1,720,978 research outputs found

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Pemberian Tepung Daun Saga Rambat dan Kemuning terhadap Kecacingan pada Kambing Peranakan Etawah Laktasi

    No full text
    Penyakit kecacingan merupakan penyakit yang dapat mengganggu kesehatan ternak. Penelitian dilakukan untuk menguji pengaruh pemberian tepung daun saga rambat (Abrus precatorius) dan kemuning (Murraya paniculata) terhadap penyakit kecacingan pada kambing Peranakan Etawah laktasi. Dua belas ekor kambing PE dengan rataan bobot badan 49.4±8.5 kg, kali beranak 2-4 kali dan rataan produksi susu 940±310 mL ekor-1hari-1, dikelompokkan secara acak ke dalam 3 kelompok. Penelitian terdiri atas 4 perlakuan, P0 (kontrol), P1 (tepung daun saga 4.3%), P2 (tepung daun kemuning 0.7%), dan P3 (kombinasi tepung daun saga dan kemuning). Setiap perlakuan terdiri dari 3 ekor kambing. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA). Hasil pengamatan menunjukkan perlakuan tidak memberikan pengaruh terhadap konsumsi dan profil darah, namun ada indikasi penurunan jumlah telur cacing setelah dua minggu perlakuan. Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian tepung daun saga 4.3%, daun kemuning 0.7%, maupun kombinasi keduanya belum mampu membasmi penyakit kecacingan pada kambing PE laktasi, namun ada indikasi perlakuan tepung daun kemuning lebih potensial dibandingkan perlakuan lainnya dalam menurunkan jumlah telur cacing

    Morfopatologi Ginjal Tikus Sprague Dawley: Ovariektomi dan Efek Pemberian Tepung Teripang (Holothuria scabra).

    No full text
    Penggunaan bahan alami untuk mengatasi kekurangan hormon estrogen terus dikembangkan, diantaranya yang berasal dari biota laut, salah satunya teripang pasir (Holothuria scabra). Pengaruh teripang pasir terhadap ginjal belum diketahui, sehingga dilakukan pemberian tepung teripang pada tikus yang di ovariektomi sebagai hewan model kondisi premenopause. Sebanyak 16 ekor tikus Sprague Dawley betina dikelompokkan menjadi enam kelompok yaitu satu ekor kelompok normal (N, non-ovariektomi), 3 ekor kelompok kontrol negatif (KN, ovariektomi, diberi hanya minyak jagung 2 ml), 3 ekor kelompok kontrol positif (KP, ovariektomi, diberi minyak jagung dan ethynil estradiol 30μg/100gBB), serta masing-masing 3 ekor untuk kelompok perlakuan teripang dosis 1, 2, dan 3 (D1, D2 dan D3, ovariektomi, diberi minyak jagung dan tepung teripang dengan dosis berturut-turut 30μg, 40μg, dan 50μg/100gBB). Pemberian tepung teripang dan ethynil estradiol dilakukan selama 20 hari dengan cara dicekok menggunakan sonde lambung. Pada hari ke-21 tikus dieuthanasia, dan organ ginjal disampling kemudian diproses menjadi sediaan histopatologi dan diwarnai dengan pewarnaan Hematoxylin- Eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan semua tubulus ginjal tikus mengalami degenerasi hidropis, tubulus nekrosis dan adanya endapan protein (protein cast). Rataan degenerasi hidropis tidak berbeda nyata (p>0,05) antar kelompok, dan cenderung menurun pada kelompok yang diberi perlakuan teripang. Rataan tubulus nekrosis paling tinggi dan berbeda nyata (p>0,05) ditemukan pada kelompok KN, dan pemberian tepung teripang cenderung menurunkan rataan tubulus nekrosis. Hal ini diduga akibat hormon steroid yang terkandung dalam teripang pasir (Holothuria scabra) berperan dalam mencegah terjadinya nekrosis tubulus ginjal

    Studi Kasus: Kajian Histopatologi Pada Kematian Seekor Biawak Ambon (Varanus indicus)

    No full text
    The aim of this case study was to study the cause of death of an Ambon monitor lizard (Varanus indicus) which died suddenly without showing any clinical signs. Organs that were showing abnormality were collected and histopathologically processed. Gross examination showed enlarged liver with multiple white foci ranging from 0.1 to 2 cm in diameter and diagnosed as multifocal abcess. Abcesses were also found in the spleen and kidney. The mucosa of the intestine was filled with hemorrhage exudate and contained many necrotic areas. The intestine was diagnosed as enteritis hemorrhagica et necroticans. The histopathological examination showed granulomatous inflammation in the liver, spleen, kidney and intestine, and amoebas were found in all of these organs. The death of this lizard is caused by liver failure and multifunctional organ failure caused by chronic inflammation of amoebiasis

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Perbandingan Persembuhan Luka Soket Gigi Tikus Pasca Pemberian Ekstrak Bawang Merah dan Iodoform.

    No full text
    Pencabutan gigi merupakan salah satu tindakan bedah minor yang dapat menimbulkan luka serta infeksi jaringan pendukung gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari persembuhan luka soket gigi tikus yang diberi ekstrak bawang merah dan pasta iodoform. Sebanyak 18 ekor tikus strain Sparague dawley umur ± 2 bulan dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan, yaitu KN (kontrol Negatif), KA (kelompok yang diberi ekstrak Allium cepa) dan KI (kelompok yang diberi pasta Iodoform). Semua tikus dicabut gigi incisivum I rahang atas dan diinduksi alveolar osteitis dengan adrenalin 1:1000. Setiap hari soket diberi ekstrak bawang merah dan pasta iodoform, dan tikus dieuthanasia pada hari ke-3, -5 dan -10 pasca pencabutan gigi. Rahang atas diambil untuk dibuat sediaan histologi soket gigi dan diwarnai dengan HE dan Masson’s Trichrome. Variabel pengamatan persembuhan luka adalah jumlah sel radang (netrofil, limfosit dan makrofag) yang dianalisis menggunakan ANOVA dan uji Duncan, serta kerapatan kolagen yang disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sel radang netrofil, limfosit dan makrofag kelompok KN lebih tinggi dan berbeda nyata (p<0,05) pada hari ke-3 dibandingkan KA dan KI, sedangkan KA tidak berbeda nyata (p>0,05) dibandingkan KI. Kerapatan kolagen kelompok KN lebih rendah dibandingkan kelompok KA dan KI. Disimpulkan bahwa ekstrak bawang merah memiliki potensi mempercepat persembuhan luka soket gigi

    Hemogram, Radiografi dan Histopatologi Hasil Implan Scaffold 3D Bifasik Kalsium Fosfat Alginat pada Domba Lokal (Ovis aries)

    No full text
    Biokeramik kalsium fosfat banyak dikembangkan karena bersifat biokompatibel, osteokonduktif dan non imunogenik, namun kalsium fosfat dinilai memiliki sifat osteogenesis rendah serta dalam bentuk poros bahan ini memiliki kekuatan yang rendah. Pada penelitian ini disintesis Bifasik Kalsium Fosfat (BKF) dengan formulasi yang berbeda, yaitu hidroksiapatit (HA) 70 dan trikalsium fosfat (TKF) 30. Bahan implan dibuat dalam bentuk scaffold 3D dan poros dengan diameter 200-400 μm yang menyerupai ukuran trabekula tulang. Perubahan formulasi dan pembuatan poros dengan ukuran trabekula tulang diharapkan mampu meningkatkan kekuatan bahan implan. Pembentukan scaffold 3D diharapkan mampu meningkatkan osteogenesis. Penelitian ini bertujuan menguji secara in vivo biokompatibilitas, osteogenesis, osteoinduksi dan osteokonduksi scaffold 3D BKF-alginat 70/30 dengan poros. Penelitian menggunakan tiga ekor domba lokal (Ovis aries) jantan 1.5 tahun, berat badan rata-rata 20 kg. Tibia kanan sebagai perlakuan, dibuat defek dan ditanam bahan implan. Tibia kiri sebagai kontrol dibuat defek namun tidak ditanam bahan implan. Parameter yang diamati dalam penelitian ini yaitu; (1) gambaran darah meliputi jumlah eritrosit, hemoglobin, hematokrit, total leukosit dan differensiasi leukosit (neutrofil, eusinofil, basofil, limfosit dan monosit). Gambaran darah berguna untuk evaluasi ada atau tidaknya penolakan tubuh. (2). Kalsium. Pemeriksaan kalsium berguna untuk mengetahui laju degradasi BKF-alginat. (3) Radiografi. Gambar radiografi berguna untuk evaluasi status pelet BKF-alginat, reaksi tulang dan jaringan sekitarnya serta respon pembentukan tulang baru. (4) Histopatologi. Pengamatan histopatologi untuk mengetahui persembuhan tulang dengan melihat; (1) connective tissue, (2) new bone, (3) pembuluh darah. Evaluasi darah, kalsium dan radiografi dilakukan pada hari ke-0, 7, 30, 60 dan 90 pasca implantasi. Pada hari ke-90 dilakukan panen. Data diolah menggunakan Image J, SPSS 16 dengan uji t paired sample. Berdasarkan nilai hematologi lengkap, tidak ada parameter darah yang signifikan. Berdasarkan nilai kalsium, diperoleh nilai signifikan pada hari ke-30 dan ke-90. Berdasarkan ukuran defek, defek kanan tidak menunjukkan nilai yang signifikan. Ukuran defek kiri menunjukkan nilai yang signifikan antara hari ke-0 dengan hari ke-30 dan 90. Densitas relatif tulang pada defek kanan, menunjukkan nilai yang signifikan antara hari ke-7 dan ke 30. Pada defek kiri, densitas relatif tulang menunjukkan nilai yang signifikan antara hari ke-0 dan ke-90. Densitas relatif otot tidak menunjukkan nilai yang signifikan baik pada defek kanan maupun kiri. Terjadi pertumbuhan new bone pada seluruh area implan. Pada area atas defek, new bone menunjukkan nilai signifikan antara defek kanan dengan kiri. Bahan implan BKF-alginat 70/30 dinilai tidak bersifat toksik, biokompatibel dan bersifat osteokonduktif berdasarkan hasil penelitian ini. Bahan ini dinilai belum mampu mempercepat persembuhan tulang berdasarkan evaluasi radiografi, namun berdasarkan pengamatan histopatologi terjadi pembentukan tulang baru lebih banyak secara signifikan pada area atas defek dengan implan

    Gambaran Histopatologi Sinus Hidung Dan Paru-Paru Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Pasca Pemberian Aromaterapi Minyak Atsiri Jahe (Zingiber Officinale).

    No full text
    Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi minyak atsiri jahe (Zingiber officinale) terhadap gambaran histopatologi sinus hidung dan paru-paru tikus putih (Rattus norvegicus). Enam ekor tikus dengan asumsi sehat sistem pernafasannya dibagi menjadi dua kelompok, kelompok perlakuan (P) diberi inhalasi minyak atsiri jahe selama lima minggu, sedangkan kelompok kontrol (K) tidak diberi apa-apa. Secara umum, sinus hidung tikus kelompok kontrol maupun perlakuan mengalami sinusitis suppuratif akut dan paru-parunya mengalami pneumonia interstisialis. Berdasarkan perubahan histopatologi dapat disimpulkan bahwa minyak atsiri jahe tidak memperbaiki kerusakan pada rongga sinus hidung maupun paru-paru tikus
    corecore