9 research outputs found

    PEMBUATAN ANTI-PROSTAGLANDIN F2alfa TERLABEL ALKALIN FOSFATASE : Suatu Upaya Penelusuran Jalur Luteolitik Prostaglandin F2alfa Sebagai Hormon Gertak Birahi Dengan Menggunakan Teknik Imunohistokimia

    No full text
    Aplikasi teknologi gertak birahi secara hormonal masih dinilai terlalu mahal bagi peternak di Indonesia. Harga hormon yang mahal serta keberhasilan yang belum begitu memuaskan menarik minar profesi kedokteran hewan untuk terus meneliti dengan tujuan untuk memperoleh suatu metoda gertak birahi yang mudah, murah, efisien dan selanjutnya dapat menunjang program inseminasi buatan dan transfer embrio Preparat hormon yang dapat digunakan untuk gertak birahi pada ternak adalah hormon progesteron dan Prostaglandin F2a (PGF2a ). Aplikasi pemberian PGF2a dapat secara intramuskular, subkutan dan intrauterin (Hafez,2000) akan tetapi terdapat kendala yaitu besarnya dosis yang dipakai serta memerlukan ketrampilan khusus. Untuk itu dilakukan altematif pemberian PGF2a secara submukosa vulva dengan asumsi dosis lebih rendah, caranya mudah, tidak memerlukan keahlian khusus sehingga menjadi lebih murah dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah membuat suatu model teknologi pembuatan anti- PGF2a yang dapat digunakan pada ternak lain serta untuk membakukan teknik gertak birahi dengan hormon PGF2a. Manfaat penelitian ini dapat untuk mengkaji pembuatan anti- PGF2a serta jalur luteolitik yang dilalui hormon PGF2a sebagai gertak birahi yang diberikan secara submukosa vulva. Metode penelitian ini terdiri dari dua tahap, tahap I pembuatan antibodi PGF2a. Dengan cara imunisasi PGF2a. Pada 8 ekor kelinci lokal jantan dengan dosis imunisasi 250 µg, 500 µg dan 750 pg dengan penambahan ajuvant CFA, booster dilakukan tiga kali dengan penambahan IFA. Pengambilan darah dilakukan sebanyak 9 kali. Selanjutnya dilakukan isolasi dan purifikasi serum dengan SAS 50%. Serum hasil purifikasi dilakukan uji karakterisasi dengan metoda dot blot, indirect elisa dan SDS PAGE. Selanjutnya dilakukan labelling anti- PGF2a dengan ensim alkalin fosfatase. Penelitian tahap II pembuktian jalur luteolitik dengan cara penyuntikan PGF2a secara submukosa vulva pada kambing dengan dosis 7,5 mg (perlakuan) dan 7,5 mg PBS (kontrol). Setelah 2 jam penyuntikan kambing dipotong, saluran reproduksi diambil dan dibuat preparat histologis serta dilakukan pewarnaan imunohistokimia. Hasil penelitian tahap I pada uji karakterisasi dengan metoda dot blot terlihat bahwa pada timbulnya antibodi PGF2a +CFA sudah mulai nampak pada bleeding I (minggu ke-3) dan tingkat kegelapan yang paling tajam terlihat pada kelompok II dan III pada bleeding ke 4,5,6 (minggu ke-6,7 dan 8) hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi antibodi cukup tinggi. Dengan metoda Indirect Elisa, pada preimun dan ulangan kontrol menampakkan titer negatif terhadap anti- PGF2a sedang pads kelompok perlakuan mulai bleeding ke-2 menunjukkan titer positif karena nilai titer anti- PGF2a diatas nilai dua kali COV (cut of value) , hal ini menunjukkan respon imun terbaik terhadap PGF2a dengan terbentuknya anti- PGF2a dihasilkan pada bleeding ke-5 Perlakuan II. Dan penentuan berat molekul antibodi dengan metode SDS-PAGE 10% terlihat bahwa antigen (PGF2a) dapat mendeteksi antibodi (anti- PGF2a) sebagai suatu pita-pita protein dengan rataan BM sebesar 139,7237kD. Penelusuran jalur luteolitik pada alat kelamin kambing betina dengan teknik imunohistokimia menunjukkan adanya warna kecoklatan pada slide-slide saluran alat kelamin betina yang meliputi vulva, vagina serviks, korpus uteri dan kornua uteri pada pemotongan dua jam setelah penyuntikan hormon PGF2a secara submukosa vulva, hal ini menunjukkan bahwa jalur luteolitik hormon PGF2a yang diberikan secara submukosa vulva dapat dirunut perjalanannya dengan mengggunakan anti-prostglandinF2a terlabel alkalin fosfatase dengan menggunakan teknik imunohistokimia

    Pembuatan Anti-Prostaglandin F2a Terlabel Alkalin Fosfatase: Suatu Upaya Penelusuran Jalur Luteolitik Prostaglandin F2a Sebagai Hormon Gertak Birahi Dengan Menggunakan Teknik Imunohistokimia

    No full text
    Aplikasi teknologi gertak birahi secara hormonal masih dinilai terlalu mahal bagi petemak di Indonesia. Harga hormon yang mahal serta keberhasilan yang belum begitu memuaskan menarik minar profesi kedokteran hewan untuk terus meneliti dengan tujuan untuk memperoleh suatu metoda gertak birahi yang mudah, murah, efisien dan selanjutnya dapat menunjang program inseminasi buatan dan transfer em brio Preparat hormon yang dapat digunakan untuk gertak birahi pada temak adalah hormon progesteron dan Prostaglandin F2<l (PGF2<l ). Aplikasi pemberian PGF2<l dapat secara intramuskular, subkutan dan intrauterin (Hafez,2000) akan tetapi terdapat kendala yaitu besarnya dosis yang dipakai serta memer1ukan ketrampilan khusus. Untuk itu dilakukan altematif pemberian PGF2<l secara submukosa vulva dengan asumsi dosis lebih rendah, caranya mudah, tidak memer1ukan keahlian khusus sehingga menjadi lebih murah dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah membuat suatu model teknologi pembuatan anti- PGF2a yang dapat digunakan pada ternak lain serta untuk membakukan teknik gertak birahi dengan hormon PGF2<l. Manfaat penelitian ini dapat untuk mengkaji pembuatan anti- PGF2a serta jalur luteolitik yang dilalui hormon PGF2a sebagai gertak birahi yang diberikan secara submukosa vulva. Metode penelitian ini terdiri dari dua tahap, tahap I pembuatan antibodi PGF2u. Oengan cara imunisasi PGF2U. Pad a 8 ekor kelinci local jantan dengan dosis imunisasi 250 I-lg, 500 I-lg dan 750 I-lg dengan penambahan ajuvant CFA, booster dilakukan tiga kali dengan penambahan IFA. Pengambilan darah dilakukan sebanyak 9 kali. Selanjutnya dilakukan isolasi dan purifikasi serum dengan SAS 50%. Serum hasil purifikasi dilakukan uji karakterisasi dengail metoda dot blot, indirect elisa dan SOSPAGE. Selanjutnya dilakukan labelling anti- PGF2U dengan ensim alkalin fosfatase. Penelitian tahap II pembuktian jalur luteolitik dengan cara penyuntikan PGF2u secara submukosa vulva pada kambing dengan dosis 7,5 mg (perlakuan) dan 7,5 mg PBS (kontrol). Setelah 2 jam penyuntikan kambing dipotong, saluran reproduksi diambil dan dibuat preparat histologis serta dilakukan pewarnaan imunohistokimia. Hasil penelitian tahap I pada uji karakterisasi dengan metoda dot blot terlihat bahwa pada timbulnya antibodi PGF2u +CFA sudah mulai Nampak pada bleeding I (minggu ke-3) dan tingkat kegelapan yang paling tajam terlihat pada kelompok II dan III pad a bleeding ke 4,5,6 (minggu ke-6,7 dan 8) hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi antibodi cukup tinggi. Oengan metoda Indirect Elisa, pada preimun dan ulangan kontrol menampakkan titer negatif terhadap anti- PGF2U sedang padR kelompok perlakuan mulai bleeding ke-2 menunjukkan titer positif karena nilai titer anti- PGF2u diatas nilai dua kali COV (cut of value) , hal ini menunjukkan respon imun terbaik terhadap PGF2<x dengan terbentuknya anti- PGF2u dihasilkan pad a bleeding ke-5 Perlakuan II. Oari penentuan berat molekul antibodi dengan metode SOS-PAGE 10% terlihat bahwa antigen (PGF2u) dapat mendeteksi antibody (anti- PGF2u) sebagai suatu pita-pita protein dengan rataan BM sebesar 139,7237kO. Penelusuran jalur luteolitik pada alat kelamin kambing betina dengan teknik imunohistokimia menunjukkan adanya warna kecoklatan pada slideslide saluran alat kelamin betina yang meliputi vulva, vagina serviks, korpus uteri dan kornua uteri pada pemotongan dua jam setelah penyuntikan hormon PGF2u secara submukosa vulva, hal ini menunjukkan bahwa jalur luteolitik hormon PGF2u yang diberikan secara submukosa vulva dapat dirunut perjalanannya dengan mengggunakan anti-prostglandinF2u terlabel alkalin fosfatase dengan menggunakan teknik imunohistokimia. ( Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga , SK. Rektor nomor : 71811 J031 PPI 2003, No. kontrak : HIBAH PROYEK DUE-LIKE Universitas Airlangga, Tahun Anggaran 2003/2006

    GENETIC IMPROVEMENT OF WEANING WEIGHT, YEARLING WEIGHT, BODY WEIGHT GAIN AND BODY DIMENSION OF BALI CATTLE

    No full text
    The aim of the research was to evaluate the genetic improving of production traits selected of Bali cattle. Four hundred and twenty eight data of weaning weight, yearling weight and body weight gain were used to estimate genetic improvement for those traits. One hundred and seven data of body dimension (body weight, chest circumference, body length and withers height) at 24 months old were used to estimate genetic improving for those traits. The estimation of genetic and environmental variance and co-variance component, and heritability were found by animal model. The fix effect of weaning weight, yearling weight and body weight gain was rainfall, age of measurement and year of birth, whereas the fix effect of body dimension depend on each trait. The result showed that heritability of weaning weight, yearling weight, body weight gain, body weight, chest circumference, body length and withers height was 0.09&#61617;0.15, 0.27&#61617;0.13, 0.47&#61617;0.15, 0.07&#61617;0.19, 0.50&#61617;0.19, 0.34&#61617;0.28, 0.60&#61617;0.21, respectively. Genetic improvement of all traits have had a different pattern in selection responses. All traits did not show genetic improvement due to selection

    GENETIC IMPROVEMENT OF WEANING WEIGHT, YEARLING WEIGHT, BODY WEIGHT GAIN AND BODY DIMENSION OF BALI CATTLE

    No full text
    The aim of the research was to evaluate the genetic improving of production traits selected of Balicattle. Four hundred and twenty eight data of weaning weight, yearling weight and body weight gainwere used to estimate genetic improvement for those traits. One hundred and seven data of bodydimension (body weight, chest circumference, body length and withers height) at 24 months old wereused to estimate genetic improving for those traits. The estimation of genetic and environmentalvariance and co-variance component, and heritability were found by animal model. The fix effect ofweaning weight, yearling weight and body weight gain was rainfall, age of measurement and year ofbirth, whereas the fix effect of body dimension depend on each trait. The result showed that heritabilityof weaning weight, yearling weight, body weight gain, body weight, chest circumference, body lengthand withers height was 0.090.15, 0.270.13, 0.470.15, 0.070.19, 0.500.19, 0.340.28, 0.600.21,respectively. Genetic improvement of all traits have had a different pattern in selection responses. Alltraits did not show genetic improvement due to selection for

    The Steroid Hormone Profile in Etawah Crossbreed Goat While Ovulation Induced Using the Selectsynch Method

    No full text
    This study aimed to provide alternative information and solutions in an effort to increase reproductive productivity in etawah crossbreed goats (PE). The sample used in this study was 10 female PE with an average age of 2.5 - 3 years and primiparous at least . Ovulation induction was performed using 0.1 mg intra-muscular Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH), after seven days injection of Prostaglandin F2α (PGF2α) was given as much as 2.5 mg submucosa of the vulva, followed by a second injection of GnRH as much as 0,2 mg intramuscular in samples that have really experienced heat and selected selectively according to the signs of natural heat shown by the sample and followed by insemination as much as 2 doses or 0.50 ml of frozen semen. Blood sampling was performed at H0, H7th, H14th and H21th after insemination. All blood samples were collected and progesterone and estrogen hormone profiles were examined using the ELISA method. From the results of the ELISA test, the mean progesterone hormone profile H0 = 4.798 ng / ml, H7th = 4.887 ng / ml, H14th = 4.824 ng / ml, H21th = 5.148 ng / ml. The profile of the hormone estrogen at H0 = 19,461 pg / ml, H7th = 17,457 pg / ml, H14th = 18,248 pg / ml, H21th = 17,515 pg / ml. This study showed an increase in the levels of the progesterone hormone at H0 to H7th, then slightly decreased in H14th and a significant increase in H21th. For the estrogen hormone, there is a decrease from H0 to H7th then there is a slight increase in H14th and decreases again in H21th

    Pengaruh Pemberian Kombinasi Hormon PM SG dan HCG- terhadap Superovulasi dan Jumlah Anak, serta Respon Imun Mencit yang Diimunisasi

    No full text
    Peningkatan kadar estrogen dan progesteron dalam darah dapat menekan proses pembentukan antibodi. Kombinasi PMSG dan hCG menyebabkan superovulasi pada mencit betina. Dengan demikian diasumsikan bahwa pemberian PMSG dan hCG (superovulasi berakibat pada peningkatan estrogen dan progesteron) secara tidak langsung akan menekan respon imun. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui imunitas humoral mencit betina akibat pemberian PMSG, hCG atau kombinasi keduanya sebelum masa kawin dapat menimbulkan supresifitas pada imunitas humoral mencit betina. Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Tahap I menggunakan 40 ekor mencit betina balb/c umur 8 minggu, yang dibagi dalam 4 kelompok. Kelompok 1 diberi PMSG (20 IU/ekor/IM); Kelompok 2 diberi hCG (20 IU/ekor/IM); Kelompok 3 diberi kombinasi PMSG dan hCG (masing-masing (20 IU/ekor/IM) dengan selang waktu 4 hari; dan Kelompok 4 diberi 1 ml NaCl/ekor/IM (kontrol). Semua kelompok diimunisasi dengan virus Gumboro (15 p1/0,5 ml/IM) pada 1 hari sebelum dan 7 hari setelah pemberian hormon. Sampel darah diambil pada 1, 2, 3 dan 4 minggu setelah pemberian hormon. Tahap II menggunakan 80 ekor mencit betina balb/c umur 10 minggu dan 4 ekor mencit jantan sebagai pemacek, yang dibagi dalam 4 kelompok. Kelom¬pok 1, 2, dan 3 diberi kombinasi PMSG dengan dosis masing-¬masing 20, 40 dan 60 IU dan hCG 60 IU/ekor/IM dengan selang waktu 4 hari. Imunisasi virus Gumboro yang pertama dilakukan bersamaan dengan pemberian PMSG dan imunisasi kedua dilaku¬kan bersamaan dengan pemberian hCG. Parameter yang diamati adalah titer antibodi, jumlah folikel dan jumlah anak. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Fisher yang dilanjutkan dengan uji t (Scjeffe). Hasil penelitian Tahap I dan II menunjukkan tidak adanya imunosupresif, justru menimbulkan imunostimulan. Pada tahap I, tidak ada perbedaan titer antibodi pada minggu (p > 0,05) ke 1 dan 2 antara ketiga kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Sedang pada minggu ke 3, titer antibodi pada ke 3 kelompok perlakuan lebih tinggi bila dibandingkan dengan kontrol (p < 0,05). Pada tahap II, titer antibodi yang dihasilkan oleh ketiga kelompok perlakuan lebih tinggi (p < 0,05) dibandingkan kelompok kontrol. Jumlah folikel pada ketiga kelompok perlakuan lebih banyak (p < 0,05) bila dibandingkan kelompok kontrol, tetapi tidak ada perbedaan jumlah folikel pada masing-masing kelompok perlakuan (p0,05). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dosis PMSG dan hCG yang dipakai masih belum cukup untuk menimbul¬kan efek imunosupresif tetapi justru sebagai imunostimulan. Disarankan perlu dilakukan pemantauan kadar hormon estrogen atau progesteron untuk menjelaskan peranannya sebagai imuno¬supresif. Perlu dilakukan pula penelitian tentang dosis minimal dari kombinasi PMSG dan hCG yang mampu menimbulkan imunosupresif terhadap respon imun humoral

    Karakterisasi Growth Differentiantion Factor 9 (GDF 9) pada Oosit Sapi yang Dikoleksi dari Folikel Preantral dengan Metode Dotblotting

    No full text
    The main purpose of this research was to know the character of Growth Differentiation Factor-9(GDF-9) protein isolated from bovine oocyte, collected from preantral follicle. Bovine ovary that was collected from slaughter house washed with NaCl. To collect oocyte from preantral follicle we use aspiration technique. The GDF-9 protein was isolated from oocyte and used for producing the antibody for dotblotting method. The rabbits which had been injected by GDF-9 antigen (immunization) was bleed every week to getthe blood serum and five week after immunization, the rabbits had boosted again and continued to bleed until10 week. The antibody anti-GDF-9 from the rabbits blood serum was reacted with GDF-9 antigen that had been identified with western blotting method. The dot-blot result showed that the intensity of dot color had increased significantly from bleeding III (five week after injected with antigen GDF-9) and reach the highest titer of antibody at bleeding IX. It’s mean that GDF-9 protein from bovine oocyte which collected frompreantral follicle can be characterized with dotblotting method and the highest titer antibody showed at bleeding I

    PEMBUATAN ANTI-PROSTAGLANDIN F2alfa TERLABEL ALKALIN FOSFATASE : Suatu Upaya Penelusuran Jalur Luteolitik Prostaglandin F2alfa Sebagai Hormon Gertak Birahi Dengan Menggunakan Teknik Imunohistokimia

    No full text
    Aplikasi teknologi gertak birahi secara hormonal masih dinilai terlalu mahal bagi peternak di Indonesia. Harga hormon yang mahal serta keberhasilan yang belum begitu memuaskan menarik minar profesi kedokteran hewan untuk terus meneliti dengan tujuan untuk memperoleh suatu metoda gertak birahi yang mudah, murah, efisien dan selanjutnya dapat menunjang program inseminasi buatan dan transfer embrio Preparat hormon yang dapat digunakan untuk gertak birahi pada ternak adalah hormon progesteron dan Prostaglandin F2a (PGF2a ). Aplikasi pemberian PGF2a dapat secara intramuskular, subkutan dan intrauterin (Hafez,2000) akan tetapi terdapat kendala yaitu besarnya dosis yang dipakai serta memerlukan ketrampilan khusus. Untuk itu dilakukan altematif pemberian PGF2a secara submukosa vulva dengan asumsi dosis lebih rendah, caranya mudah, tidak memerlukan keahlian khusus sehingga menjadi lebih murah dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah membuat suatu model teknologi pembuatan anti- PGF2a yang dapat digunakan pada ternak lain serta untuk membakukan teknik gertak birahi dengan hormon PGF2a. Manfaat penelitian ini dapat untuk mengkaji pembuatan anti- PGF2a serta jalur luteolitik yang dilalui hormon PGF2a sebagai gertak birahi yang diberikan secara submukosa vulva. Metode penelitian ini terdiri dari dua tahap, tahap I pembuatan antibodi PGF2a. Dengan cara imunisasi PGF2a. Pada 8 ekor kelinci lokal jantan dengan dosis imunisasi 250 µg, 500 µg dan 750 pg dengan penambahan ajuvant CFA, booster dilakukan tiga kali dengan penambahan IFA. Pengambilan darah dilakukan sebanyak 9 kali. Selanjutnya dilakukan isolasi dan purifikasi serum dengan SAS 50%. Serum hasil purifikasi dilakukan uji karakterisasi dengan metoda dot blot, indirect elisa dan SDS PAGE. Selanjutnya dilakukan labelling anti- PGF2a dengan ensim alkalin fosfatase. Penelitian tahap II pembuktian jalur luteolitik dengan cara penyuntikan PGF2a secara submukosa vulva pada kambing dengan dosis 7,5 mg (perlakuan) dan 7,5 mg PBS (kontrol). Setelah 2 jam penyuntikan kambing dipotong, saluran reproduksi diambil dan dibuat preparat histologis serta dilakukan pewarnaan imunohistokimia. Hasil penelitian tahap I pada uji karakterisasi dengan metoda dot blot terlihat bahwa pada timbulnya antibodi PGF2a +CFA sudah mulai nampak pada bleeding I (minggu ke-3) dan tingkat kegelapan yang paling tajam terlihat pada kelompok II dan III pada bleeding ke 4,5,6 (minggu ke-6,7 dan 8) hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi antibodi cukup tinggi. Dengan metoda Indirect Elisa, pada preimun dan ulangan kontrol menampakkan titer negatif terhadap anti- PGF2a sedang pads kelompok perlakuan mulai bleeding ke-2 menunjukkan titer positif karena nilai titer anti- PGF2a diatas nilai dua kali COV (cut of value) , hal ini menunjukkan respon imun terbaik terhadap PGF2a dengan terbentuknya anti- PGF2a dihasilkan pada bleeding ke-5 Perlakuan II. Dan penentuan berat molekul antibodi dengan metode SDS-PAGE 10% terlihat bahwa antigen (PGF2a) dapat mendeteksi antibodi (anti- PGF2a) sebagai suatu pita-pita protein dengan rataan BM sebesar 139,7237kD. Penelusuran jalur luteolitik pada alat kelamin kambing betina dengan teknik imunohistokimia menunjukkan adanya warna kecoklatan pada slide-slide saluran alat kelamin betina yang meliputi vulva, vagina serviks, korpus uteri dan kornua uteri pada pemotongan dua jam setelah penyuntikan hormon PGF2a secara submukosa vulva, hal ini menunjukkan bahwa jalur luteolitik hormon PGF2a yang diberikan secara submukosa vulva dapat dirunut perjalanannya dengan mengggunakan anti-prostglandinF2a terlabel alkalin fosfatase dengan menggunakan teknik imunohistokimia

    UPAYA PENINGKATAN FERTILITAS SAPI POTONG DENGAN PEMBERIAN KOMBINASI PROSTAGLANDIN F2 ALFA DAN PREGNANT MARE SERUM GONADOTROPIN (PMSG

    No full text
    "Tidak tercapainya pertumbuhan populasi ternak potong antara lain disebabkan oleh permintaan daging sapi yang meningk.at sehingga angka pemotongan ternak, menjadi meningkat, sedangkan pertumbuhan alaminya masih rendah sehingga ketersediannya belum dapat mengimbangi jumlah pemotongan. Iipaya peningkatan produksi dan populasi ternak terns diupayakan dengan memanfaatkan berbagai teknologi, teknologi gertak birahi dengan menggunakan berbagai macam preparat hormonal telah dilakukan. Penelitianinibertujuon.untuk mengetahui pengaruh pem-berian kombinasi hormon Prostaglandin F--)a dengan Pregnant Mare Serum Gonadotropin terhadap fertilitas sapi potong. Manfaat penelitian ini antara lain dari segi efisiensi saat pemberian preparat hormon tanpa melihat status ovarium. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah pemberian kombinasi hormon Prostaglandin F2'i dengan Pregnant Mare Serum Gonadotropin dapat digunakan untuk gertak birahi dan dapat memberikan angka kebuntingan yang tinggi pada sapi potong. Norman Prostaglandin F2a merupakan hormon derivat asam lemak yang sering dipakai untuk gertak birahi pada ternak, hormon ini mempunyai sifat luteolitik, sedangkan hormon Preg nant Mare Serum Gonadotropin yang merupakan hormon glikopro¬tein yang mempunyai aksi biologis seperti hormon FSH, adalah hormon yang sering digunakan untuk superovulasi dan terapi hipofungsi ovari. Fenelitian ini menggunakan 45 ekor sapi potong yang tidak bunting yang dibagi dalam tiger kelompok secara acak. Kelompok I disuntik. dengan Prostaglandin F2a dosis 20 mg secara intramuskuler; Velompok II disuntik dengan kombinasi Prostaglandin F2a 20 mg dan Pregnant Mare Serum Gonadotropin dosis 200 IU secara intra muskuler dan kelompok III disuntik dengan hormon Pregnant Mare Serum Gonadotropin dosis 200 IU secara intramuskuIer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jumlah sapi yang birahi masing-masing adalak 60X; BOX dan 77;,77.74 (p>0,05). Rataan waktu timhulnya birahi (dalam jam) masing-masing per-lakuan adalah :19,67; 43,17 dan 51,09 (p0,05). Sedangkan angka kebuntingan yang terjadi untuk masing-masing kelompok perlakuan adalah 55,557., 41,66% dan 407. (p)0,05). Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pemberian kombinasi hormon Prostaglandin Flu dan Pregnant Mare Serum Gonadotropin dapat dipakai untuk preparat gertak birahi dalam upaya peningkatan fertilitas sapi potong. Disarankan untuk melakukan penelitian seperti model diatas dengan melihat kadar hormon estrogen don progesteron dalam darah serta dilakukan dalam kondisi musim yang berbeda.
    corecore