202 research outputs found
PARTISIPASI NELAYAN TERHADAP KEARIFAN LOKAL HADING-HOBA MULUNG DALAM AKTIVITAS PERIKANAN TANGKAP DI DESA BARANUSA KABUPATEN ALOR
Abtrak
Salah satu bentuk kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam wilayah pesisir dan laut yang masih berjalan hingga saat ini di Kabupaten Alor adalah Mulung di wilayah ulayat adat Kerajaan Baranusa Kecamatan Pantar Barat yang sempat hilang puluhan tahun. Mulung merupakan sebuah kearifan lokal masyarakat Baranusa berupa sistem pengaturan pemanfaatan sumberdaya laut secara berkala dengan tujuan menjaga kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya laut dalam kurun waktu tertentu yang disepakati Dewan Adat dan Raja. Penelitian telah dilaksanakan pada Januari sampai Maret 2021. Tujuan yaitu untuk mengetahui tingkat partisipasi dan pemahaman masyarakat nelayan dalam menerapkan aturan Hading-Hoba Mulung di desa Baranusa Kabupaten Alor. Metode penelitian berupa survei deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan pemahaman nelayan tentang aturan Hading-Hoba Mulung (skor 12-60) memperoleh skor 53 (tinggi), Partisipasi masyarakat nelayan dalam aktivitas Hading-Hoba Mulung (skor 4-20) berada pada skor 20 (sangat tinggi). Maka diharapkan aturan Haing-Hoba Mulung tetap dipertahankan untuk menjaga sumberdaya laut yang berkelanjutan.
Kata Kunci : Hading-Hoba Mulung, partisipasi, perikanan tangkap
STRATEGI MEMPERTAHANKAN KEARIFAN LOKAL HADING-HOBA MULUNG PADA AKTIVITAS PERIKANAN TANGKAP DI DESA BARANUSA – ALOR
Abstrak
Salah satu bentuk kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam wilayah pesisir dan laut yang masih berjalan hingga saat ini di Kabupaten Alor adalah Mulung di wilayah ulayat adat Kerajaan Baranusa Kecamatan Pantar Barat yang sempat hilang puluhan tahun. Mulung merupakan sebuah kearifan lokal masyarakat Baranusa berupa sistem pengaturan pemanfaatan sumberdaya laut secara berkala dengan tujuan menjaga kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya laut dalam kurun waktu tertentu yang disepakati Dewan Adat dan Raja. Penelitian telah dilaksanakan pada Januari sampai Maret 2021. Tujuan yaitu untuk menganalisis strategi untuk mempertahankan keberadaan Hading-Hoba Mulung di Kabupaten Alor. Metode penelitian berupa survei deskriptif kualitatif dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukan strategi untuk mempertahankan aturan Hading-Hoba Mulung di Kabupaten Alor antara lain : (1) Penguatan kelembagaan adat Hading-Hoba Mulung, (2) Pengembangan teknologi penangkapan, (3) Pengembangan fasilitas penunjang perikanan (TPI, Pabrik Es) dan akses pemasaran, (4) Pemberdayaan masyarakat melalui sosialisasi/penyuluhan perikanan terkait aturan adat maupun pemerintah, (5) Penguatan kegiatan pengawasan oleh lembaga adat maupun pemerintah di kawasan Mulung.
Kata kunci: Strategi , Hading-Hoba Mulung, perikanan tangkap
Catalogue des objets d'art et d'ameublement... appartenant à madame Jane Hading et dont la deuxième vente... aura lieu... les lundi 29 et mardi 30 mars 1920
[Vente (Art). 1920-03-29 - 1920-03-30. Paris][Collection (Art). Hading, Jane. 1920
Analisis Lingkungan Dan Daya Dukung Lahan Untuk Pengembangan Usaha Budidaya Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii Di Perairan Teluk Hading, Kabupaten Flores Timur
Kabupaten Flores Timur memiliki potensi sumberdaya laut yang cukup untuk digunakan sebagai lahan
budidaya rumput laut. Salah satu aspek penting dari usaha budidaya laut adalah pemilihan lokasi. Pemilihan
lokasi berdasarkan luas perairan dan ekologi kualitas perairan. Tujuan dari penelitian adalah menganalisis
ekologi perairan dan daya dukung lahan, menganalisis daya dukung lahan dan menentukan lokasi yang tepat
untuk usaha budidaya rumput laut secara berkelanjutan di perairan Teluk Hading, Kabupaten Flores Timur.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Penelitian dilakukan di Teluk Hading, Kecamatan Lewolema,
Kabupaten Flores Timur. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Maret 2015. Analisis data menggunakan
berbasis nilai kesesuaian lahan, metode budidaya yang diterapkan dalam penelitian adalah metode long line.
Luas perairan Teluk Hading secara keseluruhan adalah 864,676 ha. Lokasi A. 135,345 ha, B. 474,222 ha dan
C. 255,108 ha. Luas perairan kategori kelas S1 adalah 729,331 ha yaitu terdapat di lokasi B dan C. Luas
perairan dengan kategori kelas S2 adalah 135,345 ha terdapat pada lokasi A. Daya Dukung Perairan 778.208
ha, Jumlah unit budidaya rumput laut 194,552 unit dan Kapasitas Perairan rumput laut 99 %. Perairan Teluk
Hading memiliki kapasitas dan daya dukung lahan untuk dijadikan sebagai lokasi budidaya rumput laut K.
alvarezii. Lokasi A dikategorikan sebagai kelas kesesuaian S2 dan lokasi B dan C dikategorikan sebagai kelas
kesesuaian S1. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan kualitas perairan, perbedaan parameter
kualitas perairan di tiga lokasi tersebut tidak terlalu signifikan dan masih dalam batas normal untuk dilakukan
budidaya rumput laut K. alvarezii
Aqidah Islamiyah
Aqidah merupakan yang hal yang fundamental dalam
kehidupan seorang muslim. Aqidah merupakan motor penggerak
dan otak dalam kehidupan manusia. Apabila terjadi sedikit
penyimpangan padanya, maka menimbulkan penyelewengan
dari jalan yang lurus pada gerakan dan langkah yang dihasilkan.
Aqidah bagaikan pondasi bangunan. Dia harus dirancang dan
dibangun terlebih dahulu sebelum merancang dan membangun
bagian yang lain. Kualitas pondasi yang dibangun akan
berpengaruh terhadap kualitas bangunan yang ditegakkan.
Bangunan yang ingin dibangun itu sendiri adalah Islam yang
sempurna (kamil), menyeluruh (syamil), dan benar (shahih).
Tauhîd adalah fondasi dari Islam. Estetika Tauhîd akan
mengungkapkan pengembaraan dan perjalanan untuk menuju
yang transendental. Muaranya adalah pada nilai-nilai ilahiah,
yaitu suatu kesadaran tentang keberadaan Tuhan pada setiap
gerak dan peristiwa dalam kehidupan. Di sini saya memaknai
konsep tauhid Islam tidak hanya pada wilayah prinsip keimanan
yang eksoterik. Namun, tauhid saya letakkan pada dimensi esoterik,
yaitu ruang kehidupan yang luas, Tauhîd sebagai dasar peradaban
adalah unsur struktur pemberi identitas peradaban yang
mengikat dan mengintegrasikan keseluruhan unsur pokok
sehingga membentuk suatu kesatuan yang padu. Peradaban yang
dibangun di atas nilai-nilai tauhid inilah yang sesungguhnya
mencerminkan hak tipikal Islam.
Era globalisasi seperti dewasa ini pola perilaku seseorang
muslim sangat rentan untuk terkontaminasi oleh pengaruh
negatif yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, sehingga
sering kita lihat mencuatnya kecenderungan permisif dan
liberalisasi nilai yang terjadi di kalangan umat Islam. Aspek-aspek
ajaran akidah, ibadah, dan moral, tidak jarang melihat
kecenderungannya kepada bentuk-bentuk formalisme, terutama
ajaran yang mengambil bentuk laku perbuatan lahiriah seperti
terlihat dalam syariat. Krisis di dunia modern pada hakikatnya
berawal dari problem yang lebih dalam yaitu krisis spiritual.
Untuk mentransformasikan nilai-nilai agama sehingga menjadi
prilaku keseharian umat manusia. Islam memelihara
keseimbangan antara keperluan batin dan kebutuhan rohani,
antara keutamaan dunia dan akhirat
JIHAD PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Jihad dari kata ’Arab جهد يجهد – جهدا وجهادا yang dimaksudkan sebagai upaya sungguh-sungguh yang dilakukan oleh setiap muslim disertai dengan kesabaran dalam menerima berbagai macam halangan dan rintangan demi terwujudnya apa yang dicita-citakan dan dalam rangka mencari keridhaan Allah swt. menurut al-Qur’an, dapat berupa jihad melawan musuh yang nyata yaitu orang-orang kafir dan munafiq, dapat pula dalam bentuk musuh yang tidak nyata yaitu diri sendiri dan bisikan setan, serta kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.Tujuan dari jihad itu sendiri dalam kenyataannya tidak hanya dilaksanakan dalam rangka mendakwahkan agama (Islam) ke seluruh umat manusia dan mengarahkan manusia untuk beriman kepada Sang Pencipta (Allah swt)., tetapi juga dilakukan dalam rangka mengokohkan kekuatan dan memperluas wilayah kekusaan, tentunya dengan jalan damai sesuai yang telah dicontohkan oleh Rsulullah saw. Untuk suksesnya jihad, setiap muslim dituntut pengorganannya, baik berupa harta benda, diri (anfus), maupun kedua-duanya dengan menggunakan berbagai sarana dan prasarana secara efektif dan efisie
Permainan Sebagai Media Pembelajaran Bahasa Arab (Teori dan Aplikasinya)
Buku ini berisi tentang gambaran dan sekaligus menambah
pengetahuan dan wawasan para pembaca mengenai permainan bahasa Arab yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran bahasa Arab dalam membangkitkan motivasi dan minat belajar mahasiswa. Permainan bahasa ini dimaksudkan agar pembelajaran bahasa Arab lebih menarik perhatian, menggembirakan, menyenangkan sekaligus membisakan
Musibah Perspektif Hadis
Musibah yang dimaksudkan sebagai sesuatu yang menimpa, mencakup hal-hal yang buruk maupun yang baik., tetapi kebanyakan orang memandang sesuatu itu sebagai musibah jika dalam bentuk bencana dan malapetaka (yang tidak disukai), dan sedikit orang yang melihat dan menyadari berbagai kenikmatan –yang tidak disikapi dengan baik- sebagai suatu musibah yang dapat menggoyahkan dan merusak keimanan.Dari tujuh macam musibah yang dapat menimpa manusia menurut hadis Rasulullah saw., satu yang menyangkut fisik yaitu naṣab, dan enam lainnya (waṣab, wahm, huzb, ażả, dan al-syaukah yusyảkuha), menyangkut fisik dan non fisik sekaligus. Ketujuh jenis musibah itu pada dasarnya tidak disukai oleh manusia dan tidak disebutkan tentang jenis musibah yang disukai. Rasulullah saw. Hanya menggambarkan sikap muslim yang begitu luar biasa dalam menyikapi kesusahan dan kebahagiaan yang menimpanya., dimana untuk yang pertama yaitu musibah berupa kesusahan dan kesedihan disikapinya dengan kesabaran, dan musibah berupa kesenangan disikapinya dengan kesyukuran, dan kedua sikap itu baik untuknya.Yang dituntut dari seorang muslim manakala ia mendapatkan musibah yang tidak disenangi adalah bersabar pada saat hantaman (saat-saat) pertama (al-ṣadamat al-ulả), lalu ditindaklanjutinya dengan istirjả’ (inna lillảh wa inna ilaihi rảji’un), bahwa sesungguhnya kita dari Allah dan sesungguhnya kepada-Nya jualah kita akan kembali, sehingga tidak ada yang perlu dirisaukan secara berlebihan
المعرفة واستعمالها في اللغة العربية
المعرفة واستعمالها في اللغة العربيةبقلم: هادينج* ABSTRAK Bahasa termasuk bahasa Arab berfungsi sebagai alat komunikasi yang dengannya manusia dapat mencurahkan isi hati, pikiran dan perasaannya serta bertukar pikiran dan pandangan antara dua orang atau antar anggota kelompok.Sebagai nikmat pemberian Allah swt. yang terpelihara dengan terpeliharanya al-Qur’an, bahasa Arab memiliki keistimewaan-keistimewaan jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di dunia. Di antara keistimewaan-keistimewaan itu adalah dijadikanya sebagai bahasa al-Qur’an dan al-Sunnah sebagi dua sumber utama ajaran Islam, dan sebagai bahasa persatuan dunia Islam.Selain itu, bahasa Arab juga teristimewa dengan aneka macam ilmunya (علوم اللغة العربية) dan kaedahnya, dimana dengannya para penuturnya dan siapa saja yang menggunakannya dapat menghindari kesalahan-kesalahan dalam penggunaannya, baik secara lisan maupun tulisan.Dan di antara ilmu itu adalah ilmu qawa’id al-Nahwi atau tata bahasa bagaimana menempatkan kata kata serta perubahannya dalam rangka menyusun kalimat dalam bahasa Arab sesuai dengan porsi dan posisinya masing-masing serta ketentuan terkait dengannya secara baik dan benar, termasuk di dalamnya ketentuan atau aturan berkaitan dengan isim-isim makrifah dengan berbagai bentuknya; yaitu makrifah dengan alif dan lam, makrifah dengan isim ‘alam, makrifah dengan isim isyarah, makrifah dengan isim dhamir, makrifah dengan isim mauhshul, dan makrifah karena sandar atau disandarkan kepada isim makrifah. Kata Kunci: Bahasa Arab, Qawa’id, dan makrifah. المراجعالقرآن الكريم[1] http://arabic1lan.arabblogs.com/archive/2008/2/484791.html, Diakses Senin, 4/11/13 [1]http://www.islamstory.com/diakses, Rabu, 06-08-2013.الأنصاري، جمال الدين عبد الله بن هشام، شرح قطر الندى وبلّ الصدى، (بيروت-لبنان، 2008).ضيف، شوقي ، تجديد النحو(الطبعة الثانية؛ القاهرة: دار المعارف، 1982).عمر، أحمد مختار وأصدقائه، النحو الأساسي, (الطبعة الرابعة؛ الكويت: دار السلاسل، 1994.الغلاييني، الشيخ مصطفى,جامع الدروس العربية، الجزء الأول (الطبعة الأولى؛ مصر: دار ابن هشام،، 2005).نعمة، فؤاد، ملخص قواعد اللغة العربية (الطبعة الثالثة والعشرون، القاهرة: المكتب العلمي للتاليف والترجمة بدون سنة). النقراط، عبد الله ، الشامل في العربية، (الطبعة الأولى؛ بنغازي – ليبيا: دار الكتب الوطنية، 203).
Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hadis
Hadis atau Sunnah sebagai sumber ajaran Islam kedua seteleh al-Qur’an jika dilihat dari segi periwayatan berbeda dengan al-Qu’an, dimana yang kedua setiap kali ayat ayatnya turun, Rasulullah saw. langsung memerintahkan penulis wahyu untuk menulisnya, sementara untuk hadis Nabi saw., tidak demikian halnya. Periwayatan hadis Nabi saw., dengan demikian lebih banyak berlangsung secara lisan dibandingkan dengan tulisan, akibat dari ada larangan Rasulullah saw. secara umum kepada para sahabat untuk menulis hadis hingga Khalifah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz (salah seorang Khalifah Bani Umayyah) memandang perlunya penulisan dan pembukuan hadis-hadis Nabi saw., dengan mempertimbangkan berbagai faktor, berupa: adanya kekhawatiran akan lenyapnya hadis; munculnya hadis palsu akibat pertentangan politik dan mazhab; berpencarnya para sahabat di beberapa kota, serta banyaknya dianta sahabat yang meniggal dunia dalam peperangan. Hasil dari upaya pembukuan hadis itu telah melahirkan kitab-kitab hadis standar sebagai rujukan dalam hal pengamalan Sunnah Nabi saw., dalam kehidupan kaum muslimin, serta untuk kepentingan penelitian dan pengkajian
- …
