1,720,955 research outputs found
PENGUASAAN LAHAN MENURUT PANDANGAN MAZHAB HANAFI DAN MAZHAB SYAFI’I SERTA RELEVANSINYA DENGAN REGULASI DI INDONESIA
Salah satu problematika lahan disebabkan oleh adanya tanah telantar yang
belum atau tidak jelas status kepemilikannya. Ditinjau dari status hukumnya di
dalam Islam tanah ini dapat dimiliki melalui proses iḥyāul mawāt. Konsep iḥyāul
mawāt dalam Islam memiliki corak tersendiri dalam pandangan mazhab Hanafi dan
mazhab Syafi’i, baik dari sisi subjek, persyaratan, izin pemerintah, dan status lahan
kepemilikan yang ditelantarkan. Sedangkan dalam regulasi Indonesia, lahan ini
pada dasarnya merupakan lahan yang dikuasai oleh negara berdasarkan pasal 2 ayat
1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2021, namun lahan
ini dapat menjadi kepemilikan dengan cara dihidupkan berdasarkan ketetapan
pemerintah dan undang-undang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep penguasaan lahan melalui
iḥyāul mawāt berdasarkan pandangan mazhab Hanafi dan mazhab Syafi’i serta
relevansinya dengan regulasi Indonesia. Jenis penelitian yang digunakan ialah
library research (penelitian kepustakaan) atau penelitian normatif dengan
pendekatan kualitatif deskriptif yang dilakukan dengan analisis komparatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sisi subjek mazhab Hanafi
memberlakukan iḥyāul mawāt pada semua orang tanpa membedakan muslim
maupun non-muslim, sedangkan mazhab Syafi’i hanya memfokuskan pada orang�orang Islam saja. Ditilik dari persyaratan, mazhab Hanafi menyaratkan objek
penguasaan lahan tidak sedang dalam kepemilikan, di luar wilayah dan tidak
menjadi prasarana, sedangkan mazhab Syafi’i menyaratkan status muslim dari
subjeknya dan ketiadaan kepemilikan atas objeknya. Dari sisi perizinan, mazhab
Hanafi mewajibkan adanya izin, sedangkan mazhab Syafi’i tidak mewajibkan
adanya izin. Adapun mengenai status kepemilikan tanah yang ditelantarkan mazhab
Hanafi berpendapat bahwa tanah tersebut dapat dikelola, sedangkan dari mazhab
Syafi’i menegaskan bahwa tanah tersebut tidak dapat dikelola. Pendapat mazhab
Hanafi dengan regulasi Indonesia dari sisi subjek, persyaratan, izin, dan status tanah
kepemilikan yan ditelantarkan memiliki kesamaan yang mendominasi, sedangkan
dari mazhab Syafi’i hanya dari sisi status kepemilikan tanah yang ditelantarkan
yang relevan untuk diaktualisasikan
Nikah Diraih Urang dalam Masyarakat Banjar (Studi Kasus di Kandangan dan Banjarmasin)
Penelitian ini membahas mengenai fenomena nikah diraih urang dalam masyarakat Banjar, yaitu praktik ketika pihak perempuan mengajukan permintaan menikah kepada laki-laki. Fenomena ini dianggap tidak lazim di beberapa wilayah dalam budaya Banjar yang memiliki sistem kekerabatan patrilineal atau bilateral, serta dipengaruhi oleh dominasi norma gender dan nilai keagamaan, sehingga dinilai tabu oleh sebagian masyarakat. Adapun alasan pemilihan dua titik lokasi (Kandangan dan Banjarmasin) dalam penelitian ini ialah praktik adat dan budaya yang masih hidup, perbedaan pengaruh dalam pemeliharaan budaya antara daerah hulu dan perkotaan serta pembanding dalam penelitian. Penelitian ini bertujuan mengetahui praktik nikah diraih urang dan menganalisisnya dari perspektif sosiologis, termasuk keterkaitannya dengan adat dan agama.
Penelitian ini merupakan penelitian empiris (field research) dengan pendekatan sosiologis dan antropologis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan metode kualitatif deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik nikah diraih urang bukan merupakan praktik yang umum dalam masyarakat Banjar. Kasus-kasus yang ditemukan bervariasi dalam faktor penyebabnya, antara lain kualitas laki-laki yang diraih, kondisi ekonomi dan desakan usia perempuan. Secara sosiologis, tindakan perempuan melamar laki-laki dipandang melanggar norma kesopanan dan berpotensi menurunkan kehormatan keluarga dalam struktur sosial tertentu. Temuan penelitian juga menunjukkan adanya ketegangan antara ajaran agama yang membolehkan praktik tersebut dengan norma sosial budaya yang memandangnya sebagai hal yang tidak lazim dan menciderai nilai-nilai kesopanan di masyarakat
Nikah Diraih Urang dalam Masyarakat Banjar (Studi Kasus di Kandangan dan Banjarmasin)
Penelitian ini membahas mengenai fenomena nikah diraih urang dalam masyarakat Banjar, yaitu praktik ketika pihak perempuan mengajukan permintaan menikah kepada laki-laki. Fenomena ini dianggap tidak lazim di beberapa wilayah dalam budaya Banjar yang memiliki sistem kekerabatan patrilineal atau bilateral, serta dipengaruhi oleh dominasi norma gender dan nilai keagamaan, sehingga dinilai tabu oleh sebagian masyarakat. Adapun alasan pemilihan dua titik lokasi (Kandangan dan Banjarmasin) dalam penelitian ini ialah praktik adat dan budaya yang masih hidup, perbedaan pengaruh dalam pemeliharaan budaya antara daerah hulu dan perkotaan serta pembanding dalam penelitian. Penelitian ini bertujuan mengetahui praktik nikah diraih urang dan menganalisisnya dari perspektif sosiologis, termasuk keterkaitannya dengan adat dan agama.
Penelitian ini merupakan penelitian empiris (field research) dengan pendekatan sosiologis dan antropologis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan metode kualitatif deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik nikah diraih urang bukan merupakan praktik yang umum dalam masyarakat Banjar. Kasus-kasus yang ditemukan bervariasi dalam faktor penyebabnya, antara lain kualitas laki-laki yang diraih, kondisi ekonomi dan desakan usia perempuan. Secara sosiologis, tindakan perempuan melamar laki-laki dipandang melanggar norma kesopanan dan berpotensi menurunkan kehormatan keluarga dalam struktur sosial tertentu. Temuan penelitian juga menunjukkan adanya ketegangan antara ajaran agama yang membolehkan praktik tersebut dengan norma sosial budaya yang memandangnya sebagai hal yang tidak lazim dan menciderai nilai-nilai kesopanan di masyarakat
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
- …
