19 research outputs found

    Ketahanan Plasma Nutfah Kapas terhadap Hama Pengisap Daun, Amrasca biguttula (ISHIDA)

    No full text
    &lt;p&gt;Resistance of Cotton Germplasms Against Sucking Insect Pest, Amrasca biguttula (ISHIDA). IGAA. Indrayani and Siwi Sumartini. Morphological characteristics of cotton leaf have an important role on the resistance against sucking insect pest. Among the characters, leaf hair density is the most important in preventing the attack of sucking insect and it can be used to identify the resistance of cotton germplasms against sucking insect pest, A. biguttula. Study on resistance of cotton germplasms against sucking insect pest, A. biguttula (Ishida) was carried out at Asembagus Experimental Station of Indonesian Tobacco and Fiber Crops Research Institute (IToFCRI) in Malang from January to December 2009. The objective of study was to find out resistant cotton germplasms to A. biguttula. Fifty accessions of cotton germplasm were used as treatment and arranged in Randomized Block Design (RBD) with three replications. Plot size used was 10 m x 3 m that consists of two rows of tested accession and one row of Tamcot SP 37 as an atractant plant for A. biguttula. Parameters observed were leaf hair density, length of hair, population of A. biguttula nymph, and plant damage. Cotton accessions with higher hair density and length of leaf hair significantly reduced the frequency of action threshold population of A. biguttula and plant damage. Eleven cotton accessions, viz., SATU 65; VAR 78443; Sukothai 14; GM5U/4/2; Samir 730; L1; L4 x Rex/1; Paymaster 404; ISA 205B; Albar 72B; dan Tashkent 2 were showed more resistant to A. biguttula because of higher leaf hair density (121-360 hairs/cm2), lower nymph population (0-2 times of population threshold) and lower damage score (1.0-1.8). These cotton accessions could be promising to be genetic resources of resistance to sucking insect pest, A. biguttula.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Abstrak&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karakteristik morfologi daun kapas mempunyai peran penting pada ketahanan terhadap hama pengisap. Di antara sifat morfologi tersebut, kerapatan bulu daun sangat berperan dalam menghambat serangan pengisap sehingga sifat ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi aksesi kapas yang tahan A. biguttula. Penelitian ketahanan aksesi kapas terhadap hama pengisap, A. biguttula dilakukan di KP. Asembagus Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat mulai Januari hingga Desember 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan aksesi kapas tahan A. biguttula. Sebanyak 50 aksesi kapas digunakaan sebagai perlakuan yang masing-masing disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga kali ulangan. Ukuran petak adalah 10 m x 3 m yang terdiri atas 2 baris aksesi yang diuji dan 1 baris Tamcot SP 37 sebagai tanaman penarik A. biguttula. Parameter yang diamati adalah kerapatan (jumlah) bulu daun, panjang bulu daun, populasi nimfa A. biguttula, dan skor kerusakan tanaman. Aksesi dengan kerapatan bulu daun yang tinggi dan berbulu panjang secara nyata menurunkan frekuensi pencapaian populasi ambang kendali dan kerusakan tanaman. Sebelas aksesi kapas dengan jumlah bulu berkisar 121-360 helai/cm2, populasi nimfa rendah (frekuensi ambang rendah, 0-2 kali) dan skor kerusakan rendah (1,0-1,8) adalah SATU 65; VAR 78443; Sukothai 14; GM5U/4/2; Samir 730; L1; L4 x Rex/1; Paymaster 404; ISA 205B; Albar 72B; dan Tashkent 2. Aksesi ini berpotensi sebagai materi genetik untuk ketahanan terhadap A. biguttula.&lt;/p&gt;</jats:p

    Ketahanan Plasma Nutfah Kapas terhadap Hama Pengisap Daun, Amrasca Biguttula (ISHIDA)

    Get PDF
    Karakteristik morfologi daun kapas mempunyai peran penting pada ketahanan terhadap hama pengisap. Di antara sifat morfologi tersebut, kerapatan bulu daun sangat berperan dalam menghambat serangan pengisap sehingga sifat ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi aksesi kapas yang tahan A. biguttula. Penelitian ketahanan aksesi kapas terhadap hama pengisap, A. biguttula dilakukan di KP. Asembagus Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat mulai Januari hingga Desember 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan aksesi kapas tahan A. biguttula. Sebanyak 50 aksesi kapas digunakaan sebagai perlakuan yang masing-masing disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga kali ulangan. Ukuran petak adalah 10 m x 3 m yang terdiri atas 2 baris aksesi yang diuji dan 1 baris Tamcot SP 37 sebagai tanaman penarik A. biguttula. Parameter yang diamati adalah kerapatan (jumlah) bulu daun, panjang bulu daun, populasi nimfa A. biguttula, dan skor kerusakan tanaman. Aksesi dengan kerapatan bulu daun yang tinggi dan berbulu panjang secara nyata menurunkan frekuensi pencapaian populasi ambang kendali dan kerusakan tanaman. Sebelas aksesi kapas dengan jumlah bulu berkisar 121-360 helai/cm2, populasi nimfa rendah (frekuensi ambang rendah, 0-2 kali) dan skor kerusakan rendah (1,0-1,8) adalah SATU 65; VAR 78443; Sukothai 14; GM5U/4/2; Samir 730; L1; L4 x Rex/1; Paymaster 404; ISA 205B; Albar 72B; dan Tashkent 2. Aksesi ini berpotensi sebagai materi genetik untuk ketahanan terhadap A. biguttula

    Viabilitas Dan Efektivitas Formula Nematoda Steinernema SP. Terhadap Hama Penggerek Buah Kapas Helicoverpa Armigera Hubner

    Get PDF
    Entomopathogenic nematodes genus Steinernema for are potentialto be used as a control for various insect pests, especially ordoLepidoptera, such as Helicoverpa armigera. The use of Steinernema tocontrol H. armigera is beneficial because it is environmentally friendly,easy to produce, tolerant to several pesticides, actively search the targetinsect, does not cause resistance and resurgence, and can be applied byusing standard sprayer. Unfortunately, biological pesticide containingSteinernema is still limited. The study was aimed at formulating abiological agen containing Steinernema sp. to control the cotton bollwormweevil (H. armigera). The experiment was conducted at insect pathologylaboratory, Indonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute,Malang from May to July 2010. Steinernema sp. instar III larvae wasformulated in six different forms such as Pellet-1 (clay+carbon),suspension (distilled water+sucrose), Pellet-2 (rice husk), agar+sponge,capsule (Ca-alginate), and control (distilled water). Each formulation wasinoculated with 10 6 Infective Juvenile (IJ). Each treatment was arranged incompletely randomized design (CRD) with three replicates. Eachformulation observed showed decrease in IJ number every week for + 4weeks. Isolates used for this research were originated from Asembagusexperimental station. For evaluation of the formulation effectiveness, H.armigera larvae was treated using IJ from the formula weekly for fourweeks. On the first week after treatment, the percentages of living IJ inPellet-1, suspension, Pellet-2, agar+sponge, capsule, and control were 53;12.4; 44; 63.8; 17.6; and 5%, respectively. Effectiveness of Steinernemasp. stored for four weeks in various formulations against H. armigeraranged from 80-99%. The best formula of Steinernema sp for storage wasagar+sponge because of its ability to viability and effectiveness ofSteinernema sp

    Efficient p-Multigrid Based Solvers for Isogeometric Analysis on Multipatch Geometries

    No full text
    Isogeometric Analysis can be considered as the natural extension of the Finite Element Method (FEM) to higher-order spline based discretizations simplifying the treatment of complex geometries with curved boundaries. Finding a solution of the resulting linear systems of equations efficiently remains, however, a challenging task. Recently, p-multigrid methods have been considered [18], in which a multigrid hierarchy is constructed based on different approximation orders p instead of mesh widths h as it would be the case in classical h-multigrid schemes [8]. The use of an Incomplete LU-factorization as a smoother within the p-multigrid method has shown to lead to convergence rates independent of both h and p for single patch geometries [19]. In this paper, the focus lies on the application of the aforementioned p-multigrid method on multipatch geometries having a C0-continuous coupling between the patches. The use of ILUT as a smoother within p-multigrid methods leads to convergence rates that are essentially independent of h and p, but depend mildly on the number of patches.Green Open Access added to TU Delft Institutional Repository ‘You share, we take care!’ – Taverne project https://www.openaccess.nl/en/you-share-we-take-care Otherwise as indicated in the copyright section: the publisher is the copyright holder of this work and the author uses the Dutch legislation to make this work public.Numerical Analysi

    Patogenisitas Achaea Janata Granulosis Virus (Ajgv) terhadap Ulat Pemakan Daun Tanaman Jarak Kepyar

    Get PDF
    Achaea janata L. adalah hama penting tanaman jarak kepyar(Ricinus communis) yang hingga kini pengendaliannya masihmenggunakan insektisida kimia secara intensif. Selain tidak efisien,insektisida kimia juga menimbulkan pencemaran lingkungan. Untukmengatasi masalah tersebut, maka perlu cara pengendalian alternatif yangselain efektif dan efisien, juga ramah lingkungan, seperti virus yangdiisolasi dari ulat A. janata (A. janata Granulosis Virus/AjGV). Penelitianpatogenisitas AjGV pada A. janata dilakukan di Laboratorium PatologiSerangga Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) mulaiJanuari - Desember 2012. Perlakuan terdiri atas enam konsentrasi AjGV,yaitu 10 3 , 10 4 , 10 5 , 10 6 , 10 7 , 10 8 occlusion bodies (OB), dan satu kontrol.Perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan empat kaliulangan. Ulat A. janata yang digunakan adalah instar II, III, IV, dan Vmasing-masing 90 ekor/perlakuan. Parameter yang diamati adalahmortalitas dan bobot ulat, konsentrasi untuk membunuh 50% ulat (LC 50 ),dan waktu untuk membunuh 50% ulat (LT 50 ). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa AjGV patogenik terhadap A. janata, terutama ulatinstar II dan III dengan mortalitas berturut-turut 90 dan 86,7%. LC 50 AjGVpada ulat instar II dan III masing-masing mencapai 1,0 x 10 3 dan 1,2 x 10 3OB/ml, dengan LT 50 kedua instar sekitar 3,4-4,2 hari. Pengaruh infeksiAjGV pada ulat A. janata efektif menurunkan bobot ulat hidup 57,9 dan57,4% masing-masing pada ulat instar II dan III. Hasil penelitian inimengindikasikan bahwa sasaran yang tepat untuk pengendalian ulat A.janata dengan AjGV di lapangan adalah pada saat instar II dan III

    Pengaruh Varietas dan Pola Tanam Kapas terhadap Kelimpahan Populasi Predator Hama Pengisap Daun Amrasca Biguttula (Ishida)

    Get PDF
    Penanaman varietas tahan hama adalah salah satu cara pengendalianserangga hama pengisap daun, A. biguttula, yang telah diadopsi petanikapas di Indonesia. Penggunaan varietas tahan hama cukup efektifmenekan serangan hama pengisap ini. Namun demikian, peluang adanyacara pengendalian alternatif patut dipertimbangkan, misalnya memanfaat-kan faktor mortalitas biotik A. biguttula, seperti musuh alami. Penelitianpengaruh varietas dan pola tanam kapas terhadap perkembangan populasipredator hama pengisap daun A. biguttula telah dilakukan di KebunPercobaan Asembagus, Situbondo, dan di laboratorium Entomologi BalaiPenelitian Tanaman Tembakau dan Serat di Malang, mulai Januari sampaiDesember 2005. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruhperbedaan varietas dan pola tanam kapas terhadap perkembangan predatorA. biguttula. Perlakuan terdiri atas dua faktor, yaitu faktor I adalah varietaskapas dengan tingkat ketahanan terhadap A. biguttula berbeda-beda, yaitu:(1) TAMCOT SP37 (peka), (2) Kanesia 7 (moderat), dan (3) LRA 5166(tahan). Faktor II adalah pola tanam kapas, yaitu: (1) monokultur, dan (2)tumpangsari dengan kedelai. Setiap perlakuan disusun secara faktorialdengan rancangan petak terbagi (Split Plot) dengan tiga kali ulangan.Parameter pengamatannya adalah populasi nimfa A. biguttula danpredator. Di laboratorium dilakukan uji pemangsaan terhadap predatorterpilih dengan cara memberi umpan nimfa A. biguttula untuk mengetahuikemampuannya memangsa per hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwaperbedaan tingkat ketahanan varietas terhadap A. biguttula mempengaruhiperkembangan populasi kompleks predator. Lebih banyak predatorditemukan pada TAMCOT SP37 dan Kanesia 7 dibanding pada LRA5166. Sedangkan perbedaan pola tanam tidak menyebabkan perbedaanpopulasi predator. Kapas monokultur maupun tumpangsari dapatmenyediakan lingkungan ideal bagi perkembangan kompleks predator.Laba-laba dan Paederus sp. adalah predator yang populasinya lebihdominan dibanding predator lainnya. Pada uji pemangsaan dilaboratorium, Paederus sp. mampu memangsa 15-25 nimfa A. biguttulainstar kecil dan 10-20 instar besar, sedangkan laba-laba per harimemangsa 2-12 nimfa A. biguttula instar kecil dan besar

    An IGA Framework for PDE-Based Planar Parameterization on Convex Multipatch Domains

    No full text
    The first step towards applying isogeometric analysis techniques to solve PDE problems on a given domain consists in generating an analysis-suitable mapping operator between parametric and physical domains with one or several patches from no more than a description of the boundary contours of the physical domain. A subclass of the multitude of the available parameterization algorithms are those based on the principles of Elliptic Grid Generation (EGG) which, in their most basic form, attempt to approximate a mapping operator whose inverse is composed of harmonic functions. The main challenge lies in finding a formulation of the problem that is suitable for a computational approach and a common strategy is to approximate the mapping operator by means of solving a PDE-problem. PDE-based EGG is well-established in classical meshing and first generalization attempts to spline-based descriptions (as is mandatory in IgA) have been made. Unfortunately, all of the practically viable PDE-based approaches impose certain requirements on the employed spline-basis, in particular global C≥1-continuity.This paper discusses an EGG-algorithm for the generation of planar parameterizations with locally reduced smoothness (i.e., with support for locally only C0-continuous bases). A major use case of the proposed algorithm is that of multipatch parameterizations, made possible by the support of C0-continuities. This paper proposes a specially-taylored solution algorithm that exploits many characteristics of the PDE-problem and is suitable for large-scale applications. It is discussed for the single-patch case before generalizing its concepts to multipatch settings. This paper is concluded with three numerical experiments and a discussion of the results.Green Open Access added to TU Delft Institutional Repository ‘You share, we take care!’ – Taverne project https://www.openaccess.nl/en/you-share-we-take-care Otherwise as indicated in the copyright section: the publisher is the copyright holder of this work and the author uses the Dutch legislation to make this work public.Numerical Analysi

    Preconditioning for Linear Systems Arising from IgA Discretized Incompressible Navier-Stokes Equations

    No full text
    We deal with efficient techniques for numerical simulation of the incompressible fluid flow based on the Navier–Stokes equations discretized using the isogeometric analysis approach. Typically, the most time-consuming part of the simulation is solving the large saddle-point type linear systems arising from the discretization. These systems can be efficiently solved by Krylov subspace methods, but the choice of the preconditioner is crucial.In our study we test several preconditioners developed for the incompressible Navier–Stokes equations discretized by a finite element method, which can be found in the literature. We study their efficiency for the linear systems arising from the IgA discretization, where the matrix is usually less sparse compared to those from finite elements.Our aim is to develop a fast solver for a specific problem of flow in a water turbine. It brings several complications like periodic boundary conditions at nonparallel boundaries and computation in a rotating frame of reference. This makes the system matrix even less sparse with a more complicated sparsity pattern.Green Open Access added to TU Delft Institutional Repository ‘You share, we take care!’ – Taverne project https://www.openaccess.nl/en/you-share-we-take-care Otherwise as indicated in the copyright section: the publisher is the copyright holder of this work and the author uses the Dutch legislation to make this work public.Numerical Analysi

    Pengaruh Kombinasi Jamur Entomopatogen Beauveria bassiana dan Nomuraea rileyi terhadap Efektivitas Pengendalian Hama Penggerek Buah Kapas Helicoverpa armigera

    No full text
    ABSTRAK   Muhammad, Habibi Indra. 2012. Pengaruh Kombinasi Jamur EntomopatogenBeauveria bassiana dan Nomuraea rileyi terhadap Efektivitas Pengendalian Hama Penggerek Buah Kapas Helicoverpa armigera. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd, (2) Ir. IGAA Indrayani, M.P.   Kata kunci: Jamur entomopatogen, mortalitas, mikosis, Beauveria bassiana, Nomuraea rileyi, Helicoverpa armigera, Gossypium hirsutum L.   Pengendalian hama kapasHelicoverpa armigera dewasa ini diupayakan dengan menggunakan metode hayati yaitu perlakuan jamur entomopatogen. Beauveria bassiana danNomuraea rileyi merupakan jamur entomopatogen yang telah terbukti efektif dalam menngendalikan H. armigera bila diaplikasikan secara tunggal. Akan tetapi, perlakuan kombinasi kedua jamur tersebut pada H. armigerabelum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kombinasi kedua jamur tersebut tersebut terhadap efektifitas pengendalian H. armigera, dengan menggunakan 3 parameter yaitu persentase mortalitas hama, pengurangan berat badan hama, dan persentase mikosis pada hama. Penelitian ini merupakan penelitian experimental yang menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), dengan 4 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan berjumlah 9, yaitu 1 kontrol, 4 perlakuan tunggal yaitu perlakuan B.bassiana LC50dan LC25 dan perlakuan N. rileyi LC50 dan LC25, serta 4 perlakuan kombinasi yaituB.bassiana LC50 + N. rileyi LC50,B.bassiana LC50 + N. rileyi LC25,B.bassiana LC25 + N. rileyi LC50, danB.bassiana LC25 + N.arileyi LC25. Objek penelitian berupa larva H. armigera instar II. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa secara statistik perlakuan kombinasi jamur tidak berpengaruh terhadap persentase mortalitas, namun berpengaruh signifikan terhadap penurunan berat badan larva H. armigera. Ketika dilanjutkan dengan uji BNT diperoleh kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara perlakuan kombinasi dengan perlakuan tunggal. Persentase mikosis yang dilihat secara nominal menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi tidak lebih baik dibandingkan perlakuan tunggal. Disimpulkan dalam penelitian ini bahwa baik perlakuan jamur secara tunggal maupun secara kombinasi dapat mengendalikan larva H. armigera, tetapi dengan pengaruh yang tidak berbeda nyata. Disarankan diadakan pengendalian patogen kontaminan yaitu virus yang lebih intensif pada penelitian, diadakan penelitian pengaruh kombinasi jamur pada hama kapas selain H. armigera, serta karena penggunaan kombinasi jamur B. bassiana dan N. rileyi pada pengendalian H. armigera belum terbukti meningkatkan efektifitas pengendalian, maka belum perlu diterapkan di lapangan

    VIABILITAS DAN EFEKTIVITAS FORMULA NEMATODA Steinernema sp. TERHADAP HAMA PENGGEREK BUAH KAPAS Helicoverpa armigera HUBNER

    Get PDF
    ABSTRAKEntomopatogen dari genus Steinernema berpotensi digunakansebagai pengendali berbagai serangga hama, terutama ordo Lepidoptera,seperti  Helicoverpa  armigera.  Penggunaan  Steinernema  untukpengendalian H. armigera akan menguntungkan karena aman terhadaplingkungan, mudah diproduksi massal, toleran terhadap berbagai macampestisida, dapat aktif mencari serangga sasaran, tidak menyebabkanresisten dan resurjensi, serta dapat diaplikasikan dengan alat semprotstandar. Namun, formula pestisida hayati mengandung Steinernema masihsangat terbatas. Tujuan penelitian adalah membuat formula Steinernemasp. yang efektif terhadap hama penggerek buah kapas (H. armigera).Penelitian dilaksanakan di laboratorium Patologi Serangga, BalaiPenelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Malang mulai bulan Mei-Juli2010. Larva instar III Steinernema sp. dibuat dalam 6 macam formulaperlakuan dengan bahan pembawa (carrier) berbeda-beda, yaitu (1)suspensi (akuades + sukrosa), (2) pellet-2 (sekam padi), (3) pellet-1(tanah liat + arang), (4) agar + spon, (5) kapsul (Ca-alginat), dan (6)kontrol (akuades). Setiap formula diinokulasikan 10 6 juvenil infektif (JI).Masing-masing perlakuan disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL)dengan tiga kali ulangan. Penurunan jumlah juvenil infektif (JI) padasetiap formula yang diamati per minggu selama ± 4 minggu. Isolat yangdigunakan untuk penelitian ini berasal dari Asembagus. Untukmengevaluasi efektivitas formula, larva H. armigera diperlakukan denganJI yang berasal dari masing-masing formula setiap minggu selama empatminggu. Perlakuan ini menggunakan rancangan acak lengkap denganempat ulangan. Jumlah penurunan JI setiap minggu selama empat minggusetelah perlakuan. Persentase JI yang hidup pada pellet-1, suspensi, pellet-2, agar + spon, kapsul, dan kontrol berturut-turut sebesar 53; 12,4; 44;63,8; 17,6; dan 5%. Pada minggu pertama sampai minggu keempat setelahperlakuan terlihat bahwa formula yang paling baik mempertahankan JIadalah agar + spon dan kemudian berturut-turut diikuti oleh pellet-1,pellet-2, kapsul, suspensi. Steinernema sp. yang disimpan selama empatminggu dalam berbagai bentuk formula terhadap H. armigera berkisarantara 80-99%. Formula agar dan spon paling baik untuk menyimpanSteinernema sp. selama empat minggu, karena formula ini memberikantingkat viabilitas dan efektivitas Steinernema sp. paling tinggi.Kata kunci : efektivitas, formula, Helicoverpa armigera, Steinernema sp.,viabilitasABSTRACTEntomopathogenic nematodes genus Steinernema for are potentialto be used as a control for various insect pests, especially ordoLepidoptera, such as Helicoverpa armigera. The use of Steinernema tocontrol H. armigera is beneficial because it is environmentally friendly,easy to produce, tolerant to several pesticides, actively search the targetinsect, does not cause resistance and resurgence, and can be applied byusing standard sprayer. Unfortunately, biological pesticide containingSteinernema is still limited. The study was aimed at formulating abiological agen containing Steinernema sp. to control the cotton bollwormweevil (H. armigera). The experiment was conducted at insect pathologylaboratory, Indonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute,Malang from May to July 2010. Steinernema sp. instar III larvae wasformulated in six different forms such as Pellet-1 (clay+carbon),suspension (distilled water+sucrose), Pellet-2 (rice husk), agar+sponge,capsule (Ca-alginate), and control (distilled water). Each formulation wasinoculated with 10 6 Infective Juvenile (IJ). Each treatment was arranged incompletely randomized design (CRD) with three replicates. Eachformulation observed showed decrease in IJ number every week for + 4weeks. Isolates used for this research were originated from Asembagusexperimental station. For evaluation of the formulation effectiveness, H.armigera larvae was treated using IJ from the formula weekly for fourweeks. On the first week after treatment, the percentages of living IJ inPellet-1, suspension, Pellet-2, agar+sponge, capsule, and control were 53;12.4; 44; 63.8; 17.6; and 5%, respectively. Effectiveness of Steinernemasp. stored for four weeks in various formulations against H. armigeraranged from 80-99%. The best formula of Steinernema sp for storage wasagar+sponge because of its ability to viability and effectiveness ofSteinernema sp.Key words: effectiveness, formulation, Helicoverpa armigera, viability,Steinernema sp.
    corecore