16 research outputs found
Mahardika Dance Creation Process
This paper aims to reveal a creative process of the Mahardika dance creation conducted in 2006. This disclosure is important to see how the concept of traditional dance development still maintains the Balinese identity. The Mahardika dance, a new creation form of Balinese dance, comes from the creative process between I Wayan Sutirtha as the dance choreographer and I Nyoman Windha as the musical composer of the dance accompaniment. Mahardika means freedom or release from worldly ties, which refers to the Sutasoma figure as the central character in the Mahardika dance. It is adapted from the main theme of the Bali Arts Festival, namely Swabawaning Idep, meaning the radiance of nobility. The process of creating dance refers to the theory of Alma M. Hawkins in the book Creating Through Dance, including exploration, improvisation, and formation. The Mahardika dance consists of four parts. The first part describes the atmosphere of meditation with a silent atmosphere, the second part depicts the meeting of the Sutasoma and Dewi Candrawati with a happy and romantic atmosphere, the third part portrays the war of the Sutasoma and Prabu Purusadha with a tense atmosphere, and the fourth part represents the consciousness of Prabu Purusada and Sutasoma sitting on a lotus flower with a serene atmosphere. In addition, the costumes are adjusted to the characters. Certainly, it does not interfere with the dancer's movements but helps and opens aesthetic spaces in the choreography of the Mahardika dance creation
I Nyoman Windha Sang Maestro Karawitan Bali
I Nyoman Windha dilahirkan di Banjar Kutri, Desa Singapadu, Kabupaten Gianyar pada 4 Juli 1956. Putra pasangan I Nyoman Kantun dan Ni Nyoman Radi ini, sejak masih kecil sudah bergelut dengan seni karawitan Bali dimulai dari seni vokal Janger. Windha kecil kemudian ikut bergabung dengan sekaa gamelan di banjar setempat, walaupun masih kecil Windha sudah menjadi penabuh dengan kostum yang kebesaran. Bakatnya mulai ditempa ketika memasuki SMP Dharma Putra di lingkungan yang memiliki ekosistem keseniman yang unggul di Desa Singapadu. Pada masa Sekolah di SMP ini Windha telah dipercaya sebagai penabuh yang cukup disegani. Tempaan sebagai seorang seniman terus berlanjut ketika sekolah di Kokar, ASTI Denpasar, ISI Yogyakarta, dan Mills College Amerika tahun 2005 dengan tesis berjudul Jayabaya yang sangat monumental. Berbagai karya ciptaan gending karawitan telah berhasil diciptakan bukan saja dengan menggunakan gamelan Gong Kebyar, tetapi juga menggunakan gamelan Genta Pinara Pitu yang sekarang ditempatkan di Australia, gamelan Semar Pagulingan, gamelan Angklung, gamelan Selonding, gamelan Jawa, dan lainnya. Ketika pensiun Windha mulai kembali tinggal di lingkungan banjar Kutri dan membina penabuh yang mumpuni. Tidak lupa Windha juga terus mengembangkan Sanggar JES Gamelan Fusion dengan berbagai kolaborasi karya dengan seniman besar sekelas Dwiki Darmawan. JES merupakan singkatan dari Jegog dan Semar Pagulingan
MENUH MIYIK
Menuh berarti melati, miyik berarti harum, walaupun kecil tapi dia bisa mengharumkan
dunia. Menuh atau lebih dikenal dengan nama Melati adalah sekuntum bunga yng berwarna
putih bersih yng senantiasa dan setia menebarkan keharuman. Tarian ini menggambarkan
kemolekan bunga melati yang digambarkan dengan sekelompok penari wanita dengan
gerakan-gerakan lemah gemulai serta fose-fose menyerupai bunga melat
Struktur Musik Iringan Tari Puspanjali
Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan struktur komposisi musik iringan tari Puspanjali karya I Nyoman Windha seorang maestro karawitan Bali. Tari Puspanjali yang dipergunakan sebagai tari penyambutan ciptaan NLN Swasthi Widjaja diciptakan tahun 1989, menjadikannya sebagai sebuah karya tari yang monumental. Puspanjali berasal dari kata puspa berarti bunga dan anjali berarti sebuah penghormatan, dengan kata lain Puspanjali adalah taburan bunga sebagai sebuah penghormatan. Metode yang dipergunakan adalah deskriptif melalui penjabaran struktur dan bentuk musik iringan tari yang terdiri dari kawitan, pengawak, dan pekaad dengan persyaratan mungkus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung baik melihat pertunjukannya ataupun melalui video, wawancara, dan studi kepustakaan. Penciptaan tari dan iringannya sangat spontan yang keluar dari ide, gerak tari, dan melodi yang diramu dalam komposisi yang sederhana tetapi sampai saat ini karya tersebut dapat digolongkan sebagai karya monumental karena masih bertahan dan banyak dipergunakan oleh masyarakat di Bali. Penjabaran struktur musik iringan tari dilakukan melalui notasi balok yang digabungkan dengan notasi dindong. Tarian Puspanjali sangat cocok dipelajari oleh anak usia dini karena kesederhanaan gerakannya, dan musik iringan dapat dipelajari oleh para pemula usia SD karena kesederhanaan komposisi musiknya
PENGEMBANGAN GENDING GAMELAN ANGKLUNG SEBAGAI PENGIRING PAKET SENI PERTUNJUKAN WISATA DI BANJAR NYUH KUNING, DESA MAS, UBUD
Paket seni pertunjukan wisata merupakan sebuah model seni pertunjukan
yang dikemas bernuansa baru, yang belum pernah ada sebelumnya. Bentuknya
masih tetap mengacu kepada bentuk serta kaidah-kaidah seni yang telah ada, tidak
terlepas dari selera estetis seniman dan selera para wisatawan. Permasalahan yang
diajukan penelitian ini, meliputi: pemilihan materi pertunjukan, rumusan konsep
seni pertunjukan wisata, penataan koreografi tari dan penulisan notasi iringan, serta
langkah-langkah untuk mengimplementasikannya.
Tujuan dan target khusus penelitian ini dilakukan adalah menghasilkan
“produk kesenian” berupa paket seni pertunjukan wisata yang diiringi gamelan
Angklung. Kemasan kesenian yang dihasilkan adalah akibat penyesuaian potensi
dan media berkesenian yang ada di Banjar Nyuh Kuning, agar gamelan Angklung
yang dimiliki lebih fungsional dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
kualitatif, yang lebih menekankan pada ”metode partisipatoris”, yaitu
mengutamakan kerjasama antara tim peneliti dengan anggota sekaa Angklung dan
sanggar tari di Banjar Nyuh Kuning, Desa Mas, Ubud, dalam menetapkan tahapan-
tahapan untuk mewujudkan tujuan yang diharapkan. Dengan menggunakan teknik
observasi partisipasi dan wawancara, termasuk melaksanakan pelatihan yang
terfokus pada anggota sekaa Angklung dan sanggar tari, diharapkan akan dapat
terwujud paket seni pertunjukan wisata yang sesuai dengan selera dan kebutuhan
wisatawan.
Keywords : Paket Seni Pertunjukan Wisata, Metode Partisipatoris,
Sekaa Angklung dan Sanggar Tari
The Manifestation of Kuntisraya Story in Ethnic
The purpose of writing this article is to discover the manifestations of the Kuntisraya story in works of arts in Indonesia. In general, Kuntisraya stories can be found in ancient Javanese literary works. In particular, it turns out that there are works of art, design, and ethnic performing arts in Indonesia that are realized based on the Kuntisraya story. The problems are : 1) What is the form of the manifestation of the Kuntisraya story in works of art and design?; 2) What is the form of the manifestation of the Kuntisraya story in ethnic performing arts?. This research was conducted with qualitative methods. Observations and interviews have been used to obtain primary data. The results of the literature study have been used as secondary data. All data has been analyzed qualitatively using aesthetic and reception theories. The results of the study show that : 1) manifestations of the Kuntisraya story exist in works of art and designs in the form of architectural reliefs of temples; and 2) manifestations of the Kuntisraya story exist in performing arts in the form of sacred performing arts and tourism performing arts
DESAIN KOMUNIKASI VISUAL DALAM PROMOSI SANGGAR TARI LOKANANTA DI BR. MUKTI SINGAPADU, SUKAWATI, GIANYAR
Abstrak
Sanggar Tari Lokananta merupakan sanggar yang berdiri pada tanggal 24 Januari tahun 2001, pendirinya adalah I Wayan Sutirtha, S.Sn, M.Sn. Latar belakang didirikannya sanggar ini selain untuk lapangan pekerjaan ada hal lain seperti menyalurkan hobi, mengangkat potensi desa singapadu, melakukan pembinaan anak-anak khususnya dilingkungan desa singapadu dan Bali pada umumnya, serta mengarahkan para penari sebagai penari professional. Sanggar ini berlokasi di Br. Mukti Singapadu, Sukawati, Gianyar. Segudang prestasi yang diraih sanggar ini antara lain mendapatkan Piala Bergilir Walikota Denpasar Juara I pada tahun 2002, Penari Terbaik Piala Walikota Denpasar tahun 2003, Piala Tetap Rektor ISI Denpasar tahun 2007, dan masih banyak lagi juara-juara lainnya. Sanggar Tari Lokananta mempunyai kegitan rutin setiap 1 tahun sekali yaitu tes kenaikan tingkat bagi para muridnya. Kurangnya media promosi yang ada menjadi kendala sehingga sanggar Lokananta kurang diketahui masyarakat luas khusunya anak-anak. Desain ini bertujuan untuk memperoleh media komunikasi visual yang efektif, komunikatif dan sesuai kriteria desain untuk melengkapi kegiatan promosi Sanggar Lokananta dan bermanfaat menambah media promosi dan sekaligus lebih memperkenalkan perusahaan kepada masyarakat luas
Melalui metode penelitian, Data-data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, kepustakaan dan dokumentasi di Sanggar Tari Lokananta disesuaikan kembali dengan strategi promosi. Teori yang digunakan dalam studi ini adalah teori komunikasi massa oleh Dominick, teori Semiotika yang digunakan menurut Charles William Morris dan Charles Sanders Peirce serta psikologi warna. Kemudian diolah melalui analisis deskriptif kualitatif dan sintesa sehingga diperoleh konsep dasar desain.
“Fun Eklektik” merupakan konsep dasar yang digunakan pada proses desain untuk promosi Sanggar Tari Lokananta. Konsep tersebut sesuai dengan tujuan yaitu keceriaan , menyenangkan yang ingin disampaikan oleh sanggar. Dalam proses desain, telah ditentukan media yang tepat dan sesuai yaitu Website, Umbul-umbul, Spanduk, T-shirt, Tas Kanvas, Leaflet, Piring Merchandise, Pin, Papan Nama, dan Katalog.
Kata Kunci : desain, media komunikasi visual, Sanggar Tari Lokananta
DESIGN OF VISUAL COMMUNICATION IN PROMOTION SANGGAR TARI LOKANANTA AT BR. MUKTI SINGAPADU, SUKAWATI, GIANYAR
Abstract
Sanggar Tari Lokananta was build in 24th January 2001, founder were is I Wayan Sutirtha, S.Sn, M.Sn. Background except for this sanggar establishment field work there other things like hobby, lifting the potential for Singapadu Village, doing the guidance of children especially in the Singapadu village an environmental Bali and generally directing the dancers dance as professional. This sanggar location at Br. Mukti Singapadu, Sukawati, Gianyar. This sanggar as myriad winning including Balinese dance get Denpasar mayor championship trophy one glorious in 2002, best dancer trophy mayor of Denpasar in 2003, trophy remained Rector ISI Denpasar in 2007 and there are still many winning. Sanggar Lokananta have daily once of the years rising level activity on the students. Lack of promotional problem so that there be less sanggar Lokananta know the area especially in childrens. Design aims to get effective visual media communications, communicative and appropriate complete design criteria for promotion and promotional activities useful sanggar Lokananta the media and once again to introduce to the public.
Through research methods, documents obtained from the results opservasi , interviews, literature dan documentation in Sanggar Tari Lokananta in return match with promotion strategy. Theory that is used in this study by mass communication theory Dominick, semiotics theory in use by Charles William Morris and Charles Sanders Peirce , psychology and color. Later processed through qualitative descriptive analysis and sintesa so get in besic design concepts.
“Fun Eclektic” is this besic concept used in the design process for the promotion of Sanggar Tari Lokananta. Concept is consistent with the goal of happiness, fun that you want to convey by the sanggar. In process design, has been determined the right and suitable media Website, Pennants, Banner, T-shirt, Canvas Bag, Leaflet, Merchandise Plate, Pin, Board Name, and Katalog.
Keywords: design, media of visual communication, Sanggar Tari Lokananta
Irama Tubuh
Skip Karya tari yang berjudul Irama Tubuh ini merupakan karya tari kontemporer untuk
memenuhi tugas hakir penciptaan jurusan tari di ISI Denpasar. Awal mula munculnya ide membuat
karya tari ini bersumber dari pengalaman pribadi penata dalam berporoses kreatif dibidang seni
tari. Pengalaman penata dalam menekuni dunia seni tari sejak kelas 4 SD sampai sekarang duduk
dibangku kuliah memiliki cukup banyak pengalaman dalam bidang seni tari, baik itu dari segi
penikmat, pelaku maupun pencipta karya seni tari. Sekian banyak pengalaman yang sudah pernah
di rasakan oleh penata, salah satunya mengisprirasi penata menuangkanya kedalam bentuk karya
tari kontemporer. Pengalaman penata dalam mengapresiasi karya seni pernah melihat beberapa
karya seni tari mempergunakan kostum sampai memberatkan tubuh penari senghingga tidak
leluasa tubuh itu bergerak. Menurut penata pemakaian kostum berlebihan tersebut mengurangi
esensi dari media utama dalam tari yaitu bahasa tubuh. Selain pengalaman tersebut penata juga
pernah menciptakan suatu karya seni tari pada tahun 2015 untuk membantu ujian UKK SMK N 3
Sukawati. Dalam proses kreatif tersebut penata berkeinginan setelah karya tari itu dipertunjukan
untuk ujian, besar keinginginan penata bias dipertunjukan lagi, seperti contohnya di pura-pura.
Namun dalam keinginan penata tersebut menemukan kendala di pemain musik tarinya, mereka
tidak bias lagi membantu untuk mengiringi karya tari tersebut dengan berbagi alasan. Dari
pengalaman tersebut penata menemukan sebuah ide yang dimana mumbuat karya tari yang lebih
menonjolkan media utama dalam tari yaitu bahasa tubuh dan mempergunakan musik internal dari
tubuh penari itu sendiri.
Karya tari irama tuuh ini akan mempergunakan musik internal sebagai motivasi untum
bergerak. Musik internal yang dimaksud bukanlah bersumber dari tepukan tangan atau vokal dari
penari, melainkan ketukan dari dalam tubuh penari, yaitu denyut jantung. Ketukan yang bersumber
dari jantung tersebut yang kan menjadi dorongan penari untuk melakukan gerak tubuh dan
sekalikus menjadi ungkapan, bahwa tubuh sudah memiliki ketukan yang bias dipergunakan
menjadi musik sebagai rangsangan untuk bergerak. Ketukan yang sudah dimiliki pleh penari
tersebut akan divisualkan melalui gerak yang berirama. Tari ini akan ditarikan oleh satu orang
penari atau tunggal, di karenakan setiap rasa dan ketukan setiap seseorang salalu berbeda. Kostum
yang di pergunakan dalam karya tari ini juga akan mempergunakan celana pendek ketat, pemilihan
kostum tersebut dikarenakan mempertimbangkan kenyamaan dalam bergerak, selain itu karya tari
ini ingin lebih menonjolkan tubuh dalam melakukan gerakan.
Kata Kunci : Tari Kontemporer, musik internal yang di ungkapkan dengan gerak tubuh yang
berirama
