan cara untuk mengomunikasikan pesan peringatan, ancaman, teror, dan horor dari satu kelompok ke kelompok yang lain.Tidak jarang, kekerasan itu sengaja dipertontonkan sehingga menjadi semacam ‘horrortainment’. Kekerasan dianggap sebagai ‘hiburan’ untuk saluran eskapisme, katarsis, dan bahkan ritualisme. Kekerasan menjadi komoditi pemberitaan dalam bisnis infotainment (hlm. 165).Buku ini mengajak kita untuk melihat budaya komunikasi dan media secara cermat dan kritis. Pesan buku ini jelas, bahwa kita tidak bisa tinggal diam dan membiarkan media mempengaruhi, mengubah, atau bahkan membentuk dan menciptakan budaya yang tidak sehat bagi bangsa ini yang tengah mematangkan demokrasi.Kritik terhadap media sekaligus menjadi peringatan bagi media untuk tidak mengabaikan peran konstruktif dan edukatifnya, tidak hanya semata-mata peran hiburannya.
Komunikasi yang mengubah dunia: revolusi dari aksara hingga media sosial
Buku Komunikasi yang Mengubah Dunia memaparkan sejarah perkembangan teknologi komunikasi manusia, mulai dari aksara hingga teknologi digital dan media sosial; serta bagaimana penemuan, perkembangan, dampak, dan kajiannya. Buku ini disusun secara ensiklopedis yang menggambarkan secara historis penemuan-penemuan revolusiner dan spektakuler di bidang teknologi komunikasi.
Buku ini sangat penting dan bermanfaat bagi Anda yang berkecimpung dalam kajian media dan dampak media bagi kehidupan; dosen serta mahasiswa komunikasi, khususnya yang mendalami Komunikasi Lintas Media dan Perkembangan Teknologi Komunikasi; para pendidik dan siswa untuk bahan inspirasi dalam mata ajar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK); serta pengamat media dan praktisi komunikasi untuk memahami fenomena komunikasi mutakhir dari perspektif sejarah sosial-teknologi komunikasi
Kampanye Publik tentang Antikorupsi
Setelah reformasi bergulir sejak Mei 1998, muncul harapan praktik penyelenggaraan pemerintahan yang lebih memberikan harapan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Namun, harapan itu belum sepenuhnya menjadi kenyataan, karena masih berakar-kuatnya praktik KKN(korupsi, kolusi, dan nepotisme) dalam pemerintahan, parlemen, dan kehidupan publik. Untuk itu, diperlukan langkah-langkah “kampanye publik antikorupsi” untuk melawan praktik KKN ini. Kampanye publik harus dilakukan secara terencana dan sistematis. Ia juga harus bersifat informatif, persuasif, dan edukatif, dengan memanfaatkan media komunikasi konvensional maupun inkonvensional secara optimal agar kampanye bisa mendorong publik berpartisipasi secara aktif dalam kampanye antikorupsi
Kritik budaya komunikasi: budaya, media, dan gaya hidup dalam proses demokratisasi di Indonesia
Buku ini membaas tentang komunikasi budaya. Buku ini terdiri dari beberapa materi yaitu: kritik budaya dan komunikasi di ruang publik, demokrasi dan kekerasan di ruang publi, hedonisme dan budaya media di ruang publik, perang budaya citra di ruang publi
- …
