39 research outputs found

    PENGARUH PENAMBAHAN SEKAM PADI DAN POLIMER EMULSI POLY VINYL ACECATE CO ACRYLIC PADA TANAH LEMPUNG DENGAN OBJEK PENGUJIAN KEKUATAN BATU BATA MENGGUNAKAN METODE UNIAXIAL

    No full text
    Research on the effect of the addition of rice husk and poly vinyl acetate emulsion polymer co acrylic (PVA) on clay have been conducted to see the strength of brick. Calculation of strength compared to brick by rice husks and polymer emulsion and given rice husk without any emulsion polymer. Provision of rice husk to batter was fixed at 9:1, while the provision of PVA polymer mixture for each batter with varying percentage are 1%-7%. Based on the results of the research, showed that: uniaxial compressive strength test resultsbricks to mix rice husk without PVA emulsion polymer was 28,7kg/cm2(L0), compressive strength test results bricks to mix rice husk with PVA emulsion polymer to a mixture of 1%-7%, respectively: (PVA 1% of 28,7 kg/cm2 (L1);(PVA 2% of 28,7 kg/cm2 (L2); (PVA 3% of 28,7 kg/cm2 (L3); (PVA 4% of 28,7 kg/cm2 (L4); (PVA 5% of 28,7 kg/cm2  (L5); (PVA 6% of 28,7 kg/cm2 (L6); and (PVA 7% of 28,7 kg/cm2 (L7). From the above results show that the compressive strength test results bricks to mix rice husk with PVA emulsion polymer mix increased from 1% to 3% mix, while starting from a mixture of 4% to 7% of the compressive strength of bricks dropped dramatically. The addition of PVA 3% of additions that the most effective way to improve the compressive strength of the bricks with compressive strength reached 53,5 kg/cm2, or increase of 46,4% from a brick with a mixture ofrice husk

    ESTIMASI POROSITAS DAN PERMEABILITAS RETAKAN AKIBAT GEMPA BUMI TAHUN 2000 DI JALAN DANAU DENDAM BENGKULU DENGAN LATTICE GAS AUTOMATA (LGA)

    No full text
    This research purposed to determine the total porosity (?) and permeability (k) of cracks result of the earthquake of 2000 years in the road of Dendam lake Bengkulu. Porosity and permeability calculations performed using the model Lattice Gas Automata (LGA) which implemented with Delphi 7.0 programming language. From the results of the calculation data, obtained that the cracks that have the greatest permeability obtained for cracks 3 with permeability values (k) is 10,115704 pixel 2 tot, and total porosity (?) for cracks 3 is 0,108565. While the cracks that have the smallest permeability obtained in the cracks 2 with permeability values (k) is 1.138247 pixel 2 tot, and total porosity (?tot) for cracks 2 is 0,087898. Simulation of fluid flow at the time of running data for a small porosity causing the collision of fluid flow models of LGA are becoming more frequent, there for causing the permeability is decreases. Otherwise, for a big porosity causing the collision of fluid model of LGA are becoming less frequent, there for causing the permeability is increases

    UJI KUALITAS AIR PDAM TIRTA RAFFLESIA DESA TALANG PAUH MENGGUNAKAN ALAT ELEKTROLISA BERDASARKAN WARNA ENDAPAN UNTUK MENGETAHUI JENIS BAHAN PENCEMAR SERTA PENGARUHNYA TERHADAP KESEHATAN

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menguji kualitas air PDAM Tirta Rafflesia Desa Talang Pauh menggunakan alat elektrolisa air, berdasarkan warna endapan untuk mengetahui jenis bahan pencemar serta pengaruhnya terhadap kesehatan. Sampel penelitian langsung diambil dari air PDAM Desa Talang Pauh. Waktu yang dibutuhkan untuk mengelektrolisa air adalah selama 15 menit. Elektroda yang dibutuhkan berjumlah 4 buah, dibuat dari bahan aluminium 2 buah dan dari bahan besi 2 buah. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa warna endapan hasil elektrolisa menimbulkan warna jingga saja. Dari warna tersebut dapat diinterpretasi bahwa endapan warna jingga mempunyai unsur kimia besi teroksida. Jika dikonsumsi dalam waktu yang lama dapat menyebabkan gangguan pada pembuangan urine serta mengganggu ketidakseimbangan metabolisme. Hasil uji kualitas air PDAM Tirta Rafflesia Desa Talang Pauh dengan menggunakan alat elektrolisa air, diperoleh endapan berwarna jingga

    Lattice Gas Automata Applications to Estimate Effective Porosity and Permeability Barrier Model of the Triangle with a Height Variation

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menghitung porositas efektif (eff) dan permeabilitas (k) menggunakan model segitiga dengan variasi tinggi yaitu 3, 4, 5, 6 dan 7 cm. Perhitungan porositas dan permeabilitas yang efektif dilakukan dengan menggunakan model Lattice Gas Automata (LGA), yang diimplementasikan dengan bahasa pemrograman Delphi 7.0. Untuk model segitiga penghalang dengan tinggi 3, 4, 5, 6 dan 7 cm, nilai porositas efektif dan permeabilitas, masing-masing: eff (T1) = 0,1690, k (T1) = 0 , 001339 pixel2; eff (T2) = 0,1841, k (T2) = 0,001904 pixel2; eff (T3) = 0,1885, k (T3) = 0,001904 pixel2; eff (T4) = 0,1938, k (T4) = 0001925 pixel2; dan eff (T5) = 0,2053, k (T5) = 0,002400 pixel2. Dari hasil simulasi, diperoleh tinggi segitiga akan berpengaruh signifikan terhadap nilai porositas efektif dan permeabilitas. Pada segitiga lebih tinggi, menyebabkan tabrakan model aliran fluida LGA mengalami lebih banyak hambatan untuk penghalang, sehingga porositas efektif dan permeabilitas menurun. Sebaliknya, jika segitiga lebih rendah, menyebabkan tabrakan model aliran fluida LGA mengalami lebih sedikit hambatan untuk penghalang, sehingga porositas efektif dan permeabilitas meningkat.This research purposed to calculate the effective porosity (feff) and permeability (k) using the barrier model of the triangle with a high varying are 3, 4, 5, 6 and 7 cm. Effective porosity and permeability calculations performed using the model Lattice Gas Automata (LGA), which is implemented with Delphi 7.0 programming language. For model the barrier triangle with a high of 3, 4, 5, 6 and 7 cm, the value of effective porosity and permeability, respectively: feff(T1)=0,1690, k(T1)=0,001339 pixel2; feff(T2)=0,1841, k(T2)=0,001904 pixel2; feff(T3)=0,1885, k(T3)=0,001904 pixel2; feff(T4)=0,1938, k(T4)= 0001925 pixel2; and feff(T5)=0,2053, k(T5)=0,002400 pixel2. From the simulation results, obtained by the high of the triangle will be a significant effect on the value of effective porosity and permeability. If the triangle highest, causing the collision of fluid flow models LGA experience more obstacles to the barrier, so that the effective porosity and permeability decrease. Conversely, if the triangle lower, causing the collision of fluid flow models LGA experience less obstacles to the barrier, so that the effective porosity and permeability increases.Keywords: Effective porosity, permeability, model triangle, model LG

    IDENTIFIKASI SEBARAN MINERAL EMAS MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI DIPOLE-DIPOLE (Studi Kasus Desa Tambang Sawah Kecamatan Pinang Belapis Lebong)

    No full text
    ABSTRAK Mineral emas terbentuk akibat adanya endapan aktivitas magma dalam jangka waktu lama dan akibat adanya proses sedimentasi. Singkapan mineral emas banyak ditemukan di Desa Tambang Sawah Kecamatan Pinang Belapis Kabupaten Lebong sehingga banyak dilakukan penambangan oleh masyarakat. Maka dilakukan penelitian menggunakan metode geolistrik konfigurasi dipole�dipole untuk mengetahui sebaran mineral emas yang belum dilakukan penambangan oleh masyarakat sekitar. Hasil penelitian dilakukan dengan mengkorelasi nilai chargeability >300 ms yang merupakan daerah zona mineralisasi tinggi dan resistivity >500 Ωm memiliki zona mineralisasi tinggi. Pada daerah ini diketahui terdapat mineralisasi emas berada pada kedalaman 50- 73 m yang berada di bawah permukaan. zona mineralisasi emas ditandai dengan mineral kunci berupa pirit, irit, serisit dan silika. Zona alterasi pada daerah penelitian ini terbagi menjadi beberapa bagian yaitu zona lapisan air, lempung, granit, zona alterasi propilitik, zona alterasi silika dan zona silifikasi. Kata kunci: Mineral Emas, Dipole-dipole, Resistivity, Chargeabilit

    PERANCANGAN DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI HIDROPONIK VERTIKAL HIDRO 40 HOLE BAGI KARANG TARUNA TRI TUNGGAL DI DESA TALANG PAUH

    No full text
    It has been devoted an activity in community in application of science and technology with the title: Design and Utilization Hydroponic Vertical Hydro 40 Hole for Karang Taruna Tri Tunggal in Talang Pauh Village, Pondok Kelapa District, Central Bengkulu. This dedication destination to design and utilize hydroponic vertical hydro technology as one of the ground breaking technological break throughs in rural areas to complement the vegetable needs for house hold scale. From the results of the implementation of dedication can be concluded that hydroponic technology vertical model of 40 holes hydro can be well received by the participant’s devotion. The plant species are mustard, this plant can grow well from two weeks old, although the harvest period for mustard plants is estimated to 35-50 days. Keywords: hydroponic, vertical hydro, 40 hole, house hold scale, Talang Pauh Village

    IDENTIFIKASI DAERAH POTENSI HIDROTERMAL DI KABUPATEN KEPAHIANG BERDASARKAN DATA CITRA SATELIT LANDSAT 8

    No full text
    ABSTRAK Munculnya manifestasi hidrotermal diakibatkan karena adanya pergeseran lempeng pada daerah tektonik. Diantaranya terdapat pada daerah Kabupaten Kepahiang. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengetahui potensi hidrotermal yaitu dengan menggunakan metode penginderaan jarak jauh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran potensi hidrotermal di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu berdasarkan data Citra Satelit Landsat 8. Land Surface Temperature (LST) diperoleh menggunakan metode emisivitas dengan memperhitungkan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan Normalized Difference Water Index (NDWI). Data pengindraan jauh yang digunakan pada penelitian adalah data sekunder dari data Citra Satelit Landsat 8, yang nantinya akan dijadikan sebagai acuan dalam pemetaan sebaran potensi hidrotermal. Hasil pengolahan menunjukkan bahwa daerah penelitian memiliki sebaran suhu permukaan tanah berkisar antara 10°C sampai 50°C. Hasil interpretasi menunjukkan adanya anomali pada daerah penelitian dengan suhu sekitar 30°C sampai 50°C. Daerah anomali diduga berpotensi sebagai area panas bumi. Daerah anomali diduga berasosiasi dengan sesar Sumatera, sesar Malintang dan sesar Sempiang. Selain itu, daerah potensi hidrotermal terindikasi tersebar di sekitar kawasan Bukit Hitam Kabupaten Kepahiang. Kata kunci: suhu permukaan tanah, penginderaan jauh, hidroterma

    KARAKTERISTIK SEDIMEN YANG MEMPENGARUHI POTENSI BANJIR DI SUNGAI MUSI KEPAHIANG

    No full text
    Meningkatnya sedimentasi menyebabkan penyempitan aliran sungai, sehingga jika terjadi hujan akan menyebabkan banjir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sedimen yang mempengaruhi potensi banjir di Sungai Musi Kepahiang. Metode yang digunakan adalah pengukuran langsung dan analisis laboratorium. Berdasarkan hasil penelitian diadapat bahwa karakteristik sedimen di Sungai Musi mempunyai diameter ukuran butiran 180 m – 1,4 mm. Sedangkan tekstur sedimen berupa pasir, lanau dan debu, tekstur dominan pasir pada Sungai Gegasan dengan persen pasir sebesar 77,77%, Sungai Lanang dominan tekstur lanau dengan persen lanau sebesar 15,58%, sedangkan untuk pertemuan Sungai Lanang dan Sungai Gegasan tekstur dominan debu dengan persen debu sebesar 21,71%, pada aliran Sungai Gegasan dan Sungai Lanang menuju Sungai Musi tekstur dominan debu dengan persen debu sebesar 22,95%. Nilai tertinggi sedimen terjadi pada saat sesudah hujan dengan debit aliran sungai tertinggi pada pertemuan Sungai Gegasan dan Sungai Lanang 17,50 m3/s, debit sedimen layang sebesar 1,40 kg/s, debit sedimen dasar sebesar 5244 kg/s, dan volume sedimen sebesar 13366 m3. Laju sedimen tertinggi terjadi pada Sungai Gegasan 3,23 m/s dan pada aliran Sungai Lanang sebesar 3,79 m/s. Sungai Lanang, Sungai Gegasan, pertemuan Sungai Lanang dan Sungai Gegasan memiliki perbedaan elevasi yang menyebabkan arus sungai mengalami arus balik pada saat penutupan intake, sehingga mengakibatkan sungai tidak dapat mengalir ke hilir. Oleh sebab itu jika terjadi peningkatan intensitas hujan maka akan megakibatkan banjir di sekitar Desa Tanjung Alam, Desa Air Hitam, dan Desa Kampung Bali. Kata kunci: sedimen, debit, elevasi, Sungai Musi Kepahian

    IDENTIFIKASI ZONA BATUAN ALTERASI HIDROTERMAL DENGAN METODE TIME DOMAIN INDUCED POLARIZATION (TDIP) (Studi Kasus: Di Air Putih Kecamatan Pinang Berlapis Kabupaten Lebong)

    No full text
    ABSTRAK Alterasi hidrotermal adalah perubahan komposisi mineral pada suatu batuan secara fisik dan kimia yang di sebabkan oleh larutan hidrotermal pada temperatur yang tinggi. Interaksi larutan hidrotermal dengan batuan yang dilewatinya (batuan dinding), akan menghasilkan perubahan mineral primer menjadi mineral sekunder. Zona alterasi hidrotermal dapat diidentifikasi dengan menggunakan metode Time Domain Induced Polarization. Daerah penelitian yang terdapat manifestasi hidrotermal terletak di Kawasan Air Putih, Kecamtan Pinang Berlapis, Kabupaten Lebong. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan dengan menggunkan metode Time Domain Induced Polarization. Hasil penelitian ini menunjukan penandaan zona alterasi hidrotermal pada daerah penelitian tersebut. Zona alterasi yang ditandai adanya zona alterasi hidrotermal dari mineral granit, breksi, basalt. Zona alterasi hidrotermal ditandai adanya zona konduktif dengan nilai chargeability -191 sampai -50,9 msec pada kedalaman dangkal 0,375-12,9 meter. KATA KUNCI: Manifestasi, Minerals, Alterasi Hidrotermal, Chargeability, Induced Polarizatio
    corecore