1,723,848 research outputs found
Analisis Citraan Dalam Novel Monokrom Karya Nurman Hasim Usman
ABSTRAK Silvia Valia Franciska.2021. thesis. “Image Analysis in the Monokrom Novel by Nurman Hasim Usman�. language as a picture of the mind to express the author's ideas in making a literary work. Language in the form of a picture of the author's imagination in the novel is interesting to study stylistically. Stylistics group imagery into five types, namely visual images, auditory images, motion images, tactile images and olfactory images. This Monokrom novel by Nurman Hasim Usman contains images. This novel tells about the friendship of several high school teenagers in a remote part of the country in achieving their dreams and love at the end of high school. The purpose of this research is to find out, describe, analyze, and interpret imagery data in the Monokrom novel by Nurman Hasim Usman. This research uses a qualitative approach. Using descriptive research methods. The data collection technique used by the author is hermeneutic technique. Data Analysis Techniques Based on content analysis. The data validity technique used triangulation technique. The results of the imagery research in the novel Monkrom by Nurman Hasim Usman the data that dominates is data from motion imagery. The motion imagery contained in the Monokrom novel can be used to describe the characters, and give an idea of how a character in the novel is doing movement
Hasim Hasim's Quick Files
The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity
Hasim Hasim's Quick Files
The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity
Hasim, Tahir, [No Service Number]
This record was harvested from a previous catalogue system and will be withdrawn in 2025. Information in this record may be superseded or incomplete. Visit this record in UMA's new catalogue at: https://archives.library.unimelb.edu.au/nodes/view/390992Surname: HASIM. Given Name(s) or Initials: TAHIR. Military Service Number or Last Known Location: [No Registration Number]. Missing, Wounded and Prisoner of War Enquiry Card Index Number: 36304.207262
Item: [2016.0049.23285] "Hasim, Tahir, [No Service Number]
Hasim Hasim's Quick Files
The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity
TAFSIR AYAT SUCI LENYEPANEUN (Penafsiran Moh. E. Hasim tentang Syirk)
Salah satu bukti kekayaan intelektual hasil dari asimilasi antara Islam dan budaya Sunda yaitu melahirkan tafsi>r al-Qur’a>n berbahasa Sunda. Salah satu kita>b tafsi>r lokal yang ada di tatar Sunda adalah Tafsi>r Ayat Suci Lenyepaneun. Tafsi>r ini ditulis oleh seorang sastrawan Sunda yang bernama Moh. Emon Hasim pada tahun 1989 lengkap 30 juz. Kajian tafsi>r lokal biasanya memiliki ciri khas masing-masing yang disebabkan oleh keterpengaruhan mufassir dengan lingkungannya. Hal ini yang menjadi alasan penulis mengkaji salah satu tafsi>r lokal yang ada di Sunda.
Kajian utama dalam skripsi ini adalah membahas tentang penafsiran Moh. E. Hasim tentang ayat-ayat syirk dan bagaimana Hasim mengkontekstualisasikan penafsirannya terhadap realita masyarakat yang dihadapi pada saat itu. Dalam hal ini penulis menyertakan beberapa contoh ayat-ayat syirk beserta penafsirannya. Selain itu penelitian ini juga memaparkan tentang riwayat Moh. E. Hasim dan seluk beluk kita>b Tafsi>r Ayat Suci Lenyepaneun.
Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa salah satu latar belakang lahirnya Tafsi>r Ayat Suci Lenyepaneun ini adalah karena kegelisahan Moh. E. Hasim terhadap kondisi umat khususnya Jawa Barat yang mengalami stagnasi pemikiran dan menyebabkan rentan dimasuki oleh unsur bid’ah dan perbuatan syirk. Metode penafsiran yang digunakan Moh. E. Hasim dalam Tafsi>r Ayat Suci Lenyepaneun ini adalah metode Tah li>li> (analitis). Hasim menyajikan penafsirannya secara runtut sesuai dengan mushaf Usma>ni dan bercorak al-adabi al-ijtima>’i>. Penafsirannya menitikberatkan pada penjelasan yang kontekstual sebagai cerminan dinamika sosial keagamaan masyarakat sekitarnya.
Adapun konsep syirk menurut Moh. E. Hasim tidak jauh berbeda dengan konsep syirk menurut ulama lainnya. Hasim mengatakan bahwa syirk adalah menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu apapun. Seseorang yang mempunyai keyakinan bahwa ada kekuasaan, sakti, wajib disembah, dapat memberikan keselamatan, dan dapat mencegah bahaya selain Allah dia termasuk kepada golongan kufrusysyirk. Seperti orang yang menyembah kepada Allah namun meminta pertolongan kepada berhala, berdo‟a kepada Allah namun meminta perlindungan kepada macam-macam benda pusaka atau siluman. Hasim seringkali menyebutkan nama-nama yang menjadi objek sesembahan di kalangan masyarakat seperti benda pusaka atau para siluman. Hasim mengecam perilaku syirk, beliau megatakan bahwa orang yang meninggal dalam keadaan musyrik dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang paling celaka, karena syirk merupakan dosa yang paling besar. Orang yang melakukan perbuatan syirk segala amal ibadahnya tidak akan diterima dan menjadi ahli neraka selamanya
KRITIK SOSIAL MOH E. HASIM DALAM PENAFSIRAN AYAT MUNAFIK (Kritik Terhadap Lokalitas dalam Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun)
ABSTRAK
Skripsi ini membahas tentang tema munafik dalam ayat-ayat al-Qur’an
perspekfif Moh E Hasim dalam tafsirnya Ayat Suci Lenyepaneun. Moh E Hasim
merupakan seorang tokoh cendikiawan yang mahir di bidang bahasa. Moh E
Hasim banyak menghasilkan karya-karya, diantaranya karya yang sagat
penomenal yaitu kitab tafsir Ayat Suci Lenyepaneun. Oleh sebab itu, dengan karya
yang penomenal ini ia mendapatkan hadiah sastra Rancage pada tahun 2001. Moh
E Hasim merupakan seorang tokoh yang sangat peduli terhadap masyarakat dan
ajaran keagamaan. Ia menjadikan karya tafsirnya sebagai sebuah media dalam
pengajaran agama Islam serta melakukan kritikan-kritikan terhadap masyarakat
melalui tafsirnya itu.
Disini penulis melihat banyak indikasi-indikasi muatan kritik sosial Moh E
Hasim dalam tafsirnya ketika menjelaskan ayat-ayat yang berkaitan dengan
pembahasan munafik. Penulis menelaah kritik sosial Moh E Hasim lalu
mengelompokkannya kepada tiga bidang, yakni bidang seni budaya, politik, dan
prilaku sosial masyarakat. Lalu dijelaskan berdasarkan tema secara spesifik.
Kemudian mengembangkan kritik-kritik sosial berdasarkan masing-masing tema.
Dari penelitian yang telah dilakukan, dihasilkan sejumlah kesimpulan
berikut: Moh E Hasim menggagas suatu pemaknaan makna munafik menjadi
lebih luas cakupannya. Ketika para mufasir klasik masih bergelut dalam nuansa
religious political dan religious ethics ketika menafsirkan ayat-ayat tentang
munafik, akan tetapi Moh E Hasim menarik makna munafik menjadi lebh luas
lagi, tidak hanya nuansa religious political dan religious ethics akan tetapi juga
kedalam makna nuansa society criticism.
Nuansa society criticism tergambar dari berbagai kritikan-kritikan yang
kontekstual dan lokalitas ketika menafsirkan ayat-ayat yang berkenaan dengan
makna munafik. Moh E Hasim dalam tafsirnya tidak hanya sebatas membahas
ayat al-Qur’an, akan tetapi sebagai ayat pembahasan untuk kritik sosial. Kritikkritik
yang dilakukan mengarah kepada prilaku dimasyarakat yang tidak sesuai
dengan syari’at Islam. Moh E Hasim ingin mencoba untuk memurnikan ajaran
agama Islam yang berkembang di masyarakat pada saat itu dengan cara
melakukan berbagai kritikan dalam pembahasan ayat-ayat mengenai tema
munafik dalam tafsirnya Ayat Suci Lenyepaneun
Penafsiran Moh. E. Hasim terhadap ayat-ayat tauhid dalam tafsir lenyepaneun
Ayat-ayat yang berkenaan dengan tauhid dalam Al-Quran merupakan penegasan tentang eksistensi Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Tauhid Adalah mengesakan Allah dengan tidak menyekutukan-Nya. Dikalangan sebagian umat Islam masih banyak yang belum memahami tauhid secara utuh, sehingga Moh. E. Hasim dalam tafsirnya banyak menyoroti tauhid. Tentunya, penafsiran yang dilakukan Moh. E. Hasim mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan mufassir lainnya. Tujuan penelitian ini adalah penulis ingin mengetahui penafsiran ayat-ayat tauhid menurut Moh. E. Hasim dalam tafsir ayat suci lenyepaneun, sejarah kehidupan Moh. E. Hasim, serta ide-ide pemikirannya.
Penelitian ini bersumber dari pemikiran bahwa begitu kompleks penafsiran ayat-ayat Al-Quran yang menyangkut masalah metode dan karakteristrik, karena dilatar belakangi oleh konsep pemikiran dan pengaruh pendidikan yang berbeda-beda. Sampai pada masalah prinsip penafsiran pun berbeda. Paradigma yang mencolok dari corak penafsiran Moh. E. Hasim adalah Adabiy Ijtima'i atau sastra budaya kemasyarakatan, yakni satu corak tafsir yang menjelaskan petunjuk-petunjuk ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, serta usaha-usaha untuk menanggulangi penyakit-penyakit atau masalah-masalah mereka berdasarkan petunjuk ayat-ayat, dengan mengemukakan petunjuk-petunjuk tersebut dalam bahasa yang mudah dimengerti tapi indah didengar. Sebagaimana disebutkan oleh Moh. E. Hasim sendiri, bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa kesukaan orang Sunda upaya mudah dimengerti dan difahami.
Adapun langkah-langkah penelitian ini adalah sebagai berikut: Pertama, studi literatur guna mengumpulkan data-data yang bersifat teoritis. Kedua, wawancara guna mengumpulkan data-data untuk lebih memperjelas ide pemikiran Moh. E. Hasim. Sedangkan sumbernya berupa primer dan sekunder. Data ini dikumpulkan melalui penelaahan, pembacaan, dan pemilihan sesuai dengan penelitian masalah, kemudian dianalisis dan ditarik suatu kesimpulan.
Kultur sosial adalah objek yang mendominasi penfasiran Moh. E. Hasim dalam kitabnya, disebutkan kultur-kultur yang menyimpang dari akidah yang murni, seperti; tingkeban, adalah suatu upacara adat bagi yang tengah hamil tujuh bulan, menginjak telur dalam upacara adat pernikahan, menyajikan sesajen kepada Dwi Sri atau Nyi Loro Kidul, dan lain-lain. Juga, Moh. E. Hasim menyoroti aliran-aliran sesat, istilah ini beliau menyebutnya dengan bid'ah akidah.
Tauhid adalah keyakinan yang terdapat pada hati setiap orang. Sehingga bentuk apa pun keyakinan yang bertentangan dengan Al-Quran dan hadits maka menurut Moh. E. Hasim orang tersebut telah musyrik, munafik, taklid, serta termasuk ke dalam kategori kufur syirik, mereka akan ditempatkan di dalam neraka untuk selama-lamanya meskipun tidak pernah meninggalkan shalat, puasa, zakat, bahkan pernah naik haji sekalipun
- …
