1,721,040 research outputs found
Pemanfaatan limbah cair perikanan sebagai penghasil listrik melalui teknologi microbial fuel cell
Listrik merupakan salah satu komponen yang sangat berperan banyak dalam kehidupan manusia. Namun, seiring dengan perkembangan jaman diperlukan pasokan energi yang banyak yang mengakibatkan terjadinya penurunan jumlah cadangan bahan bakar khususnya minyak dan gas. Krisis energi ini memicu pengembangan sumber energi alternatif yaitu sel elektrokimia berbasis mikroba atau microbial fuel cell. Penelitian dilakukan secara empat tahap yang terdiri dari pembuatan limbah cair perikanan, analisis limbah cair perikanan, pembuatan alat microbial fuel cell, dan pengukuran elektrisitas limbah cair perikanan. Berdasarkan hasil pada erlakuan elektroda 1 pasang, elektroda 2 pasang, elektroda 3 pasang, dan elektroda 4 pasang menunjukkan semakin banyak katoda dan anoda dalam perlakuan sistem MFC maka semakin besar listrik yang dihasilkan. Sistem MFC dengan penyusunan seri terdiri dari 4 wadah MFC dengan satu pasang elektroda pada setiap wadah mengasilkan nilai rataan elektrisitas sebesar 0,748 V. Berdasarkan rata-rata listrik yang dihasilkan pada semua perlakuan maka MFC dengan perlakuan elektroda alumunium merupakan perlakuan yang menghasilkan rata-rata listrik paling besar dibandingkan dengan besi. Perlakuan dengan penambahan inokulum bakteri nitrifikasi dengan kepadatan bakteri 109 CFU/ml. Hasil uji menunjukkan elektrisitas yang paling tinggi adalah P1 dengan rataan 542,88 mV. Setiap perlakuan yang diberikan dalam sistem MFC menghasilkan elektrisitas yang berbeda-beda. Hasil penelitian menunjukkan elektrisitas optimal diperoleh pada penyususunan seri.Dikt
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Optimasi Pengeringan Semi Refined Carrageenan dari Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Menggunakan Metode Vacuum Drying
dan BUSTAMI IBRAHIM.
Semi refined carrageenan (SRC) merupakan hasil olahan rumput laut Kappaphycus alvarezii. Proses pengeringan dalam produksi SRC umumnya masih menggunakan sinar matahari, sehingga masih tergantung dengan cuaca, adanya risiko kontaminasi dari lingkungan, serta proses pengeringan yang lebih lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode pengeringan vakum sebagai metode alternatif dalam proses pengeringan SRC, dan menentukan efisiensi penggunaan energi, serta pengaruh penggunaan metode pengeringan vakum terhadap karakteristik SRC dari rumput laut Kappaphycus alvarezii. Rumput laut K. alvarezii dipanaskan dalam larutan KOH 10% (b/v) pada suhu 80 °C selama 30 menit. SRC dikeringkan menggunakan oven pada suhu 50 °C (kontrol), pengering vakum pada suhu 40, 50, dan 60 °C. Proses pengeringan SRC menggunakan pengering vakum pada suhu 60 °C berlangsung paling cepat (180 menit), diikuti pengering vakum 50 °C (200 menit), pengering vakum 40 °C (220 menit), dan oven 50 °C (380 menit). Proses pengeringan SRC menggunakan oven menghabiskan energi paling tinggi (2,02 kWh), sedangkan penggunaan energi pada pengering vakum berkisar 0,59 – 0,67 kWh. Tidak ada perbedaan nyata pada rendemen SRC yang dihasilkan. Kualitas SRC terbaik yaitu pada perlakuan pengeringan vakum 40 °C, dengan nilai derajat putih SRC sebesar 90,47%, viskositas 351,67 cP, dan kekuatan gel 472,99 g/cm2
Efektivitas Antimikroba Supernatan Bebas Sel Bakteriosin dari Pediococcus pentosaceus 2A2 dalam Menghambat Staphylococcus aureus pada Siomay.
Kasus keracunan makanan yang disebabkan oleh pangan jajanan anak sekolah (PJAS) merupakan yang terbesar kedua setelah pangan olahan rumah tangga. Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen yang sering ditemukan pada PJAS, termasuk siomay. Bakteriosin yang diproduksi oleh Pediococcus pentosaceus 2A2 dikenal sebagai pengawet alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji efektivitas penghambatan bakteriosin dalam bentuk Supernatan Bebas Sel (SBS) terhadap S. aureus dan memperoleh informasi mengenai konsentrasi efektif penghambatannya pada adonan siomay dan siomay kukus. Aplikasi SBS pada adonan siomay dilakukan pada konsentrasi 10%, 15%, 30%, dan 42% (v/b). Aplikasi SBS 42% (v/b) pada adonan siomay secara umum mampu menurunkan total mikroba dan S. aureus secara efektif pada penyimpanan 3 jam di suhu 4-10 oC. Sementara pada siomay kukus, SBS mampu menurunkan total mikroba dan S. aureus sampai dengan 2 log pada penyimpanan 9 jam di suhu ruang. Penelitian ini sekaligus mengonfirmasi ketahanan pediosin dalam bentuk SBS terhadap proses pengukusan. Penambahan SBS sebanyak 42% (v/b) tidak memengaruhi aroma, rasa, dan tekstur siomay, namun secara signifikan mengubah warna dari abu-abu menjadi coklat
Kinerja Microbial Fuel Cell Pembangkit Biolistrik dengan Variasi Rasio Luas Elektroda dan Volume Limbah Cair Perikanan.
Limbah cair perikanan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan jika tidak
dikelola dengan baik. Pengolahan limbah cair perikanan secara konvensional
memerlukan biaya dan energi yang cukup tinggi. Microbial fuel cell (MFC) dapat
membangkitkan energi listrik dari penguraian bahan organik pada limbah dengan
memanfaatkan mikroorganisme. Penelitian dilakukan menggunakan MFC satu
bejana dengan rasio luas elektroda dan volume limbah cair perikanan yang berbeda
yaitu 1:80 cm2/cm3, 1:40 cm2/cm3 dan 1:8 cm2/cm3. Tegangan listrik tertinggi
terdapat pada perlakuan rasio 1:80 cm2/cm3 sebesar 428.98 mV. Arus listrik
tertinggi terdapat pada perlakuan 1:40 cm2/cm3 sebesar 3.26 mA. Rapat daya listrik
tertinggi terdapat pada perlakuan 1:40 cm2/cm3 sebesar 1 185.87 mW/m2. Nilai
chemical oxygen demand (COD) mengalami penurunan sebesar 62% pada
perlakuan rasio 1:8 cm2/cm3 dan biochemical oxygen demand (BOD) mengalami
penurunan sebesar 42% pada perlakuan rasio 1:80 cm2/cm3. Nilai mixed liquor
suspended solids (MLSS) dan mixed liquor volatile suspended solids (MLVSS)
mengalami peningkatan sebesar 1 471% dan 1 725% pada perlakuan rasio 1:40
cm2/cm3. Nilai pH mengalami meningkat menjadi 7.5-8.4. Nilai total amonia
nitrogen (TAN) mengalami penurunan sebesar 89-93%
Pembuatan Pupuk Organik Bokashi dari Tepung Ikan Limbah Perikanan Waduk Cirata
Pertambahan jumlah Keramba jaring apung yang cukup pesat di Waduk Cirata menyebabkan penurunan kualitas air yang berakibat pada kematian masal pada ikan saat terjadi peristiwa upwelling. Limbah ikan tersebut harus ditangani agar tidak memperburuk kualitas air waduk dan diolah untuk meningkatkan nilai ekonomisnya. Salah satu alternatif penanganan untuk meningkatkan nilai ekonomis limbah padat tersebut adalah menggunakan limbah ikan menjadi bahan baku pembuatan pupuk organik bokashi. Bokashi adalah pupuk yang dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan organik dengan teknologi EM (Effective Microorganism) Tujuan penelitian ini adalah untuk mengolah limbah ikan menjadi pupuk organik bokashi yang memenuhi standar SNI, menentukan kualitas terbaik dari pupuk yang dihasilkan berdasarkan analisis hara makro serta menentukan perlakuan terbaik dalam pembuatan pupuk organik bokashi terhadap pertumbuhan tanaman kangkung darat (Ipomoea reptana). Penelitian ini dibagi dalam 3 tahap. Tahap pertama yaitu pembuatan tepung limbah ikan. Tahap kedua yaitu pembuatan pupuk organik bokashi dengan perlakuan komposisi bahan baku (P0: 100% tepung ikan, P1: 30% tepung ikan + 50% dedak padi + 20% ampas kelapa, P2: 40% tepung ikan + 40% dedak padi + 20% ampas kelapa, P3: 50% tepung ikan + 30% dedak padi + 20% ampas kelapa, P4: 60% tepung ikan + 20% dedak padi + 20% ampas kelapa). Tahap ketiga yaitu aplikasi pupuk pada tanaman kangkung darat (I. reptana). Tepung limbah ikan yang dihasilkan memiliki kadar air sebesar 7,60%, kadar abu sebesar 22,34%, kadar lemak sebesar 16,69%, kadar protein sebesar 55,62%, C-organik sebesar 9,36%, total N sebesar 9,63%, rasio C/N sebesar 0,97, total P sebesar 3,26% dan total K sebesar 0,30%. Pupuk organik bokashi yang dihasilkan memiliki kandungan C-organik, total N, nilai rasio C/N, total P dan total K masing-masing berkisar antara 13,98%-17,77%, 3,23%-7,80%, 1,69- 5,50, 1,46%-2,90 %, dan 0,92%-1,46%. Secara umum, pupuk organik bokashi yang dihasilkan belum memenuhi standar SNI tentang pupuk organik karena nilai rasio C/N yang masih di bawah standar. Berdasarkan hasil uji statistik pada aplikasi pupuk organik bokashi yang dihasilkan terhadap tanaman kangkung darat (Ipomea reptana) menunjukkan bahwa penambahan pupuk bokashi dapat meningkatkan laju pertumbuhan tinggi, tinggi panen, jumlah daun dan bobot basah panen tanaman kangkung darat. Perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan P1 (30% tepung ikan) karena memiliki laju pertumbuhan tinggi, tinggi panen, jumlah daun dan bobot basah panen yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya
Penggunaan Edible Film dari Kitosan dengan Plasticizer Karboksimetilselulosa (CMC) sebagai Pengemas Burger Lele Dumbo
The aim of this research was to study the capability of CMC in improving the characteristics of edible film made from kitosan, as well as to see the ability of edible film in maintaining the shelf life of fish burger product at room temperature. Three various concentration of CMC was used, namely 0.1%, 0.3% and 0.5%. The results of kitosan edible film characterization from the three concentrations of CMC showed that the concentration of 0.1% was the best concentration as a plasticizer, with thickness 0.19 mm, water vapor transmission rate 50.8 ml/m2/day, the tensile strength 24.2 kgf/cm2 and percentage elongation 18.1%. The shelf life of fish burger wrapped with kitosan edible film with 0,1% CMC was longer (two days) than burger without edible film at room temperature, indicated by the some parameters such as water content, protein content, fat content, ash content, water activity and TPC (total plate count) and organoleptic value
- …
