1,734,933 research outputs found
Generalized properties for Hanafi–Wold’s procedure in partial least squares path modeling
Partial least squares path modeling is a statistical method that allows to analyze complex dependence relationships among several blocks of observed variables, each one represented by a latent variable. The computation of latent variable scores is an essential step of the method, achieved through an iterative procedure named here Hanafi–Wold’s procedure. The present paper generalizes properties already known in the literature for this procedure, from which additional convergence results will be obtained
Complex entanglements: Moving from policy to public sociology in the Arab world
In this article, the author surveys his own career to illustrate some of the dilemmas of research, especially when it assumes a critical and public face. He shows how his work on Palestinian refugees, their socioeconomic rights, their right of return and their camps evolved toward complex forms of traditional and organic public sociology. The article concludes with reflections on one of the major dilemmas researchers face: conducting public research without losing its critical edge, even toward the deprived groups it seeks to protect. The moral of the story: good scientists are not always popular. © The Author(s) 2014.Adorno T, 1980, ADORNO READER, P239; Burawoy M, 2005, AM SOCIOL REV, V70, P4; Government of Lebanon, 2008, COMM CHALL SHAR RESP; Hale CR, 2006, CULT ANTHROPOL, V21, P96, DOI 10.1525-can.2006.21.1.96; Hanafi S, 2012, IDAFAT, V20-21, P4; Hanafi S, 2011, CURR SOCIOL, V59, P291, DOI 10.1177-0011392111400782; Wolff KH, 1992, RENAISSANCE SOCIOLOG, P2010
Bilingual dictionary of Islamic terminology in finance, banking and halal English-Malay = Kamus istilah kewangan, perbankan dan halal dalam Islam Inggeris-Melayu
The " Bilingual Dictionary of Islamic Terminology in Finance, Banking and Halal: English - Malay” came seeking two languages. It is a synthesis and diverse dictionary, and also creative. Malay language gives a new and innovative sense, especially Malaysia as a global leader in Islamic banking. Indeed, this Islamic terms dictionary has benefited from the previous dictionaries in halal, financial and economic terms that
using the approach of synthesis and creativity. This dictionary has also benefited from the jurisprudential and contemporary jurisprudence books that have stood on Islamic transactions and touched on the door of Islamic banks
HUKUM SHALAT TASBIH (Studi Komparatif Pendapat Ulama Mazhab Hanafi dan Ulama Mazhab Syafi‟i)
ABSTRAK
Mohammad Hanafi bin Maliki (2023): Hukum Shalat Tasbih (Studi Komparatif
Pendapat Ulama Mazhab Hanafi dan
Ulama Mazhab Syafi‟i)
Shalat tasbih adalah shalat yang hukumnya masih diperselisihkan oleh
kalangan ulama. Ada yang berpendapat sunnah karena dilandasi oleh hadis yang
shahih, dan ada pula ulama yang berpendapat bahwa shalat tasbih tidak
disunnahkan karena tidak memiliki dasar yang shahih. Penulis ingin mengetahui
dan membandingkan setidaknya dari dua mazhab besar, yaitu mazhab Hanafi dan
Syafi‟i. Peneliti ingin mengetahui argumentasi masing-masing mazhab tersebut.
Kemudian peneliti membatasi pendapat ulama dari kedua mazhab tersebut, yaitu
Ibnu „Abidin dari ulama mazhab Hanafi, dan Imam Nawawi dari mazhab Syafi‟i.
Adapun rumusan masalah yang penulis gunakan ialah Pertama, untuk
mengetahui pendapat Imam Syafi‟i dan imam hanafi tentang hukum shalat tasbih.
Kedua, untuk mengetahui faktor bagaimana terjadinya perbedaan. Ketiga, untuk
mengetahui analisis fiqh muqarran tentang hukum shalat tasbih. Adapun tujuan
dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui pendapat dua Imam tentang
shalat tasbih, dalil dan analisis fiqh muqarran yang digunakan oleh ulama mazhab
Hanafi dan ulama mazhab Syafi‟i tentang hukum shalat tasbih.
Jenis penelitian ini ini merupakan penelitian yuridis, normative hukum
islam yang menggunakan kode kepustakaan (library research) yang bersifat
kualitatif iaitu dengan mengklasifikasikan sesuai dengan apa yang dibahas.
Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber primer
dan sekunder, yang mana sumber hukum primer menggunakan kitab Hasyiah Ibnu
„Abidin karya Imam Ibnu „Abidin mazhab Hanafi dan kitab Al-Majmu‟ Syarah
Muhadzdzab karya Imam Nawawi dari mazhab Syafi‟i
Berdasarkan hasil penelitian penulis, menurut pendapat mazhab Hanafi
mengatakan shalat sunnat tasbih adalah shalat sunnat yang dianjurkan kerana
mazhab Hanafi berpendapat bahwa hadis-hadis tentang shalat tasbih adalah shahih
serta dapat diamalkan oleh umat islam. Namun mazhab Syafi‟i mengatakan tiada
shalat sunnat tasbih kerana tiada dalil yang jelas untuk mengamalkan nya, penulis
berpendapat bahwa pendapat mazhab Hanafi lebih kuat kerana shalat tasbih
mempunyai banyak hadis-hadis yang menyebut tentangnya, sehingga hadis-hadis
yang lain menjadi pendukung kepada hadis-hadis yang dhoif atau pun maudhu‟,
tetapi penulis tetap menghormati serta menerima pendapat-pendapat yang
mengatakan shalat tasbih adalah tidak dianjurkan sama sekali.
Kata kunci : Hanafi, Syafi‟i, tasbih, perbandinga
Convergence of the error in Hanafi-Wold's procedure on the PLS-PM task
International audiencePartial least squares path modeling is a statistical method that facilitates examining intricate dependence relationships among various blocks of observed variables, each characterized by a latent variable. The computation of latent variable scores is a pivotal step in this method and it is accomplished through an iterative procedure. Within this paper, we investigate and tackle convergence challenges related to Hanafi-Wold's procedure in computing components for the PLS-PM algorithm. Hanafi-Wold's procedure, as well as alternative procedure, demonstrate the property of monotone convergence when mode B is considered for all blocks combined with centroid or factorial schemes. However, the absence of proof regarding the convergence of the error towards zero in Hanafi-Wold's procedure is a limitation compared to alternative procedure, which possesses this convergence property. Therefore, this paper aims to establish the convergence of the error towards zero in Hanafi-Wold’s procedure
Explaining spacio-cide in the Palestinian territory: Colonization, separation, and state of exception
This article argues that the Israeli colonial project is 'spacio-cidal' (as opposed to genocidal) in that it targets land for the purpose of rendering inevitable the 'voluntary' transfer of the Palestinian population primarily by targeting the space upon which the Palestinian people live. The spacio-cide is a deliberate ideology with unified rational, albeit dynamic process because it is in constant interaction with the emerging context and the actions of the Palestinian resistance. By describing and questioning different aspects of the military-judicial-civil apparatuses, this article examines how the realization of the spacio-cidal project becomes possible through a regime that deploys three principles, namely: the principle of colonization, the principle of separation, and the state of exception that mediates between these two seemingly contradictory principles. © The Author(s) 2012.Abu-Saba C, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P413; Agamben G, 1998, HOMOSACER SOVEREIGN; Ajzenstadt M, 2008, 1 ISA FORUM SOCIOLOG; Arendt Hannah, 1985, ORIGINS TOTALITARIAN; Azoulay Ariella, 2008, REGIME WHICH IS NOT; Bogdanovic B, 1993, NEW YORK REV BOOKS, VXL; Coward M, 2007, THEORY EVENT, V10, P234; Dayan H, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P281; Farsakh L, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P379; Foucault M., 1995, DISCIPLINE PUNISH BI; Funk M, 2010, VICTIMS RIGHTS ADVOC; Gordon N, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P239; Graham Stephen, 2004, CITY, V8, P165, DOI 10.1080-1360481042000242148; Haggerty K.D., 2006, NEW POLITICS SURVEIL; Hanafi Sari, 2009, CONT ARAB AFFAIRS, V2, P106; HEWITT K, 1983, ANN ASSOC AM GEOGR, V73, P257, DOI 10.1111-j.1467-8306.1983.tb01412.x; Monterescu D, 2009, PUBLIC CULTURE, V21, P403, DOI 10.1215-08992363-2008-034; Ophir Adi, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P15; Pandolfi M., 2002, ANTHR SOC, V26, P29, DOI 10.7202-000701ar; Pappe Ilan, 2006, ETHNIC CLEANSING PAL; Parizot C, 2001, THESIS EHESS PARIS; Peace Now, 2006, BREAK LAW W BANK PRI; Ran G, 2009, ISRAELI REGIME SEA R; ROY S, 1987, J PALESTINE STUD, V17, P56, DOI 10.1525-jps.1987.17.1.00p0144f; Shamir R, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P587; Weizman Eyal, 2007, HOLLOW LAND ISRAELS; Yehouda Shenhav, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P337; Yiftachel O, 2006, ETHNOCRACY: LAND AND IDENTITY POLITICS IN ISRAEL-PALESTINE, P121
Studi Komparatif Hukum Suami Menjimak Istrinya yang Belum Mandi Janabah Pasca Haid Perspektif Mazhab Hanafi dan Hanbali
Jima antara suami istri merupakan aspek yang sangat penting dan
fundamental dalam kehidupan rumah tangga, dan dalam konteks Islam, jima’ diatur
oleh hukum syariat yang sangat ketat dan teliti. Salah satu pertanyaan yang sering
muncul dan menjadi perdebatan di kalangan ulama dan masyarakat adalah apakah
suami diperbolehkan untuk menjimak istrinya yang belum mandi janabah pasca
haid, yaitu setelah masa haid selesai tetapi belum melakukan mandi wajib untuk
membersihkan diri dari najis haid.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana hukum Islam dapat
diinterpretasikan dan diaplikasikan dalam konteks yang berbeda-beda, dan
bagaimana perbedaan pendapat antara mazhab-mazhab dapat menjadi sumber
kekayaan dan keberagaman dalam Islam.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif yang
bersifat deskriptif, dengan pendekatan komparatif yang berfokus pada kajian
keislaman dan perbandingan antara mazhab-mazhab Islam. Penelitian ini menelaah
buku-buku hukum Islam dan kitab-kitab fiqih mazhab sebagai bahan analisis untuk
memahami perbedaan pendapat antara Mazhab Hanafi dan Mazhab Hanbali.
Menurut Mazhab Hanafi, suami diperbolehkan untuk menjimak istrinya yang
belum mandi janabah pasca haid, asalkan istri telah selesai haid dan telah melewati
batas masa lama haid, yaitu 10 hari, sehingga dianggap telah bersih dari najis haid.
Sementara itu, Mazhab Hanbali memiliki pendapat yang berbeda, yaitu suami tidak
diperbolehkan untuk menjimak istrinya yang belum mandi janabah pasca haid,
kecuali jika istri telah melakukan tayammum atau mandi wajib untuk
membersihkan diri dari najis haid.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pendapat antara Mazhab
Hanafi dan Mazhab Hanbali disebabkan oleh perbedaan dalam memaknai haid dan
kewajiban mandi janabah, sehingga mempengaruhi hukum jimak antara suami istri
yang belum mandi janabah pasca haid
Studi Komparatif Hukum Suami Menjimak Istrinya yang Belum Mandi Janabah Pasca Haid Perspektif Mazhab Hanafi dan Hanbali
Jima antara suami istri merupakan aspek yang sangat penting dan
fundamental dalam kehidupan rumah tangga, dan dalam konteks Islam, jima’ diatur
oleh hukum syariat yang sangat ketat dan teliti. Salah satu pertanyaan yang sering
muncul dan menjadi perdebatan di kalangan ulama dan masyarakat adalah apakah
suami diperbolehkan untuk menjimak istrinya yang belum mandi janabah pasca
haid, yaitu setelah masa haid selesai tetapi belum melakukan mandi wajib untuk
membersihkan diri dari najis haid.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana hukum Islam dapat
diinterpretasikan dan diaplikasikan dalam konteks yang berbeda-beda, dan
bagaimana perbedaan pendapat antara mazhab-mazhab dapat menjadi sumber
kekayaan dan keberagaman dalam Islam.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif yang
bersifat deskriptif, dengan pendekatan komparatif yang berfokus pada kajian
keislaman dan perbandingan antara mazhab-mazhab Islam. Penelitian ini menelaah
buku-buku hukum Islam dan kitab-kitab fiqih mazhab sebagai bahan analisis untuk
memahami perbedaan pendapat antara Mazhab Hanafi dan Mazhab Hanbali.
Menurut Mazhab Hanafi, suami diperbolehkan untuk menjimak istrinya yang
belum mandi janabah pasca haid, asalkan istri telah selesai haid dan telah melewati
batas masa lama haid, yaitu 10 hari, sehingga dianggap telah bersih dari najis haid.
Sementara itu, Mazhab Hanbali memiliki pendapat yang berbeda, yaitu suami tidak
diperbolehkan untuk menjimak istrinya yang belum mandi janabah pasca haid,
kecuali jika istri telah melakukan tayammum atau mandi wajib untuk
membersihkan diri dari najis haid.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pendapat antara Mazhab
Hanafi dan Mazhab Hanbali disebabkan oleh perbedaan dalam memaknai haid dan
kewajiban mandi janabah, sehingga mempengaruhi hukum jimak antara suami istri
yang belum mandi janabah pasca haid
Emerging Practices and Artificial Intelligence Innovations in Green Urbanism: Nature-Based Solutions, Resilience, and Environmental Strategies
With the rapid pace of urbanization reshaping cities worldwide, they increasingly embody both dynamic opportunities and complex challenges related to environmental sustainability, climate change, and social equity. This introductory chapter to Sustainable Cities: Adaptive Strategies, Circular Solutions, Technological Innovations, and Community Resilience for Green Urbanism offers a comprehensive overview of the contemporary urban complexities and explores the role of green urbanism in transforming cities into more resilient, inclusive, and sustainable environments. With a multidisciplinary approach, the book highlights and expands on the integration of Artificial Intelligence (AI) and Machine Learning (ML) as emerging technological and transformative tools for advancing sustainable urbanism approaches and practices, empowering cities to respond dynamically and equitably to evolving environmental and social demands. Regarding the volume, it compiles theoretical analyses, synthesized evidence, international case studies, and practical applications to foster a shared understanding of green urbanism’s role in creating better designed urban ecosystems. Structured into four parts—addressing respectively: 1) sustainable urban planning, 2) circular economy, 3) technological innovations, and 4) urban green spaces and biodiversity—this volume offers a multidimensional exploration of adaptive and resilient urban systems that align with the principles of green urbanism and beyond. By bridging theory and practice, it serves as both a valuable resource and an urgent call to action, inspiring readers across different fields to drive meaningful progress in the journey towards achieving the goals of sustainable cities worldwide. This volume is designed for a broad readership across multiple disciplines, aiming to inspire urban planners, practitioners, policymakers, researchers, and community leaders with actionable insights and forward-thinking strategies
Overcoming convergence problems in PLS path modelling
The present paper deals with convergence issues of Lohmöller’s procedure for the computation of the components in the PLS-PM algorithm. More datasets and proofs are given to highlight the convergence failure of this procedure. Consequently, a new procedure based on the Signless Lapalacien matrix of the indirect graph between constructs is introduced. In several cases that will be specified in this paper, both monotony and error convergence for this new procedure will be established. Several comparisons will be presented between the new procedure and the two conventionally used procedures (Lohmöller’s and Hanafi-Wold’s procedures)
- …
