14 research outputs found

    PEMETAAN SEBARAN pH TAILING DENGAN METODE GEOSTATISTIK GUNA EVALUASI PENGAPURAN PADA DAERAH REKLAMASI TN 1.1 AIR LEKOK MAPUR PT TIMAH (PERSERO) TBK

    Get PDF
    Sebagai sisa kegiatan penambangan timah, tailing mengandung mineral-mineral seperti pirite (FeS2), marcasite (FeS2), dan galena (PbS) yang menyebabkan tanah menjadi asam. Rendahnya kadar asam (pH) menyebabkan tambang TN 1.1 Air Lekok Mapur tidak memiliki tanah lapisan atas yang subur. Oleh sebab itu, tailing yang digunakan sebagai media tanam perlu dinetralkan sebelum ditanami. Analisis sebaran pH tailing dan pengapuran yang telah dilakukan sebelumnya hanya pada kedalaman ± 20 cm. Analisa itu tidak cukup karena akar tanaman akan tumbuh lebih dalam lagi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan pH tailing pada kedalaman ± 20 cm dan ± 50 cm dengan dua metode analisis spasial yaitu Geostatistik Ordinary Kriging (OK) dan Deterministik Inverse Distance Weight (IDW). Hasil analisa statistik dan geostatistik diketahui bahwa penyebaran tingkat keasaman pada kedalaman ± 20 cm dan ± 50 cm tidak jauh berbeda. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengapuran perlu dilakukan sampai pada kedalaman ± 50 cm. As the residue of tin mining, tailings contained minerals such as pyrite (FeS2), marcasite (FeS2), and galena (PbS) that caused the soil become acidic. Therefore, TN 1.1 Air Lekok Mapur mine does not have good topsoil for growing plants. Consequently, before planting, the tailings must be neutralized. Previous analysis of the tailing pH and liming distribution was done only to the depth of ± 20 cm, which is not enough for plant’s roots to grow deeper over a period of time. The purpose of this research is to map tailing pH distribution at the depth of ± 20 cm and ± 50 cm using two methods of spatial analysis: Geostatistical Ordinary Kriging (OK) and Deterministic Inverse Distance Weight (IDW). The result of statistical and geostatistical analysis indicated that the spread of acidity level at the depth of ± 20 cm and ± 50 cm are not significantly different. Thus, it can be concluded that liming needs to be done to the depth of ± 50 cm

    OPTIMALISASI PENCAMPURAN BATUBARA UNTUK MEMENUHI KRITERIA PERMINTAAN PLTU DI PT.GORBY PUTRA UTAMA, MUSI RAWAS, SUMATERA SELATAN

    No full text
    Permintaan pengiriman batubara kepada konsumen sering mengalami tidak mencapai target kualitas. Batubara yang tidak mencapai target tersebut akan dikenakan penyesuaian harga dalam bentuk bonus atau penalty.Penelitian ini bertujuan mengetahui proporsi masing-masing batubara sebelum dilakukan blending, menentukan alur proses pencampuran batubara yang sesuai, dan merekomendasikan upaya dan teknis pencampuran batubara yang optimal untuk memenuhi target kualitas permintaan konsumen. Proporsi batubara berdasarkan perhitungan secara manual, kualitas hasil pencampuran dari perhitungan tersebut telah memenuhi spesifikasi kualitas permintaan konsumen, contohnya pada bulan januari untuk PLTU Tarahan proporsinya 1500 MT dengan ratio 20% untuk batubara jenis LA-HCV (A1-A2) dan 6000 MT dengan ratio 80% untuk batubara jenis HA-LCV (A3). Proses pencampuran batubara dilakukan dengan sistem stacking yang digunakan adalah chevron stacking atau yang sering dinamakan juga roof type stockpiling. Rekomendasi blending yang optimal antara lain laju kecepatan pada conveyor dan pembukaan lubang valve yang terkadang tidak sesuai dengan pengaturan operator interface station, serta penganalisaan kualitas batubara yang harus sesuai dengan SOP yang sudah tertera pada pengujian batubara tersebut agar pada saat pencampuran sesuai dengan kualitas-kualitas batubara yang di ambil dari masing-masing stockpile yang ada di PT. Gorby Putra Utama. Faktor - faktor tersebut harus diminimalisir guna mencapai target kualitas yang ditetapkan. Kata Kunci: Blending, Kualitas, Propors

    PENGARUH PENGGUNAAN BOTTOM ASH DRY DAN SLAG LIMBAH GASIFIKASI BATUBARA PADA PEMBUATAN BATAKO TERHADAP KUAT TEKAN

    Get PDF
    Proses gasifikasi batubara tidak mengubah batubara seluruhnya dari padatan menjadi gas melainkan meninggalkan sisa proses berupa padatan maupun cairan. Sisa proses padatan berupa bottom ash. Bottom ash jumlahnya tidak banyak, namun apabila dibiarkan di lingkungan, bisa mencemari lingkungan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian pemanfaatannya sebagai agregat pada  pembuatan batako. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fisik bottom ash dari reaktor gasifikasi Palimanan dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu bottom ash dry dan bottom ash slag. Secara kimia, komposisi abunya didominasi oleh SiO2 dan Al2O3 yang bisa dikaitkan dengan sifat pozzolan. Hasil analisis proksimat menunjukkan bahwa fixed carbon dari ash dry lebih tinggi yaitu 27,61 % ( nilai kalori 3131 kal/gram) sedangkan ash slag sebesar 0,74 % (nilai kalori 63,4 kal/gram). Pada penelitian ini dilakukan percobaan pembuatan batako berdasarkan ukuran butir, persentase bottom ash terhadap pasir dan lama waktu pengeringan. Berdasarkan ukuran butir bottom ash dry diketahui bahwa semakin beragam ukuran butir, kuat tekannya semakin tinggi, sedangkan slag tidak memberikan pengaruh yang besar. Berdasarkan persentase diketahui bahwa bottom ash dry memberikan pengaruh terhadap kuat tekan yaitu semakin sedikit jumlah bottom ash dry, maka kuat tekan semakin meningkat dengan hasil uji kuat tekan maksimum sebesar 43 kg/cm2 pada saat komposisi bottom ash dry sebanyak 25%. Untuk bottom ash slag tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap kuat tekan batako dan  hasil uji kuat tekan maksimum sebesar 47 kg/cm2 dengan komposisi bottom ash slag sebanyak 75%. Berdasarkan lama waktu pengeringan 5 dan 10 hari menunjukkan bahwa ada peningkatan kekuatan dari 0,5 - 3 kg/cm2. Kata kunci : Agregat, Bottom Ash, Batubara, Batako, Kuat Tekan Â

    Re Desain Pengaturan Peralatan Coal Getting Untuk Memenuhi Target Produksi Desember 2016

    Get PDF
    Kegiatan penambangan di site Muara Tiga Besar Utara  dilakukan melalui kerjasama dengan PT Pama Persada Nusantara sebagai kontraktor penambangan.  Menurut Rencana Kerja Kontraktor Paket 10-200.R2 target produksi batubara untuk bulan Desember 2016 sebesar 568.000 ton  ditambang dengan menggunakan tujuh fleet kombinasi dari tujuh excavator back hoe dan 36 dump truck Hino dengan total jam pakai alat 2.225,81 jam. Berdasarkan produktivitas alat yang diperoleh dari cycle time rata-rata alat di lapangan dan produktivitas alat yang diperoleh dari cycle time standar alat diketahui bahwa untuk memenuhi target produksi tersebut hanya diperlukan empat fleet. Setelah dilakukan perbaikan match factor terhadap peralatan coalgetting yang digunakan diperoleh bahwa untuk memenuhi target produksi berdasarkan pengaturan peralatan coalgetting rancangan menurut produktivitas alat yang diperoleh dari cycle time rata-rata alat di lapangan dan pengaturan peralatan coalgetting standar menurut produktivitas alat yang diperoleh dari cycle time standar alat hanya diperlukan total jam pakai alat sebanyak 1.560 jam dan 1.463 jam . Adapun biaya produksi untuk pengaturan peralatan coalgetting existing, pengaturan peralatan coalgetting rancangan, dan pengaturan peralatan coalgetting standar masing masing sebesar Rp 8.652.171.408,50; Rp 7.925.400.905,12; dan Rp 7.552.608.785,31. Pengaturan peralatan coalgetting yang paling tepat digunakan adalah pengaturan peralatan coalgetting rancangan karena hanya menggunakan empat fleet, jam jalan alat lebih sedikit, dan biaya operasi lebih murah. Meskipun pengaturan peralatan coalgetting standar hampir sama dengan pengaturan peralatan coalgetting rancangan, namun pengaturan peralatan coalgetting standar sulit diterapkan karena terdapat hambatan-hambatan yang pasti terjadi di lapangan sehingga membuat cycle time standar alat menjadi tidak tercapai. Kata Kunci: Produktivitas, Ketercapaian Produksi, Fleet, Jam Jalan Alat, Match Facto

    ¬¬¬ANALISIS PENGARUH KUALITAS BATUBARA UMPAN TERHADAP POTENSI SLAGGING PADA BOILER CIRCULATING FLUIDIZED BED (CFB) DI PLTU BANJARSARI 2 X 135 MW

    Get PDF
    Boiler merupakan bagian yang penting dalam sistem PLTU agar tercapainya penguapan yang baik untuk memutar turbin. Pembakaran untuk menghasilkan uap yang baik sangat dipengaruhi oleh kualitas batubara yang digunakan dan pengaturan temperatur pembakaran, karena kualitas batubara dan temperatur pembakaran yang tidak tepat dapat mengakibatkan terbentuknya terak pada dinding ataupun pipa boiler yang disebut slagging.Slagging tersebut bisa sangat berdampak pada operasional boiler, untuk mengetahui potensi slagging maka dilakukan analisis proksimat, analisis komposisi abu dan analisis ash fusion temperature sehingga didapat nilai slagging index. Analisis proksimat yang dilakukan menunjukkan kualitas batubara dengan rata-rata sebesar total moisture 31,50%, inherent moisture 13,98%, ash content 3,99%, volatile matter 43,11%, fixed carbon 38,92%, sulfur content 0,15% dan calorific value 4499,74 kcal/kg. Analisis komposisi abu menunjukkan komposisi abu batubara rata sebesar TiO2 (1,26%), SiO2 (10,21%), Al2O3 (5,91 %), Fe2O3 (42,85%), CaO (24,66 %), MgO (4,32%), SO3 (4,58%), Na2O (5,74%), dan K2O (0,49 %). Dan hasil dari analisis ash fusion temperature memiliki rata-rata sebesar initial deformation temperature 12924 ºC, softening temperature 1353,4 ºC, hemispherical temperature 1368,8 ºC, dan fluid temperature 1384,8 ºC. Nilai slagging index berdasarkan rasio asam basa didapatkan index slagging senilai 0,66 dan berdasarkan AFT didapatkan hasil sebesar 1307,7 °C. Dari perhitungan tersebut dinyatakan bahwa potensi terjadinya slagging tergolong sedang, sehingga dapat berdampak penurunan efisiensi panas, menurunnya energi di boiler dan tersumbatnya pipa pada boiler. Penanggulangan yang bisa dilakukan ialah melakukan sootblowing sebelum lapisan abu yang menempel pada pipa penghantar panas sampai mengganggu peforma dari dinding penghantar panas. Kata kunci: Slagging, Analisis proksimat, Ash Analisis, Ash Fusion Temperature, Slagging Inde

    ANALISIS PENGATURAN KERJA COAL MILL A UNIT 2 TERHADAP POTENSI SELF COMBUSTION BATUBARA PADA PLTU KEBAN AGUNG 2 X 135 MW PT CHD LAHAT, SUMATERA SELATAN

    Get PDF
    Pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar pada PLTU dalam penggunaannya melalui proses penghalusan ukuran dan proses pengurangan kadar air batubara pada CoalMill yang prosesnya menggunakan udara panas dari Primary Air Fan untukmengeringkan dan menghembuskan pulverized coal menuju ruang pembakaran. Batubara yang berukuran halus khususnya pulverized coal mempunyai kecenderungan untuk terbakar sendiri dan jika tercampur dengan udara pada kondisi tertentu memungkinkan terjadinya swabakar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiproses kerja Coal Mill, menganalisis parameter yang mempengaruhi kerja Coal Mill terhadap potensi terjadinya Self combustion, danmerekomendasikan pengaturan kerja Coal Mill untuk pencegahan terjadinya Self combustion.Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan data pada monitor distributed control system di central control room saat beban tinggi (130-135 MW), pengamatan pada Mill dan perhitungan aliran batubara, aliran udara, temperatur udara masuk dan temperatur keluar Mill. Adapun hasil penelitian didapat pengaturan jumlah aliran batubara masuk minimum 25,16 ton/jam dan maksimum 26,27 ton/jam, pengaturan jumlah aliran udara masuk minimum 64,8 ton/jam dan maksimum 73,44 ton/jam, dan pengaturan temperatur udara masuk 339,0 °C – 362,33 °C dengan temperatur udara keluar 65°C. Faktor penyebab terjadinya self combustion adalah tingginya kandungan volatile matter dari batubara, naiknya suhu pada Mill yang dikarenakan jumlah batubara yang terlalu sedikit atau jumlah udara yang terlalu banyak, tingginya temperatur udara masuk, serta terbakarnya rejected material pada pyrite hopper

    Evaluasi Pengelolaan Limbah Cair Batubara Distockpile Pt Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Dermaga Kertapati

    Get PDF
    Stockpile PT. Bukit Asam (Persero),Tbk Unit Dermaga Kertapati memiliki fungsi sebagai tempat penimbunan sementara batubara dan tempat kegiatan pemuatan batubara ke tongkang. Limbah cair batubara akan terbentuk selama  musim hujan. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi pembuatan stockpile basement, dimensi KPL, letak dan dimensi saluran drainase di stockpile serta mengetahui penyebab terbentuknya limbah cair batubara dan proses pengolahan limbah cair batubara yang dilakukan. Keadaan stockpile basement yang tidak rata serta tidak adanya penanganan khusus pada stockpile basement menyebabkan terbentuknya genangan air di stockpile. Penanganan khusus berupa pembuatan stockpile basement berbentuk cembung dan membuat saluran drainase di sekitar stockpile basement. Dimensi KPL B (32,76 m x 5,52 m x 2,44 m) dan KPL C (32,3 m x 5,7 m x 2,2 m) sudah mampu untuk menampung semua air limpasan yang berasal dari area stockpile. Letak saluran drainase sudah tepat, serta saluran drainase dengan dimensi 50 cm x 52 cm (saluran AC) dan 80 cm x 52 cm (saluran AB dan CD) sudah  mampu untuk mengalirkan air limpasan menuju KPL, hanya saja diperlukan perawatan rutin terhadap saluran drainase agar tidak terjadi penyumbatan. Limbah cair batubara berupa material batubara dalam air limpasan dan pencemaran berupa rendahnya pH limbah cair batubara serta adanya kandungan Fe, Mn dan TSS pada limbah cair batubara selama musim hujan disebabkan karena tererosinya material batubara oleh air hujan dan adanya kontak antara air, udara, dan mineral pengotor yang terikut pada batubara, seperti mineral sulfida. Pengolahan yang dilakukan dengan penaburan kapur tohor dan tawas pada limbah cair batubara sudah dapat dikatakan cukup berhasil, karena sudah dapat menetralkan pH dan menurunkan TSS serta kandungan Fe dan Mn pada limbah cair batubara, sehingga sesuai dengan target baku mutu air hasil pengolahan limbah cair batubara menurut Pergub Sumsel No. 8 tahun 2012

    SIMULASI KETEBALAN LUMPUR TERHADAP KESTABILAN LERENG AKTUAL DAN RENCANA DESAIN AKHIR PADA WASTE DUMP TAMBANG BATU HIJAU

    No full text
    Material-material yang terdapat pada waste dump mayoritas merupakan materialnon-ore (waste rock) dan ditempatkan juga material lumpur dibeberapa area. Lumpur merupakan tanah ekspansif yang memiliki kembang susut air yang ekstrim untuk itu perlu adanya analisis kestabilan lereng berupa nilai Faktor Keamanan (FK) yang diperoleh dari analisis kesetimbangan batas (limit equilibrium) dengan metode Morgenstern-Price dan Probabilitas Kelongsoran (PK) yang dalam perhitungannya menggunakan uji baik suai Kolmogorov-Smirnov. Mengingat Pit berada pada zona subduksi antara Eurasion dan Indo-Australia Plate maka perhitungan dilakukan pada worst case dengan melakukan analisis pendekatan pseudostatik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai FK dan PK dari lereng selanjutnya membandingkan nilai kestabilan lereng dengan hasil program geotech monitoring terhadap adanya penempatan lumpur secara aktual, menghitung nilai FK dan PK pada rencana desain akhir waste dump dan mengkorelasikan ketebalan lumpur terhadap nilai kestabilan yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lereng stabil pada kondisi aktual. Tidak terjadiperbedaan perhitungan antara analisis kestabilan lereng aktual dengan peralatan geotech monitoring. Lereng diprediksikan longsor pada simulasi lumpur 3,87 meter pada section A-A’ dengan FK=1,088 dan PK=3,5% dan section E-E’ dengan FK=1,068 dan PK=5,6%. Lereng diprediksikan mengalami longsor pada simulasi tebal lumpur 7,74 meter yaitu pada section A-A’ dengan nilai FK=0,0978 PK=63,6%, section B-B’ dengan nilai FK=1,06 PK=16,2%, section C-C’ dengan FK=1,043 PK=24,8%, dan section E-E’ dengan nilai FK=0,99 PK=57,3%. Lereng diprediksikan mengalami longsor pada simulasi tebal lumpur 11,62 meter yaitu yang terdapat pada section A-A’ dengan nilai FK=0,941 PK=87,3%, section B-B’ dengan nilai FK=0,915 PK=99,8%, section C-C’ dengan FK=0,864 PK=100%%, dan section E-E’ dengan nilai FK=0,915 PK=99,8%

    DESAIN SALURAN TERBUKA UNTUK LOKASI PENELITIAN UNDERGROUND COAL GASIFICATION (UCG) DI MUSI BANYUASINSUMATERA SELATAN

    Get PDF
    Sama seperti kegiatan penambangan pada umumnya, salah satu masalah yang harus ditangani dalam Underground Coal Gasufication (UCG) tanah adalah air hujan. Hal ini karena air yang masuk ke lokasi dapat mengganggu aktivitas pengembangan UCG. Walaupun tidak mempengaruhi produksi secara langsung, namun air yang menggenangi lokasi lambat laun akan menjadi masalah dalam kegiatan penelitian UCG ini. Penelitian dilakukan dengan metode pengambilan beberapa data berupa peta topografi dan curah hujan daerah penelitian. Setelah itu akan dilakukan analisis dan pengolahan data untuk mencari banyaknya debit air hujan yang masuk ke dalam catchment area. Luas catchment area ditentukan dengan bantuan software Map Info 9.0. Setelah mengetahui jumlah debit air, maka bentuk dan dimensi penampang untuk mengalirkan air hujan langsung menuju sungai dapat ditentukan sesuai dengan standar perencanaan saluran terbuka. Dari hasil analisis data curah hujan didapatkan besarnya debit air hujan yang masuk ke lokasi sebesar 0,26 m3/s dengan luas catchment area 14,73 ha. Desain dimensi penampang saluran terbuka dianjurkan secara teknis adalah luas potongan melintang (A) 0,86 m2, tinggi muka air (h) 0,4 m, lebar dasar saluran (b) 0,65 m, panjang keliling basah (P) 2,48 m, jari-jari hidrolis (R) 0,34 m, kemiringan talut 450dengan kemiringan saluran 0,035% serta tinggi jagaan 0,4 m dan lebar atas saluran 1,5 m

    KAJIAN TEKNIS PRODUKTIVITAS ALAT GALI MUAT BACKHOELIEBHERR R 996 PADA PENGUPASAN OVERBURDEN DI PIT JUPITER PT KALTIM PRIMA COAL

    Get PDF
    Kegiatan pengupasan overburden di Pit Jupiter PT Kaltim Prima Coal, menggunakan metode konvensional dengan rangkaian kerja backhoe dan dumptruck. Kombinasi kerja backhoe Liebherr R 996 dengan dumptruck Hitachi EUCLID EH4500. Total volume overburden yang harus dikupas direncanakan sebesar 31.792.056 bcm untuk penambangan 3.943.118 ton batubara sehingga stripping ratio direncanakan sebesar 8,06. Namun, pencapaian angka produktivitas rata-rata backhoe Liebherr R996 hanya sebesar 1.563,96 bcm/jam berada dibawah targetproduktivitas yang direncanakan sebesar 2.000 bcm/jam.Pengkajian faktor-faktor teknis yang berpengaruh terhadap alat gali muatbackhoe Liebherr R 996 di area pemuatannya terus dilakukan di lapangan selama penelitian. Kemudian, perolehan data dihimpun, diolah, dan disajikan dalam bentuk tabel dan besaran produktivitas. Data faktor-faktor teknis yang tidak ideal diolah lebih lanjut, kemudian hasilnya dituangkan dalam bentuk diagram Pareto. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa persentase faktor-faktor teknis yang berpengaruh terhadap rendahnya produktivitas backhoe Liebherr R 996, diantaranya manajemen supervisi dibawah 30 menit 20,00%, waktu pemuatan yang tinggi 19,23%, single front loading 15,38%, bench yang rendah 13,08%, usage yang rendah 7,69%, area pemuatan yang sempit 6,92%,dan hard digging 5,38%. Setelah dilakukan langkah perbaikan dengan salah satu alternatif solusi, yaitu mempercepat waktu edar backhoe maka angka produktivitas rata-rata backhoe Liebherr R 996 meningkat menjadi 2.050,96 bcm/jam
    corecore