94 research outputs found

    Growth comparisons of red sea bream (Pagrus major) in laboratory scale recirculating systems with three different biofilter media

    No full text
    The purpose of this study is to test the feasibility of red sea bream culture in a recirculating aquaculture system (RAS) with three biofilter systems, i.e. sand filter (SF), polystyrene microbead filter (MB) and Kaldnes bead filter (KB). The 25 red sea bream (mean body weight 29 g) were seleted and distributed into three RAS with different biofilter media (SF, MB and KB). Each system was duplicated. Fish were hand-fed twice a day at 08:00 and 16:00. Growth performance were measured every three weeks for 9 weeks period. The average body weight of red sea bream in SF, MB and KB during experiment periods were increased from 29 g to 47, 45 and 41 g, respectively. The SGR of fish in SF, MB and KB were 0.73, 0.68 and 0.51%/day, respectively. The FCR of fish in SF, MB and KB were 1.87, 1.94 and 2.35, respectively. Volumetric removal rate of TAN (total ammonia nitrogen) in KB (142.64 g/m3/day) was remained significantly lower than those of SF (193.83) and MB (183.94).2

    Effect of temperature and stocking densities on ammonia excretion rate of red sea bream, Pagrus major

    No full text
    Endogenous ammonia excretion rate and exogenous ammonia excretion rate of red sea bream (Pagrus major) were investigated under the combination of four different temperature regimes (10, 15, 20 and 25℃) and two different densities (5.5 and 11 kg m-3). Ammonia excretion was significantly increased with increasing temperature and density. Endogenous ammonia excretions of red sea bream with lower density under 10, 15, 20 and 25℃ were ranged 88.76∼143.26 mg kg-1 d-1, while that under higher density were ranged 105.24∼168.82 mg kg-1 d-1. The relationship between endogenous ammonia excretion rate and temperature in low density was Y=18.746X+67.66 (R2=0.9865) and that in high density was Y=21.306X+80.416 (R2=0.9804). Exogenous ammonia excretions of red sea bream with low density under 10, 15, 20 and 25℃ were ranged 343.48∼601.74 mg kg-1 d-1. On other hand, exogenous ammonia excretion rates in high density were ranged 391.92∼683.40 mg kg-1 d-1. Ration of ammonia excretion to ingested nitrogen of red sea bream with lower density under 10, 15, 20 and 25℃ were ranged 27.92∼50.11%, while that in higher density were ranged 31.65∼56.89%. The relationship between exogenous ammonia excretion (Y) and temperature (T) in low density was Y=90.68T+244.47 (R2=0.9772) and that in high density was Y=100.66T+290.09 (R2=0.9880)2

    Adaptasi Salinitas Mampu Meningkatkan Pertumbuhan dan Kelulushidupan Benih Nila Sultana (Oreochromis niloticus) : (Kelas : Osteichtyes; Famili : Cichlidae)

    No full text
    Sultana nile tilapia (Oreochromis niloticus) is a superior fish strains that can live in waters with high salinity (20−32‰). To improve the endurance of high salinity, it is necessary to prepare the seed as the salinity adaptation method during the fish seeds nursing stage. The purpose is to examine the effect of salinity adaptation on the growth and survival of Sultana nile tilapia during the fish seeds nursing stage. The research was conducted on January 9th−February 10th 2023 at the Brackish Water Cultivation Fisheries Center, Jepara. Fish tests were used in the experiment with an initial weight average of 3.6±0.01 g at densities of 1 fish/1.5L. Commercial feed (30% crude protein) was given thrice a day at 5% of body weight. This research used RAL with four treatments of different levels of salinity increase and three replications. There is 0‰ (as control), increment 1‰/1 day-1, increment 2‰/2days-1, and increment 3‰/3 days-1 conducted for 30 days. Water quality monitoring is done daily. The results showed that the adaption methods in salinity changes of tilapia had significantly different (p0.05) on survival rate and absolute length of Sultana. The best growth and survival rate are found in treatment S1 (absolute weight of 10.53±0.64 g fish-1, absolute length of 2.9±0.10 cm, SGR of 4.56±0.15%/day-1, and SR 100%

    MODEL PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HIDUP PABRIK KULIT PT. USAHA LOKA (Studi di Kelurahan Ciptomulyo Kecamatan Sukun Malang)

    No full text
    Dicky Adi Prasetya, Dr. Istislam, S.H., M.Hum, Lutfi Efendi, S.H, M.Hum Fakultas Hukum Universitas [email protected]   Abstrak Penelitian ini dititikberatkan pada permasalahan yang dilatarbelakangi oleh pencemaran sungai Badek di kelurahan Ciptomulyo Kecamatan Sukun Kota Malang oleh pabrik kulit PT. USAHA LOKA. Oleh karenanya penulis merumuskan model penyelesaian sengketa lingkungan hidup antara pabrik kulit PT. USAHA LOKA dengan masyarakat Ciptomulyo selama ini telah dilakukan dan faktor-faktor apa saja yang menghambat penyelesaian sengketa lingkungan hidup antara pabrik kulit PT. USAHA LOKA dengan masyarakat Ciptomulyo. Penelitian skripsi ini menggunakan metode yuridis empiris dengan metode pendekatan Yuridis Sosiologis. Lokasi penelitian yakni di Kelurahan Ciptomulyo. Kata Kunci: Penyelesaian Sengketa, Lingkungan Hidup. Abstract The research placed on problems that affected by the pollution of the river Badek Ciptomulyo Sub-district in kelurahan Breadfruit Malang by skin factory of PT. USAHA LOKA. Therefore the author to formulate a model of the environmental dispute resolution between the skin factory of PT. USAHA LOKA with the community Ciptomulyo as long as this has been done and what are the factors that inhibit the settlement of environmental disputes between the skin factory of PT. USAHA LOKA with community Ciptomulyo. This thesis research using an empirical juridical method with the Juridical Sociological approach method. The location of the research, which is in the village of Ciptomulyo. Keywords: Dispute Resolution, Environment. Â

    Effect of Different Doses of Fermented Organic Feed on the Growth Performance of Oithona sp. in Semi-Mass Culture Condition

    No full text
    This research was aimed to know the effect of different fermented organic feed on the growth performance of Oithona sp. in semi-mass culture condition. The Oithona sp. cultures were fed with mixed organic fermentation of pulp, bran and fish meal by using probiotic microbes and phytoplankton cells. There were 4 treatments and 4 replicates. Treatment A was the Oithona sp. cultured with added Chaetoceros calcitrans cells without fermented organic feed (0 g ∙ L–1 of medium culture). While B, C, and D were added with the same numbers of that C. calcitrans cells of 2x106 cells ∙ mL–1  and  0.5 g ∙ L–1, 1.0 g ∙ L–1, 1.5 g ∙ L–1 of fermented organic feed, respectively. The results showed that the dosage of fermented organic feed had significantly different effect (P < 0.05) on the growth performance of Oithona sp. culture. The best growth performance of Oithona sp. showed by adding 0.5 g ∙ L–1 of fermented organic feed, with total density of  7.09 ± 0.11 ind ∙ mL–1, population growth rate of  0.116 ± 0.002 ind ∙ d–1 and eggs production of  7.88 ± 0.93 eggs ∙ ind–1  of adult

    Pengaruh pemberian ikan nilem (Osteochilus microcephalus) terhadap kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan ikan koi (cyprinus carpio) pada budi daya polikultur

    No full text
    Hambatan dalam budidaya ikan koi adalah rendahnya nilai kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan ikan koi. Ikan koi dapat dibudidayakan secara polikultur dengan ikan nilem. Ikan nilem memiliki karakteristik yang hampir sama dengan ikan koi sehingga bisa dimanfaatkan, selain itu juga dapat menambah nilai produksi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian ikan nilem (O. microcephalus) terhadap kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan ikan koi (C. carpio) dan menentukan kepadatan terbaik pemberian ikan nilem pada kolam budidaya yang memberikan kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, dan kualitas air kolam ikan koi terbaik. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan, dengan perlakuan ikan koi sejumlah 20 ekor/m2 yang dibudidayakan dengan ikan nilem dengan kepadatan yang berbeda yaitu perlakuan A berjumlah 0 ikan, perlakuan B berjumlah 15 ikan, perlakuan C berjumlah 30 ikan, perlakuan D berjumlah 45 ikan. Parameter yang diuji berupa kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik ikan koi dan juga kualitas air.  Hasil analisi ragam ANOVA menunjukkan bahwa pemberian ikan nilem pada kolam budidaya ikan koi tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup ikan koi akan tetapi berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik ikan koi. Penambahan 15, 30 dan 45 ikan nilem terhadap 20 ikan koi memberikan laju pertumbuhan spesifik lebih baik dibandingkan dengan tanpa pemberian ikan nilem. Ikan nilem pada perlakuan ini mampu membuat respon ikan koi lebih aktif dan cepat ketika diberi pakan

    APLIKASI KOMPOSISI FILTER YANG BERBEDA TERHADAP KUALITAS AIR, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PADA SISTEM RESIRKULASI

    No full text
          Ikan nila (Oreochromis niloticusmerupakan salah satu hasil perikanan air tawar unggul yang terjangkau sebagai komoditas program nasional untuk dijual di pasar domestik dan luar negeri, sehingga perlu adanya pemenuhan permintaan pasar. Budidaya padat tebar tinggi dapat meningkatkan produksi, namun dapat meningkatkan limbah nitrogen yang dapat menyebabkan lambatnya pertumbuhan bahkan kematian pada ikan. Sistem resirkulasi akuakultur dapat memperbaiki dan menggunakan kembali air dengan filter mekanik dan biologi. Spons dapat menyaring dan menahan kotoran, arang memiliki pori halus yang dapat menyerap molekul polutan air, serta zeolit memiliki struktur pori yang mampu bertukar ion. Kombinasi filter tersebut baik untuk memperbaiki kualitas air, sehingga perlu adanya kajian aplikasi komposisi filter agar dapat memperbaiki kualitas air, pertumbuhan dan kelulushidupan ikan nila. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh serta komposisi filter terbaik terhadap kualitas air, pertumbuhan dan kelulushidupan ikan nila. Penelitian ini menggunakan 20 ekor ikan setiap wadahnya dengan ukuran 8 cm dan bobot 10,23±1,6 g. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen rancangan acak lengkap (RAL), 4 perlakuan 3 ulangan. Komposisi filter yang digunakan yaitu kontrol (A), 25% arang + 75% zeolit (B), 50% arang + 50% zeolit (C), dan 75% arang + 25% zeolit (D). Data yang dikumpulkan yaitu kualitas air, nilai pengurangan total amonia nitrogen (TAN removal), volumetric TAN removal (VTR), total kelimpahan bakteri, laju pertumbuhan relatif (RGR), total konsumsi pakan (TKP), rasio konversi pakan (FCR) dan kelulushidupan (SR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi komposisi filter berpengaruh nyata terhadap TAN removal, VTR, total kelimpahan bakteri, RGR, TKP, FCR dan SR, perlakuan terbaik terdapat pada komposisi filter 25% arang + 75% zeolit (B) yaitu  97,53%, 50,69 g m-3 day-1, 2,35 x 104 CFU mL-1, 238,33 g, 2,67% day-1, 1,47 dan 95%.Kata Kunci : Ikan nila, sistem resirkulasi, komposisi filter, spons, arang kayu, batu zeolit

    PENGARUH EKSTRAK KASAR JAGUNG (Zea mays) SEBAGAI ZAT PENGATUR TUMBUH ALAMI TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN Caulerpa racemosa

    No full text
    Caulerpa racemosa atau dikenal dengan nama latoh adalah salah satu komoditas perikanan yang digemari karena memiliki kandungan gizi yang tinggi. Namun, dalam budidaya C. racemosa masih terdapat kendala yaitu produksi yang belum maksimal dan pertumbuhan yang belum optimal. Salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhannya yaitu dengan melakukan perendaman bibit rumput laut menggunakan hormon pertumbuhan dari ekstrak bahan alami. Jagung merupakan salah satu bahan alami yang mengandung hormon pertumbuhan giberelin, sitokinin, dan auksin. Hormon tersebut dapat merangsang pertumbuhan batang dan akar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penambahan hormon dengan menggunakan ekstrak kasar jagung terhadap pertumbuhan dan morfologi C. racemosa dan mengetahui lama waktu perendaman terbaik ekstrak kasar jagung terhadap pertumbuhan C. racemosa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Perlakuan yang dilakukan yaitu perendaman selama 0 menit (sebagai kontrol) (A), 30 menit (B), 40 menit (C), dan 50 menit (D). Data yang diperoleh selama penelitian meliputi morfologi, pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan spesifik, dan kualitas air. Lama waktu perendaman C. racemosa dalam media ekstrak kasar jagung berpengaruh nyata (P&lt;0,05) terhadap pertumbuhan. Perlakuan B menunjukkan hasil terbaik terhadap pertumbuhan bobot mutlak (123,63 ± 6,55 g) dan laju pertumbuhan spesifik (4,15 ± 0,21% per hari). Perlakuan B memiliki morfologi thalus dan ramulli yang besar serta rimbun. Parameter kualitas air dalam kisaran yang sesuai untuk pertumbuhan C. racemosa.Caulerpa racemosa, known as latoh, is a popular edible green alga due to its high nutritional content and medicinal benefits. However, low quality and slow growth of seed prevented the aquaculture development C. racemosa. Soaking the seaweed seed with growth hormone immersion from extracts of natural ingredients could potentially improve its growth rate. Corn contains growth hormone gibberellins, cytokinins, and auxins. These hormones can stimulate the growth of stems and roots. This study aimed to determine the effectiveness of growth hormones in corn crude extract and the best soaking time of the extract on the growth development and morphology of C. racemosa. This research was conducted using an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four treatments with three replicates. The treatments were soaking the seed in corn extract for 0 minutes (as a control) (A), 30 minutes (B), 40 minutes (C), and 50 minutes (D). The data obtained during the study included morphology, absolute weight growth, specific growth rate, and water quality. The duration of immersion of C. racemosa in maize extract media had a significant effect (P&lt;0.05) on growth. Treatment B showed the best results with absolute weight growth and growth rate values of 123.63 ± 6.55 g and 4.15 ± 0.21% per day, respectively. This research successfully determines that corn extract improves the growth of C. racemosa seeds indicated by the large thallus and ramuli of the cultured seaweed

    Performa Kualitas Air, Pertumbuhan, dan Kelulushidupan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Sistem Akuaponik dengan Jenis Tanaman yang Berbeda

    No full text
    Ikan nila (Oreochromis niloticus) menjadi salah satu jenis ikan yang cukup ekonomis. Selain itu, ikan nila turut menjadi salah satu komoditas unggul dalam program nasional untuk pengembangan pasar lokal dan ekspor. Potensi pasar yang dimiliki ikan nila menjadi alasan pembudidaya meningkatkan produksi dengan budidaya intensif. Budidaya intensif tersebut berbanding lurus dengan limbah budidaya yang berasal dari feses hasil kegiatan fisiologi ikan. Limbah yang terakumulasi bersifat toksik dan dapat menurunkan kualitas air budidaya. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan limbah budidaya secara optimal selama proses pemeliharaan. Pengelolaan limbah budidaya dapat dilakukan melalui penerapan sistem resirkulasi dengan filter biologi berupa tanaman/disebut sistem akuaponik. Pemilihan kategori jenis tanaman tergantung pada lama waktu sistem akuaponik akan dijalankan. Penelitian ini dilaksanakan dalam waktu yang cukup singkat yaitu 30 hari masa pemeliharaan. Solusi untuk periode penelitian yang singkat tersebut adalah pemilihan biofilter tanaman yang bersifat low nutrient demand dengan daya serap, akumulasi, dan olah yang tinggi terhadap limbah budidaya, contohnya: pakchoi (Brassica rapa), kangkung air (Ipomoea aquatica), dan caisim (Brassica juncea). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penggunaan jenis tanaman yang berbeda dan jenis tanaman yang paling efektif dalam penelitian ini untuk menjaga performa kualitas air, pertumbuhan, dan kelulushidupan ikan nila. Ikan uji yang digunakan memiliki panjang awal 9-11 cm dan rata-rata bobot awal 15,56±0,34 gram sejumlah 360 ekor untuk 12 wadah pemeliharaan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu tanpa sistem akuaponik (A), sistem akuaponik menggunakan tanaman pakchoi (B), sistem akuaponik menggunakan tanaman kangkung air (C), sistem akuaponik menggunakan tanaman caisim (D). Data yang dikumpulkan meliputi kualitas air ikan, laju pertumbuhan relatif/RGR ikan, rasio konversi pakan/FCR ikan, pertumbuhan tanaman, dan kelulushidupan/SR ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air, RGR, FCR, dan SR ikan nila perlakuan sistem akuaponik menggunakan tanaman kangkung air (C) mencapai nilai tertinggi yaitu VTR ammonia 94,97±6,21; 101,46±11,78; 107,36±12,05 g/m3/hari, RGR 1,23±0,05%/hari, FCR 1,63±0,09, dan SR 83,33±3,34%.Kata Kunci : Kualitas air, pertumbuhan, kelulushidupan, ikan nila, akuaponik

    Strategi pemasaran hasil panen akuakultur pada berbagai level pokdakan di Kabupaten Banyumas

    No full text
    Kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) adalah kumpulan pembudidaya ikan yang terorganisir, mempunyai pengurus, aturan – aturan serta tumbuh dan berkembang atas dasar perasaan saling tertarik, karena kebutuhan akan tukar menukar informasi untuk saling melengkapi dan kesamaan kepentingan dan kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi dan sumberdaya) untuk mengembangkan usaha perikanan anggotanya. Pokdakan terbagi menjadi 3 level, yaitu level pemula, madya dan utama. Pemasaran merupakan bagian tak terpisahkan dari budidaya ikan karena dengan pemasaran produk yang diproduksi dapat sampai ke tangan kosumen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan strategi pemasaran antara level pemula, madya dan utama. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kualitatif. Responden merupakan anggota pokdakan di Kabupaten Banyumas sejumlah 8 orang dan 1 informan sebagai penguji keabsahan sumber data penelitian. Hasil temuan penelitian menunjukkan perbedaan strategi pemasaran antar pokdakan lebih disebabkan karena kebijakan tiap-tiap pokdakan dalam mengenali dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi bukan disebabkan karena perbedaan level pokdakan. Tidak banyak perbedaan antara pokdakan level pemula dan madya dalam aspek pemasaran
    corecore