4 research outputs found

    ANALISIS KEMAMPUAN BERNALAR MATEMATIKA SISWA SEKOLAH DASAR PADA SOAL CERITA MATERI BANGUN DATAR

    No full text
      Penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai kemampuan bernalar matematika murid sekolah dasar pada saat mengerjakan soal cerita pada materi bangun datar. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek sebanyak 30 siswa kelas IV SD Negeri Suryodiningratan 3 Yogyakarta yang dipilih melalui teknik total sampling. Instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data terdiri dari tes soal cerita yang memuat aspek penalaran matematis, serta wawancara terstruktur guna menggali lebih dalam pemahaman dan hambatan siswa dalam menyelesaikan soal. Hasil penelitian menjelaskan bahwa hanya sekitar 23% siswa yang mampu mengerjakan soal dengan benar dan urut berdasarkan indikator penalaran, seperti mengidentifikasi informasi penting, menyusun langkah penyelesaian secara logis, dan memberikan alasan matematis yang tepat. Sebaliknya, 77% siswa mengalami berbagai kesulitan, terutama dalam memahami kalimat panjang pada soal cerita, menginterpretasi konteks soal yang berbasis kehidupan sehari-hari, serta kurang mampu menghubungkan informasi yang tersedia untuk menyusun strategi pemecahan masalah. Beberapa siswa bahkan menunjukkan kebingungan dalam memilih rumus atau konsep bangun datar yang sesuai. Wawancara mendalam menguatkan hasil tes tersebut, di mana siswa mengaku sering merasa bingung ketika harus memahami kata-kata dalam soal cerita, terutama jika dikemas dalam konteks kehidupan nyata. Mereka cenderung lebih terbiasa dengan soal yang bersifat langsung atau hitungan saja. Berdasarkan temuan ini, penelitian merekomendasikan penggunaan soal kontekstual secara bertahap, serta penerapan pendekatan pembelajaran aktif yang mendorong siswa berpikir kritis dan memahami makna dari setiap informasi dalam soal.   Kata kunci: Penalaran matematika, Soal cerita, Bangun datar, Pembelajaran kontekstualPenelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai kemampuan bernalar matematika murid sekolah dasar pada saat mengerjakan soal cerita pada materi bangun datar. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek sebanyak 30 siswa kelas IV SD Negeri Suryodiningratan 3 Yogyakarta yang dipilih melalui teknik total sampling. Instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data terdiri dari tes soal cerita yang memuat aspek penalaran matematis, serta wawancara terstruktur guna menggali lebih dalam pemahaman dan hambatan siswa dalam menyelesaikan soal. Hasil penelitian menjelaskan bahwa hanya sekitar 23% siswa yang mampu mengerjakan soal dengan benar dan urut berdasarkan indikator penalaran, seperti mengidentifikasi informasi penting, menyusun langkah penyelesaian secara logis, dan memberikan alasan matematis yang tepat. Sebaliknya, 77% siswa mengalami berbagai kesulitan, terutama dalam memahami kalimat panjang pada soal cerita, menginterpretasi konteks soal yang berbasis kehidupan sehari-hari, serta kurang mampu menghubungkan informasi yang tersedia untuk menyusun strategi pemecahan masalah. Beberapa siswa bahkan menunjukkan kebingungan dalam memilih rumus atau konsep bangun datar yang sesuai. Wawancara mendalam menguatkan hasil tes tersebut, di mana siswa mengaku sering merasa bingung ketika harus memahami kata-kata dalam soal cerita, terutama jika dikemas dalam konteks kehidupan nyata. Mereka cenderung lebih terbiasa dengan soal yang bersifat langsung atau hitungan saja. Berdasarkan temuan ini, penelitian merekomendasikan penggunaan soal kontekstual secara bertahap, serta penerapan pendekatan pembelajaran aktif yang mendorong siswa berpikir kritis dan memahami makna dari setiap informasi dalam soal

    La "Universidad de amor y escuelas del interés". Jacinto Polo de Medina y Claude Le Petit

    No full text
    I am considering in this work if Salvador Jacinto Polo de Medina was in fact the author of the invective in the form of a dream called Universidad de amor y escuelas del interés, which was published first under the pseudonym of Maestro (or even Bachelor) Antolínez de Piedrabuena and some later in Paris, in 1661 with the initials F.P.  I will approach here not only its paratexts but also the translation into French. I have also found an unknown edition of Universidad de amor y escuelas del interés. Verdades soñadas o sueños verdadero. Al pedir de las mujeres, printed by Luis Veros in Murcia in 1664, which probably was the first one. Similar works like El hijo de Málaga, El lazareto de Milán, Noches de convalecencia and, the not so well known, Grandezas del color pardo. Asunto propuesto en competencia de colores por la ilustre y docta Academia de Madrid, were also attributed to the same author, who had to hide himself also under the pseudonym of Fabio Vigilio Cordato.En este trabajo afrontamos la posible autoría de Salvador Jacinto Polo de Medina de la invectiva en forma de sueño titulada Universidad de amor y escuelas del interés. Verdades soñadas o sueño verdadero al pedir de las mujeres, que apareció bajo el seudónimo de Maestro (otras veces Licenciado) Antolínez de Piedrabuena, a excepción de la edición de París 1661, que lleva las iniciales del autor F.P. y de la que estudiamos los paratextos y su traducción. Descubrimos, además, una edición hasta ahora desconocida, de Murcia, 1634, en casa de Luis Veros, exenta y que ha de ser con seguridad la príncipe. Obras similares fueron igualmente atribuidas al autor, que se disfrazaba con el seudónimo de Fabio Vigilio Cordato, tales como El hijo de Málaga, El lazareto de Milán y las Noches de convalecencia y, la hasta ahora desconocida, Grandezas del color pardo. Asunto propuesto en competencia de colores por la ilustre y docta Academia de Madrid

    VERDAD Y AUTENTICIDAD EN FALKE DE FEDERICO VEGAS

    No full text
    La novela Falke recrea parte de un acontecimiento histórico, político y social de Venezuela: la invasión que llevó a cabo Román Delgado Chalbaud en 1929 con la intención de derrocar la dictadura de Juan V. Gómez. Usando este episodio como pretexto, la novela se torna una especie de investigación sobre la vida y obra de uno de los participantes de aquella aventura, Rafael Vegas. Así, se deja entrever en las primeras páginas de la novela, Falke materializa una necesidad narrativa (contar un episodio histórico que halla su justificación en la ficción con base en el enigma juvenil que intenta descifrar un joven sobre un barco llamado Falke. Mediante este trabajo me propongo analizar las estrategias usadas en la novela para autentificarla y hacerla verosímil.ABSTRACTThe novel Falke is based on true politic and social historic events: the invasion of Venezuela leadered by Roman Delgado Chalbaud, on August 11th, 1929, for overthrowing Juan Vicente Gómez´s dictatorship. Based on this plot, the author narrates the life and work of one of the main character of this adventure: Rafael Vegas. Thus, from the beginning of the novel a narrative need is materialized by the author interest in relating the fictional justification of a juvenile enigma about a young man who is traveling on the ship Falke. In this essay I attempt to analyze the literary strategies that led this novel to be read as a credible and authentic story

    Traducción y comentario en el medioevo temprano: Boecio y el de interpretatione 14

    No full text
    This article examines the translation and the commentary on Aristotle’s On Interpretation, by Boecio, with the purpose of discussing a recently introduced thesis which claims that Boecios’ work as commentator of the Aristotelian logical corpus would amount only to a mechanic translation of glosses. In this respect, we maintain that, (1) an analysis of Boecio’s work as a translator signals him as the true author of the commentaries and (2) that, considering the context of the Middle Ages commentaries, it is not fit to seek originality in a case like this, but the capacity to assimilate and evaluate the discussions and notes available, which can be certainly said of BoecioLa traducción y el comentario al tratado Sobre la interpretación de Aristóteles, llevados a cabo por Boecio, son examinados en este artículo con el fin de discutir una tesis recientemente sostenida, según la cual la tarea de Boecio como comentarista del corpus lógico aristotélico se limitaría a una traducción mecánica de glosas. Frente a esto, aquí se sostiene (1) que al examinar la labor como traductor de Boecio resulta más verosímil seguir adjudicándole la autoría intelectual de los comentarios y (2) que si se atiende al contexto de los comentarios del temprano medioevo, no cabe ir en busca de originalidad en un caso como este, sino de capacidad de asimilar y evaluar las discusiones y observaciones de que podía disponerse, cosa que puede afirmarse convin- centemente de Boeci
    corecore