1,720,981 research outputs found
Strategi Pengelolaan Ekosistem Mangrove Untuk Mendukung Perikanan Di Pesisir Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat
Mangrove merupakan salah satu sumberdaya alam yang mempunyai
peranan penting dalam memelihara keseimbangan antara ekosistem darat dan
ekosistem perairan. Eksosistem mangrove mempunyai sifat dan bentuk yang khas
serta mempunyai fungsi dan manfaat sebagai sumberdaya pembangunan baik
sebagai sumberdaya ekonomi maupun sumberdaya ekologi yang telah lama
dirasakan masyarakat yang hidup di sekitar wilayah tersebut. Mengingat fungsi dan
peranan ekosistem mangrove dalam mendukung kehidupan sangat tinggi, maka
ekosistem mangrove harus dikelola dan dimanfaatkan berdasarkan prinsip-prinsip
kelestarian fungsi ekologinya. Beberapa tahun terakhir ekosistem mangrove secara
terus menerus mendapat tekanan akibat berbagai aktifitas manusia. Laju
pertumbuhan penduduk yang tinggi membutuhkan berbagai sumberdaya guna
memenuhi kebutuhan hidupnya, namun dalam pemanfaatannya sering kali kurang
memperhatikan kelestarian sumberdaya tersebut. Kerusakan ekosistem mangrove
tersebut diawali dengan adanya degradasi luasan, degradasi jenis, konflik
kepentingan, eksploitasi dan pemanfaatan mangrove yang tidak sesuai dengan
fungsi dan tujuannya. Faktor utama penyebab kerusakan mangrove, yaitu: (1)
Pencemaran, (2) Konversi yang kurang memperhatikan faktor lingkungan
(Konversi ekosistem mangrove menjadi tambak merupakan faktor utama penyebab
hilangnya ekosistem mangrove di pesisir), dan (3) Penebangan yang berlebihan.
Potensi garis pantai pesisir utara Kabupaten Karawang cukup besar yaitu
sekitar 84,23 km, yang membentang di 9 (sembilan) kecamatan dengan luas
wilayah tambak ±18.000 hektar. Kabupaten Karawang memiliki potensi perikanan
tangkap yang cukup besar, dengan panjang pantai mencapai 84,23 km. Sedangkan
pada perikanan budidaya Kabupaten Karawang memiliki areal tambak seluas
18.273 hektar. Dengan potensi tersebut, produksi ikan di Kabupaten Karawang
diperkirakan mencapai 46 ribu ton per tahun, yang antara lain dihasilkan dari sektor
perikanan budidaya yang mencapai 38 ribu ton dan perikanan tangkap sebesar 7
ribu ton.
Hasil penelitian didapatkan kondisi ekosistem mangrove di pesisir Kabupaten
Karawang mengalami penurunan di tahun 1995 sampai dengan 2005 sebesar
17,96 %, akan tetapi mulai meningkat kembali di tahun 2005 sampai dengan 2015
sebesar 18,42 %. Ini kemungkinan diakibatkan 2 (dua) kondisi yang berbeda
dipengaruhi oleh besarnya konversi tambak karena mangrove dan seberapa besar
mangrove berkontribusi terhadap sumberdaya perikanan di kawasan tersebut.
Kondisi ini juga sejalan dengan kondisi mangrove di pantura Jawa Barat yang terus
meningkat pada saat ini dikarenakan pentingnya mangrove dalam menjaga fungsi
lingkungan hidup di wilayah pesisir, dengan banyaknya upaya untuk merehabilitasi
dan mengkonservasi mangrove. Jenis mangrove yang ditemukan dalam penelitian
ini adalah Rhizophora sp., Soneratia sp., Avicennia sp., dan Bruguiera sp.
Penelitian ini menunjukan Indeks Nilai Penting tertinggi pada tingkat pohon
ditemukan Rhizophora apiculata di stasiun 3 yaitu sebesar 195,17%, Indek Nilai
Penting tertinggi pada tingkat anakan ditemukan Rhizophora apiculata di stasiun 1
sebesar 170,02%, dan Indek Nilai Penting tertinggi pada tingkat semai ditemukan
Rhizophora apiculata di stasiun 3 sebesar 123,33%.
Sedangkan untuk hasil analisis luasan ekosistem mangrove yang ada di pesisir
karawang dengan hasil produksi perikanan selama 5 (lima) tahun kebelakang, baik
perikanan budidaya maupun perikanan tangkap terjadi perubahan yaitu pada
perikanan budidaya mengalami peningkatan sebesar 1% sedangkan pada perikanan
tangkap mengalami penurunan sebanyak 3%. Luas hutan mangrove berpengaruh
nyata dan positif terhadap produksi udang dan kerang namun tidak menunjukkan
pengaruh yang nyata terhadap total produksi perikanan tangkap dan budidaya.
Masyarakat di pesisir karawang sangat setuju bahwa; 1) Kawasan mangrove
di pesisir karawang saat ini perlu/penting untuk dikelola agar dapat lestari, 2)
Bentuk pengelolaan kawasan mangrove yang dilakukan harus melibatkan seluruh
penduduk setempat, 3) Perlu adanya kerjasama antara pemerintah dan penduduk
setempat dalam kegiatan pengelolaan kawasan mangrove.
Strategi pengelolaan ekosistem mangrove untuk mendukung perikanan di
pesisir Kabupaten Karawang di dapatkan alternatif strategi yakni
Konservasi/Rehabilitasi mangrove kemudian di ikuti dengan melakukan
Pengembangan Ekowisata, Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan dan
Pelatihan
Evolution and Viability of Asian Horseshoe Crabs Appear Tightly Linked to Geo‐Climatic Dynamics in the Sunda Shelf
Citation: Qian Tang, Akbar John, Yusli Wardiatno, Shin Nishida, Xiaoyong Xie, Siddhartha Pati, Handoko Adi Susanto, Sukree Hajisamae, Bryan Raveen Nelson, Wah Wah Min, Mohammad Eusuf Hasan, Tristan Salles, Yilin Chen, Yanhua Qu, Fumin Lei, Byrappa Venkatesh, Frank E. Rheindt, Evolution and Viability of Asian Horseshoe Crabs Appear Tightly Linked to Geo‐Climatic Dynamics in the Sunda Shelf, Conservation Letters, 18(1), 2024-12-16, https://doi.org/10.1111/conl.1307
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Perencanaan Pengelolaan Berbasis Zonasi Taman Wisata Perairan (TWP) Pulau Ay-Rhun Provinsi Maluku
Taman Wisata Perairan (TWP) Pulau Ay-Rhun, Kecamatan Banda Tengah, Provinsi Maluku merupakan salah satu Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Provinsi Maluku No. 388 tahun 2016 tentang Pencadangan Taman Wisata Perairan (TWP) Pulau Ay-Rhun, Kecamatan Banda Tengah, Provinsi Maluku. Kawasan konservasi tersebut harus berfungsi untuk melindungi seluruh ekosistem pesisir yang memerlukan sebuah rencana pengelolaan yang adaptif dan berkelanjutan. Sebagai sebuah alat manajemen, perencanaan membantu pengelola TWP Pulau Ay-Rhun untuk mengimplementasikan dan kemudian mengambil kebijakan sesuai dengan kewenangan yang ada. Sumberdaya, keterampilan dan sistem organisasi sangat diperlukan untuk memastikan keberhasilan dalam perencanaan pengelolaan TWP Pulau Ay-Rhun. Penelitian ini bertujuan untuk membuat desain rencana pengelolaan TWP Pulau Ay-Rhun melalui: (1) Menganalisis desain penataan zonasi TWP Pulau Ay-Rhun disusun melalui analisis target konservasi, Marxan dan Participatory Zoning; (2) Menganalisis kemampuan kelembagaan dalam mengelola TWP Pulau Ay-Rhun; dan (3) Memformulasikan prioritas rencana pengelolaan TWP Pulau Ay-Rhun yang adaptif dan berkelanjutan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus hingga November tahun 2018 dengan luas area kajian 47 968.74 Ha. Metode survei observasi dan Focus Group Discussion digunakan untuk mengumpulkan data primer. Metode analisis Conservation Action Plan (CAP) digunakan untuk menentukan target pengelolaan konservasi dan kemudian dianalisis secara spasial. Metode Analisis Marxan dan Participatory Zoning digunakan untuk penataan desain zonasi berdasarkan target konservasi yang telah dianalisis. Metode analisis Institutional Development Framework (IDF) untuk mengukur kemampuan lembaga dalam mengelola kawasan konservasi. Analisis terakhir menggunakan metode Analytical Network Process (ANP) untuk merumuskan prioritas pengelolaan kawasan konservasi. Target konservasi TWP Pulau Ay-Rhun meliputi terumbu karang, lamun dan area migrasi spesies dilindungi sehingga dicapai luasan minimum sebagai zona inti. Desain zonasi TWP Pulau Ay-Rhun terdiri dari zona inti seluas 960.48 Ha, zona Pemanfaatan untuk wisata bahari seluas 99.18 Ha dan zona perikanan berkelanjutan seluas 46 909.08 Ha. Desain tersebut telah memenuhi kebutuhan minimal 30% dari luasan habitat kritis dan memenuhi luasan minimal 2% dari total luas kawasan konservasi. Participatory zoning memberikan masukan yang lebih komprehensif dalam mendesain perencanaan kawasan konservasi dan sangat sesuai untuk di terapkan pada kawasan konservasi berukuran kecil dan sedang. Participatory zoning selain melengkapi komponen dalam penyusunan zonasi sekaligus dapat memverifikasi hasil analisis Marxan serta memberikan pilihan area terpilih sebagai zona inti untuk kawasan konservasi dengan luas perairan lebih besar dibadingkan luas daerah pesisir.
Kelembagaan pemerintah Provinsi Maluku memiliki kemampuan untuk mengelola TWP Pulau Ay-Rhun. Koordinasi dan komunikasi intensif dengan pemerintah desa dan mitra konservasi akan meningkatkan efektivitas pengelolaan terutama dalam perencanaan, implementasi, kualitas dan kuantitas SDM serta pendanaan. Fokus strategi prioritas peningkatan efektivitas TWP Pulau Ay-Rhun dilakukan melalui: 1) Optimalisasi pemanfaatan sesuai daya dukung; 2) pembentukan zonasi; 3) penyusunan kebijakan pengelolaan; dan 4) sosialisasi mengenai konservasi. Seluruh solusi prioritas lainnya disertakan dengan pertimbangan bahwa seluruh prioritas yang dikaji memiliki keterkaitan dan pengaruh langsung atau tidak langsung
Strategi Pengembangan Pengelolaan Akses Area Perikanan di Taman Wisata Perairan Kepulauan Anambas dan Laut Sekitarnya
Kawasan konservasi perairan Taman Wisata Perairan (TWP) Kepulauan Anambas memiliki zona inti yang tersebar di berbagai lokasi perairan Kepulauan Anambas, dua diantaranya berada di Teluk Mensabang, Desa Batu Belah, Kecamatan Siantan Timur. Ekosistem terumbu karang dan ekosistem laut lainnya di perairan Teluk Mensabang TWP Kepulauan Anambas merupakan habitat penting berbagai jenis ikan, terutama ikan-ikan yang berasosiasi dengan terumbu karang diantaranya ikan-ikan ekonomis penting. Efektivitas pengelolaan kawasan konservasi merupakan ukuran keberhasilan pengelolaan kawasan yang berdampak positif terhadap sumberdaya hayati dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Salah satu upaya peningkatan efektivitas tersebut TWP Anambas melakukan kemitraan dengan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan melalui program PAAP yang diimplementasikan di zona perikanan berkelanjutan dengan perjanjian kerjasama antara pengelola kawasan konserasi TWP Kepulauan Anambas dan masyarakat nelayan Desa Batu Belah.
Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) adalah pendekatan untuk pengelolaan perikanan berkelanjutan yang mengintegrasikan pendekatan konservasi berbasis masyarakat dengan manajemen spasial untuk memulihkan dan melindungi perikanan skala kecil di Indonesia. Dalam konteks pengelolaan kawasan konservasi, PAAP merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi perairan melalui kemitraan dengan masyarat di sekitar kawasan. Implementasi PAAP dalam kawasan konservasi perairan yang dilaksanakan pengelola kawasan konservasi sesuai Perdirjen PRL No. 03 tahun 2016 tentang Pedoman Pemanfaatan Zona Perikanan Berkelanjutan Kawasan Konservasi Perairan untuk Kegiatan Penangkapan Ikan oleh Masyarakat Lokal dan Tradisional. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan strategi pengembangan PAAP di TWP Kepulauan Anambas dan laut sekitarnya.
Penelitian dilaksanakan di Desa Batu Belah, PAAP Mensabang, TWP Kepulauan Anambas dan laut sekitarnya, Kecamatan Siantan Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau pada bulan Desember 2018 dengan mengambil data primer dan sekunder dari lembaga terkait. Metode Point Intercept Transect (PIT) dan Underwater Visual Census (UVC) digunakan untuk menganalisis data terumbu karang dan ikan karang. Analisis deskriptif dengan skala likert digunakan untuk mengkaji tingkat persepsi masyrakat dengan variabel pengetahuan masyarakat, penerimaan masyarakat, partisipasi masyrakat, dan kondisi lingkungan Teluk Mensabang. Analisis gap dilakukan untuk melihat implementasi PAAP yang telah dilakukan. Analytic Network Process (ANP) digunakan untuk mengidentifikasi masalah, solusi dan strategi terbaik untuk menjadi rekomendasi pengelola kawasan konservasi TWP Kepulauan Anambas.
Kondisi tutupan karang di lokasi pengamatan adalah 48.8% digolongkan dalam kondisi sedang atau cukup baik. Berdasarkan kategori kelompok ikan karang, hampir semua famili ikan karang ditemukan di perairan PAAP Mensabang dilihat
dari komposisi famili ikan karang, yaitu kelompok ikan indikator kesuburan ekosistem ditemukan famili Chaetodontidae, kelompok ikan mayor/ikan hias diwakili famili Pomacentridae dan Labridae, selebihnya berasal dari famili kelompok ikan target sebesar 46%, maka dapat dimaknai bahwa kondisi perairan sekitar PAAP cukup menjanjikan bagi nelayan dalam rangka pemanfaatan sumberdaya perikanan. Jumlah spesies yang dijumpai pada saat survei adalah sebanyak 64 spesies. Kelimpahan ikan pada tahun 2015 dan 2017 didominasi oleh famili Caesionidae disusul famili Siganidae, Lutjanidae, Serranidae dan Labridae. Famili ikan yang mempunyai biomassa tertinggi tahun 2015 dan 2017 adalah Caesionidae, kemudian Siganidae, Serranidae, Lutjanidae, Scaridae dan Acanthuridae.
Hasil analisis tingkat persepsi masyarakat nelayan Desa Batu Belah terhadap program PAAP diperoleh skor total sebesar 2483. Tingkat persepsi masyarakat terhadap program PAAP Mensabang secara keseluruhan berada dalam kategori sedang. Hasil skor persepsi terletak dalam nilai interval 1800-2699. Pengetahuan dan partisipasi masyarakat terhadap program PAAP berada dalam kategori persepsi di tingkat sedang, sementara penerimaan masyarakat terhadap program PAAP berada dalam kategori persepsi di tingkat tinggi. Persepsi masyarakat terhadap lingkungan perairan Teluk Mensabang dalam kondisi baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Diperlukan beberapa peningkatan dalam hal kapasitas manajemen, penciptaan kegiatan ekonomi, serta alokasi anggaran pemerintah untuk pemantauan dan pengawasan. Keterlibatan masyarakat dengan intensif dan komitmen kepemimpinan yang tinggi merupakan komponen kunci untuk mengubah perilaku masyarakat dan paradigma mereka mengenai perspektif konservasi dan pengelolaan sumberdaya pesisir secara umum.
Hasil analisis gap implementasi PAAP Mensabang di TWP Anambas berdasarkan teori hak kepemilikan sumberdaya berada pada strata memasuki, memanen, dan mengelola kawasan. Hasil analisis gap implementasi program PAAP di TWP Anambas berdasarkan delapan elemen indikator keberhasilan PAAP sudah berjalan dengan baik pada tahap fit dan parsial sebesar 91%. Kesesuaian fit dan parsial terdapat pada elemen 1-7 dan pada elemen 8 masih ada gap. Hasil gap rata-rata berdasarkan respon skala sebesar 2.52, dimana kondisi ideal > kondisi aktual yang artinya responden merasa kurang puas dengan kinerja pengelolaan.
Prioritas masalah tertinggi dalam program PAAP adalah tingkat intensitas pemanfaatan perikanan di wilayah PAAP yang masih rendah. Prioritas solusi tertinggi adalah peningkatan akses ke permodalan dan koperasi (credit union) dengan solusi pendanaan dari pemerintah (pusat/daerah) maupun lembaga non pemerintah (yayasan/LSM) merupakan faktor pendukung keberhasilan dalam praktik perikanan berkelanjutan di wilayah PAAP. Strategi pengembangan program PAAP yang memiliki nilai prioritas tertinggi adalah penguatan dan pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat pesisir dengan nilai kesepakatatan (Kendall’s coefficient of concordance) yang diperoleh dari narasumber (experts) adalah W=0.9, ini menujukkan bahwa tingkat kesepakatan antar narasumber cukup tinggi
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
