27 research outputs found

    Pembinaan keberagamaan dalam pembentukan akhlak al-karimah santri Madrasah Tsanawiyah Al-Mukhtariyah Sibuhuan Kabupaten Padanglawas

    Full text link
    Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana pembinaan keberagamaan dalam pembentukan akhlak al-karimah santri. Aspek-aspek yang diteliti adalah tujuan pembinaan keberagamaan santri, bentuk-bentuk aktivitas pembinaan keberagamaan santri, peluang-peluang yang dimiliki dalam meningkatkan pembinaan keberagamaan santri, serta kendala yang dihadapi dalam pembinaan keberagamaan untuk pembentukan akhlak al-karimah santri Madrasah Tsanawiyah Al-Mukhtariyah Sibuhuan Kabupaten Padanglawas. Berdasarkan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembinaan keberagamaan dalam pembentukan akhlak al-karimah santri Madrasah Tsanawiyah Al-Mukhtariyah Sibuhuan yang meliputi tujuan pembinaan keberagamaan, bentuk-bentuk aktivitas pembinaan keberagamaan, peluang-peluang yang dimiliki dalam meningkatkan pembinaan keberagamaan, serta kendala yang dihadapi dalam pembinaan keberagamaan untuk pembentukan akhlak al-karimah santri Madrasah Tsanawiyah Al-Mukhtariyah Sibuhuan itu sendiri. Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Tsanawiyah Al-Mukhtariyah Sibuhuan Kabupaten Padanglawas. Sumber datanya adalah para guru, santri, kepala madrasah, yayasan dan pembina mukim madrasah. Adapun metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif induktif. Tehnik pengumpulan data digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik pengolahan datanya dilakukan dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Sedangkan untuk pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan beberapa kriteria yaitu kredibilitas, keteralihan, ketergantungan, serta ketegasan. Adapun tujuan pembinaan keberagamaan dari MTs. Al-Mukhtariyah Sibuhuan adalah untuk mengaktualisasikan sifat-sifat positif para santri sesuai dengan asas pendidikan Islam dan tetap mengacu pada prinisp-prinsip pendidikan nasional. Sedangkan bentuk-bentuk aktivitas keberagamaan santri MTs. Al-Mukhtariyah Sibuhuan secara eksplisit telah termuat dalam berbagai skedul madrasah mulai dari jadwal belajar di kelas dengan belajar agama dan kitab-kitab klasik sampai kepada kegiatan-kegiatan yang tidak tertulis. Melalui belajar di kelas pembinaan lebih menitik beratkan untuk membekali santri ilmu pengetahuan sebagai modal mereka untuk mengaktualisasikannya. Sedangkan aktivitas-aktivitas yang dilakukan di luar pembelajaran di kelas ada yang terjadwal dan yang tidak terjadwal seperti kegiatan-kegiatan di mukim. Adapun subtansi dari aktivitas-aktivitas yang diterapkan adalah suatu terobosan yang patut diapresiasi, walaupun secara kasat mata implikasinya tidak nampak, namun aktivitas-aktivitas keberagamaan itu adalah bagian dari pembiasaan untuk menanamkan unsur-unsur kedisiplinan, kepatuhan, kejujuran, percaya diri, kerja sama, bertanggung jawab, mandiri, tolong menolong, kesetia kawanan, kebebasan berkreasi dan berekspresi. Sedangkan strategi yang digunakan oleh Madrasah Tsanawiyah Al-Mukhtariyah Sibuhuan lebih menitik beratkan untuk merangkul semua elemen madrasah dengan pendekatan-pendekatan persuasif, dalam hal ini yang berperan adalah pihak yayasan melalui kepala sekolah. Sementara berkenaan dengan strategi para guru yang digunakan lebih mengandalkan pola lama yaitu pemberian tugas, mengulang, pembiasaan, keteladanan dan sebagainya. Selain itu ada beberapa hal yang jadi pendukung atau sebagai peluang bagi Madrasah Tsanawiyah Al-Mukhtariyah Sibuhuan untuk keberhasilan pembinaan keberagamaan untuk membentuk akhlak al-karimah santri yaitu keadaan SDM hampir telah didominasi oleh yang berpendidikan S1, guru-guru berpengalaman yang secara kualitas dan integritas telah teruji kepribadiannya. Kemudian peluang yang cukup potensial dalam menopang keberhasilan pembinaan keberagamaan santri adalah kondisi lingkungan yang nyaman dan jauh dari kebisingan. Selain peluang-peluang itu kondisi santri pun cukup bagus karena mereka adalah anak-anak sebelumnya masuk ke madrasah sudah mendapat bekal pengetahuan melalui Madrasah Diniyah Awwaliyah di desanya masing-masing. Sedangkan yang menjadi kendala pembinaan keberagamaan untuk membentuk akhlak al-karimah santri di Madrasah Tsanawiyah Al-Mukhtariyah Sibuhuan adalah seringnya guru berganti-ganti, pembina mukimnya pun demikian, sehingga belajar santri akan terbengkalai. Selain dari pada itu juga karena kurang meratanya kesadaran beragama pendidik, hal ini tentu sangat menghambat proses pembinaan keberagamaan santri, karena guru adalah tauladan bagi peserta didik

    Implementasi Dharma Dakwah Islamiyah Dalam Mewujudkan Universitas Islam Riau Sebagai Kampus Madani

    Full text link
    This research problem relates to private higher education institutions which are nomenclature under the supervision of the Ministry of Education, Culture, Research, and Technology through LLDIKTI. This model institution in the national discourse is identical to the General Higher Education institution (PTU). Meanwhile, if examined into the institution, it is found that the basic concept is Islam. The institution in question is the Islamic University of Riau. Islamic University of Riau itself is categorized as a PTU institution, on the other hand, this institution is also characterized by Islam. The method used in this research is qualitative with a phenomenological approach. Data collection is focused on social situations consisting of places, actors, and activities that interact synergistically. Meanwhile, the data analysis used consisted of data reduction, data display, and conclusion drawing/verification. The results of this study are the Islamic University of Riau is a higher education institution based on Islam. Although by regulation it is considered a Public Higher Education (PTU), the Islamic University of Riau remains consistent with the basic idea of ​​its establishment. Meanwhile, the implementation of chess dharma da'wah Islamiyah in realizing a civil society campus at the Islamic University of Riau has been well programmed and carried out consistently in various existing units. The Islamic da'wah model is carried out by providing Islamic guidance for all academics. With good Islamic coaching, a good understanding of Islam is formed, so that all academics have the awareness to play a role in Islamic da'wah

    Refleksi Dinamika Kebebasan Akademis dalam Pendidikan Islam

    Full text link
    Kebebasan akademis didefinisikan sebagai tiadanya pengekangan, hukuman, dan intimidasi berkenaan dengan pengkajian, penelitian, pengujian lisan, dan pandangan terhadap pengetahuan. Istilah bebas itu merupakan aktivitas yang dilakukan secara sadar yang disertai dengan rasa tunduk dan patuh kepada ruhani dengan cara mematuhi undang-undang serta hukum akhlaqiah yang telah ditetapkan oleh agama. Sedangkan akademis diartikan dengan sesuatu yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, bersifat ilmiah dan juga pendidikan. Walaupun demikian, kebebasan dari sudut pandang ini berarti adanya posisi aman bagi setiap orang untuk melakukan aktivitas kehidupan tanpa dibebani oleh rasa khawatir oleh tekanan dari pihak-pihak tertentu. Pendefinisian kebebasan akdemis dapat dipahami bahwa para ilmuwan dengan segala keahliannya membutuhkan suasana yang kondusif tanpa ada intervensi dari pihak-pihak tertentu sehingga akan memungkinkan para ilmuwan dapat mencari, menggali, berinovasi dan mengembangkan ilmu pendidikan islam, karena pada hakikatnya ilmu itu tidak lepas dari sumber Ilmu itu sendiri yaitu Allah SWT. Dengan kebebasan akademis dalam arti positif telah terbukti mampu melahirkan para ulama atau ilmuwan muslim. Ini adalah bukti nyata bahwa ajaran Islam telah mampu mendongkrak dan memotivasi penganutnya untuk dapat semaksimal mungkin mendayagunakan potensi kemanusiannya secara mandiri dan aman dari tekanan

    PARADIGMA BELAJAR DALAM KHAZANAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KURIKULUM MERDEKA BELAJAR

    Full text link
    ABSTRAK Masalah penelitian beranjak dari sebuah fakta bahwa saat ini jumlah peserta didik yang belajar di lembaga pendidikan Islam di Indonesia sebanyak 29.702.651 orang yang tersebar di 390.529 lembaga. Sementara saat ini juga kualitas pendidikan Indonesia masih tergolong memperihatinkan, hal ini diketahui berdasarkan laporan riset dari berbagai lembaga internasional, misalnya laporan UNESCO, OECD, dan EDI. Jika secara nasional kualitas pendidikan Indonesia kurang, itu menunjukkan kualitas pendidikan Islam juga mengalami hal yang sama. Jika kualitas pendidikan Islam rendah, itu menunjukkan bahwa ada problem yang belum tuntas dari aspek-aspek pendidikan Islam tersebut. Salah satu aspek penting dalam pendidikan Islam adalah peserta didik, khususnya terkait dengan kemampuan belajarnya. Rendahnya kualitas pendidikan Islam pasti sangat tergandung pada kualitas dan kemampuan belajar (paradigma belajar) peserta didik. Disisi lain, saat ini lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia sudah banyak yang mengimplementasikan kurikulum merdeka belajar. Kebijakan kurikulum ini pasti mempengaruhi kemampuan belajar peserta didik muslim. Bila peserta didik tidak siap, maka kualitas belajar peserta didik bisa jadi akan lebih buruk. Disinilah pentingnya peserta didik memiliki paradigma belajar Islami. Adapun metode penelitian untuk menjawab kegelisahan akademik tersebut adalah dengan pendekatan library research (studi kepustakaan). Sumber data penelitian terdiri dari primer dan skunder. Sumber primer diambil dari kitab-kitab kamus mufradat Al-Qur‘an dan juga kitab, buku, dan regulasi yang terkait dengan pendidikan Islam dan Kurikulum Merdeka Belajar. Sumber skunder adalah semua referensi baik buku, jurnal, dan hasil-hasil riset yang relevan dengan penelitian ini. Adapun analisis data penelitian yang dipilih adalah content analysis yaitu suatu proses berkelanjutan untuk mengorganisir data-data penelitian sehingga dapat dipahami, dijelaskan, dan diberikan makna. Selain content analysis, analisis data juga menggunakan metode tafsir tematik (maudhu‟i) yaitu untuk memahami makna-makna belajar dalam Al-Qur'an. Adapun hasil penelitian adalah; Pertama, untuk memperbaiki pendidikan Islam maka sangat sangat tergandung pada bagaimana peserta didik memahami dan mengimplementaskan paradigma belajar yang terkandung dalam khazanah pendidikan Islam. paradigma belajar dalam khazanah pendidikan Islam harus dimulai dengan memahami istilah-istilah belajar dalam Islam, seperti ta‟allama, darasa, thalaba, qara‟a, dan uthlu. Setelah mereka akrab dengan istilah-stilah tersebut, maka berikutnya mereka harus memahami apa saja yang menjadi karakteristik belajar dalam Pendidikan Islam, prinsip-prinsip belajar dalam pendidikan Islam, keutamaan belajar dalam pendidikan Islam, metode belajar dalam pendidikan Islam. Ketika semua paradigma belajar sudah terpenuhi dalam diri peserta didik, maka dapat dipastikan mereka akan mendapatkan apresiasi yang tinggi dari Allah Swt. dan masyarakat. Kedua, mesikpun paradigma belajar Islami tidak termuat secara eksplisit dalam desain kerangka kurikulum merdeka belajar, namun kedudukan paradigma belajar Islami sangat penting bagi peserta didik muslim untuk diejawantahkan dalam semua aktivitas belajar yang dilakukan, terutama pada program-program resmi kurikulum merdeka belajar. Kata Kunci: Paradigma Belajar Islami, Pendidikan Islam, Program Merdeka Belajar, Peserta Didi

    Hakikat Belajar dalam Istilah Ta'allama, Darasa, Thalaba, Perspektif Pendidikan Agama Islam

    Full text link
    The current development of educational science has created many learning concepts. Some of Muslims has been ignored about these findings. One side deserves appreciation at the same time, but on the other side Muslims must directing their attention to study the concept of learning process in Islam itself. With the Literature Study or Library Research Method, learning process in Islam is a very important theme. The term learning process has been used in the sources of Islamic teachings (Al-Qur'an and Sunnah) there are at least three terms, namely ta'allama, darasa, and thalaba. From these three terms, it can be understand that learning process in Islam is an activity that is carried out seriously and need concentration, arising from a sincere intention, and carried out continuously. Learning process must also be pursued through the teacher, while a teacher should giving the attention to the readiness of students in receiving knowledge. Success or failure of learning process is largely determined by how physical and psychological involvement from the student as human being. The most important learning purpose according to the perspective of Islamic education is the practice of achieving the blessings from Allah swt

    Konsep pendidikan islam tentang tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan anak

    Full text link
    Permasalahan yang muncul dalam penelitian ini adalah mengingat dalam konteks kekinian seringnya pendidikan anak dalam rumah tangga tidak terpenuhi, maka peneliti ingin melihat bagaimana konsep pendidikan Islam tentang tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan anak. Berdasarkan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui bagaimana konsep pendidikan Islam tentang tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan anak. Penelitian ini adalah penelitian pustaka Library Research, untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dilakukan dengan mengumpulkan buku-buku atau perpustakaan sebagai reseources centre, dengan menggunakan data primer dan skunder. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mencari sumber data primer dan skunder, membaca, mencatat hasil analisa, mengorganisasi catatan, dan menulis ulasan-ulasan yang penekananya hanya mengutif hasil penelitian, teori dan praktik yang relevan dengan masalah penlitian. Dari penelitian yang dilaksanakan diperoleh kesimpulan bahwa tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan anak menurut konsep pendidikan Islam sangat penting untuk ditunaikan dengan sebaik-baiknya, untuk menciptakan anak yang saleh harus dimulai dari keluarga yang penuh kedamaian di dalamnya terdapat aktivitas yang selalu mencerminkan nilai-nilai luhur sesuai dengan ajaran Islam. Semenjak anak lahir hendaknya orangtua sudah memulai dengan memberikan pendidikan agama berupa mengazankan/mengiqamahkan, mengaqiqahkan dan menghkitannya, agar hati sang bayi terpahat dengan keagungan Tuhan dan suatu saat menjadi bekal untuk dirinya dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia pana ini. Pendidikan keimanan, ibadah, akhlak, sosial, dan intelektual merupakan dasar-dasar pengenalan terhadap anak melalui orangtua untuk memupuk kepribadiannya. Dengan pemahaman anak terhadap pendidikan itu akan membuka cakrawala berpikirnya terhadap pentingnya agama sebagai jalan hidup the way of life dan orangtualah yang menjadi mediasi utama dan yang paling utama

    Esensi Peserta Didik dalam Perspektif Pendidikan Islam

    Full text link
    Peserta didik adalah manusia seutuhnya yang berusaha untuk mengasah potensi supaya lebih potensial dengan bantuan pendidik atau orang dewasa. Sementara itu, secara terminologi peserta didik berarti anak didik atau individu yang mengalami perubahan, perkembangan sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam membentuk kepribadian serta sebagai bagian dari struktural proses pendidikan. Dengan kata lain peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun fikiran. Sebagai individu yang tengah mengalami fase perkembangan, tentu peserta didik tersebut masih banyak memerlukan bantuan, bimbingan dan arahan untuk menuju kesempurnaan. Setiap peserta didik memiliki eksistensi atau kehadiran dalam sebuah lingkungan, seperti halnya sekolah, keluarga, pesantren bahkan dalam lingkungan masyarakat. Dalam proses ini peserta didik akan banyak sekali menerima bantuan yang mungkin tidak disadarinya. Adapun esensi manusia itu adalah sebagai makhluk ciptaan Allah bukanlah makhluk yang ada dan bereksitensi dengan sendirinya, dan di dalam diri manusia itu terdapat beberapa unsur yaitu unsur al-jism dan al-ruh atau fisik dan psikis. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa esensi peserta didik tidak akan bisa untuk diketahui jika mereka tidak mengetahui hakikat atau esensi dari manusia itu sendiri. Kemampuan untuk itu tentu tidak hanya bisa berdiri sendiri tapi haruslah ada bantuan dari orang dewasa, atau bahasa yang lebih teknis pendidikan. Dengan pendidikan inilah peserta didik ditempa, baik terhadap jasmani mapun rohaninya agar semuanya bisa aktif untuk membesarkan dan mengagungkan Allah semata-mata

    Rekontekstualisasi Sejarah: Kontribusi Lembaga Pendidikan Islam terhadap Dakwah Rasulullah SAW

    Full text link
    Bahasa Indonesia: Tulisan ini mencoba menyelami kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam merangkai ajaran-ajaran Islam menjadi satu kesatuan yang utuh lewat pendidikan. Selama kurun 23 tahun Islam sudah menjadi ajaran yang mapan penuh dengan rahasia keilmuan, sehingga Islam dijuluki sebagai agama yang rahmatallil’alamin. Dengan pendekatan studi pustaka, penelitian ini memaparkan keberhasilan Nabi SAW dalam menyampaikan risalah kenabian yang sangat didukung oleh tempat-tempat yang representatif dalam mengajarkan pada waktu itu. Tempat-tempat yang dimaksud telah mengalami akulturasi budaya sebelum datangnya isalm dan terus berkembang bersamaan kedatangan Islam itu sendiri. Mengenai tempat yang berakultrasi dengan Islam adalah kuttab dan rumah, sementara yang tumbuh bersama dengan Islam itu sendiri adalah masjid dan suffah. Keempat lembaga pendidikan Islam yang disebutkan menjadi saluran utama yang digunakan Nabi SAW dalam mendidik para sahabatnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang peduli dengan pendidikan dan sangat fleksibel terhadap kondisi dan situasi bagaimana agar proses pendidikan itu dapat berjalan. Kontribusi lembaga pendidikan Islam selain mampu menciptakan perubahan mendasar dalam konteks keagamaan dan kehidupan sosial juga menjadikan Islam sebagai agama yang terbuka (inkulsif) terhadap perubahan sosial selama tidak bertetangan dengan aqidah.   English:  This paper attempts to examine the success of Prophet Muhmmad PBUH in arranging Islamic teachings into a set through education. Within 23 years, Islam emerged into an established teaching and full of hidden knowledge, making Islam gets predicate of blessing for the universe. Through literary study, this research explains the success of the prophet in delivering prophetic messages with support of representative teaching places at the period. The places acculturated with the coming of Islam and keep growing along with the development of Islam. Kuttab and house has acculturated with Islam and Mosques and Suffah have grown together with Islam. The four kind of places became main channels for the prophet PBUH in educating his companions. Therefore, it can be concluded that Islam is a religion with high education concerns and quite flexible towards condition and situation where the educational process takes place. Islamic educational institution is not only creating fundamental change in religious and social life, but also making Islam as an inclusive religion to social changes as long as the changes are not contradictory to Islamic faith

    Pengaruh Kebijakan Pembinaan Keislaman Terhadap Kompetensi Profesionalisme Dosen Universitas Islam Riau

    Full text link
    Masalah dalam penelitian ini adalah pentingnya eksistensi dosen di perguruan tinggi. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan pendidikan di perguruan tinggi, salah satunya adalah dosen yang profesional. Rumusan masalah penelitian adalah bagaimana pengaruh kebijakan pembinaan keislaman terhadap profesionalisme dosen Universitas Islam Riau. Asumsi awal sebelum dilakukan penelitian adalah terdapat pengaruh pembinaan keislaman terhadap terhadap profesionalisme dosen di Universitas Islam Riau. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, instrument pengumpulan datanya adalah angket. Untuk analisis data menggunakan regresi linier sederhana. Setelah dilakukan riset maka ditemukan nilai signifikansi 0.02 < probabilitas 0.05, hal ini mengindikasikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kebijakan pembinaan keislaman terhadap profesionalisme dosen di Universitas Islam Riau. Pengaruh kebijakan pembinaan keislaman terhadap profesionalisme dosen  di Univeristas Islam memiliki pengaruh positif berdasarkan nilai b = angka koefisien 0.555. Besaran pengaruh antara kebijakan pembinaan keislaman terhadap profesionalisme dosen adalah 17.1%, sisanya sebesar 82.9% diprediksi dipengaruhi faktor-faktor lain. Sementara jika dilihat hubungan antara kedua variabel penelitian ini volumenya hanya pada level cukup kuat. Hal ini ditentukan berdasarkan nilai R sebesar 0.413, angka ini terletak pada rentang 0.40 – 0.599. Dengan demikian untuk meningkatkan profesionalisme dosen perlu sekali pimpinan untuk selalu mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan sehingga kesadaran keagamaan dosen tumbuh. Tumbuhnya kesadaran keagamaan dosen, secara teori akan dapat meningkatkan kinerja akademik mereka
    corecore