40 research outputs found
PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KEMAMPUAN MEMBANTU PENDERITA HIPERTENSI PADA KADER REMAJA MELALUI EDUKASI
Abstrak : keterbatasan jumlah tenaga kesehatan (Nakes) di Puskesmas menjadi kendala utama dalam pemantauan kesehatan penderita hipertensi di masyarakat. Ketersediaan kader pemuda di masyarakat memiliki potensi besar sebagai sumber daya manusia yang dapat membantu tenaga kesehatan dalam merawat penderita hipertensi di rumah atau saat terjadi bencana. Hal ini penting karena Padang juga merupakan daerah yang rawan bencana. Kegiatan pengabdian masyarakat (PKM) bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan sederhana tentang pengobatan penderita hipertensi. Metode tersebut menggunakan edukasi dan pelatihan kesehatan untuk mengukur dan menginterpretasikan hasil tekanan darah menggunakan tensimeter digital. Penilaian menggunakan angket untuk mengukur pengetahuan remaja dan observasi keterampilan serta kemampuan menginterpretasikan hasil pengukuran tekanan darah. Mitra PKM adalah Lembaga Swadaya Masyarakat Gurah Nurani Indonesia yang beranggotakan 10 orang kader dari Desa Pasie Nan Tigo dan 28 orang dari Kecamatan Parupuk Tabing. Sebanyak 38 kader pemuda mengikuti kegiatan PKM. Kedua mitra ini berada di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Buaya yang merupakan mitra PKM unggulan. Hasil PKM menunjukkan adanya peningkatan tingkat pengetahuan kader remaja tentang merawat penderita hipertensi dari pengetahuan kurang 92,1% menjadi pengetahuan baik 97,4% dan 100% kader remaja terampil melakukan pengukuran tekanan darah dan mampu membaca hasil pengukuran. Rekomendasi untuk mensosialisasikan kegiatan ini kepada seluruh remaja yang memiliki keluarga dengan hipertensi sebagai upaya peningkatan kesehatan keluarga. Abstract: The limited number of health workers (Nakes) at the Puskesmas is the main obstacle in monitoring the health of people with hypertension in the community. The availability of youth cadres in the community has great potential as human resources that can assist health workers in caring for people with hypertension at home or when a disaster occurs. It is essential because Padang is also a high-risk area prone to disasters. Community service activities (PKM) aim to provide simple knowledge and skills about treating hypertension sufferers. The method uses health education and training to measure and interpret blood pressure results using a digital tensimeter. The assessment used a questionnaire to measure adolescent knowledge and observation of skills and ability to interpret blood pressure measurement results. The PKM partner is the Gurah Nurani Indonesia Non-Governmental Organization, which has ten cadres from the Pasie Nan Tigo Village and 28 from the Parupuk Tabing Sub-District. A total of 38 youth cadres took part in PKM activities. These two partners are in the working area of the Lubuk Buaya Health Center, which is the leading PKM partner. The PKM results showed an increase in the level of knowledge of youth cadres about caring for people with hypertension from less knowledge of 92.1% to good knowledge of 97.4% and 100% of youth cadres skilled at taking blood measurements and being able to read blood pressure measurement results. The recommendation is to socialize this activity for all adolescents who have families with hypertension as an effort to improve family health
PENINGKATAN PENGELOLAAN HIPERTENSI MELALUI PEMANFAATAN APLIKASI HY-CON OLEH KADER DAN PEMEGANG PROGRAM
Abstrak: Tingginya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, pelarangan berkumpul pada masa pandemi Covid-19, meningkatnya kasus hipertensi yang tidak terkontrol menjadi permasalahan bagi tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang optimal. Media teknologi digital dapat dijadikan alat untuk mempermudah pemberian pelayanan kesehatan bagi penderita hipertensi dan memperluas skrining penemuan penderita hipertensi baru. Aplikasi Hy-Con (aplikasi pengendalian hipertensi) berbasis Website dan android disosialisasikan kepada tenaga kesehatan sebagai bentuk kontribusi penulis untuk membantu mengatasi permasalahan yang ada. Tujuan pengabdian adalah memberikan pelatihan kepada pemegang program dan kader hipertensi untuk bisa menggunakan aplikasi Hy-Con dalam mengelola hipertensi. Evaluasi menggunakan angket pengetahuan, praktikalitas aplikasi dan rekap jumlah login peserta pada aplikasi. Hasilnya, 30 peserta (100%) antusias menggunakan aplikasi ini, dengan rata-rata 8-10 kunjungan ke aplikasi untuk setiap peserta, 80% pengetahuan baik setelah mengikuti pelatihan. Aplikasi dinyatakan praktis dan layak untuk digunakan. Rencana tindak lanjut dengan Puskesmas menghasilkan komitmen dari penanggung jawab program penyakit tidak menular dan kader untuk menggunakan aplikasi Hy-Con dalam pengelolaan penderita hipertensi.Abstract: The high demand from the community for quality health services, the prohibition of gathering during the Covid-19 pandemic, the increasing cases of uncontrolled hypertension are problems for health workers to provide optimal health services. Digital technology media can facilitate health services for people with hypertension and expand the screening of new hypertension sufferers. The Hy-Con application (hypertension control application) based on the Website and Android is socialized to health workers as a form of the author's contribution to help overcome existing problems. The service aims to train program holders and hypertension cadres to use the Hy-Con application to manage hypertension. The evaluation uses a knowledge questionnaire, application practicality, and a recap of the number of participant logins in the application. As a result, 30 participants (100%) enthusiastically used this application, with an average of 8-10 visits to each participant, 80% good knowledge after attending the training. The application is declared practical and possible to use. The follow-up plan with the Public Health Center resulted in a commitment from the leader of the non-communicable disease program and cadres to use the Hy-Con application in the management of hypertension sufferers
Efektivitas Pemberian Mobilisasi Dini terhadap Tonus Otot, Kekuatan Otot, dan Kemampuan Motorik Fungsional Pasien Hemiparise Paska Stroke Iskemik
Most of the impact of the onset of stroke is weakness in the limbs, leading to decreased productivity and economic ability. Early rehabilitation is needed to reduce these disadvantages, using early mobilization after acute stroke. The research objective was to see the effectiveness of early mobilization on muscular strength, muscle tone, and functional motor skills in hemiparesis after ischemic stroke. This type of research is a quasi-experimental pretest-posttest group design. The subjects were hemiparesis patients after ischemic stroke, distributed into two groups: the first group, consisting of 10 people, was given mobilization training 2 times/day; the second group, consisting of 10 people, was given mobilization training 3 times/day. Training started on day 2 after stroke until day 5. Analysis was conducted using paired and unpaired t-tests, with a significance level of p < 0.05. The results showed an increase in muscle tone, muscle strength, and functional motor ability in both groups, with p = 0.000 for each group. Better improvement was obtained in muscle tone and muscle strength (shoulder, elbow, wrist, thigh, knee, ankle) and functional motor skills in the therapy group that received 3 times/day training compared to the 2 times/day group, with significance values: shoulder muscle strength p = 0.016; elbow muscles p = 0.037; wrist muscles p = 0.042; hamstring muscle p = 0.004; and ankle p = 0.050. Increased ability to tilt to the healthy side p = 0.000; increased ability to sit supine p = 0.000; maintain sitting balance p = 0.007; and the ability to sit up p = 0.007. It is suggested that early mobilization exercise therapy be used as an independent nursing intervention, performed 3 times/day or 2 times/day to help speed recovery and prevent further weakness complications
Model “Hy-Con”(Hypertension Control) Berbasis Aplikasi Mobile Health Sebagai Upaya Pengontrolan Hipertensi Di Kota Padang
ABSTRAK
MODEL “HY-CON”(HYPERTENSION CONTROL) BERBASIS APLIKASI MOBILE HEALTH SEBAGAI UPAYA PENGONTROLAN HIPERTENSI DI KOTA PADANG
Reni Prima Gusty
Rendahnya perilaku perawatan diri penderita hipertensi berakibat tidak terkontrolnya tekanan darah. Metode pengelolaan yang lebih baik menjadi penting untuk ditemukan. Berbagai studi membuktikan bahwa penggunaan teknologi m-health dapat meningkatkan perilaku perawatan diri penderita penyakit kronis. Faktanya penggunaan teknologi m-health di Indonesia masih terbatas, sehingga pengembangan masih diperlukan sampai saat ini. Tujuan penelitian membagun model Hy-Con (Hypertension Control) untuk membantu meningkatkan perilaku perawatan diri penderita hipertensi dengan menggunakan teknologi m-health. Metodologi yang dipakai adalah menggunakan metode ADDIE (Analyze Design Development Implementation Evaluation) dengan pendekatan lima bagian. Tahap I (Analyze) menggunakan desain mixmethods dengan analisis uji regresi logistik. Tahap II (Design) mendesain modul pengontrolan hipertensi,diagram flow data (DFD) untuk aplikasi model Hy-Con, draf instrumen pengetahuan perilaku perawatan diri. Tahap III (Development) adalah menghasilkan modul cetak pengontrolan hipertensi, sofware aplikasi model Hy-Con. selanjutnya uji validitas instrumen pengetahuan dan uji pakar untuk modul dan aplikasi model Hy-Con. Dilakukan uji coba pemberian aplikasi model Hy-Con pada 30 orang responden dengan desain pretest-postest one group. Data di analisis dengan uji wilcoxon. Selanjutnya dilakukan uji praktikalitasi penggunaan aplikasi untuk mendapatkan fiksasi model yang tepat. Tahap IV & V (Implementation dan evaluasi), implementasi aplikasi model Hy-Con pada 120 orang responden dengan 60 responden untuk masing-masing kelompok kontrol dan intervensi. Desain yang digunakan pretest-posttest control group desain. Data di analisis menggunakan uji man whitney, repeated measure friedman. Hasil Tahap satu obesitas sentral, indeks masa tubuh, stres mempengaruhi kepatuhan minum obat p<0,05 (OR=2,8; 0,6; 0,5). Pengetahuan,obesitas sentral,pendidikan, indeks masa tubuh mempengaruhi kepatuhan diet p<0,05 (OR=6,7; 4,5; 3,8; 0,6). Pengetahuan, obesitas sentral,persepsi mempengaruhi kepatuhan aktivitas p<0,05 (OR=31,1; 6,6; 2,8). Jenis kelamin,lama hipertensi, pendidikan mempengaruhi kepatuhan menghindari rokok p<0.05 (OR=41,9; 0,42; 0,22). Pengetahuan, persepsi, lama hipertensi, tingkat stres mempengaruhi kepatuhan menagemen berat badan p<0,05 (OR=8,5;0,4;0,3). Hasil kualitatif didapatkan 7 tema yaitu perilaku minum obat, faktor risiko hipertensi, perilaku konsumsi diet DASH, perilaku aktivitas fisik, mengenal hipertensi, perilaku merokok dan perilaku pengelolaan stres. Tahap dua dan tiga menghasilkan modul cetak, aplikasi model Hy-Con dan instrumen pengetahuan perawatan diri penderita hipertensi. Tahap empat dan lima pemberian aplikasi model Hy-Con menghasilkan peningkatan pengetahuan, persepsi, penurunan tingkat stres dengan p=0,000 dan peningkatan perilaku perawatan diri p=0,000. Sedangkan kelompok kontrol terjadi peningkatan pengetahuan, persepsi, tingkat stres, kepatuhan minum obat, aktivitas fisik dan manajemen berat badan. Hasil perubahan perilaku perawatan diri di kelompok intervensi menghasilkan penurunan mean skor tekanan darah sistol sebesar 14,18 mmHg dan diastol 0,7 mmHg. kelompok kontrol tekanan darah ≥140/90 mmHg. Kesimpulan : Aplikasi model Hy-Con dapat meningkatkan pengetahuan, persepsi, dan perilaku perawatan diri penderita hipertensi serta penurunan stres. Peningkatan perilaku perawatan diri mampu menurunkan tekanan darah penderita hipertensi. Saran: dukungan yang konsisten dan kontuinitas dari petugas kesehatan dan keluarga agar penggunaan Aplikasi model Hy-Con oleh penderita hipertensi dapat mempertahankan perilaku perawatan dirinya.
kata kunci: pengetahuan, persepsi, stres,perawatan diri, kepatuhan
Pemberian Latihan Rentang Gerak Terhadap Fleksibilitas Sendi Anggota Gerak Bawah Pasien Fraktur Femur Terpasang Fiksasi Interna Di RSUP. Dr. M. Djamil Padang
Gangguan fleksibilitas sendi anggota gerak bawah merupakan masalah yang sering terjadi padapasien fraktur femur pasca operasi pemasangan fiksasi interna. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegahgangguan ini dintaranya adalah melakukan latihan rentang gerak sendi sedini mungkin. Tujuan penelitian adalahmengetahui pengaruh pemberian latihan rentang gerak terhadap kelenturan sendi anggota gerak bawah pada pasienfraktur femur terpasang fiksasi interna. Rancangan penelitian menggunakan Quasy Eksperiment dengan pendekatanPosttest Only Control Group. Sampel adalah pasien fraktur femur post fiksasi interna hari ke dua sebanyak 20responden, dibagi dalam dua kelompok yaitu 10 responden mendapat latihan rentang gerak (eksperimen) dan 10responden melakukan latihan rentang gerak tidak sesuai aturan penelitian (kontrol). Instrument menggunakangoniometer. Perlakuan Latihan gerak dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore hari selama 5 hari dengan durasi 15menit. Data dianalisa dengan uji statistik Mann Whitney. Hasil penelitian pada kelompok eksperimen didapatkanrata-rata kelenturan sendi setelah diberikan latihan rentang gerak yaitu fleksi sendi panggul 68,5 derajat, fleksi sendilutut 61 derajat, dorsofleksi pergelangan kaki 12,5 derajat dan plantarfleksi pergelangan kaki 47 derajat, sedangkanpada kelompok kontrol didapatkan rata-rata fleksi sendi panggul 45,5 derajat, fleksi sendi lutut 15,5 derajat,dorsofleksi 1,5 derajat dan plantarfleksi 33,5 derajat. Berdasarkan uji statistik Mann Whitney didapatkan p=0,000<0,05 yang menunjukkan ada perbedaan derajat kelenturan sendi pada kelompok eksperimen dibanding dengankelompok kontrol. Kesimpulan lebih besar peningkatan derajat kelenturan sendi pada kelompok eksperimendibanding dengan kelompok kontrol. Disarankan lakukan latihan gerak sendi post operasi fiksasi hari kedua (sedinimungakin) sehingga dapat mencegah terjadinya kekakuan pada sendi pada pasien fraktur femur terpasang fiksasi interna
Pengaruh Pelatihan Berprilaku Caring Terhadap Kemampuan Caring Mahasiswa Praktek Profesi Fakultas Keperawatan Unand di RSUP Dr.M.Djamil Padang
Caring nurse behavior will be guarantee quality care, because Caring is the essence of nursing between nurses means responsive to the clients . Therefore Unand nursing faculty seeks caring training to make students better prepared to provide quality nursing care when the practice of the profession and to produce graduates who are ready kerja.Penelitian examines the effect of training on kemampun caring Caring Professions School of Nursing Students Practice Unand . This type of research experimentation Quasi one-group pretest- posttest design. Students study subjects practice the profession in Dr M Djamil Padang Hospital numbered 22 peoples and spread across nine rooms are neurologi , pulmonary , male internal , female internal , high care unit, female surgical , male surgical , trauma centere and recovery room . Instruments is queationer that measure eight capability caring consist of hear clients with caring attentive, giving a sense of security, a touch, build trusting relationships, responsibility, information, sensitive to the client, and respecting the client . Students were trained for 2 days with bedside teaching methods. Analysis of the data processed using Marginal homogenity test to see the effect of training on kemampun caring Caring Professions School of Nursing Students Practice Unand . The results showed that there is an increased ability to behave in the caring professions students of the Faculty of Nursing Unand practice after the training given to the value of p = 0.000 . Using suggestions caring approach to training in small groups more able to improve psychomotor skills of students in the practice of land . And can be used by professionals as part of main graduation loade
