96 research outputs found
Almuwazinah Bayna Muhammad Syauqi Affendi wa Hasyim Muhammad Al-Baghdadi Fi Kitabah Qawaid Al-Khat An-Naskhi
vi, 794 hlm,; ilus,; 30 cm
KONTROVERSI BUNGA BANK DALAM ISLAM: TELAAH KOMPARATIF YUSUF AL-QARDHAWI DAN MUHAMMAD SAYYID AL-THANTAWI
Abstrak
Perbankan konvensional di Indonesia masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam transaksi keuangan, meskipun terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai status hukum bunga bank. Yusuf Al-Qardhawi secara tegas mengharamkan bunga bank karena dianggap sebagai riba, sementara Muhammad Sayyid Al-Thantawi memperbolehkannya dalam kondisi yang adil dan transparan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan pandangan kedua ulama serta mengkaji relevansinya terhadap praktik perbankan di Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan komparatif terhadap kitab-kitab karya kedua ulama serta regulasi perbankan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem bunga dalam perbankan konvensional lebih sejalan dengan pandangan Muhammad Sayyid Al-Thantawi, karena diterapkan secara terbuka dan sesuai kesepakatan. Namun, sistem ini tetap bertentangan dengan prinsip yang dipegang oleh Yusuf Al-Qardhawi. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan literasi keuangan syariah agar masyarakat memahami perbedaan antara sistem perbankan konvensional dan syariah serta dapat memilih layanan keuangan sesuai dengan keyakinannya. Selain itu, masyarakat diharapkan bersikap adil dalam menghadapi perbedaan pendapat ulama dengan tetap berpegang pada prinsip hukum Islam.
Kata Kunci: Bunga Bank, Muhammad Sayyid Al-Thantawi, Perbankan Konvensional, Riba, Yusuf Al-Qardhawi.
Abstract
Conventional banking in Indonesia remains the primary choice for financial transactions, despite differing views among Islamic scholars regarding the legal status of bank interest. Yusuf Al-Qardhawi firmly prohibits bank interest, considering it a form of riba, while Muhammad Sayyid Al-Thantawi permits it under fair and transparent conditions. This study aims to analyze the differing perspectives of these two scholars and assess their relevance to Indonesia’s banking practices. The research employs a normative legal approach with a comparative analysis of the scholars' works and Indonesia's banking regulations. The findings indicate that the interest system in conventional banking aligns more closely with Muhammad Sayyid Al-Thantawi’s perspective, as it is implemented transparently and based on mutual agreement. However, it remains inconsistent with Yusuf Al-Qardhawi’s principles. Therefore, increasing financial literacy in Islamic banking is essential to help the public understand the differences between conventional and Islamic banking systems and make informed financial decisions. Additionally, society is encouraged to approach scholarly differences with fairness and objectivity while adhering to Islamic legal principles.
Keywords: Bank Interest, Conventional Banking, Muhammad Sayyid Al-Thantawi, Riba, Yusuf Al-Qardhawi
Islamic Law Perspective on Civil Servant Divorce Process
Islamic Law Perspective on Civil Servant Divorce Process Mus Mualim Muhammad Syarif Hasyim Muhammad Akbar
The aim of this study is to understand Islamic Law Perspectives on the divorce that is carried out by the government employees in Palu. This study used a qualitative field research. The research procedure that produces descriptive data in the form of writing and attitudes that can be observed from the subject itself. The data sources were obtained from primary and secondary data collected by observation, interviews and documentation. The data analysis techniques used were inductive and continuous using data reduction, data presentation and drawing conclusions or verification. The results show that the government employees who will conduct a divorce must obtain permission from the competent superior, which is then processed at the Regional Civil Service Agency, then the application process or divorce suit will be continued at the Palu Religious Court Class I A. As for legal review Islam regarding the divorce process of the State Civil Apparatus (ASN) is in accordance with Islamic law based on the word of Allah in QS An-Nisaa: (4): 59 and the complicating principle contained in the divorce process of the State Civil Apparatus (ASN) is in line with Islamic law as in the hadith of the prophet, namely From Ibn Umar. He said that Rasulullah Saw. has said, “that which is lawful which God hates most is divorce”. By understanding this hadith, Islam encourages the realization of a happy and eternal marriage, this is also contained in Law 1 of 1974 concerning the purpose of marriage, namely to form a happy and eternal family (household) based on one Godhead.
06 20 2021 55 68 10.24239/ijcils.Vol3.Iss1.28 https://ijcils.org/index.php/ijcils/article/view/28 https://ijcils.org/index.php/ijcils/article/download/28/27 https://ijcils.org/index.php/ijcils/article/download/28/2
Analisis Tahapan Keterampilan Pemebelajaran Melalui Praktik Microteaching Pada Mahasiswa di STAI Sulthan Syarif Hasyim Siak Sri Indrapura Riau
This study aims to see the level of mastery of basic teaching skills of students, especially at the learning planning stage for Islamic Religious Education Study Program Students at STAI Sulthan Syarif Hasyim Siak Sri Indrapura Riau through microteaching activities. The results of the study obtained include: From the results of the presentation of the discussion analysis in this study, the first conclusion can be obtained, semester VI Local A students of the Islamic Religious Education study program at STAI Sulthan Syarif Hasyim Siak Sri Indrapura Riau have carried out 8 aspects of teaching skills for microteaching classes, namely: 1) opening and closing learning skills; 2) questioning skills, 3) providing variation skills, 4) providing reinforcement skills, 5) explaining skills, 6) class management skills, 7) small group management skills, 8) individual and small group management skills. Second, it can be seen that in the skills of opening and closing lessons with an average score of 82.3% with a very good ranking criterion. In the aspect of explaining the average score is 77.5% with good criteria. The aspect of reinforcement got an average score of 85% with very good criteria. The aspect of holding variations got an average score of 73.2% with good criteria. The aspect of managing small groups got a score of 72% with good criteria. The aspect of questioning skills got a score of 78% with good criteria. The aspect of class management got a score of 81% with very good criteria. Finally, the aspect of teaching small groups and individuals got an average score of 76.2 with good criteria. Third, the results of the study concluded that students have good mastery of basic teaching skills, with an average score of 79
Penghormatan terhadap keluarga dan keturunan nabi Muhammad SAW dalam perspektif hadis
Kajian ini mendiskusikan tentang penghormatan terhadap Ahlul bait atau keluarga dan keturunan Nabi Muhammad SAW dalam pandangan hadis. Kajian ini terinspirasi atas fenomena sebagian masyarakat muslim Indonesia termasuk masyarakat di Empang Bogor sangat menghormati dan memuliakan para Habib. Mereka meyakini bahwa para habib merupakan tali pengetahuan yang murni, karena garis keturunannya langsung pada Nabi Muhmamad Saw. Penelitian dalam karya skripsi ini bersifat kepustakaan murni (library research) yaitu dengan memanfaatkan kitab-kitab hadis untuk dijadikan sumber data dalam pencarian hadis-hadis mengenai ahlul bait. Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah deskriktif-analitis yaitu menguraikan terlebih dahulu permasalahan yang akan di kaji sebagai gambaran awal, setelah itu dianalisa. Hal yang pertama adalah mengumpulkan hadis-hadis yang dibutuhkan dalam proses penelitian. Selanjutnya menggunakan metode takhrij melalui kata/lafal pada matan hadis yatu al-Mu?jam al-Mufahros li alfazil hadis an-Nabawi, kamus hadis ini hanya merujuk kepada sembilan kitab hadis al-Kutub al-Tis?ah Hasil dari penelitian ini adalah menurut Abdul Muhsin bin Hamad al- Badrī Ahl al-Bait adalah keluarga Nabi saw. yang haram menerima sedekah, yaitu para istrinya dan cucu-cucunya, dan semua keturunan Abdul MuṬālib yang beragama Islam yakni Bani Hasyim bin Abdi Manaf. Sebutan atau gelar habib di kalangan Arab Indonesia dinisbatkan secara khusus keturunan Nabi Muhammad Saw melalui Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib. Habib yang datang ke Indonesia mayoritas adalah keturunan Husain bin Fatimah binti Muhammad
Analisis Semiotik Representasi Nasionalisme K.H. Hasyim Asy?ari Dalam Film Sang Kiai
Film merupakan salah satu media audio visual yang digunakan untuk menyampaikan
pesan kepada khalayak umum. Setiap film memiliki tujuan yang berbeda-beda, hal itu
tergantung pada pihak produser. Secara umum banyak film yang memiliki tujuan sebagai
hiburan, namun ada juga yang bertujuan memberi nilai-nilai edukasi pada penontonnya, salah
satunya adalah film Sang Kiai. Film Sang Kiai merupakan film kolosal yang bertemakan
sejarah, banyak nilai edukasi yang disampaikan dalam film ini.
Film Sang Kiai secara khusus menceritakan tentang perjuangan K.H. Hasyim Asy?ari
pada periode tahun 1942-1947. Diawali kedatangan tentara Jepang untuk menjajah Indonesia
, hal ini menjadi awal dari permasalahan yang dihadapi K.H. Hasyim Asy?ari. pihak Jepang
menangkap dan memenjarakan K.H. Hasyim Asy?ari dengan tuduhan sebagai dalang
kerusuhan di Cukir dan tidak mau melakukan Seikairei. Akibatnya, beberapa kali K.H.
Hasyim Asy?ari mendapat siksaan dari pihak Jepang. Namun, hal tersebut tak melunturkan
perjuangannya untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peran penting
dari perjuangan K.H. Hasyim Asy?ari ketika beliau mengeluarkan fatwa dan resolusi jihad.
Peristiwa ini menjadi kunci dari pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Rumusan masalah dalam Penelitian adalah Bagaimana film ini mengemas makna
representasi Nasionalisme KH. Hasyim Asy?ari dalam film Sang Kiai dilihat dalam perspektif
semiotik Roland Barthes?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka penulis menggunakan metodologi
penelitian kualitatif, dengan dua sumber data, yaitu data primer berupa rekaman film Sang
Kiai dan data sekunder yang diperoleh dari internet, artikel Koran, majalah, dan buku-buku
yang berhubungan dengan penelitian. Sedangkan metode yang digunakan semiotik Roland
Barthes. Barthes mengembangkan semiotik menjadi dua tingkatan penandaan, yaitu denotasi
dan konotasi yang menghasilkan makna eksplisit untuk memahami makna yang terkandung
dalam film ini. Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideology yang
disebutnya sebagai mitos dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran
bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suat periode tertentu. Subjek penelitian ini
berupa film Sang Kiai. Dan unit analisisnya adalah potongan gambar adegan yang terdapat
dalam film Sang Kiai.
Hasil yang diperoleh dari penelitian analisis semiotik representasi nasionalisme K.H.
Hasyim Asy?ari dalam film Sang Kiai, penulis menemukan representasi nasionalisme K.H.
Hasyim Asy?ari, yaitu: 1) Rela berkorban, 2) memiliki jiwa patriot, 3) Keteguhan hati
menjaga prinsip, 4) Memiliki loyalitas kepada Bangsa, 5) Memiliki jiwa militan, 6)
Keberanian melawan penjajah, 7) Rasa cinta tanah air, 8) Berjuang mempertahankan
kemerdekaan, dan 9) Keberanian menolak budaya penjajah
AL-‘ĀLAM DALAM ALQURAN: (Analisis tentang Ayat-ayat Penciptaan)
One of the objects of the philosophy studies is the nature. The thought of the nature runs continually to the things beyond the nature (metaphysics) and eventually comes to a conclusion that the existence of the nature must be in process. The philosophers argued that all things created must be in process, namely the process of emanation. The implication of this argument is that the nature is qadīm, because it was created by God since qidam and azālī. This argument was opposed by the theologists (mutakallimīn). They said that the nature was something new and its existence was from nothing. These two different theories are supported by the dalīls of the Qur’an. Their interpretations on the verses of the Qur’an gave the opportunity to result in different argument. The reason is that the use of the terms in the Qur’an, which refer to the meaning of creating, is various, moreover when referring to the proposition which rejects the existence of the synonims in the Qur’an. Therefore, eventhough the meaning of the term “khalaqa, bada‘a and fatara is “to create”, each this single word has its own substancial meaning
BUNGA BANK: ANTARA PARADIGMA TEKSTUAL DAN KONTEKSTUAL
Bank interest is an interesting topic to discuss from classical era to modern era. In classical era, interest has been decided as ribâ., the law status of which is harâm (forbidden) because of an addition (ziyâdah). Based on this, bank interest is also categorized as ribâ. Nevertheless, some say that the forbiddance of ribâ is because of an exploitation to the clients, based on which bank interest is not ribâ. It is based on these two opinions that a controversy on bank interest emerges. The controversy emerges since the first group interprets the verses on ribâ textually while the second group interprets the verses contextually.
Kata Kunci: bunga bank, paradigma tekstual, paradigma kontekstua
AL- ASY'ARIYAH (STUDI TENTANG PEMIKIRAN AL-BAQILLANI, AL-JUWAINI, AL-GHAZALI)
Theological thought of the Ash’arite founded by Abu Hasan al-Asy'ari develops through its theologians such as al-Baqillani, al-Juwaini, and al-Ghazali. Each of them has his own theological thought that differentiates him from other theologians. However, the three Ash’arite theologians remains to refer to the basic thought of the Asha’rite that make them different from Mu’tazilite theologians, that is, they believe that God has uncreated attributes negated by Mu’tazilte.
Kata Kunci: Pemikiran, Teologi, al-Asy’ariya
Pengantar studi hadits : buku ajar untuk mahasiswa PTAI dan umum
Hadis merupakan sumber hukum kedua di dalam Islam setelah Qur'an. Hadits adalah pembicaraan periwayatan, pernyataan secara khusus dari penuturan yang disandarkan pada perbuatan dan perkataan Sayyidina Muhammad SAW yang dituturkan kembali oleh para sahabatnya. Dalam trdisinya, hadits dibedakan menjadi dua jenis: pertama hadits qudsi yang merupakan perkataanTuhan melalui lisan Nabi Muhammad SAW atau bisa pula dipahami dengan firman Alloh yang tidak tercatat dalam Al-Qur'an sebagai pelangkap wahyuyang diturunkan kepadanya; kedua; hadits Syarif, yakni perbuatan dan perkataan Nabi Muhammad SAW sendiri. Hadits merupakan sumber kedua hukum Islam setelah Al-Qur'an sehingga tidak diragukan lagi bahwa hadits juga merupakan pedoman umat Islam
- …
