Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Not a member yet
    290 research outputs found

    PERENCANAAN COUNTERWEIGHT UNTUK MITIGASI PASCA LONGSOR DI SIDE WALL PIT C2, SAMBARATA MINE OPERATION, PT BERAU COAL

    No full text
    Kegiatan pertambangan membutuhkan perencanaan desain tambang yang baik karena berkaitan dengan faktor keselamatan dan keuntungan produksi. Perhitungan faktor keamanan memiliki variabel acak yang menyebabkan ketidakpastian sehingga menimbulkan kegagalan desain. Salah satu variabel acak yang dapat menyebabkan kegagalan pada lereng adalah keberadaan struktur seperti yang terjadi di side wall Pit C2, Sambarata Mine Operation (SMO), PT Berau Coal.Terdapat 3 joint mayor yang memotong permukaan arah umum lereng sehingga terjadi longsor dengan tipe flexural toppling. Longsor ini terjadi karena keberadaan struktur yang tidak dapat diperhitungkan oleh perangkat lunak (slide) yang hanya mampu menghitung nilai faktor keamanan lereng secara keseluruhan tanpa memperhatikan keberadaan struktur. Longsor ini harus segera ditangani sehingga tidak menghambat kegiatan operasional pertambangan. Jika longsor ini tidak ditangani, maka longsor ini dapat mengakibatkan kerugian sekitar 305 Metrik Ton dan meningkatkan nilai stripping ratio dari 9.49 menjadi 9.57 sehingga perlu adanya mitigasi pasca longsor. Counterweight merupakan salah satu metode mitigasi pasca longsor. Pembuatan counterweight ditujukan seabgai penahan di kaki lereng. Pembuatan counterweight dilakukan berdasarkan analisis geoteknik seperti pengujian laboratorium dan analisis kestabilan lereng. Berdasarkan hasil pengujian sampel, dapat diketahui bahwa material yang digunakan adalah material fresh blast dengan nilai berat jenis 19 kN/ð‘šð‘š3, kohesi 65 kPa, dan nilai sudut gesek dalam 20°. Pembuatan counterweight dibagi menjadi tiga tahapan sesuai dengan hasil dari analisis kestabilan lereng, dimulai dari pembuatan akses hingga pengisian material dari elevasi (-40) m hingga elevasi (-20) m. Nilai faktor keamanan yang ditunjukkan selama proses pembentukan counterweight tiap tahap hingga ke tahap akhir menunjukkan nilai di atas 1,3 yang menunjukkan bahwa lereng tersebut stabil. Namun dalam pembentukannya, tetap dibutuhkan pemantauan baik itu terhadap aspek geoteknik maupun dalam teknis pembentukannya sehingga desain counterweight yang terbentuk sesuai dengan desain yang diharapkan

    PEMANFAATAN SLURRY PUMP UNTUK PENGANGKUTAN LUMPUR DAN PROSES EKSPOSE BATUBARA DI AREA LOWEST POINT STUDY KASUS AREA SUMP KB4, PIT KG BAWAH PT. BORNEO INDOBARA

    No full text
    Salah satu konsekuensi penerapan metode tambang permukaan pada tambang batubara adalah adanya area terendah (lowest point) yang berfungsi sebagai area tampungan air di dalam pit. Air larian dari hujan akan membawa material sedimentasi yang apabila terjadi dalam jangka waktu lama akan terakumulasi menjadi sedimentasi cair dalam bentuk lumpur dengan jumlah banyak yang terkumpul di area lowest point tersebut. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi operasional tambang saat di area lowest point yang tertutup lumpur tersebut masih terdapat cadangan batubara yang belum sempat diangkut karena sequence penambangan atau karena cuaca yang dominan hujan seperti yang terjadi di tahun 2021-2022 di area PT Borneo Indobara, salah satu perusahaan tambang batubara di kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Pit KG Bawah terletak di Blok Timur Konsesi PT Borneo Indobara. Lowest point Pit KG Bawah dinamakan sump KB4 yang berada pada elevasi -90 mdpl (elevasi lumpur di -71 mdpl dan elevasi airnya di -68 mdpl), dengan estimasi volume sump sebanyak 3,44 juta m3 dengan batubara yang belum di angkut di bawahnya sebanyak 3,35 juta ton. Untuk mengekspose batubara dibawah lumpur tersebut apabila mengandalkan metode standar yaitu pemompaan dengan water pump dan loading lumpur menggunakan metode truck and shovel sekelas PC-2000 & HD-785 yang produktivitasnya hanya sekitar 350 – 450 m3/jam saja (belum memperhitungkan material blending), akan meningkatkan biaya maintenance jalan, dan tentu saja akan menambah resiko keselamatan karena jalan licin akibat tumpahan lumpur. Hal tersebut menjadikan metode truck and shovel menjadi sangat tidak efisien dan memerlukan waktu serta biaya yang tinggi. Selain itu proses pemompaan air dari sump ke sediment pond berpotensi terganggu karena TSS yang tinggi di sump Pit KG Bawah. Oleh karena itu, pemanfaatan slurry pump menjadi alternatif yang akan dipaparkan dalam makalah ini. Komponen slurry pump yang digunakan di Pit KG bawah terdiri dari 2 (dua) unit Dredger Eddy Pump, 5 (lima) unit Booster Pump, 10 (sepuluh) unit Slurry Tank, 6 km Flexible Hose dan HDPE serta 5 (lima) tank fuel storage dan Sludge Flow meter. Output dari pemompaan dengan slurry pump tersebut adalah sudah terpindahkannya lumpur di sump KB4 sebanyak 1,0 juta m3 (periode Agustus 2021 – Juni 2022) dan batubara yang sudah terangkut ke pelabuhan sebanyak 2,01 juta ton. Perbandingan biaya operasional antara pengangkutan lumpur dengan slurry pump dan metode konvensional dengan jarak buang 5,9 km adalah metode konvensional 2,1 kali lebih mahal dibanding metode slurry pump (metode slurry pump Rp 89,01 Miliar dan metode konvensional Rp 187,26 Miliar). Selain itu resiko keselamatan di jalan tambang dan TSS di sediment pond juga bisa diminimalisir

    KARAKTERISASI PASIR KUARSA DI DAERAH BANGKA SEBAGAI BAHAN BAKU PANEL SURYA

    No full text
    Pemanfaatan energi surya sebagai salah satu sumber energi terbarukan sedang menjadi perhatian di dunia. Dalam energi surya, radiasi matahari diubah menjadi arus listrik dengan menggunakan panel surya yang bahan bakunya terbuat dari bahan semikonduktor. Bahan semikonduktor yang biasa digunakan dan mudah diperoleh adalah silikon. Keterdapatan silikon di alam jarang ditemukan dalam bentuk bebas, namun dapat dijumpai dalam bentuk senyawa silika (SiO2) pada mineral kuarsa. Potensi akan pasir kuarsa di Indonesia sebenarnya cukup melimpah, namun pemanfaatan pasir kuarsa sebagai bahan baku panel surya masih belum terlalu masif dikaji. Pada penelitian ini dilakukan karakterisasi pasir kuarsa di daerah Bangka serta kemungkinan pemanfaatannya sebagai bahan baku panel surya. Karakterisasi pasir kuarsa dilakukan menggunakan analisis Scanning Electron Microscope (SEM), X-Ray Fluorescence (XRF), dan Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS). Spesifikasi pasir kuarsa yang dapat dijadikan bahan baku panel surya adalah memiliki kandungan silicon dioxide ≥ 99,7%, iron oxide ≤ 85 ppm, titanium oxide ≤ 140 ppm, dan alumunium oxide ≤ 500 ppm. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, sampel pasir kuarsa di daerah Bangka memiliki kandungan silicon dioxide 69,817%–95,604%, iron oxide 11294,63–18014,22 ppm, titanium oxide 131,78–417,03 ppm, dan alumunium oxide 2645,3–17213,35 ppm. Dengan demikian, pasir kuarsa di daerah Bangka belum memenuhi spesifikasi sebagai bahan baku panel surya. Pasir kuarsa di daerah Bangka kemungkinan masih berpotensi sebagai bahan baku panel surya, namun dibutuhkan proses pemurnian yang kompleks yang mungkin dengan biaya yang mahal

    PEMANFAATAN TEKNOLOGI DIGITALISASI DALAM AKTIVITAS KONSERVASI BATUBARA DI AREA KERJA PT.BERAU COAL DAN PT.PAMAPERSADA NUSANTARA

    No full text
    Sesuai dengan Undang-Undang No. 3 tahun 2020 tentang pertambangan mineral dan batubara telah mengamanatkan kepada Pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk menerapkan kaidah teknik pertambangan yang baik, yang salah satunya yaitu wajib melaksanakan penerapan upaya konservasi mineral dan batubara. Konservasi mineral dan batubara merupakan upaya dalam rangka optimalisasi pengelolaan atau pemanfaatan sumber daya mineral dan batubara secara terukur, efisien, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Dalam Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018 salah satu objek yang menjadi target dalam penerapan konservasi minerba yaitu perencanan dan pengelolaan recovery penambangan / mining recovery. Dalam menunjang program konservasi tersebut, di era indutsri 4.0 pada saat ini juga menuntut perusahaan pertambangan untuk melakukan transformasi dari proses manual ke digital agar semua proses dapat dilakukan secara efektif dan efisien, serta tersinkronisasi dalam suatu basis data / big data secara menyeluruh, terlebih dalam hal pelaporan. Studi kasus pelaksanaan program konservasi ini dilaksanakan di area kerja PT. Berau Coal, yang merupakan perusahaan pemegang izin usaha pertambangan batubara. PT. Berau Coal mempunyai tantangan yang cukup tinggi dalam melaksanakan program konservasi ini. Tantangan tersebut antara lain : jumlah multi seam yang sangat tinggi (>80 seam) dengan rentan ketebalan yang sangat variatif, multi parting dalam satu seam utama dengan keterdapatan bone coal yang tinggi, dan proses pelaporan yang rendah dengan keseragaman mitra kerja kontraktor pertambangan yang tinggi. Hal ini tentu menuntut agar PT. Berau Coal membuat suatu terobosan dalam pengelolaan program konservasi ini agar dapat dijalankan dengan baik, efektif dan efisien oleh semua kontraktor pertambangan yang berada di area konsesi PT. Berau Coal. Dengan komitmen yang tinggi, PT. Berau Coal dan mitra kerja mencoba melaksanakan program digitalisasi menggunakan aplikasi seluler yang dinamai ArcGIS Survey123. Aplikasi seluler ini merupakan formulir cerdas yang berfungsi untuk mempermudah pengumpulan data dari smartphone dalam mengontrol aktivitas coal handling dan pelaporan pengambilan produk konservasi, khususnya dalam penanganan mining recovery, optimalisasi pengambilan batubara tipis / thin coal, dan produk mine out. Sebagai pilot project, program ini dilaksanakan di area operasional Binungan Mine Operation 2 (BMO2) dengan PT. Pamapersada Nusantara sebagai salah satu mitra kerja pelaksana penggunaan aplikasi seluler ini. Harapanya dengan dilaksanakanya secara efektif program ini di area kerja PT. Pamapersada Nusantara, maka target pencapaian mining recovery diatas 100% (dengan tambahan konservasi) dapat tercapai, dan semua mitra kerja di area operasional PT. Berau Coal yang lain dapat melaksanakan dengan baik penggunaan aplikasi aplikasi seluler ArcGIS Survey123 ini untuk mencapai target mining recovery yang ditargetkan

    IMPLEMENTASI USED OIL 100% PADA BAHAN PELEDAK S300 ECO DI PT KALTIM PRIMA COAL

    No full text
    Produksi PT Kaltim Prima Coal (KPC) dimulai sejak tahun 1992 dan menambang rata-rata 450 juta bcm overburden setiap tahunnya. Di tahun 2021, KPC memindahkan 453 juta bcm overburden menggunakan 85.000 ton bahan peledak. Aktivitas penambangan yang masif ini menghasilkan rata-rata 8 juta liter used oil setiap tahun. Secara konsisten KPC terus mengimplementasikan proses peledakan yang efektif dan efisien untuk mengoptimalkan biaya peledakan, salah satunya dengan mengganti bahan bakar (solar) dengan used oil pada bahan peledak. Used oil dikategorikan limbah B3 (Bahan Berbahaya Beracun) yang penanganannya cukup kompleks. Untuk mendapatkan used oil yang memenuhi kualifikasi sebagai campuran bahan peledak, used oil akan ditangani secara khusus sehingga kandungan air dan endapan lain berada di level yang dapat diterima. Untuk memenuhi ekspektasi KPC terkait penggunaan used oil pada bahan peledak, PT AEL Indonesia (AEL) menggunakan bahan peledak seri S300 Eco. Tipe bahan peledak S300 Eco ini didesain khusus agar kompatibel menggunakan used oil dengan tujuan mengurangi penggunaan bahan bakar karbon dan proteksi terhadap lingkungan. Used oil yang memenuhi kualitas digabungkan dengan emulsifier khusus AEL berhasil menunjang penggunaan used oil menggantikan solar 100% pada bahan peledak dengan tetap menjaga kualitas dan performa bahan peledak yang dibuat. Sejak diimplementasikan pada tahun 2011 hingga 2021, KPC telah berhasil menghemat 25,5 juta liter solar yang ekuivalen dengan rata-rata 2,3 juta liter solar per tahun

    Slope Stability Analysis for Optimization of Coal Blocks 7-12, Seam H Pit T4U, Sambarata Mine Operation, PT Berau Coal Based on Mohr-Coulomb Failure Criterion

    No full text
    Mine planning is the process of determining mine design and operational activities carried out to determine the feasibility of mine design and operational activities. Mining design certainly requires slope stability analysis to ensure the safety and security of mining operations and the resource itself. Differences between mine design and actual conditions in the field can occur at any time, such as coal optimization. This coal optimization can be done but still have to pay attention to the slope stability. There are several methods to analyze slope stability, such as the limit equilibrium method which is based on the Mohr-Coulomb failure. This method is a slope stability analysis method used to determine the response of rock material to the forces acting on the material. This method is the method used to conduct slope stability analysis for optimization of blocks 7-12, seam H Pit T4U, Sambarata Mine Operation, PT Berau Coal. In addition to slope stability analysis, monitoring using Slope Stability Radar (SSR) is also needed to monitor deformation in the area. Optimization is carried out to increase the amount of coal production but by still paying attention to the safety factor of the slopes. Optimization is done by adding a decrease in elevation whereas, in the initial planning, mining activities are only carried out up to an elevation of (-60) mRL . After optimization, mining activities can be continued up to an elevation of (-70) mRL. Based on data on production targets in block 7-12, seam H, Pit T4U, the target of coal production at that block is 445 metric tons (MT) and after optimization, coal production at that block increased by 44.9% to 645 MT. Based on the geotechnical analysis, this optimization can be carried out. However, in practice, monitoring of mining activities is necessary and monitoring is required through Slope Stability Radar (SSR) monitoring to monitor deformation, especially in the high wall area to anticipate material movement

    PENINGKATAN KAPASITAS PELEDAKAN TROUGH SEAM BLAST DI PT. KALTIM PRIMA COAL (PT. KPC)

    No full text
    Peledakan terkontrol tembus batu bara atau yang lazim disebut peledakan through seam blast (TSB) merupakan metode peledakan terkini untuk mendapatkan beberapa hasil peledakan dalam satu proses tunggal dimana overburden, batu bara, dan interburden diledakan dalam satu kali proses. Metode ini memiliki maksud dan tujuan inti yakni untuk mengurangi waktu tunggu pada aktifitas pengeboran-peledakan, mengoptimalkan pencapaian powder factor (PF) pada elevasi tujuan peledakan dengan tetap menjaga parameter fragmentasi, meningkatkan kuantitas blasting material, mengeliminasi peledakan top of coal (TOC), memastikan ketercapaian kualitas dan target recovery batu bara tertambang setelah peledakan, dan mengurangi intensitas pengeboran-peledakan sehingga akan berdampak pada peningkatan target produktifitas alat muat. Pada operasional peledakan di PT. KPC, metode ini mulai diujicobakan pada tahun 2015 di area penambangan Mining Operation Division (MOD), dan kemudian implementasinya terus dikembangkan dengan memperhatikan perbaikan bekelanjutan pada sisi teknis maupun operasionalnya. Pada awalnya peledakan TSB memiliki tingkat ketercapaian sekitar 20% dan kemudian terus meningkat sampai 90% pada pit MOD di tahun 2021. Tulisan ini dibuat untuk memaparkan proses transisi peledakan konvensional menjadi peledakan through seam blast dengan paremeter ukur yang spesifik. Sehingga dalam aplikasinya seluruh hal yang menjadi Key performance Indicator (KPI) seperti tidak ada pelanggaran prosedur keselamatan kerja, ketercapaian fragmentasi dan waktu penggalian (digging time), tidak ada kerusakan batu bara dan ketercapaian target hilang atau kontaminasi batu bara, dan perhitungan potensial cost saving pada praktek peledakan ini. Tujuan dari pelaksanaan peledakan TSB adalah untuk memberikan perbaikan pada operasional penambangan karena dapat mengurangi frekuensi peledakan sekitar 20-30% dibandingkan dengan peledakan konvensional, memberikan kontribusi penghematan bahan peledak (tingkat PF) sampai 10% dan memberikan potensial keuntungan sampai dengan $589K sejak awal project sampai dengan YTD Juli 2022

    IMPLEMENTASI TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA DENGAN METODE CLOUD SEEDING DALAM KEGIATAN OPERASIONAL PERTAMBANGAN DI PT BORNEO INDOBARA

    No full text
    Perubahan iklim mengakibatkan anomali pola musim sehingga intensitas hujan meningkat drastis. Kondisi ini mengganggu aktifitas operasional pertambangan batubara karena mempengaruhi waktu kerja dan area kerja. Teknologi modifikasi cuaca dengan metoda cloud seeding diyakini mampu mengantisipasi ancaman intensitas hujan berlebih. PT Borneo Indobara bekerja sama dengan BPPT-TMC melakukan pemanfaatan Teknologi modifikasi cuaca pada tahun 2018-2019 dan berlanjut di Oktober 2021- April 2022 dengan tujuan untuk menurunkan intensitas hujan dan durasi hujan. Modifikasi cuaca dilakukan dengan generator partikel dan bahan semai berupa metanol dan CaCl yang bertindak sebagai pemecah awan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif untuk menghitung efektifitas cloud seeding dalam memodifikasi cuaca. Selama 6 bulan penelitian berlangsung terdapat penurunan intensitas hujan sebesar 377 mm yang mengurangi biaya operational water pumping cost (benefit sebesar Rp 8,38 Milyar) dan penurunan durasi hujan sebesar 140 jam yang menaikkan effective working hours (benefit sebesar Rp 51,17 Milyar). Dengan biaya sebesar Rp 18,98 Milyar maka BCR pemanfaatan Teknologi modifikasi cuaca sebesar 3,14

    Cover

    No full text

    ANALYSIS OF MONTHLY PRODUCTION SCHEDULING USING ORE BLENDING STRATEGY TO FULFILL CONSERVATION PROCESS CASE STUDY GAG NICKEL MINE

    No full text
    Gag Nickel mine is one of the mining projects in West Papua, Indonesia developed by Antam. Overall amount of reserve owned by this mine is 66 million wmt of nickel ore, with average nickel content 1.85%. In 2023, this mine will be projected to supply 3 million nickel ore to nickel processing plant, with minimum nickel content 1.80% and maximum SiO2/MgO ratio 2.4. Based on block model data, central zone area, consists of A and B pit are carried out to determine the potencies of both pits to meet production target. From pit A, 1.5 million wmt can be obtained, with average Ni 1.83% and SiO2/MgO ratio 2.07. While from pit B, there are 1.5 million wmt allocation, with average Ni content 1.86% and SiO2/MgO ratio 2.20. Then, monthly production scheduling is carried out to produce the mine boundary for each quarter, which is used as guidance in mining operation. After mining process, stockpile management and ore blending strategy are carried out so that the nickel processing plant target can be achieved steadily. By using the ore blending strategy, Gag Nickel mine can apply conservation by optimizing marginal grade reserve so it can be fully utilized

    0

    full texts

    290

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇