1,720,971 research outputs found
Narratives of sexuality in bugis and makasar manuscripts
This paper discusses a particular category of text called assikalaibineng,
which contain a range of Bugis and Makasar knowledge relating to sexual
procedure and relations for married couples. The sexual knowledge in these
texts was mainly restricted to members of Sufi tariqa, in particular the elite,
and assikalaibineng sexual knowledge was shaped by both indigenous
practices and Islamic values and Sufi teachings. In this paper, I focus on the
following assikalaibineng sexual knowledge: the ideology and symbols of
assikalaibineng, actions to be taken by newlyweds, and the detailed threestage
procedure a couple should follow during sexual intercourse. In
addition, I discuss the Sufi links to assikalaibineng knowledge and the
problematic textual transmission of this knowledge
The Bugis Chronicle of Bone
"The Bugis Chronicle of Bone is a masterwork in the historiographical tradition of South Sulawesi in Indonesia. Written in the late seventeenth century for a very specific political purpose, it describes the steady growth of the kingdom of Bone from the fourteenth century onwards. The local conquests of the fifteenth century, closely linked to agricultural expansion, give way to the long conflict with the Makasar state of Gowa in the sixteenth century. Forced Islamisation in 1611 is dealt with in detail, leading finally to first contact with the Dutch East India Company in 1667.
This edition presents a diplomatic version of the best Bugis text, together with the first full English translation and an extensive introduction covering the philological approach to the edition, as well as the historical and cultural significance of the work.
A structure based on the reigns of successive rulers allows for stories about the circumstances of each ruler and, particularly, the often dramatic processes and politics of succession. The chronicle is a rich source for historians and anthropologists seeking to understand societies beyond Europe. It provides a window on to this Austronesian-speaking society before the impact of significant external influences. This is history from within, covering more than three centuries.
The Bugis Chronicle of Bone
"The Bugis Chronicle of Bone is a masterwork in the historiographical tradition of South Sulawesi in Indonesia. Written in the late seventeenth century for a very specific political purpose, it describes the steady growth of the kingdom of Bone from the fourteenth century onwards. The local conquests of the fifteenth century, closely linked to agricultural expansion, give way to the long conflict with the Makasar state of Gowa in the sixteenth century. Forced Islamisation in 1611 is dealt with in detail, leading finally to first contact with the Dutch East India Company in 1667.
This edition presents a diplomatic version of the best Bugis text, together with the first full English translation and an extensive introduction covering the philological approach to the edition, as well as the historical and cultural significance of the work.
A structure based on the reigns of successive rulers allows for stories about the circumstances of each ruler and, particularly, the often dramatic processes and politics of succession. The chronicle is a rich source for historians and anthropologists seeking to understand societies beyond Europe. It provides a window on to this Austronesian-speaking society before the impact of significant external influences. This is history from within, covering more than three centuries.
Narratives Of Sexuality In Bugis And Makasar Manuscripts
This paper discusses a particular category of text called assikalaibineng,
which contain a range of Bugis and Makasar knowledge relating to sexual
procedure and relations for married couples. The sexual knowledge in these
texts was mainly restricted to members of Sufi tariqa, in particular the elite,
and assikalaibineng sexual knowledge was shaped by both indigenous
practices and Islamic values and Sufi teachings. In this paper, I focus on the
following assikalaibineng sexual knowledge: the ideology and symbols of
assikalaibineng, actions to be taken by newlyweds, and the detailed threestage procedure a couple should follow during sexual intercourse. In
addition, I discuss the Sufi links to assikalaibineng knowledge and the
problematic textual transmission of this knowledge
Bangkala dan Binamu: Suatu Kajian Naskah Lontara’ Dalam Sosial-Politik Jeneponto Kuno
Jeneponto is one of the toponomi of Makassar kingdom, which is located in the coastal area of South Sulawesi, has its own dynamic history. This study aims to explore socio-political phenomenon of Jeneponto local kingdoms, using two main toponimi of local kingdoms of Jeneponto, Bangkala and Binamu, from their establishment, the dynamic of their growth, and their relationship with the outer kingdoms in XVI and XVII centuries, so as to complete the narrative of socio-political history of Makassar. Based on philological approach, the study relies on Lontara’ Patturioloang through five manuscripts, supported by existing literatures as well as oral tradition. At first, Jeneponto noble hegemony is controlled by Bangkala. Then, this switched to Binamu after Makassar War in 1666. As part of Jeneponto kingdom, Bangkala was firstly developed and had royal blood from Kalimporo. In its development, Bangkala then forged political alliances and genealogy with Gowa since the XVI century. As a local kingdom, Binamu had high noble degree which was rooted from Bantaeng, then it made blood connection with Tallo kingdom. However, since the XVII it established political connection with Bone kingdom. The marriage of Binamu and Bangkala nobles with high nobles of Gowa, Tallo, Bantaeng and Bone not only enhanced the degree of nobility and developed a kinship network, but also became a political strategy for piece
Keberadaan Orang Melayu di Sulawesi Selatan Pada Peringkat Awal
Keberadaan pelbagai kelompok orang Melayu di beberapa kepulauan Nusantara, tak terkecuali kehadiran orang Melayu di Sulawesi Selatan, dapat dijelaskan sebagai fenomena penghijraan. Manuskript attoriolong (kronik) Bugis mengungkapkan keberadaan orang Melayu di Sulawesi Selatan semenjak era pra-Islam sebagai gejala penghijraan disamping aktiviti perdagangan dan misi penyebaran agama Islam. Kajian ini mengungkapkan keberadaan orang Melayu di Sulawesi Selatan pada peringkat awal pada akhir abad ke-15 sehingga pertengahan abad ke-16 berdasarkan pada sumber lokal (manuskrip) serta dukungan daripada sumber asing.\ud
Naskhah-naskhah Bugis tidak luput mencatatkan peristiwa kedatangan orang-orang Melayu di Sulawesi Selatan. Pengisahan teks naskhah mencakup aspek khusus sama ada, tokoh atau tokoh komuniti Melayu, kontrak sosial-politik petempatannya dengan Raja Bugis-Makassar, hubungan perkahwinan dan jalinan silsilah dengan bangsawan tempatan, peranan orang Melayu di bidang ekonomi, perdagangan, birokrasi, politik, dan aspek-aspek lainnya. Hanya saja, setakad ini isu-isu tentang orang Melayu di Sulawesi Selatan belum banyak dikaji, sehingga maklumatnya juga masih sangat kurang. Sepatutnya dipahami bahawa keberadaan orang Melayu di Sulawesi Selatan telah menyimpan fakta historis khas, unik, serta memiliki perbezaan dengan fenomena orang Melayu di negara dan wilayah rantau lainnya. Oleh kerana itu, kajian Melayu di Sulawesi Selatan dapat memberikan lebih banyak maklumat tentang Melayu diaspora dan keunikan-keunikan berdasarkan konteks sosial-budaya pada setiap tanah rantau. Sebelum jauh masuk perbincangan terhadap orang Melayu di Sulawesi Selatan, perlu dikenali lebih awal konsep perihal ???orang Melayu??? dalam kaitannya dengan etnik Bugis dan Makassar. \ud
Pada dasarnya, orang Melayu merupakan sebuah komuniti tersendiri dan berbeza dengan etnik Bugis dan Makassar sebagai penduduk tempatan (local genius) Sulawesi Selatan. Konsep yang lebih tepat mengidentifikasi kelompok Melayu adalah dipakai istilah ???etnik???, sehingga muncullah bahagian-bahagian masyarakat yang memiliki identiti dalam konteks rumpun Melayu yang terdiri daripada satuan-satuan etnik atau sukubangsa. Mohd. Balwi (2005) mengungkapkan, Melayu adalah sebuah ras yang boleh dipecahkan ke dalam ratusan suku atau etnik yang mempunyai perbezaan wilayah, dialek bahasa, tradisi dan kebudayaan. Suku-suku bangsa yang tergabung kedalam ras Melayu tersebut adalah Melayu-Riau, Jawa, Bugis, Minangkabau, Acheh, Banjar, Batak, Mandailing, Rawa, Kerinci, Patani, Kelantan, Terengganu, Champa, dan sebagainya. Sementara itu yang disebut sebagai Melayu Inti menurut Ismail Hussein dan Wan Hashim iaitu merujuk kepada kawasan di sekitar daratan Sunda dan Semenanjung Tanah Melayu. Semenanjung Melayu, Melayu-Riau dan Minangkabau, dalam konteks Sulawesi Selatan adalah komuniti yang disebut sebagai orang Melayu yang datang sebagai penghijrah, pedagang, penyebar Islam, dan seterusnya. \ud
Melayu, Bugis, atau Makassar masing-masing merupakan sebagai suku bangsa tersendiri, mempunyai identiti antropologis khas seperti penuturan bahasa lokal sebagai bahasa inti budayanya, kekhasan budaya, tradisi dan sistem sosial, dan geografi permukiman adalah berbeza. Oleh kerana itu, orang Bugis dan Makassar dipandang sebagai sebuah etnik bersendiri; demikian pula halnya dengan orang Melayu juga merupakan sebuah etnik bersendiri yakni disebut sebagai komuniti pendatang. Ketiga kelompok ini masing-masing sebagai etnik, walaupun ketiganya sebagai rumpun Melayu sebab berasal dari ras yang sama iaitu ???Proto-Malay???Pada tahun 1490 masihi, di Kerajaan Siang sudah terdapat sebuah petempatan khas komuniti Melayu dimana penduduk dan kepala kampungnya dipimpin orang Melayu serta menerapkan pentadbiran ala Melayu. Abad ke-16 juga terdapat perkampungan komuniti Melayu di wilayah kerajaan Makassar Gowa-Tallo, yang diawali dengan kontrak sosial antara pimpinan kelompok Melayu dengan raja Gowa yang memberikan hak-hak istimewa orang Melayu di wilayah Makassar. \ud
\ud
Jika pulau Madagaskar dikatakan sebagai destinasi utama orang-orang Melayu di sebelah barat, maka destinasi penghijraan di wilayah timur Nusantara utama adalah Sulawesi Selatan. Manuskrip Bugis dan Makassar menyebutkan bahawa, orang Melayu yang datang ke Sulawesi Selatan berasal daripada Melaka, Johor, Siam, Pahang, Minangkabau, Champa, dan Patani. Orang-orang Melayu datang ke Sulawesi Selatan secara bertahap dan berterusan sejak akhir abad XV, mereka datang dan membawa peradaban khas Melayu sebagaimana yang terbina pada kerajaan Melaka. Perdagangan dan pelayaran maritim merupakan peradaban Melayu yang khas yang terbentuk sejak abad XV, memberikan impak kepada perkembangan tamadun Bugis dan Makassar. Orang Bugis dan Makassar pun mampu wujud sebagai masyarakat pelaut yang handal, manakala tetap membina peradaban agraris yang memang merupakan tamadun awalnya. Perdagangan dan pelayaran pun menjadi hal yang utama mendukung pertumbuhan kerajaan tempatan dengan berciri kerajaan maritim, sama ada Siang, Suppa, Gowa. Kerajaan Gowa pada abad XVI-XVII, mampu wujud sebagai bandar pelabuhan regional dan international yang penting, memiliki hegemoni sangat kuat dan disegani oleh kerajaan-kerajaan lain termasuk pasukan Eropah.\ud
\ud
Disamping menjalankan aktiviti perdagangan, orang-orang Melayu juga menggiatkan syiar agama Islam bagi masyarakat Bugis dan Makassar. Ulama-ulama Melayu memegang peranan utama dalam pengenalan agama Islam manakala sebelumnya orang Bugis dan Makassar masih menganut kepercayaan tradisional dan diambang incaran misionaris katolik Portugis. Keberadaan orang Melayu yang pada awalnya adalah sebagai pendatang, mereka mampu melakukan integrasi sosial dengan baik dengan penduduk tempatan Bugis dan Makassar. Agama Islam kemudian menjadi bahagian daripada media adaptasi dan intergrasi orang Melayu dengan masyarakat Bugis-Makassar yang berjaya pada awal abad XVII. \ud
\ud
Pada awal abad ke-16 semakin ramai saudagar-saudagar bangsa Melayu datang dan menetap di Makassar khasnya di kerajaan pantai Barat Sulawesi Selatan. Orang Melayu diterima baik, beradaptasi baik, dan berjaya hidup bermastautin dengan penduduk tempatan. Mitos-sejarah tentang perkahwinan puteri Suppa, mengungkapkan terjadinya perkahwinan putri Melayu yang datang daripada Malaka dengan raja Bacukiki, La Bang??ng??. Perkahwinan orang Melayu dengan bangsawan serta penduduk tempatan menunjukkan pembauran yang baik kemudian membentuk pokok salasilah antara orang Melayu dengan Bugis-Makassar. Integrasi sosial yang terjadi kemudian memberikan peluang orang-orang berketurunan Melayu mampu masuk ke lingkungan istana dan memegang peranan dalam birokrasi kerajaan tempatan. Integrasi sosial yang berjaya kemudian muncullah istilah Bugis-Melayu sebagai wujud permastautinan antara Melayu dan penduduk Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan
SEA VOYAGES AND OCCUPANCIES OF MALAYAN PEOPLES AT THE WEST COAST OF SOUTH SULAWESI
This paper discussesthe sea voyages and trades in relation to the history of Malayan occupancies at West Coast of South Sulawesi in fifteenth century when Bugis and Makassar kingdoms started to emerge. This research used philological approach with manuscripts (lontara) as primary data sources. The results of this research suggests that the establishment of local ports such as Suppa’, Siang, Tanete, Kalukubodoa, and Sanrabone along the west coast of South Sulawesi since the fifteenth century indicates the initial periods of kingdoms’ maritime activities in South Sulawesi. In sixteenth century, these sailing and trading activities continued to show their progress which was marked by the establishment of networks and relationships between Bugis and Makassar kingdoms with other areas at Nusantara such as Malacca, Pahang, Minangkabau, Patani, and Champa. It was proved, then, that these sailing and trading activities have become a crucial factor which led to the establishment of cooperation and social integration between Bugis-Makassar peoples and Malayan peoples who came from Malay Peninsula and Sumatera. Malayan traders already sailed to Sulawesi since the fifteenth century and they were well accepted by Bugis and Makassar local peoples. These Malayan traders from social relation aspectwere accepted as residents, and even allowed to married with Bugis and Makassar peoples. In the long run this kind of intermarriage would integrate those Malayan into Bugis and Makassar
- …
