34,402 research outputs found
Teologi pembebasan dalam persoalan kemiskinan : Studi komparatif pemikiran Asghar Ali Engineer dan Gustavo Gutierrez
Persoalan kemiskinan tidak hanya diselesaikan dalam bidang ekonomi, sosial dan politik, melainkan juga dapat diselidiki melalui perspektif teologi. Teologi bukan memfokuskan dirinya terhadap peribadatan saja yang dapat mendekatkan diri kepada Tuhan, namun mempunyai sisi praksis sebagai refleksi atas hubungan manusia dengan Tuhan. Sehingga manusia hidup tidak melulu mencari sisi kerohanian tetapi mengeksplorasi realitas di cita-cita sekitar kehidupan manusia, yakni kesejahteraan dan keamanan.
Tujuan penelitian ini mengenali pemikiran kedua tokoh, yakni Asghar Ali Engineer dan Gustavo Gutierrez mengenai persoalan kemiskinan dalam sudut pandang teologi pembebasan. Sebagai penelitian kualitatif metode yang dipakai adalah studi kepustakaan atau library research.
Temuan yang dapat diutarakan adalah, pertama menurut Asghar Ali Engineer, kemiskinan sama celanya dengan kekafiran, dimana seorang muslim dituntut untuk memerangi kufr maka ia juga harus memerangi kemiskinan. Sedangkan menurut Gustavo Gutierrez, kemiskinan terjadi secara individual. Artinya ada orang miskin yang tidak kreatif, malas dan memiliki ketidakmampuan dalam menyelaraskan hidupnya. Kedua, Asghar Ali Engineer dan Gustavo Gutierrez mempunyai kesamaan dalam teologi pembebasan yakni menggunakan landasan kitab suci dalam menjawab kemiskinan. Asghar Ali Engineer menggunakan metode Qur’ani dan Gustavo Gutierrez menggunakan tafsiran Kitab Suci. Adapun perbedaannya terletak pada peristilahan yang digunakan kedua tokoh, Asghar Ali Engineer menggunakan istilah mustakbirin (golongan menindas) dan mustad’afin (golongan lemah), sedangkan Gustavo Gutierrez menggunakan istilah borjuis (golongan menengah ke atas) dan proletar (lapisan sosial paling rendah)
Tinjauan Kritis Doktrin Keselamatan Teologi Pembebasan Gustavo Gutierrez
Gustavo Gutierrez adalah salah satu teolog pembebasan dari Peru yang membangun sebuah metode teologi baru, yang berpangkal dari praksis hidup umat beriman sebagai standar untuk refleksi teologi. Bertitik tolak dari pengalaman dan konteks hidupnya di tengah-tengah kaum miskin Peru, Gutierrez menempatkan kaum miskin sebagai subyek dari teologinya. Jadi teologi menurut Gutierrez adalah refleksi kritis atas praksis kaum miskin dalam terang sabda Allah. Berdasarkan metode teologi tersebut maka konsep keselamatan teologi pembebasan Gutierrez berfokus pada keselamatan "here and now". Keselamatan bagi Gutierrez adalah keselamatan integral yang mencakup pembebasan manusia dalam berbagai aspek, bukan hanya keselamatan rohani tetapi juga ekonomi, sosial, dan politik. Atau dengan kata lain keselamatan bukan hanya bersifat rohani, tetapi juga bersifat sosial dan politik. Ada beberapa sikap yang muncul dalam meresponi konsep keselamatan teologi pembebasan Gutierrez, baik yang simpati maupun antipati. Kebanyakan para teolog, seperti: J. Ronald Blue, Stanley J. Grenz dan Etta Linneman berpendapat bahwa konsep keselamatan Gutierrez cenderung berciri sosial politik, bukan keselamatan manusia atas dosa (berciri rohani). Oleh karena itu, melalui skripsi ini penulis ingin membuktikan apakah ada ciri-ciri rohani dalam konsep keselamatan Gutierrez, termasuk konsep dosa, pertobatan, iman, gereja dan misinya (kaitan keselamatan dengan penginjilan). Selain itu penulis juga mengkritisi apakah ciri-ciri rohani tersebut sesuai dan tepat seperti yang Alkitab maksudkan. Hasil penelitian penulis menunjukkan bahwa dalam konsep keselamatan Gutierrez ada ciri-ciri rohani meskipun tidak terlalu menonjol ketimbang ciri-ciri sosial politik. Selain itu dalam ciri-ciri rohani yang dikemukakan Gutierrez -- perlu ada penjelasan atau catatan khusus. Namun dengan adanya ciri-ciri rohani tersebut Gutierrez dapat menyangkal tuduhan-tuduhan bahwa teologi pembebasan hanya berciri sosial politik. Dalam skripsi ini penulis berusaha menjembatani konsep keselamatan Gutierrez dengan konsep keselamatan tradisional. Keselamatan "here and now" menjadi tekanan Gutierrez dengan harapan keselamatan Kristus dapat menjawab permasalahan sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia sekarang. Sebenarnya keselamatan yang dipahami Gutierrez tersebut dapat digolongkan dengan keselamatan yang sedang berproses (atau lebih dikenal dengan istilah sanctification -- pengudusan setiap saat) dalam pemahaman tradisional. Keselamatan merupakan anugerah dari penebusan Kristus di masa lalu yang diterima pada saat orang-orang yang percaya bertobat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Pertobatan (conversion) merupakan titik tolak untuk orang-orang percaya melakukan sanctification sampai Tuhan datang kedua kalinya dimana kita akan mengalami keselamatan yang sempurna. Pada jaman sekarang ini adalah kesempatan untuk menjalani sanctification agar keselamatan yang kita terima berdampak bagi dunia ini. Skripsi ini mendorong agar orang-orang yang telah diselamatkan merespons anugerah Allah itu dengan menjalankan tanggung jawab pribadi dan sosial. Tanggung jawab pribadi dalam hal ini merupakan tugas tiap orang percaya dalam menjaga kekudusan hidupnya, bertumbuh secara rohani dan karakter agar menyerupai Kristus dan meminimalkan dosa yang menjadi penyebab terjadinya permasalahan sosial. Sedangkan tanggung jawab sosial adalah upaya orang-orang percaya menjalankan tugasnya untuk mengatasi permasalahan sosial yang terjadi di dunia, termasuk menolong orang miskin (yang menjadi penekanan teologi pembebasan). Gutierrez tidak perlu memfokuskan konsep keselamatannya pada upaya sosial politik guna mewujudkan impian pembebasan bagi orang miskin dan tertindas, sebab keselamatan yang diterima oleh orang percaya memang sudah seharusnya menjadi titik tolak bagi mereka untuk melaksanakan tanggung jawab pribadi dan sosial di masa sanctification
MENDIALOGKAN TEOLOGI PEMBEBASAN GUSTAVO GUTIERREZ DAN RAJA YEROBEAM DALAM 1 RAJA-RAJA 12:1-24
Tulisan ini (1) bertujuan menggali konflik pecahnya kerajaan Israel raya dalam 1 Raja-raja 12:1-24 baik secara spiritual antara Allah dan umat maupun terutama secara sosiologis antara sesama umat. (2) Dari penulusuran ini, kemudian akan didialogkan dengan perspektif pembebasan dari Gustavo Gutierrez. Melihat bahwa teologi pembebasan Gutierrez mirip dengan apa yang diperjuangkan Yerobeam dalam Kitab 1 Raja-raja 12:1-24, meleburkan kedua tokoh pembebasan ini menjadi hal yang menarik. Dengan menggunakan pendekatan kritik historis asumsinya dapat melihat konflik ini secara mendalam dan sosiologis. Hasilnya, teologi pembebasan memberikan suatu perspektif kesetaraan dan emansipatoris terutama pada persoalan pajak dan kerja paksa yang diperjuangkan Yerobeam sehingga ia bersama suku di Utara harus mengambil jalan berpisah demi membebaskan diri dari ketidakadilan. Sementara itu Gutierrez di Amerika Latin khususnya dalam pengalaman ketertindasan masyarakat memberikan kritik kepada gereja untuk berani berteologi dalam krisis ketidakadilan tersebut. Teologi Yerobeam bersama Gutierrez pada akhirnya sama-sama menekankan pada pentingnya keterlibatan gereja maupun para teolog dalam melihat isu-isu sosial seperti ketidakdilan baik secara praktis maupun politis
Konsep Filantropi dalam teologi pembebasan : Studi komparatif pemikiran Kh. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Gustavo Gutierrez
Isu kemiskinan identik dengan faktor ekonomi, sosial dan politik. Tidak hanya faktor-faktor itu saja, melainkan teologi juga berperan penting dalam mengatasi kemiskinan itu. Teologi tidak hanya persoalan mengenai ibadah individualis (hablu minallah), melainkan lebih dari itu, teologi dapat menjadi alat kesejahteraan antar sesama manusia (hablu minannas). Salah satu cara pengentasan kemiskinan adalah dengan filantropi. Filantropi ialah sifat sukarela seseorang yang peduli kepada mereka yang kekurangan dan mereka yang tertindas.
Tujuan penelitian ini ialah membaca pemikiran antar dua tokoh yaitu KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Gustavo Gutierrez mengenai cara mengentaskan kemiskinan lewat kaca mata teologi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penelitian Studi Pustaka atau library research.
Ditemukan hasil penelitian dari kedua tokoh ini. Upaya Gus Dur dalam menyelamatkan ekonomi masyarakat dengan menerapkan sistem ekonomi yang bersifat adil bagi seluruh masyarakat dengan cara menghilangkan sistem kapitalis dan dengan upaya melakukan filantropi terutama sedekah. Selain itu, Gustavo Gutierrez juga mengupayakan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat di Amerika Latin. Gutierrez menghadirkan filantropi dengan cara hidup “liberating praxis”. Keduanya memiliki persfektif bahwa agama memiliki andil dalam upaya mensejahteraan masyarakat dan manaungi keadilan
Alaskan Author and Historian Dan O'Neill
Dan O'Neill has become a living legend in Alaska. He is the author of The Firecracker Boys: H-Bombs, Inupiat Eskimos, and the Roots of the Environmental Movement; A Land Gone Lonesome: An Inland Voyage Along the Yukon River; The Last Giant of Beringia: The Mystery of the Bering Land Bridge, and recently Stubborn Gal: The True Story of an Undefeated Sled Dog Racer, a children's book published by the University of Alaska Press. Dan came to Alaska in 1975 and has done a variety of things including dog mushing, trapping, hunting, working in construction, and on the pipeline. As research associate at the UAF Oral History program, he produced radio and television documentaries for public broadcasting, and for several years he wrote a column of political opinion for the Fairbanks Daily News-Miner
Lejn ħelsien sħiħ : it-teoloġija ta' Gustavo Gutierrez OP
Il-kitbiet ta' Gustavo Gutierrez kellhom u għadu jkollhom impatt profond mhux biss fil-Knisja Kattolika u fit-teoloġija nisranija, imma anke fuq il-movimenti sekulari. Bil-ħsieb tiegħu, Gutierrez ipprovda qafas morali għall-attiviżmu soċjo-politiku, kif ukoll għodda qawwija għall-mobilizzazzjoni favur id-drittijiet tal-emarġinati u kontra l-kawżi sistematiċi tal-faqar. Dan l-artiklu elementi ċentrali tal-ħsieb u t-teoloġija ta' "missier it-teoloġija tal-liberazzjoni", fosthom l-għażla preferenzjal għall-foqra, id-dnub strutturali, il-ħelsien sħiħ, u r-rabta bejn liberazzjoni, fidi u spiritwalità.peer-reviewe
PERANCANGAN APLIKASI ELECTRONIC MEDICAL RECORD (EMR) PADA INSTALASI RAWAT INAP BERBASIS WEB
Pelayanan medik dewasa ini membutuhkan sistem yang lebih efektif dan efisien, baik dalam
penggunaan waktu, tenaga maupun sarana. Dalam pengelolaan rekam medik, kenyataan masih
umumnya penggunaan rekam medik manual yang dinilai tak lagi andal menangani data medik
melahirkan ide konversi rekam medik manual kertas ke rekam medik elektronik karena efektivitas dan
efisiensinya.
Penelitian ini bertujuan menciptakan aplikasi rekam medik elektronik yang lebih dikenal
sebagai EMR (Electronic Medical Record) dari rekam medik kertas di Instalasi Rawat Inap Rumah
Sakit Umum Ananda Salatiga. Rekam medik elektronik dirancang dengan membuat form-form isian
catatan-catatan medik dalam proses perawatan pasien selama dirawat. Data-data medik ini kemudian
disimpan dalam basis data sistem dan dikelola secara digital. Setiap kali pengisian data medik pada
form-form tertentu, sistem akan menghasilkan kode yang membawa informasi khusus.
Pada akhirnya, sistem akan menghasilkan deret kode ICD (International Statistical
Classification of Diseases and Related Health Problems) dari kode-kode yang dihasilkan pada
pengisian form-form catatan medik. Deretan kode-kode ini mampu menggambarkan perkembangan
kondisi pasien dan penanganan medik yang diberikan selama perawatan. Data-data medik yang
tersimpan dapat ditampilkan kembali dalam bentuk catatan medik digital.
Kata kunci: rekam medik, rawat inap, EMR, IC
Correspondence regarding the possiblity of a Kephart Memorial
This 1968 correspondence, between Jackson E. Price and Dan Davis, discusses the possibility of “Memorial Center” to Horace Kephart (1862-1931), noted naturalist, woodsman, journalist, and author and promoter of the Great Smoky Mountains National Park
Analisis Tata Kelola Maritim Indonesia: Implementasi Visi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta
Indonesia sebagai negara maritim memiliki banyak peluang dan ancaman. Hal tersebut memerlukan adanya perhatian yang lebih besar terhadap wilayah laut. Penelitian ini membahas strategi Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan peluang ekonomi dan mengatasi tantangan melalui Poros Maritim Dunia. Tujuan riset ini adalah menganalisa kebijakan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam pengembangan wilayah pesisir menggunakan teori geopolitik dan teori kekuatan laut. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif studi kasus. Data yang digunakan berupa data primer melalui wawancara dan data sekunder yang diperoleh dari buku, artikel jurnal dan publikasi daring. Penulis menemukan bahwa sinergitas penegak hukum, diplomasi maritim sudah cukup baik, namun perlu lebih aktif melibatkan masyarakat untuk pengelolaan sumber daya hayati yang berkelanjutan dan peningkatan SDM masyarakat pesisir. Sementara Visi Gubernur DIY bernama Abad Samudera Hindia belum terlaksana dengan maksimal. Masyarakat membutuhkan tambahan pembangunan TPI baru dan pengembangan TPI menjadi PPN dan PPS untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan nelayan. Dapat disimpulkan bahwa pemerintah pusat dan daerah harus selalu memperhatikan pengelolaan laut, khususnya untuk pemanfaatan sumber daya dan pangan. Bahwa laut memiliki kekayaan alam yang berlimpah dapat digunakan meningkatkan gizi masyarakat dan pendapatan negara. Title: Indonesian Maritime Governance Analysis: Implementation of the Vision of the Yogyakarta Special Region GovernmentIndonesia, as a maritime country, has many opportunities and threats. This condition requires greater attention to the sea area. This research discusses the strategy of the Government of Indonesia to increase economic opportunities and overcome challenges through the World Maritime Fulcrum. This research aims to analyze the policies of the Government of Indonesia and the Provincial Government of DIY in developing coastal areas using geopolitical theory and the theory of sea power. This study uses a qualitative case study method. The data used are primary data through interviews and secondary data obtained from books, journal articles and online publications. The author finds that the synergism between law enforcement and maritime diplomacy is good enough. However, it is necessary to involve the community more actively in the sustainable management of biological resources and to increase the human resources of coastal communities. Meanwhile, the vision of the Governor of DIY called the Century of the Indian Ocean, has not been implemented optimally. The community needs additional construction of new TPI and development of TPI to become PPN and PPS to increase the productivity and welfare of fishermen. It can be concluded that the central and regional governments must always pay attention to marine management, especially for utilising resources and food. That the sea has abundant natural wealth can be used to improve people’s nutrition and state income
- …
