1,743,055 research outputs found
Rihlah ibnu khaldun : memoar perjalanan bapak sosiologi dan filsafat sejarah paling brilian sepanjang sejarah tahun 2023
Buku ini juga menjadi karya penting untuk mengenal lebih dekat sosok Ibnu Khaldun, mulai dari nasab, keilmuan, kepribadian, ketokohan, hingga tanggung jawabnya dalam jabatan hakim agung yang dia emban dari penguasa.viii, 333 hlm, 23 x 15 c
Islam dan kalkulus: sumbangan Ibnu al-Haytham
Artikel ini mengisahkan tentang sumbangan Ibnu Al-Haytham di dalam bidang kalkulus dengan penemuan formula hasil tambah kuasa empat
MODERASI BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF TAFSIR IBNU KATSIR
Pada era globalisasi sekarang ini, dikalangan masyarakat bermunculan tafsir agama yang terjebak pada pemahaman ekstrim kanan dan ekstrim kiri atau dikenal dengan sikap berlebih-lebihan. Hal ini menjadi polemik yang terus berkelanjutan. Pada realitas sosialnya dalam syariat Islam tidaklah dikenal pembenaran terhadap sikap ekstrim. Menyikapi dari pemahaman berlebihan dalam beragama betapa pentingnya sikap moderat, serta menerangkan posisi umat Islam sebagai umat yang moderat dan terbaik.Berbagai macam penafsiran terkait moderasi beragama di dalam kitab tafsir, hal ini memunculkan banyak persepsi di kalangan masyarakat tentang cara bersikap dalam beragama. Berdasarkan kajian penulis, tafsir Ibnu Katsir memberikan komentar terkait makna dari moderasi beragama. Dalam penafsirannya, Ibnu Katsir menjelaskan maqasid dari ayat-ayat yang mengandung makna moderasi beragama dengan jelas dan singkat sehingga penafsiran moderat dapat mudah dipahami dan terealisasikan dalam kehidupan.
Berdasarkan dari hal diatas, penulis tertarik menjadikannya sebagai bahan penelitian sebagai tugas akhir dengan tujuan penelitian sebagai berikut:(1) menjelaskan bentuk dan corak penafsiran yang dipakai didalam tafsir Ibnu Katsir. (2) menjelaskan penafsiran moderasi beragama menurut tafsir Ibnu Katsir. Adapun jenis penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah penelitian kepustakaan (library research) yang menggunakan medote kualitatif. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis adalah dokumentasi yang mengambil dari sumber al-qur’an dan kitab-kitab tafsir. Analisis yang digunakan adalah analisis metode deskriptif analitik yakni yang pengumpulan dan penyusunan data dalam bentuk deskripsi dan disertai dengan analisis terhadap data yang telah diperoleh tersebut lalu menarik kesimpulan.
Hasil penelitian yang dilakukan penulis yaitu bahwa Tafsir Ibnu Katsir menggunakan metode tahlili yang mana dalam menjelaskan tafsirannya dengan memakai bahasa yang singkat dan jelas langsung pada maqasid dari ayat yang dibahas. Selain itu juga memasukkan dari berbagai riwayat hadis dan disertai dengan contoh.Ada beberapa ayat didalam ibnu katsir yang menjelaskan arti moderasi agama yang yang tertulis dalam konsep wasathiyyah yaitu diantaranya (1) Q.S. Al-baqoroh ayat 142-143 memakai lafadz wasatun, (2) Q.S. Al-maidah ayat 89 memakai ayat Ausath, dan Q.S. Al-Qalam ayat 28 memakai lafadz Ausathum. Lafatdz pada ayat tersebutmenjelaskan makna moderasi beragama yang terkonsep dalam sebuah konsep yaitu wasathiyyah yang berarti mengambil jalan tengah dalam beragama dan tidak memaksakan kehendak. Dalam penafsiran Ibnu Katsir juga terdapat beberapa ayat yang menjelaskan tentang ciri- ciri moderasi beragama, diantaranya (1) Surat Ali Imron ayat 159, nilai moderasi beragama yang terdapat dalam ayat adalah berbuat baik (2) Surat Al baqoroh ayat 142-144, yang mana nilai moderasi beragama yang termanifestasi dalam perintah untuk bersikap bijaksana (3) Surat Ali imron ayat 191-195, yang mana nilai moderasi beragama yang terdapat dalam ayat adalah bahwa kita sebagai manusia harus berbuat baik (4) Surat al Hujurat ayat 13, yang mana nilai moderasi beragama yang terdapat dalam ayat adalah untuk saling menghargai sesama, mengenal dan bersinergi dalam mencapai tujuan bersama
MODERASI BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF TAFSIR IBNU KATSIR
Pada era globalisasi sekarang ini, dikalangan masyarakat bermunculan tafsir agama yang terjebak pada pemahaman ekstrim kanan dan ekstrim kiri atau dikenal dengan sikap berlebih-lebihan. Hal ini menjadi polemik yang terus berkelanjutan. Pada realitas sosialnya dalam syariat Islam tidaklah dikenal pembenaran terhadap sikap ekstrim. Menyikapi dari pemahaman berlebihan dalam beragama betapa pentingnya sikap moderat, serta menerangkan posisi umat Islam sebagai umat yang moderat dan terbaik.Berbagai macam penafsiran terkait moderasi beragama di dalam kitab tafsir, hal ini memunculkan banyak persepsi di kalangan masyarakat tentang cara bersikap dalam beragama. Berdasarkan kajian penulis, tafsir Ibnu Katsir memberikan komentar terkait makna dari moderasi beragama. Dalam penafsirannya, Ibnu Katsir menjelaskan maqasid dari ayat-ayat yang mengandung makna moderasi beragama dengan jelas dan singkat sehingga penafsiran moderat dapat mudah dipahami dan terealisasikan dalam kehidupan.
Berdasarkan dari hal diatas, penulis tertarik menjadikannya sebagai bahan penelitian sebagai tugas akhir dengan tujuan penelitian sebagai berikut:(1) menjelaskan bentuk dan corak penafsiran yang dipakai didalam tafsir Ibnu Katsir. (2) menjelaskan penafsiran moderasi beragama menurut tafsir Ibnu Katsir. Adapun jenis penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah penelitian kepustakaan (library research) yang menggunakan medote kualitatif. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis adalah dokumentasi yang mengambil dari sumber al-qur’an dan kitab-kitab tafsir. Analisis yang digunakan adalah analisis metode deskriptif analitik yakni yang pengumpulan dan penyusunan data dalam bentuk deskripsi dan disertai dengan analisis terhadap data yang telah diperoleh tersebut lalu menarik kesimpulan.
Hasil penelitian yang dilakukan penulis yaitu bahwa Tafsir Ibnu Katsir menggunakan metode tahlili yang mana dalam menjelaskan tafsirannya dengan memakai bahasa yang singkat dan jelas langsung pada maqasid dari ayat yang dibahas. Selain itu juga memasukkan dari berbagai riwayat hadis dan disertai dengan contoh.Ada beberapa ayat didalam ibnu katsir yang menjelaskan arti moderasi agama yang yang tertulis dalam konsep wasathiyyah yaitu diantaranya (1) Q.S. Al-baqoroh ayat 142-143 memakai lafadz wasatun, (2) Q.S. Al-maidah ayat 89 memakai ayat Ausath, dan Q.S. Al-Qalam ayat 28 memakai lafadz Ausathum. Lafatdz pada ayat tersebutmenjelaskan makna moderasi beragama yang terkonsep dalam sebuah konsep yaitu wasathiyyah yang berarti mengambil jalan tengah dalam beragama dan tidak memaksakan kehendak. Dalam penafsiran Ibnu Katsir juga terdapat beberapa ayat yang menjelaskan tentang ciri- ciri moderasi beragama, diantaranya (1) Surat Ali Imron ayat 159, nilai moderasi beragama yang terdapat dalam ayat adalah berbuat baik (2) Surat Al baqoroh ayat 142-144, yang mana nilai moderasi beragama yang termanifestasi dalam perintah untuk bersikap bijaksana (3) Surat Ali imron ayat 191-195, yang mana nilai moderasi beragama yang terdapat dalam ayat adalah bahwa kita sebagai manusia harus berbuat baik (4) Surat al Hujurat ayat 13, yang mana nilai moderasi beragama yang terdapat dalam ayat adalah untuk saling menghargai sesama, mengenal dan bersinergi dalam mencapai tujuan bersama
Kumpulan Fatwa Ibnu Taimiyyah
Buku ini adalah kumpulan fatwa-fatwa ibnu Taimiyyah yang banyak beredar dalam buku-buku tulisan beliau, kemudian fatwa-fatwa tersebut dikumpulkan dan disusun, sehingga jadilah buku ini. Buku ini memuat pelajaran-pelajaran penting dan ilmu din yang sangat bermanfaat, hampir mencakup segala permasalahan islam. Sangat bermanfaat bagi para pencinta ilmu
METODOLOGI TAFSIR TABI’ TABI’IN: TELAAH ATAS KITAB TAFSIR AL-QUR’AN AL-AZIM KARYA IBNU ABI HATIM AL-RAZI
AbstrakTulisan ini berusaha melakukan eksplorasi terhadap metodologi tafsir tabi’ tabi’in, yakni Tafsir al-Qur’an al-Azim karya Ibnu Abi Hatim al-Razi. Dengan membacanya dari perspektif konstruktivisme dengan analisa data intertekstualitas, penulis dapat mengindentifikasi keberadaan tafsir Ibnu Abi Hatim yang hanya menggunakan tafsir bi al-ma’tsur sebagai sumber penafsiran, yakni berdasarkan pada penjelasan riwayat hadis Nabi, pendapat sahabat, tabi’in, dan kisah-kisah israiliyyat. Sementara upaya dalam menjelaskan al-Qur’an, metode yang diusung Ibnu Abi Hatim adalah metode ijmali, yakni menafsirkan ayat al-Qur’an dengan bahasa yang ringkas, padat, dan tidak panjang lebar. Di samping itu, Ibnu Abi Hatim juga memakai metode muqaran dengan cara mengutip dan membandingkan pendapat sahabat dan tabi’in. Untuk corak tafsirnya, penafsiran Ibnu Abi Hatim tidak sampai pada corak disiplin keilmuan tertentu, hanya sebatas penafsiran letak geografis dan tradisionalis, yakni menafsirkan al-Qur’an dengan cenderung menggunakan riwayat-riwayat dari hadis Nabi, sahabat, dan tabi’in.AbstractThis paper seeks to explore the tabi’ tabi’in interpretation methodology, namely Tafsir al-Qur’an al-Azim by Ibnu Abi Hatim al-Razi. By reading it from a constructivism perspective with an analysis of intertextuality data, the writer can identify the existence of Ibnu Abi Hatim interpretation which only uses the interpretation of bi al-ma’tsur as a source of interpretation, which is based on an explanation of the Prophet’s hadith, the opinions of friends, tabi’in, and the stories of israiliyyat. While the effort in explaining al-Qur’an, the method carried by Ibnu Abi Hatim is the method of ijmali, which is interpreting verses of the Qur'an in a concise, concise, and not lengthy language. In addition, IIbnu Abi Hatim also used the muqaran method by quoting and comparing the opinions of friends and the tabi’in. For his interpretation style, the interpretation of Ibnu Abi Hatim did not reach a certain scientific discipline style, only limited to the interpretation of geographical and traditionalist locations, namely interpreting the al-Qur’an by tending to use narrations from the hadiths of the Prophet, friends, and tabi’in
REVIEW JURNAL TENTANG JARINGAN KOMPUTER - IBNU SINA & HERU ADI PUTRA
REVIEW JURNAL TENTANG JARINGAN KOMPUTER - IBNU SINA & HERU ADI PUTR
Pemikiran Ibnu Khaldun tentang kompetensi guru
Guru akan berhasil dalam mendidik ketika mampu menguasai beberapa unsur dasar yang melekat pada dirinya. Keberadaan guru menjadi sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang dinamis di lingkungan sosial. Guru harus menjadi sumber inspirasi bagi peserta didik dan masyarakat dalam menerapkan nilai-nilai positif. Era industri 4.0 mengubah pola yang berlaku pada setiap aspek kehidupan, tidak terkecuali pendidikan. Kemajuan teknologi mengubah cara berpikir dan sistem yang sedari dulu berlaku, dan akan bermanfaat ketika dioptimalkan secara proporsional. Guru agama Islam memerlukan skill yang dapat mengintegrasikan kecanggihan yang ada agar tujuan dari pendidikan tetap tercapai, dengan mempertimbangkan kepribadiannya sebagai sumber yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh teknologi.
Pemikiran Ibnu Khaldun tentang guru inspiratif dan relevansinya dengan era industri 4.0 ini dikaji melalui metode studi dokumentasi yang dibatasi pada kitab Muqaddimah sebagai sumber data primer. Analisa terhadap data dilakukan dengan cara menarik kesimpulan terkait tema pembahasan secara objektif untuk mengetahui makna yang tesirat dari pemikirannya tersebut. Guru inspiratif di era industri 4.0 berdasarkan pemikiran Ibnu Khaldun adalah pendidik dengan jiwa kewirausahawan yang mampu menopang kebutuhan hidup, memiliki kreatifitas dalam mengajar dengan metode yang khas, menciptakan kondisi masyarakat dinamis, serta merawat nilai-nilai luhur yang dimiliki. Keberhasilan guru tersebut dibangun atas akhlak dan kepribadian mulia, penguasaan keterampilan pedagogik baik teoretis maupun praktis, dan kesadaran sosial yang tinggi, berupa kemampuan komunikasi secara interaktif, dan memahami peran yang harus dijalani di masyarakat
Petualangan ibnu battuta : seorang musafir muslim abad ke-14 tahun 2013
Buku yang ditulis oleh profesor sejarah dari San Diego State University memberikan keterangan mengenai kisah petualangan Ibnu Battuta dalam konteks sejarah.xxxviii, 402 hlm, 24 x 15,9 c
- …
