8 research outputs found

    Pengembangan Desain Lampu Bambu untuk Segmentasi Pasar Jepang dengan Fleksibelitas Cahaya dan Gesture Control

    No full text
    Pemanfaatan bambu sebagai produk kerajinan dengan nilai eksklusif masih kecil. Dari jenis bahan bambu apus dapat dikombinasikan teknik pengolahan bambu apus seperti teknik melingkar bambu, laminasi bambu dan batang bambu. Kebutuhan pencahayaan dekorasi rumah sebagai pendukung gaya hidup perkotaan ke atas dengan tren desain hijau semakin diminati. Dalam memperoleh karakteristik desain diperlukan metode persona. pilihan konsep dekorasi rumah untuk pencahayaan bambu adalah dalam bentuk Mengembangkan Modernisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal, dengan makna memanfaatkan kekayaan bahan bambu menjadi produk kerajinan modern dalam bentuk pencahayaan dekorasi rumah dengan desain post modern, bersama dengan cahaya fleksibilitas dan kontrol gerak sebagai fitur interaktif pada pencahayaan dekorasi rumah

    Sistem Interchangeable pada Sepatu Wanita

    Full text link
    Produk fesyen yang sering wanita gunakan adalah produk sepatu hak. Namun penggunaan dalam kurun waktu tertentu memberikan dampak yang negatif pada bagian kaki dan tubuh. Untuk mensiasati dan mengurangi dampak negatif tersebut, maka didesainlah sepatu wanita dengan hak lepas-pasang. Sepatu ini memiliki sistem sambungan yang telah terintegrasi antar komponen utama dengan komponen lainnya. Hal tersebut didukung dengan komponen insol yang fleksibel. Metode yang dilakukan adalah studi literatur dan observasi. Adapun output dari perancangan yang dilakukan adalah desain sepatu wanita dengan hak yang dapat dilepas pasang

    Desain Mainan Edukasi Balok Modul untuk Anak Usia 8-12 Tahun Bertema Candi

    Full text link
    Mainan edukasi adalah jenis mainan yang dapat memberikan pembelajaran tertentu kepada penggunanya (anak-anak). Berdasarkan pada Standar Kompetensi Sekolah Dasar mata pelajaran Ilmu Pengatahuan Sosial kelas V menyebutkan tentang pentingnya mengenal bangunan peninggalan masa hindu budha. Di lain pihak, pasar mainan anak saat ini banyak dikuasai oleh produk import menyebabkan tergesernya produk mainan dalam negeri. Fenomena tersebut adalah dasar perancangan dalam desain mainan edukasi bertema candi. Metode yang digunakan dalam Tugas Akhir ini adalah deep interview kepada arkeolog di Balai Konservasi Candi Borobudur serta observasi langsung terhadap stupa Borobudur. Proses studi dan analisa yang dilakukan dalam Tugas Akhir antara lain analisa penyederhanaan bentuk, analisa user, analisa mekanisme sambungan, analisa bagian – bagian stupa sampai kepada analisa proses produksi. Hasil yang diperoleh dalam Tugas Akhir ini berupa serial produk mainan balok modul dalam bentuk puzzle 3D bertema stupa Borobudur untuk anak usia 8-12 tahun

    Eksplorasi Batu Akik untuk Perhiasan Generasi Z

    Full text link
    Batu akik merupakan sumber daya alam yang melimpah di negara Indonesia serta memiliki nilai asosiatif untuk dimanfaatkan sebagai barang hias karena karakteristik dan warna nya yang indah. Namun, melalui observasi di lapangan, penulis menemukan bahwa pemanfaatan batu akik sebagai material perhiasan belum dimanfaatkan secara maksimal sehingga penjualannya masih rendah apabila dibandingkan dengan penjualan perhiasa yang menggunakan material batu permata. Padahal material b atu akik juga berpotensi sama besarnya dengan batu permata jika diolah lebih baik lagi. Eksplorasi material batu akik pada produk perhiasan ini bertujuan untuk meningkatkan pengembangan kemungkinan bentuk dan pemanfaatan bahan batu akik supaya dapat meningkatkan daya tariknya, nilai jual, dan nilai keindahan, serta memaksimalkan penggunaannya dalam pembuatan perhiasan. Untuk gaya desain yang diterapkan adalah gaya wise minimalis dengan didasari pada gaya yang paling banyak diminati oleh generasi Z sebagai populasi terbesar saat ini di Indonesia. Dengan menargetkan pasar pada generasi Z, dapat memudahkan dalam peningkatan popularitas batu akik supaya dapat dikenal dan terus lestari, sehingga batu akik dapat terus diapresiasi dengan jangka lama dan berujung pada peningkatan nilai potensi secara menyeluruh. Terdapat dua jenis data yang digunakan untuk mendukung penelitian ini, yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dengan metode pencarian melalui literatur ilmiah; observasi; eksplorasi material; moodboard; dan simulasi model 3 dimensi. Sedangkan untuk data kuantitatif diperoleh dengan melakukan metode persebaran kuesioner. Hasil yang dicapai pada perancangan ini adalah produk perhiasan dengan hasil eksplorasi material batu akik yang baru dalam bentuk model perhiasan 3 dimensi

    Pengembangan Permainan untuk Sarana Belajar sebagai Terapi Motorik Halus pada Anak Penyandang Autism (ASD) dengan Menggunakan Kayu Olahan

    Full text link
    Autism (ASD) adalah gangguan perkembangan yang meliputi sistem motorik, interaksi sosial, gangguan pada komunikasi dan keterbatasan minat serta kemampuan imajinasi pada anak. Perkembangan motorik yang terlambat pada anak dapat mempengaruhi kualitas dari pembelajaran dan kegiatan sehari-hari yang membuat anak mengalami gangguan dalam menerima, memproses, menganalisis atau untuk menyimpan informasi. Salah satu cara untuk dapat meningkatkan perkembangan dari keterlambatan motorik halus dengan melakukan terapi. Terapi yang dapat digunakan untuk menunjang perkembangan motorik halus adalah terapi okupasi dengan tujuan untuk membantu mencari cara agar anak-anak yang memiliki gangguan pada perkembangan motorik halus mampu memperbaiki kekuatan, koordinasi, dan keterampilannya. Tujuan dari perancanganyan ini adalah menghasilkan mainan edukatif yang dapat menunjang perkembangan keterampilan tersebut dengan menyesesuaikan dari kebutuhan anak penyandang autism (ASD). Dengan mengumpulkan data dari interview, shadowing, kuisioner dan usability tes pada terapis, pembimbing atau orang tua untuk mengoptimalkan kebutuhan dari perancangan mainan edukatif. Hasil dari penelitian ini berupa produk 1 set mainan edukasi dengan 4 macam keterampilan, diantaranya lacing toy, tracing, menusuk gambar dan puzzle grip. Keutamaan pada keterampilan lacing toys yang memiliki fitur sensor elektronika penghasil suara pada kegiatan meronce sebagai koordinasi mata dan tangan pada anak penyandang autism (ASD)

    Pengembangan Desain Lampu Bambu untuk Segmentasi Pasar Jepang dengan Fleksibelitas Cahaya dan Gesture Control

    Full text link
    Pemanfaatan bambu sebagai produk kerajinan dengan nilai eksklusif masih kecil. Dari jenis bahan bambu apus dapat dikombinasikan teknik pengolahan bambu apus seperti teknik melingkar bambu, laminasi bambu dan batang bambu. Kebutuhan pencahayaan dekorasi rumah sebagai pendukung gaya hidup perkotaan ke atas dengan tren desain hijau semakin diminati. Dalam memperoleh karakteristik desain diperlukan metode persona. pilihan konsep dekorasi rumah untuk pencahayaan bambu adalah dalam bentuk Mengembangkan Modernisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal, dengan makna memanfaatkan kekayaan bahan bambu menjadi produk kerajinan modern dalam bentuk pencahayaan dekorasi rumah dengan desain post modern, bersama dengan cahaya fleksibilitas dan kontrol gerak sebagai fitur interaktif pada pencahayaan dekorasi rumah

    Magnetic Puzzle Sebagai Penunjang Fokus Pembelajaran Kognitif untuk Usia Keemasan Anak

    Full text link
    Periode golden age merupakan periode kritis dalam perkembangan fisik, sosial, emosional, & intelektual anak. Namun, pendidikan anak-anak usia ini seringkali berjalan kurang efektif karena proses pembelajaran yang tidak maksimal, terutama saat pandemi Covid-19. Penelitian ini merancang sebuah instrumen permainan untuk menstimulasi fokus anak-anak usia tersebut. Instrumen permainan yang dibuat berupa puzzle yang disusun dengan bantuan magnet. Mainan magnetic puzzle ini dibuat dari material bambu dengan cara laminasi. Komponen elektronika dalam mainan ini melibatkan sensor RFID, LED, dan flashcard, di mana anak akan difokuskan untuk mengerjakan puzzle di satu titik saja. Proses perancangan magnetic puzzle menghasilkan beberapa poin kesimpulan: pertama, pentingnya peran orang tua untuk ikut memberikan stimulasi anak usia 4-6 tahun. Kedua, nilai material bambu dan rotan yang digunakan pada prototype ini ditujukan untuk mempertahankan value dari material alam tersebut
    corecore