3 research outputs found
Jihad dalam Perspektif Muhammad Fethullah Gulen
Abstract: According to Fethullah Gulen, Jihad in a muslim spiritual life is a process to know closer one’s God. There are two kinds of jihad in his opinion; major jihad which is a jihad for oneself and minor jihad, which is directed toward others. Jihad toward oneself is considered a major jihad because it is directed to fight against one’s destructive ego as well as negative thought. Such things could deny a muslim to attain the ultimate perfection. By subduing oneself negative aspects, he or she will discover his/her true identity and finally discover and love his/her God.by doing so, he or she will get spiritual happiness. In contrast, minor jihad is an active fulfilment of a Muslim toward his or her religion. Major jihad influences dearly to minor jihad. Both jihads should work hand in hand. While major jihad has spiritual nature, minor jihad is physical. A good muslim will always perform jihad so that he or will have a balance of spiritual and physical life.
Key words: Jihad, Muhammad Fethullah Gulen.
Abstrak: Jihad dalam pandangan Fethullah Gulen merupakan sebuah proses dalam kehidupan seorang muslim agar lebih dekat dan mengenal Allah. Menurutnya, ada dua kategori jihad, yakni jihad besar yang merupakan jihad terhadap diri sendiri dan jihad kecil yang merupakan jihad terhadap orang lain. Jihad terhadap diri sendiri masuk dalam kategori jihad besar karena memerangi ego, emosi dan pikiran yang negatif dalam diri manusia sebagai upaya mengatasi hambatan antara diri sendiri dan jati dirinya, mengenali jiwa, dan akhirnya mengenali Tuhan, mencintai Tuhan, dan berbahagia secara spiritual. Sedangkan jihad kecil merupakan pemenuhan aktif seseorang terhadap perintah dan tugas dalam Islam, proses untuk membuat orang lain bisa mencapai jati dirinya didasarkan pada mengatasi hambatan antara manusia dan keimanan sehingga mereka dapat memilih secara bebas untuk beriman atau tidak beriman. Jihad yang pertama kali harus dilakukan adalah jihad besar, karena ia memiliki pengaruh yang signifikan bagi jihad kecil. Jihad dalam Islam yang menekankan pada harmonisasi antara jihad besar yang bersifat batiniah dan jihad kecil yang bersifat lahiriah, maka orang beriman yang selalu berjihad, baik jihad kecil maupun besar, akan memiliki keseimbangan fisik dan spiritual yang sangat bagus.
Kata Kunci: Jihad, jihad besar, jihad kecil, Muhammad Fethullah Gulen
Jihad dalam Perspektif Muhammad Fethullah Gulen
Abstract: According to Fethullah Gulen, Jihad in a muslim spiritual life is a process to know closer one’s God. There are two kinds of jihad in his opinion; major jihad which is a jihad for oneself and minor jihad, which is directed toward others. Jihad toward oneself is considered a major jihad because it is directed to fight against one’s destructive ego as well as negative thought. Such things could deny a muslim to attain the ultimate perfection. By subduing oneself negative aspects, he or she will discover his/her true identity and finally discover and love his/her God.by doing so, he or she will get spiritual happiness. In contrast, minor jihad is an active fulfilment of a Muslim toward his or her religion. Major jihad influences dearly to minor jihad. Both jihads should work hand in hand. While major jihad has spiritual nature, minor jihad is physical. A good muslim will always perform jihad so that he or will have a balance of spiritual and physical life.
Key words: Jihad, Muhammad Fethullah Gulen.
Abstrak: Jihad dalam pandangan Fethullah Gulen merupakan sebuah proses dalam kehidupan seorang muslim agar lebih dekat dan mengenal Allah. Menurutnya, ada dua kategori jihad, yakni jihad besar yang merupakan jihad terhadap diri sendiri dan jihad kecil yang merupakan jihad terhadap orang lain. Jihad terhadap diri sendiri masuk dalam kategori jihad besar karena memerangi ego, emosi dan pikiran yang negatif dalam diri manusia sebagai upaya mengatasi hambatan antara diri sendiri dan jati dirinya, mengenali jiwa, dan akhirnya mengenali Tuhan, mencintai Tuhan, dan berbahagia secara spiritual. Sedangkan jihad kecil merupakan pemenuhan aktif seseorang terhadap perintah dan tugas dalam Islam, proses untuk membuat orang lain bisa mencapai jati dirinya didasarkan pada mengatasi hambatan antara manusia dan keimanan sehingga mereka dapat memilih secara bebas untuk beriman atau tidak beriman. Jihad yang pertama kali harus dilakukan adalah jihad besar, karena ia memiliki pengaruh yang signifikan bagi jihad kecil. Jihad dalam Islam yang menekankan pada harmonisasi antara jihad besar yang bersifat batiniah dan jihad kecil yang bersifat lahiriah, maka orang beriman yang selalu berjihad, baik jihad kecil maupun besar, akan memiliki keseimbangan fisik dan spiritual yang sangat bagus.
Kata Kunci: Jihad, jihad besar, jihad kecil, Muhammad Fethullah Gulen.</jats:p
Tipologi Tafsir Alquran di Indonesia Pasca Reformasi: Studi Buku Pribumisasi Al Quran Karya M. Nur Kholis Setiawan
Sebuah hasil penafsiran merupakan sebuah proses dialektika antara mufassir, teks Alquran dan berbagai faktor yang melingkupinya, seperti konteks sosial budaya, basis sosial dan intelektual, hingga tingkat spiritualitasnya. Kondisi sosial–politik Indonesia pasca Reformasi memiliki karakter yang berbeda dengan era Orde Baru. Telah terjadi liberasi politik dan berbagai macam gerakan sosial pun bermunculan, termasuk dalam bidang penafsiran Alquran. Ada sebuah buku berjudul Pribumisasi Al-Qur’an: Tafsir Berwawasan Keindonesiaan karya M. Nur Kholis Setiawan yang muncul sebagai salah satu representasi tafsir Alquran pasca reformasi di Indonesia. Dari sana, dapat dimunculkan tiga rumusan masalah, yakni pertama, bagaimana basis dan identitas sosial-intelektual penulis; kedua, bagaimana metodologi dan teori interpretasi yang digunakan dalam penyusunan buku tersebut dalam peta tafsir Alquran di Indonesia; dan ketiga, bagaimana sensitifitas literatur yang ada dalam buku tersebut. Dengan menggunakan kerangka teori sejarah pemikiran dan sosiologi pengetahuan dan dengan analisis eksplanatoris, penelitian ini dilakukan dan menghasilkan tiga temuan, yakni pertama, Basis dan identitas sosial-intelektual penyusun buku Pribumisasi Al-Qur’an, M. Nur Kholis Setiawan, adalah santri-akademisi dan birokrat dalam ruang lingkup politik-kekuasaan. Sebagai seorang santri-akademisi, pemikiran Setiawan dapat dikategorikan dalam post-tradisionalisme Islam. Adapun sebagai seorang birokrat, Setiawan menuangkan berbagai gagasan tafsirnya menyesuaikan RPJMN Pemerintah RI yang dapat dilihat dari berbagai tema yang dibahas, serta keberpihakannya pada kebijakan pemerintah saat buku ini ditulis dan kritik atas pemerintahan sebelumnya (Orde Baru). Kedua, dari segi metodologi, teknis penulisan buku ini menggunakan sistematika penyajian tematik-plural dengan bentuk penyajian rinci yang menggunakan gaya bahasa dan bentuk penulisan ilmiah, serta sumber rujukan yang variatif. Sedangkan metode penafsirannya adalah penafsiran pemikiran yang bernuansa sosial-kemasyarakatan. Adapun teori interpretasi yang digunakan dalam penyusunan buku ini termasuk dalam kategori obyektifis-modernis. Dan ketiga, sensitifitas literatur dalam buku ini dibingkai dalam tafsir dengan perspektif kritik sosial yang mencakup dua belas hal, yakni pertama, kesetaraan gender dan perlindungan anak; kedua, nikah beda agama dan toleransi antar umat beragama; ketiga, pemuda dan entrepreneurship; keempat, kesetaraan dan pemberdayaan kaum difabel; kelima, prinsip dan etika komunikasi; keenam, wilayah dan kedaulatan negara; ketujuh, kebhinekaan budaya; kedelapan, pemberantasan korupsi dan money laundering; kesembilan, penanggulangan kemiskinan; kesepuluh, pelestarian alam; kesebelas, lokalisasi perjudian dan prostitusi; dan keduabelas, ummat wasat
