1,720,970 research outputs found

    ROMANTIKA CINTA ROBOTIKA

    No full text
    Jikalau Karl Capek, seorang penulis berkebangsaan Czech (Ceko) masih hidup, niscaya ia akan terkejut dengan perkembangan istilah �¢����robot�¢���� yang pernah diperkenalkannya. Bagaimana tidak? Hanya sekadar diawali dengan sebuah kisah komedi yang ditulisnya pada tahun 1921 yang berjudul Rossum�¢����s Universal Robot/RUR, tak disangka bahwa istilah tersebut begitu populer saat ini. Di kisah itu, ia bercerita tentang sebuah mesin yang tidak hanya dapat bergerak dan melakukan aktivitas seperti layaknya manusia, tetapi juga mampu bekerja terus menerus tanpa lelah serta keluh kesah. Memang, saat ini istilah robot begitu membumi. Walaupun teknologi robot itu sendiri semakin hari menjadi tak mudah untuk dipahami. Saat inipun robot tak lagi menjadi barang langka atau tak mungkin dimiliki oleh orang awam secara pribadi. Bahkan untuk kepentingan tertentu, robot yang ingin dimiliki dapat dirancang khusus menurut keinginan si pembeli. Terkadang robot terlihat seperti sebuah mesin yang kaku dan tidak cantik. Namun, tak jarang pula inspirasi pembuatan robot bisa diilhami dari lingkungan kita sehari-hari. Sebagai contoh, robot binatang yang menyerupai anjing peliharaan, Aibo, yang diproduksi oleh Sony. Menurut fungsinya, robot terdiri dari dua bagian, yaitu robot industri dan robot pelayan (service). Robot industri sering juga disebut arm robot atau manipulator karena lebih banyak berperan seperti layaknya tangan manusia. Robot ini banyak terdapat dalam pabrik perakitan mobil, yaitu sebagai penyambung (las) bagian-bagian kendaraan. Robot-robot industri jelas dikembangkan untuk membantu perusahaan mendapatkan keuntungan. Teknologi robot industri ini mencapai masa stabil pada tahun 1990-an. Perkembangan robot berikutnya ditujukan untuk sesuatu yang baru dan berbeda. Tujuannya hanyalah untuk �¢����hidup�¢���� dengan manusia. Atau, generasi ini menemukan �¢����kehidupannya�¢���� di tempat tinggal manusia, bahkan berinteraksi dengan manusia. Selama penulis pernah tinggal di Jepang untuk menyelesaikan program S2 dan S3, penelitian dasar yang dilakukan di banyak perguruan tinggi di Jepang juga berorientasi khusus pada pengembangan robot. Bahkan mungkin karena hal tersebut, terbitlah sebuah buku di Jerman, Der Roboter, yang berisi kartun sindiran tentang debu vulkanik yang berterbangan dari Gunung Fuji dan melemparkan robot-robot yang terbang ke luar serta kemudian mendarat di seluruh dunia. Kartun tersebut menggambarkan kesuksesan Jepang dalam pengembangan robot. Kesuksesan ini disebabkan oleh kesediaan pemerintah Jepang dan institusi akademik yang mau bekerjasama dalam mengembangkan teknologi yang dibutuhkan. Sebagai sebuah institusi pendidikan, Universitas Tanjungpura, juga dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman. Karena itu beberapa mahasiswa tingkat akhir di option Teknik Kendali (Control Systems and Robotics Research Group), Jurusan Teknik Elektro-Fakultas Teknik, juga mengambil tema tugas akhir/skripsi berupa perancangan robot. Ini adalah salah satu aplikasi dari mata kuliah Robotika yang telah diterima mahasiswa tersebut di Semester VII. Mereka kemudian banyak menghabiskan waktunya untuk merancang mobile robot yang dapat mengikuti garis (line follower), menghindari halangan (obstacle avoidance) bahkan memindahkan barang, dengan menggunakan mikrokontroler, motor DC dan tentu saja sensor. Dimana mikrokontroler yang digunakan adalah mikrokontroller AT89S52 yang berfungsi sebagai �¢����otak�¢����, dan fungsi �¢����indra�¢���� digunakanlah sensor infra merah untuk mengikuti garis putih di lantai serta sensor ultrasonik untuk mendeteksi ruangan-ruangan yang ada di area kerja. Target ke depan, tentu saja tidak hanya untuk skripsi. Tetapi akan ikut serta berpartisipasi di Kontes Robot Cerdas Indonesia/KRCI. Jelas, teknologi robot sedemikian pesat kemajuannya hingga merambah ke negara-negara berkembang. Jika sebelumnya robot hanya dipekerjakan di pabrik, saat ini kita juga dapat melihat mereka di kantor, toko, rumah, berinteraksi dengan manusia, bahkan menjadi tim penolong di lokasi bencana. Tak perlu kaget jika nanti mengunjungi Kantor Pendaftaran Universitas Ilmiah Tokyo, karena kita akan disambut senyum manis dari sebuah robot berupa seorang gadis cantik. Gadis itu memang hanya dapat menggerakkan bagian tengah wajahnya dan memutar kepalanya ke samping. Tetapi ketika ia menggerakkan kepalanya dan melihat kita dengan ekspresi senang, sedih, marah, takut atau terkejut. Gadis cantik itu benar-benar terlihat seperti yang sesungguhnya. Untuk mereka yang hobi memelihara ikan di akuarium juga ada robot ikan yang dapat berenang seperti aslinya. Memiliki bentuk seperti ikan kakap, ikan mas atau sejenis ikan purba coelacanth yang memiliki panjang 83 cm, berat 13.5 kg dan dapat berenang hingga kecepatan 0.3 knots (sekitar 15 cm per-detik). Tentu kita dapat memeliharanya di rumah tanpa repot memberi makan. Walaupun untuk itu harus membayar uang sewa sekitar 58 juta per-minggu. Tak terbantahkan, interaksi antara manusia dengan robot diprediksi semakin hari akan semakin dekat. Bahkan robot pun dapat dirancang khusus untuk menjalin hubungan cinta dengan manusia yang bersedia menjadi kekasihnya. Dengan teknologi yang canggih, mengapa tidak? Awal perkenalan mungkin dimulai dengan menjadikan dirinya sebagai pasangan dansa yang elegan. Bukankah saat ini sudah ada Pasangan Robot Penari Ballroom (Partner Ballroom Dance Robot/PDBR) yang memiliki tinggi 165 cm dan berat 100 kg, dan dapat memberikan panduan pada tangan, lengan, pinggang serta patuh mengikuti tarian tanpa pernah menginjak kaki pasangannya. Sebelum berdansa, robot tersebut tidak hanya dapat memilih parfum terbaik yang akan dipakainya. Bahkan dengan menggunakan aplikasi sensor biomimetik ia akan dengan tepat menebak wangi parfum yang dipakai pasangan dansanya, seraya mungkin berkata, �¢����Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.�¢���� Robot juga tak akan pernah ngambek hanya karena momen-momen tertentu terlupakan oleh sang kekasih. Bahkan dengan setia ia akan tetap mencuci baju, membersihkan rumah dan pekarangan, membuat nasi goreng setiap pagi, memasak sayur asem, menggoreng krupuk melinjo hingga mengulek sambal terasi. Begitulah, robot yang telah dirancang khusus bahkan akan dapat memberikan nuansa dan romantika cinta bagi mereka yang bersedia menjadi kekasihnya. Dengan hanya satu warna �¢����kehidupan�¢���� yang serba monoton atau terprogram, robot tak akan sedikitpun membuat kecewa. Namun, manusia tak pula bisa lari dari fitrahnya. Bukankah kehidupan akan lebih indah jika terlukis dengan banyak warna? Jutaan warna yang membentuk emosi jiwa itu hanya lahir dari mereka yang memiliki hati. Dan hati tak akan pernah dimiliki robot yang walaupun dirancang sedemikian canggih. Karena itu, apakah ada seorang manusia yang ingin mengukir romantika cinta dalam kehidupannya dengan sebuah robot? Nah lho!!! *Penulis adalah Sekretaris Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Untan Catatan: Tulisan ini telah dimuat di Borneo Tribune, 10-11 April 2008

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Get PDF
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    零点の不安定なシステムの為のアンダーシュート削減法

    Get PDF
    九州工業大学博士学位論文(要旨) 学位記番号:情工博甲第189号 学位授与年月日:平成18年3月23

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
    corecore