1,720,975 research outputs found

    Nanoenkapsulasi Fikosianin dari Spirulina platensis dengan Kitosan Larut Air

    No full text
    Fikosianin merupakan pigmen biru yang terdapat pada Spirulina platensis. Fikosianin dapat diekstrak dengan menggunakan sonikasi. Pigmen ini mudah terdenaturasi, sehingga perlu dilakukan metode enkapsulasi. Penyalut yang digunakan pada enkapsulasi berupa kitosan larut air yang memiliki berat molekul rendah. Tujuan penelitian ini menentukan karakteristik kitosan larut air menggunakan metode sinar UV dan menentukan pengaruh rasio kitosan larut air pada proses enkapsulasi fikosianin. Depolimerisasi kitosan yang dilakukan menggunakan sinar UV selama 30 dan 60 menit. Rasio enkapsulasi kitosan larut air dan fikosianin terdiri dari 1:0.5, 1:0.75, dan 1:1. Indeks murni fikosianin sebelum dan setelah purifikasi, yaitu 1.15±0.1 mg/mL dan 1.33±0.06. Ukuran partikel dan indeks polidispersitas yang optimal didapatkan pada rasio 1:0.75, yaitu 457±51.6 nm dan 0.263±0.05. Nilai count rate tertinggi terdapat pada rasio 1:1, yaitu 212.61±1.25 103kcps. Enkapsulasi fikosianin dengan kitosan larut air dapat menjaga stabilitas fikosianin selama 90 menit pada suhu 50 ᵒC

    Aktivitas Antikanker dari Ekstrak Keong Matah merah (Cerithidea obtusa) dengan Metode Maserasi yang Berbeda.

    No full text
    Ekstrak aseton keong matah merah mampu menghambat 3 jenis sel kanker yaitu sel kanker serviks/HeLa, sel kanker paru/A549, dan sel kanker leukimia/K562. Maserasi merupakan metode ekstraksi sederhana yang dilakukan agar komponen aktif pada keong matah merah dapat diambil. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan pengaruh pengadukan dalam ekstraksi komponen aktif keong matah merah dengan metode maserasi terhadap rendemen ekstrak dan aktivitas antikanker. Tahapan dari penelitian ini yaitu preparasi keong matah merah, ekstraksi daging keong matah merah, pengujian toksisitas menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test dan pengujian persen inhibisi terhadap sel kanker HeLa dan MCF-7 menggunakan metode uji Microtetrazolium. Ekstrak aseton keong matah merah yang menggunakan metode pengadukan mengandung senyawa bioaktif yaitu alkaloid, saponin, flavonoid, steroid dan triterpenoid. Rendemen ekstrak tertinggi yaitu pada metode pengadukan sebesar 3.93%. Aktivitas antikanker menunjukkan ekstrak yang menggunakan metode pengadukan memiliki aktivitas tertinggi dalam menghambat pertumbuhan sel kanker HeLa dan MCF-7 dengan nilai penghambatan masing-masing sebesar 72.07% dan 47.53%

    Depolimerisasi Karagenan Hasil Hidrolisis Kapang RS6A Menggunakan Iradiasi Gamm

    No full text
    Kappa karagenan adalah galaktosa-sulfat dengan rantai linear yang dihubungkan oleh ikatan (3,6)-anhidro-D-galaktosa yang diekstrak dari rumput laut Kappaphycus alvarezii. Kapang RS6A dimanfaatkan dalam proses hidrolisis rumput laut K. alvarezii sebagai penghasil enzim selulase untuk mengekstrak karagenan. Penelitian bertujuan menentukan dosis iradiasi gamma yang optimal pada depolimerisasi oligokaragenan. Depolimerisasi dilakukan untuk menurunkan berat molekul karagenan, dosis iradiasi gamma yang digunakan adalah 2, 4, 6, 8 dan 10 kGy. Iradiasi gamma mampu menurunkan viskositas oligokaragenan dari semula 3.08 cP menjadi 2.47-1.87 cP yang dibuktikan dengan penurunan berat molekul dari semula 56.70 kDa menjadi 48.21-38.95 kDa seiring meningkatnya dosis iradiasi gamma. Oligkaragenan K5 dengan berat molekul 38.95 kDa menunjukkan aktivitas antibakteri tertinggi terhadap bakteri Escherichia coli dengan nilai persentase reduksi bakteri 93.50%

    Aktivitas Antibakteri Nanopartikel Kitosan Berbasis Cangkang Lobster Terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus Dan Staphylococcus Epidermidis

    No full text
    Kitosan merupakan turunan kitin berfungsi sebagai senyawa antibakteri yang berasal dari cangkang krustasea. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkarakterisasi kitosan dan nanopartikel kitosan lobster serta menganalisis aktivitas antibakteri nanopartikel kitosan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Hasil analisis proksimat cangkang lobster yang diperoleh meliputi nilai kadar air 17,85%, kadar protein 12,24% dan kadar abu 56,72%. Kitosan memiliki nilai derajat deasetilasi sebesar 92,51% dengan nilai kadar air 4,9%, kadar abu 0,18% dan kadar nitrogen 2,71%. Analisis PSA nanopartikel kitosan menunjukkan nilai Z average sebesar 357,76 nm. Hasil terbaik analisis aktivitas antibakteri nanopartikel kitosan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis terdapat pada konsentrasi 3000 ppm dan diperoleh nilai KHM pada konsentrasi 750 ppm

    AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN EFEK HEPATOPROTEKTIF DAUN BAKAU API-API PUTIH

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan ekstrak kasar daun api-api putih yang memiliki aktivitas antioksidan terbaik, menentukan kandungan fitokimia dan efek Hepatoprotektif ekstrak kasar yang dipilih secara in vivo. Daun api-api putih diekstrak menggunakan tiga jenis pelarut, yakni metanol, etil asetat dan n-heksana. Dalam uji in vivo dilakukan evaluasi terhadap kadar malondialdehid (MDA), enzim aspartat transaminase (AST), enzim alanin transaminase (ALT), dan histopatologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi daun api-api putih dengan pelarut etil asetat menghasilkan aktivitas antioksidan terbaik dengan kandungan fitokimia terdiri dari flavonoid dan steroid/triterpenoid. Pemberian ekstrak etil asetat daun api-api putih pada tikus yang telah diinduksi CCl4 dapat menormalkan berbagai parameter biokimia stres oksidatif (kadar MDA, AST, dan ALT) dibandingkan dengan standar Silymarin. Ekstrak daun api-api putih berpotensi untuk melindungi hati tikus dari kerusakan oksidatif yang diinduksi CCl4. Efek Hepatoprotektif ekstrak daun api-api putih berkorelasi dengan aktivitas antioksidannya.Kata kunci: antioksidan, Avicennia marina, ekstrak, hepatoprotekto

    Kinerja Pembangkit Biolistrik Salt Bridge Mirrobial Fuel Cell Variasi Rasio Karagenan-Karboksimetil Selulosa: The Performance of Salt Bridge Microbial Fuel Cell Bioelectric Generator in Variated Carrageenan-Carboxylmethyl Cellulose Ratio

    No full text
    Sistem microbial fuel cell (MFC) adalah teknologi terbarukan yang dapat mengubah materi organik menjadi energi berupa listrik. Tujuan penelitian ini menentukan rasio karagenan (K) : karboksimetil selulosa (KMS) yang optimal pada jembatan garam untuk menghasilkan energi listrik dalam sistem MFC dan menentukan hasil listrik tertinggi dari limbah cair pindang ikan melalui teknologi MFC salt bridge. Jembatan garam K:KMS dibuat dengan perlakuan rasio K:KMS 1:1, 0,5:1, 0,6:1 (b/b). Perlakuan terbaik adalah K:KMS dengan perbandingan 1:1 menghasilkan tegangan listrik tertinggi sebesar 0,88 V. Jembatan garam K:KMS dengan perbandingan 0,5:1 menghasilkan kuat arus tertinggi sebesar 1,22 mA, serta daya listrik tertinggi sebesar 0,85 mW. Nilai efisiensi penurunan BOD, dan TAN mengalami penurunan sebesar 90,36%, dan 60,45% pada perlakuan rasio K:KMS 1:1. Sistem salt bridge MFC ini menunjukkan kinerja yang sangat baik dan berpotensi untuk dikembangkan di masa depan.The microbial fuel cell (MFC) system is a renewable technology that converts organic matter into energy in the form of electricity. The purpose of this study was to determine the highest electrical yield from fish ‘pindang’ liquid waste through salt bridge MFC technology and determine the optimal ratio of carrageenan: carboxylmethyl cellulose in salt bridges to generate electrical energy in the MFC system. The carrageenan-carboxylmethyl cellulose salt bridges were prepared by treating the different carrageenan-carboxylmethyl cellulose compositions of 1: 1, 0.6:1, and 0.5: 1 (w/w). The highest electric voltage was produced from the carrageenan-carboxylmethyl cellulose salt bridge treatment with a ratio of 1:1 with a value of 0.88 V. The carrageenan-carboxylmethyl cellulose salt bridge with a ratio of 0.5:1 was produced the highest current strength of 1.22 mA and the highest electrical power of 0.85 mW. In addition, the reduction efficiency values of BOD and TAN on fishery waste with the treatment of C:CMC ratio of 1:1 were 90.36%, and 60.45%. System salt bridge MFC showed excellent performance and has the potential to be developed in the future

    Depolimerisasi Kitosan Menggunakan Sinar Ultraviolet dan Katalis Asam Klorida: Depolymerization of chitosan with ultraviolet ray and chloride acid catalyst

    No full text
    Kitosan merupakan produk alam hasil deasetilasi kitin yang memiliki rantai molekul yang panjang dan berat molekul yang tinggi, hal ini menjadikan kitosan terkendala dalam proses pengaplikasiannya. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan proses depolimerisasi yang dapat menurunkan berat molekul kitosan dan memendekkan rantai molekul kitosan. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh lama penyinaran sinar ultraviolet terbaik yang akan menghasilkan kitosan dengan bobot molekul rendah yang dapat larut dalam air atau pelarut netral. Depolimerisasi kitosan dalam penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan radiasi sinar ultraviolet dan asam kuat untuk memotong rantai polimer kitosan hingga menghasilkan kitosan dengan rantai yang lebih pendek dan dapat larut dalam air atau pelarut netral. Depolimerisasi dimulai dengan melarutkan kitosan dan HCl 2%, selanjutnya disinari dengan sinar ultraviolet selama 45 menit, 60 menit, 75 menit. Larutan kitosan dipresipitasi menggunakan isopropil alkohol, dan difiltrasi dengan kain nylon ukuran 40 mesh. Kitosan yang telah memiliki pH 7 dikeringkan untuk mendapatkan kitosan larut air. Kitosan larut air yang didapat dianalisis dengan membandingkan tiap perlakuan yang diberikan dan kitosan bahan baku. Penggunaan sinar ultraviolet dan larutan HCl berpengaruh terhadap karakteristik depolimerisasi kitosan yang dihasilkan. Perlakuan terpilih berada pada kitosan yang didepolimerisasi perlakuan lama penyinaran sinar ultraviolet 75 menit dengan hasil rendemen 70,07±14,00%, kelarutan 99,80±0,17%, derajat putih 99,99±0,00%, viskositas 49,78±0,31 cP, bobot molekul 169,46±0,30 kDa, dan zeta potensial 73,03±1,92 mV. Penurunan bobot molekul dan viskositas pada karakteristik kitosan larut air dalam perlakuan tersebut menunjukkan bahwa proses depolimerisasi kitosan telah terjadi dimana efek depolimerisasi meningkat seiring dengan meningkatnya lama penyinaran sinar ultraviolet.Chitosan is a natural product of chitin deacetylation which has a long molecular chain and high molecular weight, this makes chitosan constrained in the process of its application. To overcome this, it is necessary to do a depolymerization process that can reduce the molecular weight of chitosan and shorten the molecular chain of chitosan. Chitosan depolymerization in this study was carried out using ultraviolet radiation and strong acids to use chitosan polymer chains to produce chitosan with shorter chains and can be used in water or neutral solvents. Depolymerization begins with dissolving chitosan with hydrochloric acid solution, then irradiated with ultraviolet light for 45 minutes, 60 minutes, 75 minutes. Chitosan solution was precipitated using isopropyl alcohol, and filtered with 40 mesh nylon cloth. Chitosan which has a pH of seven is dried to get chitosan dissolved air. The air soluble chitosan obtained was analyzed by comparing each given administration and chitosan control. The use of ultraviolet light and HCl solutions designed to depolymerize the characteristics of chitosan produced. Selected based on chitosan depolymerized with 75 minutes of ultraviolet light irradiation with yield of 70.07±14.00%, solubility 99.80±0.17%, white degree 99.99±0.00%, viscosity 49.78±0.31 cP, molecular weight 169.46±0.30 kDa, and zeta potential 73.03±1.92 mV. The decrease in molecular weight and viscosity on the characteristics of water-soluble chitosan shows that the process of chitosan depolymerization occurs when the depolymerization effect increases with the duration of ultraviolet light irradiation

    Pengaruh Jenis Pelarut dan Ultrasonikasi terhadap Ekstrak Fikoeritrin dari Kappaphycus alvarezii : The Effect of Different Solvent Type on Phycoerithryn Extract from Kappaphycus alvarezii

    No full text
    Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu jenis rumput laut merah (Rhodophyta) yang mengandung pigmen fikobiliprotein. Rumput laut merah didominasi oleh fikobiliprotein berjenis fikoeritrin. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pengaruh jenis pelarut dan waktu akselerasi ekstraksi ultrasonikasi terhadap pigmen fikoeritrin. Proses ekstraksi dilakukan secara bertahap menggunakan pelarut akuades, CaCl2 dan buffer fosfat dengan akselerasi ultrasonikasi 35-55 menit.  Hasil menunjukkan bahwa ekstrak pigmen fikoeritrin K. alvarezii menggunakan akuades menghasilkan warna pigmen lebih pekat dibanding buffer fosfat dan CaCl2, menunjukkan konsentrasi tertinggi sebesar 0,057 mg/mL, dan indeks kemurnian sebesar 0,189. Pelarut air aman digunakan karena air tidak memiliki daya toksik. Maka, tidak perlu dilakukan uji pendahuluan toksisitas pelarut. Lebih ekonomis dibandingkan dengan jenis pelarut lainnya. Ekstraksi pigmen fikoeritrin menggunakan pelarut akuades selama 45 menit menghasilkan warna pigmen lebih pekat. Konsentrasi pigmen fikoeritrin sebelum dan sesudah presipitasi berturut-turut sebesar 0,170 mg/mL dan 0,421 mg/mL. Indeks kemurnian pigmen fikoeritrin sebelum dan sesudah presipitasi berturut-turut sebesar 0,301 dan 0,831. Aktivitas antioksidan (% Inhibisi) terbaik ada pada konsentrasi pigmen fikoeritrin 50 ppm dan 80 ppm dengan lama waktu ekstraksi 45 menit berturut-turut sebesar 62% dan 89%. Profil protein dengan SDS-Page menunjukkan fikoeritrin memiliki bobot molekul 16,27 kDa pada subunit α, 17,79 kDa pada subunit β, dan 30,60 kDa pada subunit γ. Kappaphycus alvarezii is a type of red seaweed (Rhodophyta) which contains phycobiliprotein pigments. Red seaweed is dominated by phycoerythrin type phycobiliprotein. Phycoerythrin can be obtained from the extraction process. The purpose of this study was to determine the effect of solvent type and acceleration time of ultrasonication extraction on phycoerythrin pigments. The extraction process was carried out in stages using distilled water, CaCl2 and phosphate buffer with ultrasonication acceleration of 35-55 minutes. The results showed that the phycoerythrin pigment extract of K. alvarezii using distilled water produced a more concentrated pigment color than buffer phosphate and CaCl2, showing the highest concentration of 0.057 mg/mL, and a purity index of 0.189. Water solvent is safe to use because water does not have toxic power. So, there is no need to conduct a preliminary test for solvent toxicity. It is more economical than other types of solvents. The extraction of phycoerythrin pigment using distilled water for 45 minutes resulted in a more concentrated pigment color. The concentration of phycoerythrin pigment before and after precipitation was 0.170 mg/mL and 0.421 mg/mL, respectively. The phycoerythrin pigment purity index before and after precipitation was 0.301 and 0.831, respectively. The best antioxidant activity (% inhibition) was found at concentrations of 50 ppm and 80 ppm phycoerythrin pigment with extraction time of 45 minutes at 62% and 89% respectively. Protein profile using SDS-Page showed that phycoerythrin has a molecular weight of 16.27 kDa in the subunit, 17.79 kDa in the subunit β, and 30.60 kDa in the subunit γ

    Karakteristik papain soluble collagen gelembung renang ikan manyung dengan variasi praperlakuan alkali dan rasio ekstraktan: Characterization of papain-soluble collagen from swim bladder sea catfish with variations in alkali pretreatment and extractant ratio

    No full text
    Kolagen merupakan biomaterial penting pada beberapa industri di Indonesia, namun pemenuhan kebutuhannya masih mengandalkan impor. Transformasi hasil samping gelembung renang ikan manyung (Arius thalassinus) sebagai sumber kolagen. Optimalisasi proses ekstraksi kolagen menjadi penting diteliti dalam meningkatkan rendemen. Faktor ekstraksi yang memengaruhi antara lain waktu pra-perlakuan alkali dan rasio sampel dan ekstraktan. Penelitian ini bertujuan menentukan waktu perendaman alkali terbaik dalam menghilangkan protein non-kolagen dan mengevaluasi pengaruh perbedaan jenis alkali pada pra-perlakuan serta rasio sampel dan ekstraktan dalam menghasilkan kolagen gelembung renang ikan manyung. Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu pertama penentuan waktu perendaman terbaik dalam larutan alkali (KOH), dan kedua ekstraksi papain soluble collagen selama 48 jam dengan variasi alkali (KOH dan NaOH 0,05 M)  dan rasio sampel dan ekstraktan (1:10;1:20;1:30 b/v). Ekstraktan yang digunakan adalah enzim papain 5.000 U/g dalam asam asetat 0,5 M. Parameter yang dianalisis meliputi proporsi ikan, proksimat, asam amino, konsentrasi protein, rendemen, stabilitas termal, gugus fungsi, berat molekul, dan zeta potensial. Hasil menunjukkan bahwa gelembung renang ikan manyung memiliki proporsi 4,08%, kadar protein 33,58±0,11%, asam amino penciri prolina 29,2 mg/g, alanina 28,9 mg/g dan hidroksiprolina 18,18 mg/g. Waktu perendaman terbaik dalam larutan KOH adalah 6 jam. Perlakuan terbaik untuk ekstraksi papain soluble collagen yakni menggunakan pra-perlakuan alkali menggunakan NaOH selama 6 jam dengan rasio sampel dan ekstraktan 1:20 (b/v). Rendemen kolagen yang diperoleh sebesar 35,31±0,65% dengan karakteristik gugus amida (A, B, I, II, III), pola elektroforesis (α1,α2, β), suhu transisi maksimum 33,06°C dan zeta potensial +32 mV.Collagen is a crucial biomaterial in multiple sectors of Indonesia, yet its procurement remains heavily reliant on imports. Catfish swim bladders are considered valuable sources of collagen. It is crucial to optimize the extraction process to obtain a higher yield, which is influenced by variables such as the pretreatment time and sample-to-extractant ratio. This study aimed to maximize the duration of alkali soaking and investigate the influence of various alkali types and extractant-to-sample ratios on collagen extraction from sea catfish swim bladders. This study was comprised of two phases. The first phase involved determining the optimal soaking time in an alkaline solution (KOH). The second phase involved papain-soluble collagen extraction for 48 h, with variations in alkali (KOH and NaOH 0.05 M) and sample-to-extractant ratios (1:10, 1:20, 1:30, w/v). Papain enzyme at 5,000 U/g in 0.5 M acetic acid was utilized as the extractant. The parameters analyzed included fish proportion, proximate amino acids, protein concentration, yield, thermal stability, functional groups, molecular weight, and zeta potential. The data indicate that the sea catfish swim bladder possesses a percentage of 4.08%, and its protein content is 33.58±0.11%. The bladder contains characteristic amino acids, such as proline (29.2 mg/g), alanine (28.9 mg/g), and hydroxyproline (18.18 mg/g). The most suitable duration for alkali soaking using potassium hydroxide (KOH) was determined to be 6 h. Furthermore, the most effective method for extracting papain-soluble collagen involved alkali pretreatment using sodium hydroxide (NaOH) for 6 h with a sample extractant ratio of 1:20 (w/v). The yield of collagen obtained was 35.31±0.65%, which displayed characteristic amide groups (A, B, I, II, and III), an electrophoresis pattern consisting of α1, α2, and β, a maximum transition temperature of 33.06°C, and a zeta potential of +32 mV

    Isolasi heparin dari jeroan ikan tuna (Thunnus sp.) : Isolation of heparin from tuna viscera (Thunnus sp.)

    No full text
    Ikan tuna merupakan komoditas penting Indonesia dengan nilai produksi yang meningkat setiap tahun. Pengolahan ikan tuna menghasilkan limbah 50-70%. Jeroan merupakan limbah yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biomaterial baru, contohnya heparin. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan komponen heparin dari beberapa bagian jeroan ikan tuna, yaitu hati, lambung, usus dan sekum pilorus. Ekstraksi heparin dilakukan dengan metode enzimatis menggunakan enzim papain. Ekstrak kasar heparin dipurifikasi lebih lanjut dengan fraksinasi aseton. Gugus fungsi heparin murni dianalisis menggunakan FTIR spektrofotometer dan kandungan heparin ditentukan menggunakan sulfate GAG assay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usus dan sekum pilorus menghasilkan rendemen ekstrak sebesar 0,66±0,06% dengan kandungan heparin 43%. Heparin murni dari jeroan ikan tuna memiliki gugus fungsi penciri senyawa heparin, yaitu karboksil, asetil, hidroksil, siklus ester, dan atom N tersulfasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa jeroan ikan tuna dapat menjadi alternatif sumber heparin.Tuna is a valuable commodity in Indonesia and its production value has been increasing annually. Tuna processing produces 50-70% waste. The use of viscera waste in the production of novel biomaterials, including heparin, has been documented. The objective of this study was to obtain heparin from tuna viscera, specifically from the liver, stomach, intestine, and pyloric caeca.  Heparin extraction was accomplished using an enzymatic technique utilizing papain.  Crude heparin extract was subjected to acetone fractionation for further purification.  The functional groups of pure heparin were analyzed using a Fourier Transform Infrared (FTIR) spectrophotometer, while the heparin content was determined using a sulfate glycosaminoglycan (GAG) assay. The findings of the study indicated that the intestinal and pyloric caeca had a heparin content of 43% and yielded 0.66±0.06%.  Pure heparin tuna viscera comprise various functional groups, including carboxyl, acetyl, hydroxyl, ester cycles, and sulfated N atoms.  This research indicates that tuna viscera has the potential to serve as a substitute for heparin, a commonly utilized medical resource
    corecore