6 research outputs found
Effect of Health Promotion Media on HIV/AIDS Control and Prevention Behavior among Church Youth in Timor Tengah Utara, East Nusa Tenggara
Pelatihan dan Pendampingan Kepada Pengawas Menelan Obat (PMO) dalam Upaya Meningkatkan Kepatuhan Pengobatan Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Haliwen
Pulmonary tuberculosis can cause serious problems and even death in people who have been infected with the mycobacterium tuberculosis bacteria. Tuberculosis patients will usually undergo treatment for a long time. Patients will get a treatment period of approximately 6 to 9 months. As a result of this long period of treatment, there are many cases reported that TB patients do not take medicine regularly, drop out of taking medicine, patients who have received medicine but are lazy to complete treatment for up to 6 months, already feel healthy finally drop out of treatment and family lacks support in completing treatment. Tuberculosis patients who are on medication need someone to always supervise and educate them. This person is usually called a Medication Swallowing Supervisor. Drug swallowing supervisors can come from family members, neighbors or the general public who have volunteered to help TB patients. PMO who come from the general public must be given training so that they have basic knowledge and skills in communication and negotiation so that they can convince TB patients and their families to take the correct treatment and complete treatment. This service method is in the form of training and mentoring which is carried out in several stages, namely preparation, implementation and sustainability of the program. The results of the pre and post tests on all trainees showed an increase in the ability of the trainees.Penyakit tuberkulosis paru dapat menyebabkan masalah yang serius hingga kematian pada orang yang sudah terinfeksi dengan bakteri mycobakterium tuberkulosis. Pasien tuberkulosis akan menjalani pengobatan dalam jangka waktu yang lama mencapai 6 sampai 9 bulan. Akibat dari pengobatan dalam jangka waktu yang lama ini, banyak kasus dilaporkan bahwa pasien TBC tidak teratur minum obat, putus minum obat, pasien yang sudah menerima obat tetapi malas untuk menyelesaikan pengobatan sampai 6 bulan karena sudah merasa sehat akhirnya drop out pengobatan, keluarga juga dilaporkan kurang memberikan dukungan dalam menyelesaikan pengobatan. Selama masa pengobatan pasien tuberkulosis membutuhkan seseorang sebagai pengawas menelan obat (PMO) yang dapat memberikan edukasi dan support kepada pasien. Pengawas menelan obat bisa berasal dari anggota keluarga, tetangga atau masyarakat umum yang mempunyai kesukarelaan untuk membantu penderita TB. PMO yang berasal dari masyarakat umum harus diberikan pelatihan agar mempunyai pengetahuan dan kemampuan dasar dalam berkomunikasi dan negosiasi sehingga bisa meyakinkan penderita TB dan keluarganya untuk melakukan pengobatan yang benar dan berobat sampai tuntas. Metode pengabdian ini berupa pelatihan dan pendampingan yang dilakukan dalam beberapa tahap yakni persiapan, pelaksanaan dan keberlanjutan program. Hasil pre dan post test pada semua peserta pelatihan menunjukkan peningkatan kemampuan pada setiap peserta PMO yang mengikut pelatihan
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN SISWA TENTANG PENERAPAN PROTOKOL KESEHATAN 5M PADA MASA NEW NORMAL PANDEMI COVID-19 DI SMA STELLA GRATIA ATAMBUA
Latar Belakang: Covid-19 adalah sebutan untuk virus yang sedang mewabah di seluruh Dunia termasuk di Indonesia. Virus ini menyebabkan seseorang yang terjangkit dan mengalami penyakit yang bergejala ringan hingga berat. Penyebaran yang disebabkan oleh virus yang sangat cepat sehingga mampu memberikan dampak dan perubahan bagi segala sistem dalam kehidupan di dunia. Penyakit ini ditularkan melalui droplet (percikan) pada saat berbicara, batuk, dan bersin dari orang yang terinfeksi virus corona, selain itu penyakit ini juga dapat ditularkan melalui kontak fisik dengan penderita melalui jabat tangan, sentuhan wajah, mulut, hidung oleh tangan dan bagian tubuh yang terpapar virus corona. Tujuan: mengetahui gambaran tingkat pengetahuan siswa tentang protocol kesehatan 5M pada masa new normal pandemic covid-19 dalam bentuk penelitian. Metode Penelitian : jenis penelitian kuantitatif deskriptif dengan jumlah sampel 107 responden dengan teknit pengambilan sampel mengunakan purposif sampling. Hasil Penelitian: menunjukan bahwa dari 107 responden yang diteliti, diketahui bahwa tingkat pengetahuan siswa dalam penerapan protokol kesehatan 5M pada masa new normal pandemi covid-19 dengan kategori baik sebanyak 19 responden (17,8 %), kategori cukup sebanyak 33 responden (30,8 %) dan kategori kurang sebanyak 55 responden (51,4 %). Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar tingkat pengetahuan siswa dalam penerapan protokol kesehatan 5M pada masa new normal pandemi covid-19 di SMA Stella Gratia Atambua masih kurang
GAMBARAN PENGETAHUAN PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI) SISWI SMAN 3 HALIWEN
Latar Belakang: Kanker payudara sampai saat ini masih menjadi salah satu penyebab kematian di Indonesia. Deteksi awal kanker payudara dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada wanita.
Tujuan: Mengetahui gambaran pengtahuan siswi tentang SADARI
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan di SMAN 3 Haliwen Kab.Belu pada Bulan Januari 2024. Jumlah sampel sebanyak 50 orang siswi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling kuota. Intrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan SADARI. Analisis data menggunakan analisis univariat.
Hasil: Sebagian besar (68%) siswi di SMN 3 Haliwen memiliki pengetahuan yang kurang tentang SADARI. Informasi yang paling banyak belum diketahui oleh siswi antara lain waktu yang tepat untuk melakukan SADARI (72%), usia yang tepat untuk melakukan SADARI (66%).
Kesimpulan: Pendidikan kesehatan tentang SADARI perlu dilakukan pada siswi SMAN 3 Haliwe
UPAYA PENINGKATAN MAHASISWA BARU MELALUI SOSIALISASI DAN PROMOSI FAKULTAS EKONOMI PADA SISWA KELAS XII SMK NEGERI 2 SOE
Pendidikan merupakan bagian intergral, melalui Pendidikan setiap orang bisa belajar banyak hal, dan dapat mendapatkan karir yang lebih baik. Oleh Karena itu perguruan tinggi sebagai satuan Pendidikan yang menyelenggarakan Pendidikan tinggi memiliki peranan penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu merespon perubahan-perubahan global yang begitu cepat. Namun, masih terdapat siswa-siswi yang belum mengetahui dengan baik keinginan mereka melanjutkan Pendidikan di perguruan tinggi mana dan hendak memilih jurusan apa. Oleh karena itu, penting dilakukan sosialisasi dan promosi fakultas ini untuk mengenalkan dan memberikan pengetahuan kepada mereka tentang prodi manajemen dan prodi ekonomi pembangunan yang ada pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Timor. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini dalah sosialisasi dengan ceramah, tanya jawab dan diskusi. Kegiatan ini dilaksanakan pada SMK Negeri 2 Soe. Hasil kegiatan ini menunjukan sebanyak 64% siswa-siswi tertarik untuk melanjutkan Pendidikan pada FEB, Unimor. Harapannya hasil dari kegiatan ini dapat memberi sumbahsih pada peningkatan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unimor kedepannya
Variability of blood pressure, pulse pressure, and mean arterial pressure in hypertensive individuals
Background: Hypertension is a major risk factor for cardiovascular disease and remains a public health issue, particularly in areas with limited access to healthcare services, such as the Indonesia–Timor Leste border region. Blood pressure variability, pulse pressure (PP), and mean arterial pressure (MAP) are important indicators for assessing the risks of long-term complications.
Purpose: To determine the profile and variability of blood pressure, PP, and MAP among hypertensive individuals, as well as the relationship between sociodemographic characteristics and these parameters.
Method: A quantitative descriptive design with a cross-sectional approach was employed. Data were collected from 124 respondents through blood pressure measurements taken at three different time points. Mean systolic and diastolic blood pressure (SBP and DBP), PP, and MAP were analyzed, along with comparisons between measurement times and respondent characteristics.
Result: The mean systolic blood pressure (SBP) was 151.27 mmHg, and the mean diastolic blood pressure (DBP) was 89.86 mmHg, indicating that most participants fell into hypertension grade 1–2 categories. The mean PP was 61.43 mmHg and MAP was 110.32 mmHg, both exceeding normal thresholds, suggesting potential vascular complications. Significant fluctuations were found in SBP and PP between the second and third measurements (p=0.014 and p=0.032, respectively), while DBP and MAP remained relatively stable. No significant associations were found between sex, education level, or occupation with the blood pressure parameters.
Conclusion: Blood pressure was relatively high and tended to be stable between measurements, with significant variability in systolic and pulse pressures (p<0.05). Meanwhile, sociodemographic characteristics such as age, gender, education, and occupation did not show a significant association with blood pressure, PP, or MAP.
Suggestion: Hypertension control programs need to focus on an individualized approach with routine blood pressure monitoring using HBPM, stabilizing blood pressure variability, and improving patient education. Programs must also be tailored to sociocultural conditions and supported by simple digital technology for early detection in border communities
