Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Not a member yet
    290 research outputs found

    PENIMBUNAN MATERIAL LUNAK DENGAN METODE SALURAN (CHANNEL DUMP) PADA AREA PENAMBANGAN PIT PQRT SITE LATI MINE OPERATION PT. BERAU COAL

    No full text
    Lati Mine Operation (LMO) merupakan salah satu site penambangan yang dimiliki oleh PT. Berau Coal. Total volume produksi LMO pada tahun 2021 adalah 130.7 Juta Bcm. Kegiatan penambangan site LMO pada tahun 2021 memiliki tantangan besar dengan kehadiran material rawa dan bekas disposal (redisturb) sebesar 31 Juta Bcm yang mengakibatkan kurangnya blending ratio antara material blasting dan material rawa. Berdasarkan perencanaan awal, kebutuhan blending ratio untuk proses penimbunan dan layering sebesar 1:3.55 namun hanya terkomodir sebesar 1:2.44 dengan metode penimbunan yang dilakukan sekarang. Penimbunan material rawa dan redisturb melalui metode saluran (channel dump) ke void PQRT merupakan salah satu improvement yang dilakukan untuk menanggulangi kekurangan blending ratio. Lintasan saluran dibuat dengan beda tinggi 55 meter dan sudut 35 derajat yang dialiri dengan air. Dengan kehadiran metode channel dump, proses penimbunan material rawa dan redisturb dapat dilakukan tanpa dibutuhkannya material blasting sebagai material layering. Dampak channel dump juga secara langsung berhasil mereduksi jarak hauling overburden sebesar 1,068 meter dan mengurangi waktu disposal repair hingga 5 menit/hari. Pembuatan geometri desain channel dump dilakukan dengan pendekatan konsep hukum newton dan gaya gesek untuk memastikan material rawa yang ditimbun pada saluran dapat meluncur secara optimal. Selain dari aspek tersebut, pembuatan desain channel dump dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan aspek geoteknik, safety, dan infrastruktur sehingga aktivitas penimbunan dapat berjalan aman dan target operasional dapat tercapai

    PENENTUAN KONDISI KESTABILAN TIMBUNAN PIT MENGGUNAKAN PRISMA BERDASARKAN NILAI AMBANG BATAS LAJU PERGERAKAN RELATIF HASIL UJI BALIK

    No full text
    Pemantauan pergerakan lereng menggunakan pengamatan prisma merupakan salah satu metode sederhana yang digunakan dalam kegiatan tambang terbuka untuk menentukan kondisi kestabilan lereng timbunan. Metode pemantauan ini dapat memberikan data pergerakan vertikal maupun horizontal yang menghasilkan total vektor, besaran pergerakan, dan laju pergerakan timbunan secara relatif terhadap waktu pengambilan data. Secara umum, kondisi kestabilan lereng dapat diinterpretasi melalui kurva antara total pergerakan timbunan terhadap waktu pengambilan data. Namun setiap individu yang memiliki pengalaman geoteknik berbeda memungkinkan menghasilkan interpretasi yang berbeda. Sehingga studi ini dilakukan untuk dapat mengkuantifikasi kondisi kestabilan lereng melalui kurva laju pergerakan timbunan secara relatif terhadap waktu pengambilan data. Melalui analisa uji balik terhadap kejadian longsor pada timbunan inpit di Pit ABC, yang memiliki rekaman data pembacaan prisma mulai dari kondisi stabil sampai pada kondisi pasca-longsor, didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa kuantifikasi nilai kecepatan pergerakan relatif terhadap data dua hari sebelumnya (48jam) dapat dijadikan acuan dalam menentukan k

    TOP SOIL USAGE EFFICIENCY UP TO 73% WITH THE IMPLEMENTATION OF GROOVE SYSTEM AT LIMESTONE MINE RECLAMATION AREA PT SEMEN INDONESIA (PERSERO) TBK

    No full text
    Based on Law Number 3/2020, Good Mining Practice’s criteria are mining safety provisions, environmental management, and monitoring, including reclamation and post-mining activity, conservation of minerals and coal, and management of mine waste before being released into the environment. Directorate General of Mineral and Coal state's Strategic plan reclamation target for 2021 is 7.025 hectares and 7.050 hectares in 2022. PT Semen Indonesia, as one of the mining companies, is committed to supporting the reclamation target as stated in their Yearly Land Reclamation Plan. Mine floor reclamation on limestone quarry was generally performed using top soil spreading which cost up to 3,000 m3 of top soil per hectare area. Whereas top soil availability on site is limited. As a result, the existing top soil reserve could not fulfill the needs of reclamation to cover entire mining floor. The practice of Spreading Method depletes reserved top soil, causes excessive planting media preparation and revegetation cost. This challenging condition encourages PT. Semen Indonesia to innovate to suppress reclamation cost without reducing the success rate. The company concluded that Groove Planting System could reduce both top soil transport cost and revegetation cost, even increase the survival rate of the trees. This method reduced up to 2,200 m3 of top soil usage per hectare area, reduced top soil hauling cost, reduced tree planting and treatment, even increased the success rate of reclamation. With this innovation, company could suppress reclamation cost without sacrificing reclamation quality. Benefits emerging from Groove System Implementation include; Reduced top soil volume usage for reclamation up to 73%; Reduced revegetation cost up to 49% or IDR 66,794,354/ha; Cost efficiency of planting media preparation up to IDR 168,000,000/ha; Increased tree survival rate up to 100%; Regulation mandate compliance of Post Mining Reclamation; Best practice pioneer of Post Mining Reclamation using Groove System

    ALGORITMA PERENCANAAN TATA KELOLA AIR

    No full text
    Salah satu prinsip dalam tata kelola air tambang batu bara terbuka adalah kontrol kuantitas air. Konfigurasi desain kolam optimal yang diterapkan terdiri atas embung kering sebagai kolam detensi untuk kontrol debit dan kolam labirin untuk pengolahan kualitas air. Sumber air yang akan diolah pada kolam pengendap berasal dari limpasan air permukaan (run off) yang muncul ketika terjadi hujan (event flow). Selain itu terdapat aliran dasar (base flow) yang berasal dari pompa pit (dewatering pump) dan aliran natural yang alirannya cenderung bersifat terus menerus (continuous flow). Pada pemodelan hidrograf, perhitungan aliran dasar dipisahkan dengan aliran limpasan. Pemisahan perhitungan berdasarkan karakteristik aliran akan memberikan ruang lebih untuk mengakomodasi volume air dari bangkitan event flow, terutama pada kondisi hujan yang terjadi berulang pada hari berikutnya. Penerapan metode ini pada simulasi lebih menggambarkan kondisi faktual. Kontrol debit harus mempertimbangkan besaran continuous flow, kemampuan kapasitas kolam kontrol debit yang bisa dibangun, dan kapasitas instalasi pengolahan kualitas air. Kapasitas outlet harus mempertimbangkan continuous flow untuk dapat secara langsung dikeluarkan dari sistem kolam detensi. Hasil dari simulasi perhitungan menunjukkan bahwa tinggi muka air pada intake saluran akan cepat kembali normal pada kejadian hujan dan debit yang timbul akibat hujan susulan dapat ditangani

    KEMUDAHAN PENIMBANGAN UNIT ANGKUT TANPA BERHENTI DENGAN TEKNOLOGI WEIGH-IN-MOTION (WIM)

    No full text
    Tantangan besar perusahaan pertambangan batubara dalam meningkatkan volume produksi adalah pengelolaan jalur rantai pasokan batubara dari hulu ke hilir yang lebih efektif dan efisien serta meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja. Dalam menjalankan operasional pengangkutan batubara, PT Borneo Indobara (BIB) bekerjasama dengan 10 BUMDES lingkar tambang binaan CSR dengan jumlah armada Dump Truck (DT) sebanyak 850 unit, sehingga saat ini pembayaran jasa angkut mitra kerja harus dipisahkan dengan cara penimbangan masing-masing unit pada jembatan timbang statik (WB). Seiring dengan peningkatan produksi BIB, frekuensi kegiatan penimbangan DT kapasitas 28 Ton ini menjadi sangat tinggi yaitu mencapai 3500 – 4000 kali penimbangan per hari sehingga menyebabkan kerap terjadinya antrian unit, serta perbaikan WB akibat frekuensi penimbangan yang melebihi spesifikasi WB yaitu 250 kali penimbangan per hari. Disamping itu, BIB juga mulai menggunakan 31 unit alat angkut yang lebih besar yaitu Single Semi-Trailer Door Tipper (SDT) kapasitas 90 ton Double Semi-Trailer Door Tipper (DDT) dengan kapasitas 2 x 90 Ton, namun saat ini SDT & DDT tidak dapat ditimbang dikarenakan keterbatasan kapasitas dan dimensi WB statik BIB. Berdasarkan KEPMEN ESDM No.1827 K/30/MEM/2018, Bab E mengenai Kegiatan, Poin 4, dijelaskan bahwa penerapan teknologi baru dapat dilakukan untuk kegiatan usaha pertambangan. Weigh-In-Motion (WIM) merupakan salah satu transformasi proses dalam operasional coal chain BIB yang memungkinkan penimbangan truk dilakukan dalam kondisi bergerak, tanpa perlu berhenti seperti penimbangan truk pada WB Statik. Dengan teknologi WIM yang menimbang kendaraan per axle, tidak ada batasan panjang kendaraan yang ingin ditimbang sehingga kendaraan seperti Double Trailer, Triple Trailer, bahkan Road Train dapat diketahui beratnya. Beberapa keunggulan teknologi WIM dibanding WB statik adalah memiliki kapasitas beban yang lebih tinggi, tidak ada keterbatasan frekuensi penimbangan harian, fleksibel untuk berbagai dimensi panjang truk, durasi penimbangan 3x lebih cepat, serta nilai investasi dan biaya perawatan yang lebih rendah. Disamping itu, WIM juga dilengkapi teknologi RFID untuk otomatisasi pembacaan nomor lambung truk sehingga tidak diperlukan pencatatan manual oleh pengawas, serta dilengkapi teknologi CCTV snapshot sebagai informasi pendukung untuk validasi setiap penimbangan. Dengan menerapkan WIM, kapasitas penimbangan BIB meningkat dari 180 DT per jam menjadi 540 DT per jam atau 60 DDT per jam menjadi 180 DDT perjam, serta rata-rata biaya perawatan WIM lebih rendah 90% dibandingkan perawatan WB Statik ukuran DDT

    REDUKSI SPILLAGE MATERIAL DENGAN METODE TIE UP CHANGING DESIGN PADA KEGIATAN PELEDAKAN PT AGINCOURT RESOURCES

    No full text
    Dalam metode penambangannya PT Agincourt Resource menggunakan kegiatan peledakan untuk pembongkaran ore & waste material sebelum dimuat dan diangkut. Kegiatan peledakan menggunakan bahan peledak emulsi dengan menggunakan detonator non-electric (nonel). Seiring dengan kegiatan peledakan pada masing-masing Pit, yaitu Purnama, Barani dan Ramba Joring terdapat materal tumpahan atau spillage akibat dari adanya lemparan hasil blasting sendiri ke sisi jurang atau punggungan bukit. Material tumpahan ini akan berpotensi mengakibatkan pengurangan jumlah volume material yang akan diperoleh, sehingga menurunkan ore yang akan ditambang. Dari ketiga pit aktif ini sumber utama ore yang dikirimkan ke pabrik paling besar berasal dari pit Purnama sehingga aktifitas peledakan dan penggalian serta pengangkutan secara frekuensi juga akan lebih banyak di Pit Purnama. Dengan kondisi ini tercatat sepanajang tahun 2019 - 2021 terdapat penambahan material tumpahan sebesar 44,424 bcm. Agar dapat mengurangi tumpahan material akibat peledakan, PT Agincourt Resources mengimplementasikan perubahan delay tie up pada kegiatan peledakan. Dua baris lubang ledak di sisi jurang diperlambat waktu tunggunya untuk meminimalisir lemparan yang mengarah ke arah jurang agar terdapat freeface yang tidak mengarah ke jurang. Dengan implementasi perubahan delay tie up tersebut diperoleh mengurangi ore spillage sebesar 5-10%. Hal ini tentunya juga akan sebanding dengan kenaikan recovery ore sebesar ± 1%

    ANALISIS POTENSI DAN ARAH STRATEGI KEBIJAKAN LOGAM TANAH JARANG DI INDONESIA

    No full text
    Sumber daya logam tanah jarang (LTJ) merupakan material kritis dunia karena dinilai memiliki prospek strategis di masa depan. Proyeksi kebutuhan akan LTJ di dunia meningkat seiring dengan pengembangan energi hijau atau energi yang bersifat lebih ramah lingkungan. Dalam pemenuhan kebutuhan teknologi tinggi tersebut, keterdapatan LTJ berpotensi menjadi mineral kritis dunia. Mineral didefinisikan sebagai kritis jika memiliki kepentingan ekonomi yang tinggi dan pasokannya dikaitkan dengan risiko yang signifikan. Pada dasarnya, LTJ merupakan kumpulan dari 17 unsur kimia pada tabel periodik yang terdiri dari 15 unsur kelompok lanthanida ditambah dengan yttrium dan scandium. Istilah “jarang†pada logam tanah jarang mengacu pada kehadiran yang “tidak umum dijumpai†karena jumlahnya yang terbatas. Dalam periode 2011-2019, beberapa negara termasuk Indonesia berhasil mengidentifikasi keberadaan sumber daya LTJ. BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) memperkirakan terdapat potensi 1,5 miliar ton bijih cadangan LTJ yang tersebar di Indonesia, meliputi: Bangka Belitung, Kalimantan, Kepulauan Riau, Sulawesi, Jawa Barat, dan Papua. Namun pada realisasinya, Indonesia belum menetapkan definisi dan daftar mineral kritis sebagai sumber daya strategisnya, termasuk LTJ. Sehingga membuat negara Indonesia belum diakui memiliki komoditas mineral kritis yang berpotensi ekonomis untuk dikembangkan. Hal tersebut dikarenakan belum adanya eksplorasi yang sistematis untuk keterdapatan LTJ di Indonesia. Sejalan dengan UU Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang pengembangan dan peningkatan nilai tambah kegiatan usaha pertambangan, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi keterdapatan LTJ serta menentukan arah strategi kebijakannya. Riset ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan analisis metode kualitatif yang menjelaskan mengenai peluang potensi LTJ dengan implementasinya pada peningkatan nilai tambah. Hasil penelitian menunjukkan beberapa rekomendasi kebijakan, di antaranya: 1) perlu dilakukan kegiatan eksplorasi yang berfokus pada greenfield/ wilayah-wilayah baru yang belum pernah dijamah, 2) penerapan teknologi informasi untuk menjaga kerahasiaan data dan informasi eksplorasi, 3) penerapan kewajiban pembatasan ekspor produk yang belum dilakukan pemurnian, 4) merumuskan kebijakan iklim investasi yang lebih fleksibel, 5) menentukan langkah CSR di daerah prospek. Di samping itu, faktor kunci keberhasilan eksplorasi yang sistematis pada penemuan potensi LTJ ini tentunya sangat membutuhkan dukungan sinergi dari berbagai pihak seperti pemerintah, universitas, lembaga penelitian, perusahaan tambang termasuk BUMN maupun swasta, dan organisasi profesi seperti Perhapi dan MGEI-IAG

    ANALISIS PENGARUH LAJU PEMBEBANAN TERHADAP KUAT TEKAN UNIAKSIAL BATU GAMPING DAN BATU PERIDOTIT

    No full text
    Penelitian ini menggunakan dua jenis sampel batuan yaitu sampel batu gamping yang diambil di PT. Diamond Alfa Propertindo, Kecamatan Mawasangka Tengah, Kabupaten Buton Tengah dan sampel batu peridotit yang diambil di PT. Karyatama Konawe Utara (KKU), Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh laju pembebanan terhadap kuat tekan uniaksial batu gamping dan batu peridotit. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu uji kuat tekan uniaksial (UCS), yang merupakan uji untuk menentukan kekuatan batuan di bawah satu komponen tegangan (uniaksial). Sampel yang akan digunakan pada pengujian ini berbentuk silinder yang akan ditekan sampai sampel batuan tersebut mengalami keruntuhan dengan menggunakan mesin tekan (Compression Machine). Jumlah sampel yang digunakan yaitu 6 sampel (3 sampel batu gamping dan 3 sampel batu peridotit) kemudian akan di uji kuat tekan uniaksial dengan laju pembabanan 15000 KPa/s (15 MPa/s), 30000 KPa/s (30 MPa/s) dan 50000 KPa/s (50 MPa/s). Hasil penelitian dari uji kuat tekan uniaksial pada batu gamping dengan kode sampel SG 1 memiliki nilai tertinggi yaitu 4,78 MPa, sedangkan SG 2 dan SG 3 memiliki nilai 4,01 MPa dan 3,82 MPa. Untuk kuat tekan uniaksial batu peridotit nilai yang paling tinggi dimiliki oleh sampel dengan kode SP 1 yaitu 2,73 MPa, sedangkan sampel dengan kode SP 2 memiliki nilai 2,43 MPa dan SP 3 memiliki nilai sebesar 2,12 MPa. Berdasarkan hasil analisis laju pembebanaan terhadap nilai kuat tekan uniaksial pada batu gamping dan batu peridotit diperoleh bahwa laju pembebanan mempengaruhi nilai kuat tekan uniaksial dan memiliki hubungan yang bersifat kebalikan atau negatif dimana seiring dengan dinaikkan laju pembebanan maka nilai kuat tekan uniaksial batu gamping dan batu peridotit menurun.Penelitian ini menggunakan dua jenis sampel batuan yaitu sampel batu gamping yang diambil di PT. Diamond Alfa Propertindo, Kecamatan Mawasangka Tengah, Kabupaten Buton Tengah dan sampel batu peridotit yang diambil di PT. Karyatama Konawe Utara (KKU), Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh laju pembebanan terhadap kuat tekan uniaksial batu gamping dan batu peridotit. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu uji kuat tekan uniaksial (UCS), yang merupakan uji untuk menentukan kekuatan batuan di bawah satu komponen tegangan (uniaksial). Sampel yang akan digunakan pada pengujian ini berbentuk silinder yang akan ditekan sampai sampel batuan tersebut mengalami keruntuhan dengan menggunakan mesin tekan (Compression Machine). Jumlah sampel yang digunakan yaitu 6 sampel (3 sampel batu gamping dan 3 sampel batu peridotit) kemudian akan di uji kuat tekan uniaksial dengan laju pembabanan 15000 KPa/s (15 MPa/s), 30000 KPa/s (30 MPa/s) dan 50000 KPa/s (50 MPa/s). Hasil penelitian dari uji kuat tekan uniaksial pada batu gamping dengan kode sampel SG 1 memiliki nilai tertinggi yaitu 4,78 MPa, sedangkan SG 2 dan SG 3 memiliki nilai 4,01 MPa dan 3,82 MPa. Untuk kuat tekan uniaksial batu peridotit nilai yang paling tinggi dimiliki oleh sampel dengan kode SP 1 yaitu 2,73 MPa, sedangkan sampel dengan kode SP 2 memiliki nilai 2,43 MPa dan SP 3 memiliki nilai sebesar 2,12 MPa. Berdasarkan hasil analisis laju pembebanaan terhadap nilai kuat tekan uniaksial pada batu gamping dan batu peridotit diperoleh bahwa laju pembebanan mempengaruhi nilai kuat tekan uniaksial dan memiliki hubungan yang bersifat kebalikan atau negatif dimana seiring dengan dinaikkan laju pembebanan maka nilai kuat tekan uniaksial batu gamping dan batu peridotit menurun

    Back Cover

    No full text

    OPTIMALISASI DISPOSAL PADA AREA RAWA SANGAT LUNAK DAN JENUH AIR, TAMBANG GURIMBANG, PT. BERAU COAL

    No full text
    OPD West adalah salah satu Out-Pit Dump (OPD) di Gurimbang Mine Operation (GMO), PT Berau Coal, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Karakteristik lokasi OPD West merupakan area material rawa dengan kandungan air yang sangat tinggi dan ditumbuhi oleh vegetasi yang lebat. Berdasarkan soil investigation dengan metode uji Standard Penetration Test (SPT) dan CPTu, diketahui terdapat rawa sangat lunak (Very soft clay) dengan ketebalan 19.5 m dan kandungan air 89%. Dengan karakteristik material rawa tersebut, proses penimbunan di area ini akan memicu pergerakan rawa dan timbunan (heaving dan settlement) serta menginisiasi terjadinya banjir lumpur (flood flow) jika tidak diantisipasi sejak dini. Lokasi OPD West ini tidak terlalu jauh dari jalan umum (±500 m) sehingga kegagalan geoteknik dan hidrologi yang terjadi selain berdampak terhadap aspek keselamatan, lingkungan, dan produksi juga akan berdampak kepada isu eksternal dan citra perusahaan. Sehingga dibutuhkan perencanaan dan penanganan yang tepat untuk meminimalisir potensi dampak penimbunan di area rawa tersebut. Pengendalian yang dilakukan yaitu dengan melakukan manajemen air permukaan dengan membuat paritan dan jaring darinase untuk mengarahkan aliran dan meniriskan kandungan air rawa kemudian rekayasa tahapan penimbunan untuk meminimalisir pergerakan rawa. Selama proses penimbunan dilakukan evaluasi dan monitoring geoteknik dan hidrologi secara kontinyu. Upaya pengendalian yang dilakukan berhasil meminimalisir potensi pergerakan rawa dan timbunan serta banjir lumpur sehingga proses penimbunan berjalan aman dan sesuai target yang direncanakan

    0

    full texts

    290

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇