1,720,965 research outputs found
Morphological Studies: City Image and Urban Design Elements at Ngesrep Timur Corridor
Semarang as the capital of Central Java has an important role in the development of the city, especially in the Ngesrep Timur corridor which connecting UNDIP education area with other areas around it. The rapid development of UNDIP, followed by the development of Ngesrep Timur corridor. Therefore it is necessary to study morphology of urban image elements and urban design elements, in order to create a comfortable and pleasant atmosphere amid the density of the Ngesrep Timur corridor. This report used descriptive qualitatve approach, based on guiding theory of city image elements and urban design analysis.Analysis of city image elements resulted path form main roads and gangways settlement; edges form toll road, Setiabudi Road and settlement roads; district as a function of trade and services and settlement; nodes form the junction of Jl. Setiabudi to Jl. East Ngesrep; landmarks form Diponegoro Statue. Urban design analysis resulted dominant land used is trade and service and settlement, and form mass of building have enough good and interesting. The existence of circulation and parking is not sufficient;open space in this corridor form field and parking area, but the existence of green open space is not sufficient. Pedestrian ways are available, but its functioning is not maximal yet. Supporting activities in this corridor is commercial activities and preservation in this corridor have not been seen.
Identification of Urban Park Quality in Taman Indonesia Kaya, Semarang
Based on observations and the results of the analysis, it was shown that Taman Indonesia Kaya already fulfilled the quality park standards. In the aspect of needs, the comfort factor has been fulfilled by the presence of park benches and garden lights in good condition, the cleanliness factor has been fulfilled by the existence of a trash with a sorting system, public toilets and disabled toilets in a clean condition, health factors have been fulfilled with the presence of acid trees, pandanus leaves and canna flowers, and safety factors have been fulfilled with the availability of a monitor bench gazebo and lighting lamps that function optimally. In the aspect of rights, the accessibility factor has been fulfilled, because of its strategic location and is in the city centre and traversed by the Trans Semarang route, the freedom of activity factor have been fulfilled by the existence of a fountain garden, cultural stage and green space, and the diversity of activity factors have been fulfilled by the existence of the Pandawa park , mural gates, fountain shows, cultural arts performances, and various paintings. In the meanings aspect, the place clarity factor is indicated by the presence of information boards and signage that are scattered in the corner of the park, and the sociability factor have been fulfilled by the many of spaces in the park area that can be used for socializing, such as: paving fields, sidewalks, green spaces , and the cultural stage.
KARAKTERISTIK RUANG TERBUKA HIJAU PADA KAWASAN PERMUKIMAN DI KELURAHAN TANDANG, KECAMATAN TEMBALANG
Kawasan permukiman di Kelurahan Tandang merupakan kawasan permukiman padat yang berkembang di atas lahan dengan kemiringan yang beragam. Semakin bertambahnya jumlah penghuni dan hunian di kawasan tersebut berdampak pada pergeseran ruang terbuka menjadi lahan terbangun. Pergeseran tersebut menyebabkan semakin berkurangnya peruntukkan lahan sebagai ruang terbuka hijau. Kurangnya optimalnya ketersediaan RTH di kawasan tersebut terkait dengan kenyataan kurang memadainya proporsi kawasan yang dialokasikan untuk ruang terbuka maupun rendahnya rasio jumlah ruang terbuka per kapita yang tersedia. Hal ini menyebabkan rendahnya tingkat kenyamanan, menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat dan secara langsung menyebabkan hilangnya nilai ekologi dan estetika kawasan
Tingkat Pelestarian Kawasan Bersejarah Benteng Willem I Ambarawa
Kecamatan Ambarawa merupakan salah satu daerah di Kabupaten Semarang yang memiliki beberapa situs bersejarah, salah satunya adalah Kawasan Benteng Willem I. Kawasan bersejarah ini memiliki nilai keunikan tersendiri baik dari bentuk bangunan maupun sejarahnya. Dalam perkembangannya hingga saat ini, beberapa bangunan di Kawasan Benteng Willem I difungsikan sebagai Lapas dan asrama yang kepemilikan dan pengelolaannya ada pada TNI Angkatan Darat. Namun, kondisi faktual yang ada, semakin lama nilai sejarah yang ada di Kawasan ini semakin memudar. Hal ini dikarenakan belum adanya peraturan dan kebijakan khusus dari Pemerintah setempat untuk melestarikan kawasan bersejarah Benteng Willem I. Oleh karena itu perlu adanya kajian mengenai tingkat pelestarian kawasan bersejarah di Kawasan Benteng Willem I Ambarawa sebagai upaya pelestarian cagar budaya di Jawa Tengah khususnya di Ambarawa, Kabupaten Semarang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu berdasarkan analisis dari data yang didapat dan berdasarkan teori pelestarian kawasan bersejarah. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan telaah dokumen. Hasil kajian dari penelitian ini menerangkan bahwa Kawasan Benteng Willem I Ambarawa ini layak untuk dilestarikan. Hal ini dapat dilihat dari estetika bangunan yang eksotik dengan arsitekural kolonial yang belum banyak perubahan serta peranan sejarah yang ada didalamnya
PENYUSUNAN PROFIL DESA SEBAGAI UPAYA PEMBAHARUAN DATA DI DESA PENGKOL, KECAMATAN TANON, KABUPATEN SRAGEN
Dewasa ini, pemerintah pusat telah mengimplementasikan kebijakan terkait otonomi daerah yang berimbas pula pada otonomi di daerah pedesaan. Desa Pengkol merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Tanon, Kabupaten Rembang, dimana ketersediaan data terkait Desa masih terbatas dan cenderung lawas. Hal ini disebabkan terbatasnya SDM dan sarana prasarana yang tersedia. Sehingga diperlukan adanya penyusunan profil desa untuk menghasilkan buku profil Desa Pengkol terkini, dan sekaligus memperbarui data – data terkait kondisi eksisting, baik fisik maupun non fisik serta potensi dan permasalahan yang terdapat di Desa Pengkol. Kegiatan penyusunan profil Desa Pengkol, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen ini dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu koordinasi, pengumpulan data, kompilasi data, olah data, penyusunan profil desa dan penyerahan produk. Berdasarkan hasil observasi dan analisis dihasilkan Profil Desa Pengkol yang meliputi gambaran umum serta potensi dan permasalahan. Desa Pengkol memiliki kondisi fisik berupa kelerengan yang termasuk rendah karena memiliki kelas lereng 0-2%, dan Memiliki jenis tanah kompleks litosol mediteran dan renzina dengan Curah hujan tergolong rendah sekitar 1500-2000 mm/tahun. Penggunaan lahan Desa Pengkol didominasi sawah pertanian, begitu pula sektor perekonomian terbesar pada sektor pertanian. Ketersediaan sarana dan prasarana sudah cukup memadai. Desa Pengkol memiliki jumlah penduduk sebanyak 4170 jiwa dengan luas wilayah sekitar 146 Ha sehingga memiliki kelas kepadatan penduduk rendah. Pendidikan terakhir masyarakat Desa Pengkol hanya tamat SD dan SMP. Permasalahan yang terjadi di Desa Pengkol adalah kurang stabilnya hasil pertanian karena hanya mengandalkan air hujan dan belum adanya pengelolaan sampah. Sedangkan potensinya adalah organisasi masyarakat yang berjalan aktif dalam bidang ketrampilan
Peluang Pertanian Holtikultura dan Tembakau sebagai Penunjang Aktivitas Ekonomi Masyarakat Kopeng, Kabupaten Semarang
Kopeng terletak di Kawasan Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Gunung Andong. Pada wilayah dataran tinggi, masyarakat cenderung untuk mengembangkan tanaman tembakau dan holtikultura. Berdasarkan data BPS tahun 2013, luas lahan yang digunakan untuk tanaman tembakau mencapai 86 Ha (20%) dengan hasil produksi sebesar 51 Ton/Ha (26%), sedangkan luas lahan holtikultura mencapai 281 Ha (66%) dengan hasil produksinya mencapai 155,7 Ton/Ha (72%). Walaupun terjadi pro dan kontra dalam pembudidayaan tembakau, namun tidak bisa dipungkiri bahwa tembakau juga memberikan kontribusi terhadap ekonomi masyarakat Kopeng. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peluang pengembangan budidaya tembakau dan hortikultura oleh masyarakat Kopeng. Alat analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling yang dilakukan secara acak karena masyarakat yang dijadikan responden memiliki karakteristik homogen yaitu sebagai petani. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 64 jiwa. Setelah dilakukan perhitungan penerimaan dan pengeluaran antara petani holtikultura dan tembakau diperoleh rata-rata pendapatan bersih yang diterima petani hortikultura lebih tinggi daripada tembakau. Kelebihan lain dari pertanian hortikultura adalah perputaran uangnya lebih cepat dan dapat dibudidayakan dengan sistem yang bervariasi (hidroponik maupun aeroponik) serta tidak memerlukan lahan khusus. Oleh karena itu, hasil dari kajian ini merekomendasikan bahwa komoditas holtikultura agar lebih banyak dikembangkan daripada tembakau
PENANAMAN TANAMAN JAMBU METE SEBAGAI UPAYA PENGHIJAUAN PADA LAHAN BEKAS PENAMBANGAN TIMAH DI KOTA PANGKAL PINANG
Rangkui Subdistrict is one of the sub-districts located in Pangkal Pinang City, Bangka-Belitung Islands, which has natural wealth in the form of tin, so that this area is famous for tin mining activities. But if a tin has been used up, the land will be left and will cause land damage. So it needs to be done greening on the former tin mining land, by planting cashew by involving the local community. The cultivation of cashew is done as one of the alternative in an effort to improve the environment on ex-tin excavated land, because cashew plants, besides being easily found and planted, they also have the ability to grow on ex-excavated land. The method of planting begins with the selection of good seeds. Before planting, cashew seeds are cultivated first using soil and fertilizer media. After the cashew seedlings are ready to be planted, then the cashew seeds are planted on the former tin excavation land along with soil and fertilizer media that have been integrated with the roots. With the community service activities that provide training in cashew nut cultivation to the community on the former tin excavated land, it is expected to improve the quality of the environment, increase the value of land and improve the economy of the local community. And as an effort to overcome land damage.Keywords: Used tin excavation land, planting, cashew, Rangkui sub-Distric
Green Open Space Functions in Kauman Area, Semarang City, Indonesia
Based on the results of identification and analysis related to the functions of green open space in Kelurahan Kauman, both private and public green open space, it was found that private green open space located in residential areas, office areas, education area, and in the worship area. Whereas existing public green open space is in the form of active parks, passive parks, green lane along the road border, green lane along the river border and green green space on the medians road. Private green open space in residential areas has ecological, economic and aesthetic functions; Private green open space in office areas is dominated by ecological functions; while green space in the areas of education, worship, trade and services, is dominated by ecological and aesthetic functions. Whereas public Green Open Space in the form of urban park has an economic function; Green Open Space green lane in the form of road borders, island road, and road median has ecological and aesthetic function; and Green Open Space with specific function in the form of river borders has the ecological and aesthetic function
Pengelolaan Sampah Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Kota Semarang
ABSTRACTIndonesia's rapid population growth will indirectly affect the increase in waste production. Ineffective and efficient waste management systems will have an impact on the accumulation of waste at the final processing location. Large piles of garbage have the potential to produce gases that are harmful to health and the environment. Jatibarang Final Processing Site is the only final processing location in the city of Semarang, where the final processing location can accommodate sources of waste from 16 sub-districts in the city of Semarang. The purpose of this study is to determine the waste management activities in the Jatibarang final processing site, so that later it can become an input to improve future waste management in the Jatibarang final processing location. The research method used is descriptive qualitative, using primary and secondary data collection techniques.The results of the study explained that the waste management activities at the jatibarang final processing site are, the final scraping of compost, the use of methane gas (CH4) originating from the landfill as an alternative gas (biogas), reducing waste by herding cattle, and the methane canteen program.Keyword: waste, management, Jatibarang ABSTRAKPertumbuhan penduduk Indonesia yang cepat akan secara tidak langsung mempengaruhi peningkatan produksi limbah. Sistem pengelolaan limbah yang tidak efektif dan efisien akan berdampak pada akumulasi limbah di lokasi pemrosesan akhir. Tumpukan besar sampah berpotensi menghasilkan gas yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Situs Pengolahan Akhir Jatibarang adalah satu-satunya lokasi pemrosesan akhir di kota Semarang, di mana lokasi pemrosesan akhir dapat menampung sumber limbah dari 16 kecamatan di kota Semarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kegiatan pengelolaan limbah di lokasi pengolahan akhir Jatibarang, sehingga nantinya dapat menjadi input untuk meningkatkan pengelolaan limbah di masa mendatang di lokasi pengolahan akhir Jatibarang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, menggunakan teknik pengumpulan data primer dan sekunder. Hasil penelitian menjelaskan bahwa kegiatan pengelolaan limbah di lokasi pemrosesan akhir jatibarang adalah, pengikisan akhir kompos, penggunaan gas metana (CH4) yang berasal dari TPA sebagai gas alternatif (biogas), mengurangi limbah dengan menggembalakan ternak , dan program kantin metana.Kata kunci: limbah, pengelolaan, Jatibaran
UPAYA PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN AGAR BERNILAI EKONOMI
Budidaya sayur-sayuran merupakan salah satu peluang bisnis bagi petani, karena komoditi sayur-sayuran dapat diusahakan dan dilakukan oleh sebagian besar rumah tangga petani baik untuk konsumsi keluarga maupun untuk dijual. Desa Samiran merupakan salah satu desa yang berada di antara kaki Gunung Merapi dan Merbabu di Kabupaten Boyolali. Saat ini Desa Samiran terus melakukan upaya pembangunan masyarakat melalui pengembangan dan pemberdayaan masyarakat desa. Permasalahan yang terjadi pada Desa Samiran adalah kegiatan budidaya sayur-sayuranmasih dilakukan terbatas dilahan-lahan pertanian yang umumnya berada di lereng-lereng gunung. Sedangkan lahan pekarangan disekitar rumah mereka hanya dibiarkan terbengkalai.Hal ini sebagai akibat karena, minimnya pengetahuan dan keterbatasan dalam hal penguasaan teknologi, mengakibatkan kurang berdayanya masyarakat tani dalam mengusahakan dan mengembangkan lahan pekarangan rumah sebagai tempat bertanamam tanaman sayur-mayur.Akibatnya, lahan pertanian menjadi sakit dan semakin miskin hara serta produktivitasnya semakin rendah. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat petani di dalam pengelolaan lahan pekarangan khususnya untuk kegiatan pertanian sayur-mayur yang nantinya dapat membantu di dalam peningkatan ekonomi masyarakat
- …
