522 research outputs found
PEMIKIRAN HAJI ABDUL MALIK KARIM AMRULLAH (HAMKA) TENTANG DAKWAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
Abstrak
Konstruksi berfikir yang dibangun dalam penelitian disertasi ini ialah pemikiran dan gerakan
dakwah seorang Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka yang bergelar adat Datu Indomo
terhadap pengembangan masyarakat Islam. Fokus kajian pada sebuah reformasi pemikiran, gagasan
dan gerakan dakwah Hamka yang diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan agama.
Dalam kajian ini setidaknya terdapat dua aspek penting yang menjadi konteks; Pertama, Hamka
adalah sebagai ulama/ dai yang humanis, fenomenal yang juga sebagai praktisi dengan kemampuan
mengintegrasikan dakwah dalam tatanan kehidupan sosial, politik, sastra, budaya dan
berorganisasi. Kedua, dakwah sebagai media yang digunakan Hamka dalam menyebarkan Islam
dengan persuasif melalui metode sufistik.
Unsur-unsur yang dikaji dalam disertasi ini adalah menyoal; 1) Konstruksi pemikiran dan
gerakan Hamka tentang dakwah, 2) Prihal yang melatar belakangi pemikiran dan pergerakan
Hamka tersebut, 3) Metode atau pola dakwah yang digunakan Hamka, dan 4) Bagaimana
pemikiran pergerakan tersebut berimplikasi terhadap pengembangan masyarakat Islam. Disertasi
ini menggunakan metode analisis wacana (critical discourse analysis/ CDA) dalam kajian pustaka.
Prihal telaah nilai pemikiran dan gerakan Hamka dilakukan secara komprehensif sesuai dengan
konteks yang berkembang; Pertama, Melalui karya atau buah fikir Hamka berupa buku, artikel dan
tulisannya, Kedua, Dengan tulisan-tulisan lainya yang membahas Hamka secara rinci, Ketiga,
Observasi kondisi waktu dan tempat dimana Hamka hidup.
Hamka dalam konsep ideologi dakwahnya menguatkan keutamaan pemurnian tasawuf
berlandaskan al-Qur‟an dan Hadits. Secara prinsip Hamka dalam dakwahnya menggunakan
pendekatan sufistik persuasif yang mengintegrasikan pemikiran keagamaan/teologi dengan
instrumen kehidupan dan pemurnian dari perkara tahayul, bid‟ah dan kurafat. Pemikiran teologi
Hamka lebih kepada Asy‟ariah dan pandangan fiqihnya mengutamakan ijtihad. Dalam politik
Hamka mengutamakan akhlak dan kesantunan bukan kekerasan atau intimidasi dan sesuai dengan
ajaran Islam yang universali dan kepentingan golongan. Implikasi dakwah Hamka bagi
pengembangan masyarakat Islam adalah agar umat menjalankan syariat penuh dengan
kekhusyuaan, mentalitas, dan bermasyarakat dengan tidak menjadi merasa ekslusif. Beragama
dengan saling menghormati, menghargai, dan tetap mengedepankan kemurnian bagi agamanya
sendiri. Dalam agamapun Hamka sangat mengedepankan persatuan kemaslahatan bersama dan
bukan perpecahan umat karena perbedaan. Sikap demikian merupakan bentuk interpretasi Hamka
dalam mengejawentahkan nilai-nilai Islam dalam konsep tasawuf modernnya.
Keselarasan hidup berasama, berdampingan agama merupakan bentuk dakwah yang moderat
(rahmatan lil a‟lamin). Hamka menegaskan bahwa dakwah bukanlah hanya sekedar tabligh, jauh
dari itu dakwah adalah pengembangan verbal (al-lisan) dan non-verbal (al-hal). Gagasan ini dirasa
sangat relevan dengan perkembangan zaman dan umat yang berdampingan dalam hal beragama,
sosial, politik, budaya, berbangsa dan bernegara. Jalan dakwah yang Hamka gagas adalah; 1)
Penyadaran (akhlak dan adab), 2) Pelembagaan/Organisasi, dan 3) Pemberdayaan masyarakat
(damai dan sejuk). Transformasi ajaran dakwah Hamka berupa nilai-nilai hikmah Islam (al-Qur‟an
dan hadits), da‟i secara individu, kelembagaan dakwah/organisasi (kolektif) dan negara.
Sebagaimana sikap, akhlak, adab, tasamuh, sensibel, responsif, suportif, tidak sentimental, tidak
kontroversi, tidak intimidasi, saleh secara individu dan sosial dalam dakwah adalah bentuk atau
metode pengembangan peradaban masyarakat Islam. Alur dan paradigma Hamka tersebut secara
garis besar menunjukan bahwa Hamka adalah sebagai ulama (da‟i) yang amaliah dakwahnya
dengan melalui bi al-lisan (guru, sufi, mufasir, mubaligh), bi al-kitabah/ qolam (tulisan dan sastra)
dan bi al-hal (pendidikan, organisasi, politik, pemerintahan dan kemasyarakatan).
Kata Kunci: Hamka, Pengembangan Masyarakat Islam, Dakwah dan Tasawuf Modern
viii
Abstract
This dissertation research concentrates on the thoughts and preaching performed by
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, or Hamka, who conveys the customary title Datu
Indomo, towards the development of Islamic civilization. The focus of the study is on a
reformation of Hamka's thoughts, ideas, and preaching movements applied in social and
religious life. In this study, there are at least two important aspects that become the context:
First, Hamka is a humanist, phenomenal ulama/dai who is also a practitioner with the
ability to integrate da'wah in the order of social, political, literary, cultural, and
organizational life. Second, da'wah as a medium used by Hamka in spreading Islam
persuasively through Sufistic methods
The elements studied in this dissertation are;1) the construction of Hamka's thoughts
and movements about da'wah; 2) The background of Hamka's thoughts and movements; 3)
The method or pattern of da'wah used by Hamka; and 4) How the thought of the movement
has implications for the development of Islamic society. In its literature review, this
dissertation employs the critical discourse analysis (CDA) method. The emerging context
conducts a thorough examination of the worth of Hamka's thoughts and movements: First,
through Hamka's works or thoughts in the form of books, articles, and writings; Second,
with other writings that discuss Hamka in detail; and third, Third, Observation of the
conditions of time and place where Hamka lived.
In his da'wah concept, Hamka promotes the values of cleansing Sufism based on the
Qur'an and Hadith. In general, Hamka deploys a convincing Sufistic approach in his
da'wah, integrating religious and theological ideas with instruments of life and cleansing
from superstition, heresy, and kurafat. Hamka's theological thinking is more Asyariah, and
his fiqh views prioritize ijtihad. Hamka prioritizes values and civility over aggression and
intimidation in politics, which is consistent with universal Islamic beliefs and collective
interests. The implication of Hamka's da'wah for the development of Islamic society is that
people carry out the full sharia with reverence, mentality, and society by not being
exclusive. Religious people with mutual respect still prioritize purity for their religion.
Even in religion, Hamka prioritizes the unity of the common good and not the division of
the people because of differences. This attitude is a form of Hamka's interpretation of
Islamic values in his modern concept of Sufism.
A moderate degree of da'wah (rahmatan lil a'lamin) is the harmony of living together,
side by side with religion. Da'wah, defined by Hamka, is the development of verbal (al�lisan) and nonverbal (al-hal) communication. This idea is considered very relevant to the
development of the times and people who coexist in terms of religion, social, politics,
culture, nation, and state. The way of da'wah that Hamka initiated is; 1) Awareness (morals
and adab), 2) Institutionalisation/ Organisation, and 3) Community empowerment (peace
and cool). Hamka's da'wah teachings are being transformed into Islamic wisdom values (al�Qur'an and hadith), individual da'i, collective da'wah institutions/organizations, and the
state. Individually and socially pious attitudes, morals, adab, tasamuh, sensible, responsive,
supportive, not sentimental, not controversial not intimidating pious in da'wah are forms or
means of creating Islamic community civilization. Hamka's flow and paradigm reveal that
he is a scholar (da'i) whose da'wah activity is through bi al-listen (teacher, Sufi, mufasir,
mubaligh), bi al-kitabah/ qolam (writing and literature), and bi al-hal (education,
organization, politics, government, and society).
Keywords: Hamka, Islamic Community Development, Da'wah and Modern Sufism
ix
انًهخض
ثٕبء ٠فىش ثٕ١ذ فٟ ٘زا اٌجسث أطشٚزخ ٠ىْٛ زشوخ خٛاطش ِٚٛاػع ٌٍسبج ػجذ اٌٍّه وش٠ ُأِش هللا أٚ
زّىخ اٌٍّمت ثبٌؼبداد خذ إٔذِٟٚ ٔسٛ رّٕ١خ اٌّدزّغ اإلعالِٟ. رشوض اٌذساعخ ػٍٝ إصالذ أفىبس زّىخ
ٚزشوبرٙب اٌذػٛ٠خ اٌّطجمخ فٟ اٌس١بح االخزّبػ١خ ٚاٌذ٠ٕ١خ. فٟ ٘زٖ اٌذساعخ ، ٕ٘بن خبٔجبْ ِّٙبْ ػٍٝ األلً
أٚ اال٘بِىب ٘ٛ ثبزث إٔغبٟٔ / داٞ ظب٘شٞ ٚ٘ٛ أ٠ اضب ِّبسط ٌذ٠ ٗاٌمذسح ػٍٝ دِح اٌذػٛح ٠صجسبْ اٌغ١بق ؛
فٟ رشر١ت اٌس١بح االخزّبػ١خ ٚاٌغ١بع١خ ٚاألدث١خ ٚاٌثمبف١خ ٚاٌزٕظ١ّ١خ.ثبٔ١خ،اٌذػٛح وٛع١ٍخ اعزخذِٙب زّىخ فٟ
ٔشش اإلعالَ ثشىً ِمٕغ ِٓ خالي األعبٌ١ت اٌصٛف١خ.
اٌؼٕبصش اٌزٟ رّذ دساعزٙب فٟ ٘زٖ اٌشعبٌخ ٟ٘ أعئٍخ. 1 )ثٕبء أفىبس زّىخ ٚرسشوبرٙب زٛي اٌذػٛح
2ِ.)زؼٍك أ٠ّخٍف١خ أفىبس ٚزشوبد زّىخ ، 3 )أعبٌ١ت أٚ أّٔبط اٌذػٛح اٌزٟ اعزخذِٙب زّىخ ، 4 )و١ف رؤثش
أفىبس اٌسشوخ ػٍٝ رطٛس اٌّدزّغ اإلعالِٟ. رغزخذَ ٘زٖ اٌشعبٌخ طش٠مخ رسٍ١ ًاٌخطبة) رسٍ١ ًاٌخطبة
إٌمذٞ (CDA / ب ٌٍغ١بق اٌّزطٛس
فٟ ِشاخؼخ األدث١بد.ِزؼٍك دساعخ شبٍِخ ٌم١ّخ أفىبس ٚزشوبد زّىخ ٚفما
؛أٚ اال،ِٓ خالي أػّبي أٚ أفىبس زّىخ فٟ شىً وزت ِٚمبالد ٚوزبثبد ،ثبٔ١خ،ِغ وزبثبد أخشٜ رٕبلش ٘بِىب
ثبٌزفص١، ًثبٌث،سالت ظشٚف اٌضِبْ ٚاٌّىبْ اٌزٟ ػبشذ ف١ٙب زّىخ.
زّىخ فٟ ِفِٙٛٗ األ٠ذ٠ٌٛٛخٟ ٌٍٛػع ٠ؼضص أٌٚٛ٠خ رٕم١خ اٌصٛف١خ ػٍٝ أعبط اٌمشآْ ٚاٌسذ٠ث. ِٓ
ز١ث اٌّجذأ ، ٠غزخذَ زّىخ فٟ ٚػظٗ ِمبسثخ صٛف١خ ِمٕؼخ رذِح اٌزفى١ش اٌذ٠ٕٟ / اٌال٘ٛرٟ ِغ أدٚاد اٌس١بح
ٚاٌزطٙ١ش ِٓ اٌخشافبد ٚاٌجذع خشافبد. ٠زدٗ رفى١ش زّىخ اٌال٘ٛرٟ أوثش ٔسٛ األشؼش٠خ ٚآسائٗ اٌفمٙ١خ
رؼطٟ األٌٚٛ٠خ ٌالخزٙبد. فٟ اٌغ١بعخ ، ٠ؼطٟ زّىخ األٌٚٛ٠خ ٌألخالق ٚاٌزأدة ٌٚ١ظ اٌؼٕف أٚ اٌزش٘١ت ،
ٚ٠زٛافك ِغ اٌزؼبٌ١ ُاإلعالِ١خ.ػبٌّٟ ٚا٘زّبِبد اٌّدّٛػخ. رذاػ١بد دػٛح زّىخ ػٍٝ رّٕ١خ اٌّدزّغ
اإلعالِٟ ٘ٛ أْ ٠مَٛ إٌبط ثزٕف١ز اٌشش٠ؼخ ثشىً وبًِ.خصٛص١خ ٚاٌؼمٍ١خ ٚاٌزٕشئخ االخزّبػ١خ ِٓ خالي
ػذَ اٌشؼٛس زصشٞ. اٌذ٠ِ ٓغ االززشاَ اٌّزجبدي ٚاالززشاَ ِٚب صاي ٠ؼطٟ األٌٚٛ٠خ ٌطٙبسح د٠ .ُٕٙفسزٝ
ب ٚزذح اٌصبٌر اٌؼبَ ٌٚ١ظ رمغ١ ُاٌشؼت ثغج
اٌذ٠ ٓزّىخ ٠طشذ زم ت اٌخالفبد. ِثً ٘زا اٌّٛلف ٘ٛ شىً ا
ِٓ أشىبي رفغ١ش زّىخ ف١ظٙش اٌم١ ُاإلعالِ١خ فٟ ِفَٙٛ اٌزصٛف اٌسذ٠ث.
، خٕجاب إٌٝ خٕت ، فئْ اٌذ٠ ٛ٘ ٓشىً ِؼزذي ِٓ اٌٛػع )سزّزبْ ٌٍؼبٌّ١ٚ .)ٓأوذ زّىخ
ٚئبَ اٌس١بحِؼبا
غ
أْ اٌذػٛح ٌ١غذ ِدشد دػٛح ، ثً إْ اٌذػٛح ٟ٘ رّٕ١خ ٌفظ١خ )اٌٍ ب ُْ( ٚغ١ش اٌٍفظ١خ )اٌسبي(. ٠ُٕظش إٌٝ ٘زٖ ِّ
اٌفىشح ػٍٝ أٔٙب ٚث١مخ اٌصٍخ ثزطٛس اٌؼصش ٚاألشخبص اٌز٠ ٓ٠زؼب٠شْٛ ِٓ ز١ث اٌذ٠ٚ ٓاالخزّبع ٚاٌغ١بعخ
ٚاٌثمبفخ ٚاألِخ ٚاٌذٌٚخ. طش٠مخ زّىخ فٟ اٌىشاصح ٟ٘ ؛ 1 )اٌٛػٟ )األخالق ٚاألخالق( ، 2 )إضفبء اٌطبثغ
اٌّؤعغٟ / اٌزٕظ١ ، ُ3 )رّى١ ٓاٌّدزّغ )اٌغالَ ٚاٌطّأٔ١ٕخ(. رسٛ٠ ًرؼبٌ١ ُزّىخ اٌذػٛ٠خ إٌٝ ل١ ُاٌسىّخ
اإلعالِ١خ )اٌمشآْ ٚاٌسذ٠ث( ، ٚاٌذػبح األفشاد ، ِٚؤعغبد / ِٕظّبد اٌذػٛح )ِدزّؼخ( ٚاٌذٌٚخ. وّٛلف ،
أخالق ، أدة ، رغبِر ، ػبلً ، ِزدبٚة ، داػُ ، غ١ش ػبطفٟ ، غ١ش ِث١ش ٌٍدذي ، غ١ش ِخ١ف ، رمٜٛ
فشد٠اب ٚاخزّبػ١اب فٟ اٌذػٛح ٘ٛ شىً أٚ طش٠مخ ٌزّٕ١خ زضبسح اٌّدزّغ اإلعالِٟ. ٠ٛضر رذفك ّٚٔٛرج
زّىخ ثشىً ػبَ أْ زّىخ ػبٌّخ )داػٟ) ِّبسعزٗ اٌزجش١ش٠خ شفٙ١خ شبٍِخ )اٌّؼٍُ ، صٛفٟ ، اٌّفص١ش ،
خط١ت( ، اٌمالَ )اٌىزبثخ ٚاألدة( ٚوً شٟء )اٌزٕظ١ ، ُاٌغ١بعخ ، اٌسىِٛخ ، سخبي اٌذٌٚخ(.
اٌىٍّبد اٌّفزبز١خ: زّىخ ،رّٕ١خ اٌّدزّغ اإلعالِٟ ،اٌذػٛح ٚاٌزصٛف اٌسذ٠
Tafsir Al-azhar : Menyelami Kedalaman Tasawuf Hamka
AbstrakMistisisme adalah bagian dari ilmu pengetahuan Islam yang menekankan pada nilai-nilai estetika, khususnya berbicara mengenai perilaku terhadap Tuhan dan manusia. Ketika Aisyah ditanya oleh seorang sahabat nabi Muhammad, ia berkata, “perilakunya adalah al-Qur’an”. Hamka dalam tafsirnya menyatakan bahwa hal yang paling penting dalam kutipan tersebut adalah etik (akhlaq). Akhlaq merupakan bagian dari kandungan al-Qur’an yang membuat Islam tersebar di seluruh dunia. Tulisan ini menelusuri konsep Tasawuf Hamka sebagai suatu prototipe kecil dari karyanya tentang tasawuf dalam ‘Tasawuf Modern.’ Selain itu, tulisan ini juga fokus pada biografi Hamka serta hubungannya dengan tasawuf, metode interpretasi, rujukan utamanya, karakteristik ‘Tafsir al-Azhar’, metode penjulisannya, dan pendekatan yang digunakan dalam interpretasinya. Tulisan ini juga bermaksud untuk mengeksplorasi konsep uzlah, wali, mahabbah, dan ilmu ladunni in ‘Tafsir al-Azhar’.---AbstractThe Misthycism is a part of Islamic knowledge emphases the values of estetic, especially talking about attitudes to God and the Human being. When Aisha r.a. was asked by a companion of prophet He said,” His attitude is the Holy al-Qur’an”. In his tafsir, Hamka stated that the most important thing quoted from it was ethic (akhlaq). Even it is one of the amazing of the Holy Qur’an which had spread Islam to the whole of the world. This paper will track the conception of Hamka’s tasawuf as a little prototife from his work about Tasawuf at ‘Tasawuf Modern’. The paper will focus in Hamka’s bliography and his relate with tasawuf, the methode of interpretating, main references, characteristics Tafsir al-Azhar, methode in writing it, and the approacs used in his interpretations. Also focusing to explore conception of uzlah, sufi saint (wali), mahabbah, ilmu ladunni in ‘Tafsir al-Azhar’
Tafsir Politik: Studi terhadap Pemikiran Politik Hamka dan Pengaruhnya dalam Tafsir Al-Azhar
Artikel ini bertujuan untuk mengungkap pemikiran politik Hamka dan pengaruhnya dalam penafsiran. Banyak prediket dapat disandangkan kepada sosok Hamka. Hamka tidak hanya dikenal sebagai seorang sastrawan, kolumnis, tetapi Hamka juga populer sebagai seorang ulama, mufassir dan politikus. Hamka dalam menyampaikan ide-ide pemikirannya, tidak hanya dengan lisan tetapi juga tulisan. Hal ini terbukti banyaknya karya-karya Hamka dari berbagai lintas keilmuwan. Karya Hamka yang populer dan fenomenal adalah Tafsir al-Azhar. Sebagai seorang yang terlibat dalam politik praktis, memberi pengaruh bagi Hamka dalam menafsirkan al-Qur’an. Di antara ide-ide pemikiran Hamka dalam Tafsir al-Azhar adalah berkaitan dengan politik. Penelitian ini adalah penelitian library reseach dengan sumber data primer Tasir al-Azhar dan sumber sekunder adalah buku-buku yang berhubungan dengan penelitian. Analisis data adalah analisis deskriptif kualitatif. Temuan penelitian ini adalah menurut Hamka, perintah musyawarah terdapat dalam al-Qur’an, namun al-Qu’an tidak menjelaskan secara detail pelaksanaan musyawarah. Pelaksanaan musyawarah tergantung kepada situasi dan kondisi masyarakat. Dalam pemilihan kepala negara, Hamka berpendapat bahwa syarat kepala negara adalah orang seiman. Alasan Hamka kepala negara yang dipilih orang seiman, karena kepala negara tidak seiman (non-muslim) dapat mengajak kepada thaghut. Hubungan negara dan agama tidak ada pemisahan antara urusan negara dengan agama
KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK BAGI PESERTA DIDIK MENURUT PEMIKIRAN PROF. DR. HAMKA
Pendidikan akhlak pada masa sekarang ini sangat memprihatinkan dan
terpuruk, hal ini terbukti banyak terjadinya perliku-perilaku yang melanggar asusila
yang menimbulkan kekacauan bagi dirinya sendiri pribadi maupun keresahan
masyarakat pada umumnya. Hal ini juga diwujudkan oleh adanya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi modern sehingga nilai-nilai akhlak terabaikan begitu saja
karena kurangnya penanaman dan pengamalan pembelajaran akhlak tersebut. Budaya
luar yang negatif mudah terserap tanpa ada filter yang cukup kuat. Gaya hidup
modern yang tidak didasari akhlak atau budi pekerti cepat ditiru.
Yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana
konsep pendidikan akhlak bagi peserta didik menurut pemikiran Prof. Dr. Hamka.
Penelitian yang penulis lakukan bertujuan untuk mengetahui bagaiman konsep
pendidikan akhlak bagi peserta didik menurut pemikiran Prof. Dr. Hamka dan
memberikan sumbangsih karya ilmiah yang bermanfaat untuk dipersembahkan
kepada para pembaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya. Adapun jenis
penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian library research atau penelitian
kepustakaan yang khusus mengkaji suatu masalah untuk memperoleh data dalam
penulisan penelitian ini. Adapun sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari data
primer (pokok) dan data sekunder (penunjung/ pendukung data sekunder). Sumber
primer dalam penulisan ini adalah karya atau tulisan asli Hamka, yaitu: Lembaga
Budi, Lembaga Hidup, Falsahah Hidup, Tafsir Al-Azhar, dan Pengajaran Agama
Islam. Adapun sumber sekunder dalam buku penelitian ini adalah buku-buku tentang
pendidikan akhlak yang relevan dengan pembahasan skripsi. Sedangkan untuk
analisis nya, menggunakan Content analisys atau analisis isi, yaitu analisis isi dalam
penelitian ini untuk menganalisis makna yang terkandung dalam Konsep Pendidikan
Akhlak bagi Peserta Didik berdasarkan pada pemikiran Prof. Dr. Hamka.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa konsep Pendidikan Akhlak menurut
pemikiran Hamka mencakup pembahasan tentang: (1) Pengertian Pendidikan Akhlak
(2) Sumber Akhlak, (3) Pendidik Bagi Pendidikan Akhlak, (4) Metode dan Strategi
Pendidikan Akhlak (5) Akhlak peserta didik dalam menuntut ilmu dan (6) Materi
Pendidikan Akhlak
Tafsir Politik: Studi terhadap Pemikiran Politik Hamka dan Pengaruhnya dalam Tafsir Al-Azhar
Artikel ini bertujuan untuk mengungkap pemikiran politik Hamka dan pengaruhnya dalam penafsiran. Banyak prediket dapat disandangkan kepada sosok Hamka. Hamka tidak hanya dikenal sebagai seorang sastrawan, kolumnis, tetapi Hamka juga populer sebagai seorang ulama, mufassir dan politikus. Hamka dalam menyampaikan ide-ide pemikirannya, tidak hanya dengan lisan tetapi juga tulisan. Hal ini terbukti banyaknya karya-karya Hamka dari berbagai lintas keilmuwan. Karya Hamka yang populer dan fenomenal adalah Tafsir al-Azhar. Sebagai seorang yang terlibat dalam politik praktis, memberi pengaruh bagi Hamka dalam menafsirkan al-Qur’an. Di antara ide-ide pemikiran Hamka dalam Tafsir al-Azhar adalah berkaitan dengan politik. Penelitian ini adalah penelitian library reseach dengan sumber data primer Tasir al-Azhar dan sumber sekunder adalah buku-buku yang berhubungan dengan penelitian. Analisis data adalah analisis deskriptif kualitatif. Temuan penelitian ini adalah menurut Hamka, perintah musyawarah terdapat dalam al-Qur’an, namun al-Qu’an tidak menjelaskan secara detail pelaksanaan musyawarah. Pelaksanaan musyawarah tergantung kepada situasi dan kondisi masyarakat. Dalam pemilihan kepala negara, Hamka berpendapat bahwa syarat kepala negara adalah orang seiman. Alasan Hamka kepala negara yang dipilih orang seiman, karena kepala negara tidak seiman (non-muslim) dapat mengajak kepada thaghut. Hubungan negara dan agama tidak ada pemisahan antara urusan negara dengan agama.This article aims to reveal Hamka\u27s political thoughts and their influence on interpretation. Many predictions can be made to the figure of Hamka. Hamka is not only known as a writer, columnist, but Hamka is also popular as a scholar, mufassir and politician. Hamka in conveying his ideas, not only verbally but also in writing. This is evident in the large number of Hamka\u27s works from various scholars. Hamka\u27s popular and phenomenal work is Tafsir al-Azhar. As someone involved in practical politics, gave Hamka an influence in interpreting the Koran. Among Hamka\u27s ideas in Tafsir al-Azhar are related to politics. The findings of this study are that according to Hamka, the order for deliberation is contained in the al-Qur\u27an, however al-Qu\u27an does not explain in detail the implementation of the deliberation. The implementation of deliberations depends on the situation and condition of the community. In the election of the head of state, Hamka argued that the requirements for the head of state were people of faith. The reason Hamka is the head of state chosen by a believer is because the head of state is not a believer (non-Muslim) can invite him to taghout. There is no separation between state and religion in the relationship between state and religion. Islam requires a harmonious relationship between religion and state
Toleransi Beragama Menurut Pandangan Hamka Dan Nurcholish Madjid
Toleransi beragama merupakan satu tema yang selalu menarik untuk diteliti dan dikaji secara lebih mendalam. Karena masa depan suatu bangsa sedikit banyak tergantung pada sejauh mana masyarakat suatu bangsa tersebut dapat menjaga keharmonisan hubungan antarumat beragama. Hamka merupakan salah satu ulama yang konsen membina keharmonisan hubungan antar umat beragama di Indonesia, di antaranya dengan jalan mengadakan dialog-dialog antar umat beragama seperti yang pernah dilakukannya ketika beliau menjabat sebagai Ketua Umum MUI Pusat. Meskipun demikian Hamka sangat tegas ketika ajaran toleransi sudah menyangkut masalah keimanan seperti haram hukumnya bagi umat Islam menghadiri hari raya umat lain. Hal ini berbeda dengan Nurcholish Madjid. Menurutnya, Toleransi beragama adalah dengan menghargai dan menghormati kepercayaan agama lain dan memandang bahwa masing-masing agama berjalan menuju kebenaran sehingga menurutnya tidak ada masalah jika umat Islam ikut mengucapkan selamat hari raya dan menghadiri perayaan- perayaan keagamaan agama lain karena itu merupakan bagian dari cara menjaga keharmonisan antar umat beragama. perbedaan dan persamaan pemikiran Hamka dan Nurcholish Madjid tentang toleransi beragama akan dapat diketahui dengan melakukan analisa perbandingan (deduktif komparatif) terhadap pemikiran kedua tokoh ini.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan pemikiran Hamka dan Nurcholish Madjid tentang toleransi beragama. Secara teoritis penelitian ini bermanfaat untuk menambah khazanah keilmuan Islam khususnya tentang masalah toleransi beragama. Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih terhadap dakwah Islam dan menjadi bahan masukan dalam mengkaji masalah toleransi beragama serta menambah wawasan peneliti tentang konsep toleransi beragama menurut Hamka dan Nurcholish Madjid. Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dan kepustakaan yang termasuk jenis penelitian Library Research. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Filosofis.
Hasil penelitian ini adalah adanya persamaan dan perbedaan pendapat antara Hamka dan Nurcholish Madjid tentang masalah toleransi beragama. Keduanya sama-sama menekankan tentang pentingnya prinsip toleransi dalam kehidupan beragama yaitu dengan menghormati kebebasan beragama. Karena dengan prinsip inilah semua pemeluk agama akan saling menghormati terhadap pemeluk agama lain. Perbedaan antara keduanya terletak pada batas-batas dalam toleransi beragama di mana Hamka menyatakan bahwa toleransi beragama dalam Islam hanya bisa dilakukan jika tidak menyangkut masalah keimanan sedangkan Nurcholish Madjid dalam praktek toleransi beragamanya cenderung lebih inklusif dan pluralism. Seperti dengan mengikuti do’a bersama antar umat beragama
Strategi Pengentasan Kemiskinan Dalam Al Quran Menurut Tafsir Al Azhar Karya Buya Hamka
Poverty is a problem that is closely related to socio-economic. So the solution to this problem certainly uses a social perspective. It is quite suitable with the interpretation of Al Azhar written by Buya Hamka who is known as a humanist. The interpretation of Al Azhar is a commentary that explains life under the guidance of Al Quran. as one of the socio-economic problems, poverty certainly has different characteristics from time to time. Therefore, based on this research to the interpretation of Al Azhar is a very appropriate choice because it is included to a contemporary interpretation that has more accurate relevance than the previously written interpretations. This research will lead to how the strategy of poverty alleviation in Al Quran according to the interpretation of Al Azhar by Buya Hamka.
This research heads for knowing and describing the strategy of poverty alleviation in Al Quran based on the interpretation of Al Azhar by Buya Hamka. This research is a qualitative research model with the theme of discussion of the concept of poverty alleviation with approach of Maudhu'i (thematic) tafsir method. The primary data of this research is Al-Azhar's first printed book of 2015 by Buya Hamka's Gema Insani. Secondary data sources in this research are books, scientific journals, articles, internet sites and researchs relating to the strategy of poverty alleviation. In this research, the author analyze the data using maudu'i method (thematic method).
The conclusions that can be taken in this research are Based on the observation of poor verses in chronological order, the gradual poverty alleviation is: the awareness of the people in overcoming poverty, conducting the assistance to the poor, giving direct compensation to the poor, enforcing the right protecting the poor, protecting the economic activities of the poor, doing good in general and comprehensive, fidyah fasting, infaq, ghanimah, family inheritance guarantee, kaffarah, zakat
Etika Mengkritik Pemerintah Menurut Buya Hamka dan Wahbah Az-Zuhaili atas QS. Thaha Ayat 43-48
Artikel ini membahas tentang etika mengkritik pemerintah dalam surat Thaha ayat 43-48 perspektif Buya Hamka dan Syekh Wahbah az-Zuhaili. Hal ini dilatari oleh adanya pemikiran Buya Hamka dan Wahbah yang memberikan contoh etika mengkritik pemerintah secara berbeda. Tulisan ini akan mengomparasikan pemikiran tentang etika mengkritik pemerintah antara Buya Hamka dan Wahbah az-Zuhaili dalam tafsirnya masing-masing. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah deskriptif komparatif yakni menjelaskan perbedaan juga persamaan antara penafsiran kedua tokoh mufasir tersebut. Hasil temuan mengungkap bahwa terdapat persamaan juga perbedaan antar penafsiran Buya Hamka dengan Wahbah az-Zuhaili. Persamaan yang terdapat dalam kedua penafsiran tersebut adalah pada makna karakteristik penguasa yang melampaui batas, makna pada teknik mengkritik dengan bahasa yang lembut, isi kritik yang disampaikan Musa Harun pada Firaun, juga pada keabsahan kritik yang disampaikan keduanya pada Firaun. Sedang perbedaan yang terdapat dalam kedua penafsiran tersebut adalah gaya bahasa yang digunakan keduanya dalam menjelaskan karakteristik penguasa juga saat mengkritik dengan bahasa yang lembut, lalu makna yang terdapat dalam ketakutan saat mengkritik orang dengan kuasa tinggi, juga penyajian data pendukung yang berbeda.This article discusses the ethics of criticizing the government in Thaha\u27s letter verses 43-48 from the perspective of Buya Hamka and Sheikh Wahbah az-Zuhaili. This is based on the thoughts of Buya Hamka and Wahbah who provide different examples of the ethics of criticizing the government. This article will compare thoughts on the ethics of government criticism between Buya Hamka and Wahbah az-Zuhaili in their respective interpretations. The method used in this article is comparative descriptive, namely explaining the differences and similarities between the interpretations of the two commentators. The findings reveal that there are similarities as well as differences between the interpretations of Buya Hamka and Wahbah az-Zuhaili. The similarities found in the two interpretations are the meaning of the characteristics of mastery that goes beyond limits, the meaning of the technique of hitting with soft language, the content of the criticism conveyed by Musa Harun to Pharaoh, as well as the validity of the criticism conveyed by both of them to Pharaoh. The difference in the two interpretations is the style of language used by both of them in explaining the characteristics of those in authority and when hitting them using gentle language, then the meaning contained in fear when hitting people with high power, also presents different supporting data
Tafsir audiovisual: Analisis epistemologi penafsiran Ustaz Adi Hidayat pada Channel YouTube Adi Hidayat Official
ABSTRAK
Skripsi ini berawal dari fenomena penyebaran kajian tafsir al-Qur’an melalui platform media sosial. Salah satu media sosial yang secara konsisten mengunggah video kajian tafsir al-Qur’an adalah channel YouTube Adi Hidayat Official. Tafsir tersebut disampaikan oleh Dr. Adi Hidayat, Lc. M.A., seorang ulama dari Pandeglang, Banten. Melalui video-video kajian tafsirnya, Ustaz Adi Hidayat berupaya mengarahkan masyarakat kembali kepada petunjuk al-Qur’an dan hadis Nabi Saw, serta menginspirasi kecintaan kepada keduanya. Mengingat bahwa sebuah karya tafsir tidak lepas dari berbagai kecenderungan mufasir, baik itu akibat kondisi sosial budaya, pengaruh politik, ilmu pengetahuan, konteks kelahiran tafsir tersebut, dan lainnya, kajian epistemologi tafsir menjadi isu keilmuan yang penting untuk dikaji guna memahami sebuah penafsiran. Artikel ini hadir untuk mengungkap secara mendalam bagaimana epistemologi pemikiran Ustaz Adi Hidayat dalam proses penafsirannya di media YouTube. Fokus kajian ini adalah membahas mengenai sumber dan metode penafsiran Ustaz Adi Hidayat dalam menjelaskan tafsir al-Qur’an, serta validitas Ustaz Adi Hidayat dalam menafsirkan al-Qur’an.
Metode penelitian dalam kajian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif yang bersifat etnografi virtual, yaitu mengumpulkan berbagai data dan informasi yang terdapat di lingkungan online serta video-video penafsiran yang diunggah di channel YouTube Adi Hidayat Official. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif-analitis untuk menghasilkan penjelasan yang detail, lengkap, dan sistematis. Untuk memahami sumber, metode, dan validitas penafsiran Ustaz Adi Hidayat, penulis menggunakan pendekatan filsafat, yaitu epistemologi.
Hasil kajian ini menunjukkan bahwa penafsiran Ustaz Adi Hidayat termasuk dalam kategori tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi al-ra’yi. Ia menggunakan sumber penafsiran berupa riwayat yang sahih dan kuat, baik dari al-Qur’an maupun hadis. Ustaz Adi Hidayat juga merujuk pada hasil ijtihad dan pemikiran mufasir terdahulu dalam kitab tafsir, kaidah bahasa Arab, serta ilmu yang ditekuni olehnya. Dalam menyampaikan penafsirannya, Ustaz Adi Hidayat cenderung menggabungkan dua metode, yaitu metode mauḍhui (tematik) dan metode tahlili (analitis). Penafsiran Ustaz Adi Hidayat dinilai benar karena sesuai dengan tiga teori kebenaran dalam filsafat ilmu, yaitu teori koherensi, teori korespondensi, dan teori pragmatis.
ABSTRACT
This thesis begins with the phenomenon of spreading the study of the interpretation of the Qur'an through social media platforms. One of the social media that consistently uploads videos of the study of the interpretation of the Qur'an is the Adi Hidayat Official YouTube channel. The interpretation was delivered by Dr. Adi Hidayat, Lc. M.A., a scholar from Pandeglang, Banten. Through his tafsir study videos, Ustaz Adi Hidayat seeks to direct people back to the guidance of the Qur'an and the Prophet's hadith, and inspire love for both. Given that a work of tafsir cannot be separated from the various tendencies of the mufasir, whether it is due to socio-cultural conditions, political influences, science, the context of the birth of the tafsir, and others, the study of tafsir epistemology becomes an important scientific issue to be studied in order to understand an interpretation. This article is here to reveal in depth how the epistemology of Ustaz Adi Hidayat's thoughts in the process of interpretation on YouTube media. The focus of this study is to discuss the sources and methods of Ustaz Adi Hidayat's interpretation in explaining the interpretation of the Qur'an, as well as the validity of Ustaz Adi Hidayat in interpreting the Qur'an.
The research method in this study is library research with a qualitative approach that is virtual ethnography, namely collecting various data and information contained in the online environment as well as interpretation videos uploaded on the Adi Hidayat Official YouTube channel. The data collected is then analyzed using descriptive-analytical methods to produce detailed, complete, and systematic explanations. To understand the sources, methods, and validity of Ustaz Adi Hidayat's interpretation, the author uses a philosophical approach, namely epistemology.
The results of this study show that the interpretation of Ustaz Adi Hidayat is included in the category of tafsir bi al-ma'tsur and tafsir bi al-ra'yi. He uses sources of interpretation in the form of valid and strong narrations, both from the Qur'an and hadith. Ustaz Adi Hidayat also refers to the results of ijtihad and the thoughts of previous mufasirs in the book of interpretation, the rules of Arabic, and the science he is engaged in. In delivering his interpretation, Ustaz Adi Hidayat tends to combine two methods, namely the mauḍhui (thematic) method and the tahlili (analytical) method. Ustaz Adi Hidayat's interpretation is considered correct because it is in accordance with the three theories of truth in the philosophy of science, namely coherence theory, correspondence theory, and pragmatic theory.
مستخلص البحث
تنطلق هذه الورقة من ظاهرة نشر دراسة تفسير القرآن عبر فضاء وسائل التواصل الاجتماعي. ومن بين وسائل التواصل الاجتماعي التي دأبت على رفع مقاطع فيديو لدراسات تفسير القرآن الكريم قناة عدي هدايات الرسمية على اليوتيوب. وقد قام بتقديم التفسير الدكتور عدي هدايت، ماجستير. M.A. وهو عالم من بانديغلانغ، بانتن. ويحاول الأستاذ عدي هدايات من خلال فيديوهاته التفسيرية أن يعيد المجتمع إلى هدي القرآن والحديث النبوي الشريف، ويحاول أن يكون محبًا لهما معًا. معتبراً أن العمل التفسيري لا ينفصل عن الميول المختلفة للمفسر، سواء أكان ذلك ناتجاً عن الظروف الاجتماعية والثقافية، أو المؤثرات السياسية، أو العلمية، أو السياق الذي ولد فيه التفسير، وغيرها. لذا، فإن دراسة علم التفسير بالمأثور تصبح إشكالية علمية ملحة لا بد من معالجتها من أجل معرفة التفسير. وفي هذا البحث نحاول في هذا البحث أن نكشف بشكل كبير عن كيفية إبيستمولوجيا فكر الأستاذ عدي هداية في عملية التفسير على اليوتيوب. ويناقش محور الإشكال في الدراسة مصادر ومناهج تفسير الأستاذ عدي هداية في تفسير القرآن الكريم، وكذلك معايير صحة تفسير الأستاذ عدي هداية في تفسير القرآن الكريم.
منهج البحث في هذه الدراسة هو البحث المكتبي ذو المنهج الكيفي الذي يتسم بطبيعة إثنوغرافية افتراضية، أي جمع البيانات والمعلومات المختلفة الموجودة في البيئة الإلكترونية بالإضافة إلى مقاطع الفيديو التفسيرية التي تم تحميلها من قبل قناة عدي هدايات الرسمية على اليوتيوب. وعلاوةً على ذلك، يتم تحليل البيانات باستخدام المنهج الوصفي التحليلي من أجل إنتاج تفسير مفصل وكامل ومنهجي. ولمعرفة مصدر تفسير الأستاذ عدي هدايات وطريقته وصحة تفسيره، يستخدم المؤلف منهجًا فلسفيًا وهو نظرية المعرفة.
ومن خلال هذه الدراسة يتبين لنا أن تفسير الأستاذ عدي هداية يدخل في باب التفسير بالمأثور والتفسير بالرأي. فهو يستخدم مصادر التفسير في شكل روايات صحيحة وقوية، سواء من القرآن أو الحديث. كما يرجع الأستاذ عدي هداية إلى نتائج الاجتهاد وأفكار المفسرين السابقين في كتاب التفسير، وقواعد العربية، والعلم الذي يشتغل به. ويميل الأستاذ عدي هداية في تقديم تفسيره إلى الجمع بين طريقتين، هما الطريقة الموضوعية والطريقة التحليلية. ويُقال إن تفسير الأستاذ عدي هدايت صحيح لأنه يتوافق مع نظريات الحقيقة الثلاث في فلسفة العلم، وهي نظرية التماسك ونظرية التطابق والنظرية التطابقية والنظرية البراغماتية
Studi Komparasi Tentang Setȃn Menurut Penafsiran Buya Hamka Dan Penafsiran Asy-Sya’rawi
Setân merupakan musuh manusia, sebagaimana Allah ingatkan dalam al-Qur’an surah Fathir ayat 6 yang artinya Sesungguhnya setân bagi kalian wahai manusia adalah musuh abadi, maka jadikanlah ia sebagai musuh kalian dengan terus menerus melawannya, salah satu ayat utama tentang tipu daya setân tersebutlah dalam surah Ibrahim ayat 22. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna serta perbedaan dan persamaan penafsiran tentang setân dalam surah Ibrahim ayat 22 menurut Buya Hamka dan Syaikh asy-Sya’rawi. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian pustaka. Sumber primer yang digunakan ialah Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir asy-Sya’rawi karya Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode komparasi, yaitu membandingkan penafsiran Buya Hamka dengan Syaikh Asy-Sya’rawi tentang setân Dalam Surah Ibrahim Ayat 22. Penafsiran tentang setân didalam surah Ibrahim ayat 22 menurut kitab tafsir Al-Azhar dan tafsir Asy Sya’rawi yaitu sifat suatu makhluk dalam hal ini ialah jin dan manusia, yang durhaka kepada Allah serta mengajak makhluk lainnya mendurhakai Allah, mereka inilah disebut setân. Diantara perbedaan penafsiran tentang setân dalam surah Ibrahim ayat 22 dari kedua mufasir tersebut yaitu makna kalimat maa ana bimusrighikum wamaa antum bisurighi. Sedangkan persamaannya yaitu dari metode keduanya dalam menafsirkan al-Qur’an yaitu mengumpulkan beberapa ayat yang saling berkaitan dengan tema yang dibahas. Persamaan lainya yaitu penafsiran makna kalimat asy-syaithan, dan lamma qudiya amr
- …
