61 research outputs found

    DISTRIBUSI FORAMINIFERA BENTIK SEBAGAI INDIKATOR KONDISI LINGKUNGAN DI PERAIRAN SEKITAR PULAU BATAM-RIAU KEPULAUAN

    No full text
    Hasil analisis foraminifera bentik dari 42 percontoh sedimen dasar laut yang diambil dari Perairan Batam menunjukkan kelimpahan yang sangat tinggi, terdiri dari 123 spesies, yang terbagi menjadi 72 spesies dari Grup Rotaliina, 28 spesies Miliolina, dan 23 spesies Textulariina. Berdasarkan analisis cluster, lokasi penelitian terbagi menjadi 5 cluster, yang masing-masing didominasi oleh Asterorotalia trispinosa, Pseudorotalia annectens, Amphistegina radiata, Quinqueloculina cf. Q. philippinensis, dan Operculina ammonoides. Kelima spesies tersebut merupakan penciri lingkungan laut dangkal, sedimen kasar, dan berasosiasi dengan lingkungan berenergi tinggi dan terumbu karang. Penyebaran foraminifera bentik di lokasi penelitian dipengaruhi oleh pola arus, distribusi sedimen, dan terumbu karang. Ada perbedaan distribusi foraminifera bentik yang cukup signifikan antara wilayah sebelah barat dengan di sebelah utara dan timur penelitian. Ketiga area tersebut memiliki pola arus, tingkat energi dan distribusi sedimen yang cukup berbeda. Wilayah Perairan Batam dinilai masih memiliki kondisi lingkungan yang bagus, dilihat dari kelimpahan foraminifera bentik, serta dari nilai tingginya index diversitas yaitu >3. Kata kunci : foraminifera bentik; analisis cluster; indikator lingkungan; Perairan Batam - Riau Analysis of benthic foraminifera from 42 seafloor sediment samples from Batam Waters, shows very high abundance, consists of 123 species, which are 72 species belong to Rotaliina, 28 species of Miliolina, and 23 species of Textulariina. Based on cluster analysis, the study area is divided into 5 groups, each cluster is dominated by Asterorotalia trispinosa, Pseudorotalia annectens, Amphistegina radiata, Quinqueloculina cf. Q. philippinensis, and Operculina ammonoides. These five species of benthic foraminifera are indicators for shallow marine water environment, with coarse sediment fraction and associated with high energy environment and coral reef. The benthic foraminiferal distribution is influenced by current pattern, sediment distribution, and coral reef. There is a significant difference between benthic foraminiferal distribution in the western part with the northern and the eastern parts. These three parts of the study area have different current pattern, energy, and sediment distribution. Batam Waters is assumed still in good environment, derived from both high abundance of benthic foraminifera and the high value of diversity index (>3). Key words : benthic foraminifera; cluster analysis; environmental indicator; Batam Water

    FORAMINIFERA BENTIK DALAM SEDIMEN SEBAGAI INDIKATOR KONDISI LINGKUNGAN TERUMBU KARANG DI PERAIRAN PULAU CEMARA BESAR DAN CEMARA KECIL KEPULAUAN KARIMUNJAWA JAWA TENGAH

    No full text
    Kepulauan Karimunjawa memiliki nilai konservasi yang tinggi karena kelimpahan, keragaman jenis dan ekosistemnya. Degradasi terumbu karang secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem di sekitarnya. Penelitian foraminfera ini dilakukan di sekitar Pulau Cemara Besar dan Cemara Kecil dengan mengambil contoh sedimen dasar laut di dua puluh enam titik lokasi. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat kelayakan lingkungan terhadap pertumbuhan terumbu karang berdasarkan komposisi foraminifera bentik yang terdapat di Pulau Cemara Besar dan Pulau Cemara Kecil. Metode yang digunakan adalah melalui pendekatan kelimpahan foraminifera bentik dengan menghitung FORAM (Foraminifera inReef Assessment and Monitoring) Index. Pengambilan contoh sedimen untuk memperoleh sampel foraminifera yang dilakukan dengan penyelaman dan sebagian dengan menggunakan pemercontoh comot. Secara umum, perairan di sekitar Pulau Cemara Besar sangat kondusif untuk pertumbuhan terumbu karang dengan nilai FORAM Index FI > 5. Foraminifera bentik yang mendominasi adalah Amphistegina, Calcarina, Streblus dan Reusella. Di bagian barat dan baratlaut Pulau Cemara Kecil, kelimpahan foraminifera bentik sangat rendah, dan juga memperlihatkan ornamentasi cangkang yang tidak jelas. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada kedua daerah ini kondisi lingkungan terumbu sudah mulai terganggu. Kondisi terganggu ini didukung oleh dominannya jenis Streblus yang biasanya merupakan indikator lingkungan yang berenergi tinggi, serta hadirnya jenis-jenis opportunistic lainnya seperti Pseudorotalia dan Elphidium. Kata kunci : Foraminifera, FORAM Index, Pulau Cemara Besar, Pulau Cemara Kecil, Kepulauan Karimunjawa. Karimun Islands has high conservation value due to the abundance, diversity of types and only recently. Degradation of coral reefs would indirectly affect the balance of the ecosystem around it. The research was carried out in the vicinity of foraminfera Cemara Besar Island and Cemara Kecil Island by taking samples of the seabed sediments in twenty-six point location. The purpose of the research to determine the level of environmental worthiness against the growth of coral reefs based on composition of benthic foraminifera in the Cemara Besar and Cemara Kecil Island. The method used is through the abundance of benthic foraminifera with the approach to calculating FORAM (Foraminifera inReef Assessment and Monitoring) Index. Sediment sampling to obtain samples of foraminifera are done with dives and partly by using the grabsamples. In General, the waters around the island of Cemara Besar is conducive to the growth of coral reefs with Index FI FORAM > 5. Benthic Foraminifera are dominating, Calcarina, Amphistegina, Streblus and Reusella. In the West and Northwest of Cemara Kecil, benthic foraminifera abundance is very low, and it also exposes additional shells was unclear. It shows that on both these areas has already begun to environmental conditions of coral is disturbed. Disturbed conditions is supported by his dominions of Streblus which usually is an indicator of high energy environments, as well as the presence of other opportunistic types such as Pseudorotalia and Elphidium. Keywords: Foraminifera, FORAM Index, Cemara Besar Island, Cemara Kecil Island, Karimun Islands

    ANALYSES OF FORAMINIFERS MICROFAUNA AS ENVIRONMENTAL BIOINDICATORS IN KOTOK BESAR, KOTOK KECIL AND KARANG BONGKOK ISLANDS, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA PROVINCE

    No full text
    Kepulauan Seribu is a well-known destination of marine tourism in Indonesia. Inevitably, the place has been affected by human activities. Hence it is important to preserve and conserve the area so as it is still suitable for reef community to grow and develop. One of the methods to evaluate the feasibility for reef environment is calculated by FoRAM Index (FI) values. Benthic foraminifera as a tool for environmental bioindicators were collected from 15 marine surface sediment samples in the vicinity areas of Kotok Besar, Kotok Kecil and Karang Bongkok islands in Kepulauan Seribu to assess the FI values. Approximately 20 genera of benthic foraminifera were found in the study area. The genera are dominated by Amphistegina and Calcarina along with Operculina, Quinqueloculina, Peneroplis, and Discorbis. The finding signifies reef flat environment as the dominant morphology, although the presence of fore slope is also observed particularly at the western part of Kotok Besar island. The assemblages of Operculina and Quinqueloculina suggest that the abundance of benthic foraminifera is influenced not only by the morphology of seafloor, but also by tidal current and terrestrial influence. The FI formula using foraminifers found in the study area results values above 4, thus the area can be reviewed as a decent environment for reef growth and development. Keywords: benthic foraminifera; bioindicator; FoRAM Index; coral community; seafloor morphology Kepulauan Seribu terkenal sebagai tujuan wisata laut di Indonesia, sehingga dapat dipastikan tempat ini dipengaruhi oleh aktifitas manusia. Oleh sebab itu sangat penting untuk menjaga dan melindungi kelestarian lingkungannya sehingga tetap cocok bagi komunitas karang untuk hidup dan berkembang. Salah satu metode untuk mengevaluasi kelayakan lingkungan terumbu adalah dengan menghitung nilai FoRAM Index (FI). Untuk analisis ini, foraminifera bentik dikoleksi dari 15 sampel sedimen permukaan laut dari daerah sekitar Pulau Kotok Besar, Kotok Kecil dan Pulau Karang Bongkok di Kepulauan Seribu. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 20 genera foraminifera bentik yang ditemukan di daerah penelitian. Foraminifera didominasi oleh Amphistegina dan Calcarina, sedangkan jenis lain yang juga cukup berlimpah adalah Operculina, Quinqueloculina, Peneroplis, dan Discorbis. Hal ini menunjukkan lokasi penelitian memiliki jenis morfologi rataan karang sebagai morfologi dominan, walaupun kehadiran lereng karang (fore slope) juga teramati terutama pada bagian barat pulau Kotok Besar. Distribusi kelimpahan Operculina dan Quinqueloculina menunjukkan bahwa kelimpahan foraminifera bentik selain dipengaruhi oleh morfologi dasar laut juga dipengaruhi oleh pasang surut dan pengaruh terestrial. Hasil perhitungan FI berdasarkan foraminifera di wilayah penelitian menunjukkan nilai FI > 4 sehingga daerah ini dapat ditinjau sebagai lingkungan yang layak untuk pertumbuhan karang dan perkembangannya. Kata kunci: foraminifera bentik; bioindikator; FoRAM Index; komunitas koral; morfologi dasar lau

    FORAMINIFERA DI PERAIRAN SEKITAR BAKAUHENI, LAMPUNG (SELAT SUNDA BAGIAN UTARA)

    No full text
    Penelitian foraminifera bentik dari 15 percontoh sedimen dasar laut di bagian utara Selat Sunda, Perairan Bakauheni, Lampung telah dilakukan secara kuantitatif. Keterdapatan foraminifera bentik di daerah penelitian sangat melimpah dan bervariasi yaitu terdiri dari 142 spesies (65 genera) yang diidentifikasi dari 7.799 spesimen. Berdasarkan penelitian ini diperoleh bahwa kelimpahan dan komposisi spesies foraminifera di bagian timur (sekitar Bakauheni) cenderung lebih tinggi (rata-rata 6,24%) dibandingkan dengan bagian barat (rata-rata 4,7%) daerah penelitian. Hal ini kemungkinan dapat dikaitkan dengan arah pergerakan arus dasar laut yang bekerja di daerah penelitian. Keanekaragaman foraminifera bentik tertinggi terdapat pada titik lokasi BHL-36 yang terletak di bagian barat daerah penelitian dan terdiri dari 104 spesies. Kelimpahan tertinggi (10,07%) terdapat pada titik lokasi BHL-25 yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Bakauheni dan didominasi oleh spesies tertentu yang dapat bertahan hidup. Subordo Rotaliina merupakan kelompok utama di daerah penelitian yang dicirikan oleh genera Asterorotalia, Operculina, dan Elphidium. Benthic foraminifera from fifteen surface sediment samples in the northern part of Sunda Strait, Bakauheni Waters, Lampung have been analysed quantitatively. The occurrences of benthic foraminifera in the study area are very abundance and varied, it comprises of 142 species (65 genera), which is identified from 7,799 specimens. Based on this research, it is resulted that the abundance and diversity of foraminifera in the east (around Bakauheni) are higher (average of 6.24%) than in the west (average of 4,7%) of the study area. It may relate to bottom current pattern that work in the study area. The highest diversity of benthic foraminifera occurs at site BHL-36, which lies in west part of the study area and it comprises of 104 species. The highest number of individu (10.07%) occurs at the site of BHL-25, which is close to Bakauheni Harbour and it is dominated by certain survived species. Subordo Rotaliina is the main group found in the study area that is characterized by genera of Asterorotalia, Operculina, and Elphidium

    Distribusi Foraminifera Bentik sebagai Indikator Kondisi Lingkungan di Perairan Sekitar Pulau Batam-Riau Kepulauan

    No full text
    Hasil analisis foraminifera bentik dari 42 percontoh sedimen dasar laut yang diambil dari Perairan Batam menunjukkan kelimpahan yang sangat tinggi, terdiri dari 123 spesies, yang terbagi menjadi 72 spesies dari Grup Rotaliina, 28 spesies Miliolina, dan 23 spesies Textulariina. Berdasarkan analisis cluster, lokasi penelitian terbagi menjadi 5 cluster, yang masing-masing didominasi oleh Asterorotalia trispinosa, Pseudorotalia annectens, Amphistegina radiata, Quinqueloculina cf. Q. philippinensis, dan Operculina ammonoides. Kelima spesies tersebut merupakan penciri lingkungan laut dangkal, sedimen kasar, dan berasosiasi dengan lingkungan berenergi tinggi dan terumbu karang. Penyebaran foraminifera bentik di lokasi penelitian dipengaruhi oleh pola arus, distribusi sedimen, dan terumbu karang. Ada perbedaan distribusi foraminifera bentik yang cukup signifikan antara wilayah sebelah barat dengan di sebelah utara dan timur penelitian. Ketiga area tersebut memiliki pola arus, tingkat energi dan distribusi sedimen yang cukup berbeda. Wilayah Perairan Batam dinilai masih memiliki kondisi lingkungan yang bagus, dilihat dari kelimpahan foraminifera bentik, serta dari nilai tingginya index diversitas yaitu >3. Kata kunci : foraminifera bentik; analisis cluster; indikator lingkungan; Perairan Batam - Riau Analysis of benthic foraminifera from 42 seafloor sediment samples from Batam Waters, shows very high abundance, consists of 123 species, which are 72 species belong to Rotaliina, 28 species of Miliolina, and 23 species of Textulariina. Based on cluster analysis, the study area is divided into 5 groups, each cluster is dominated by Asterorotalia trispinosa, Pseudorotalia annectens, Amphistegina radiata, Quinqueloculina cf. Q. philippinensis, and Operculina ammonoides. These five species of benthic foraminifera are indicators for shallow marine water environment, with coarse sediment fraction and associated with high energy environment and coral reef. The benthic foraminiferal distribution is influenced by current pattern, sediment distribution, and coral reef. There is a significant difference between benthic foraminiferal distribution in the western part with the northern and the eastern parts. These three parts of the study area have different current pattern, energy, and sediment distribution. Batam Waters is assumed still in good environment, derived from both high abundance of benthic foraminifera and the high value of diversity index (>3)

    Analyses Of Foraminifers Microfauna AS Environmental Bioindicators In Kotok Besar, Kotok Kecil And Karang Bongkok Islands, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta Province

    No full text
    Kepulauan Seribu is a well-known destination of marine tourism in Indonesia. Inevitably, the place has been affected by human activities. Hence it is important to preserve and conserve the area so as it is still suitable for reef community to grow and develop. One of the methods to evaluate the feasibility for reef environment is calculated by FoRAM Index (FI) values. Benthic foraminifera as a tool for environmental bioindicators were collected from 15 marine surface sediment samples in the vicinity areas of Kotok Besar, Kotok Kecil and Karang Bongkok islands in Kepulauan Seribu to assess the FI values. Approximately 20 genera of benthic foraminifera were found in the study area. The genera are dominated by Amphistegina and Calcarina along with Operculina, Quinqueloculina, Peneroplis, and Discorbis. The finding signifies reef flat environment as the dominant morphology, although the presence of fore slope is also observed particularly at the western part of Kotok Besar island. The assemblages of Operculina and Quinqueloculina suggest that the abundance of benthic foraminifera is influenced not only by the morphology of seafloor, but also by tidal current and terrestrial influence. The FI formula using foraminifers found in the study area results values above 4, thus the area can be reviewed as a decent environment for reef growth and development. Keywords: benthic foraminifera; bioindicator; FoRAM Index; coral community; seafloor morphology Kepulauan Seribu terkenal sebagai tujuan wisata laut di Indonesia, sehingga dapat dipastikan tempat ini dipengaruhi oleh aktifitas manusia. Oleh sebab itu sangat penting untuk menjaga dan melindungi kelestarian lingkungannya sehingga tetap cocok bagi komunitas karang untuk hidup dan berkembang. Salah satu metode untuk mengevaluasi kelayakan lingkungan terumbu adalah dengan menghitung nilai FoRAM Index (FI). Untuk analisis ini, foraminifera bentik dikoleksi dari 15 sampel sedimen permukaan laut dari daerah sekitar Pulau Kotok Besar, Kotok Kecil dan Pulau Karang Bongkok di Kepulauan Seribu. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 20 genera foraminifera bentik yang ditemukan di daerah penelitian. Foraminifera didominasi oleh Amphistegina dan Calcarina, sedangkan jenis lain yang juga cukup berlimpah adalah Operculina, Quinqueloculina, Peneroplis, dan Discorbis. Hal ini menunjukkan lokasi penelitian memiliki jenis morfologi rataan karang sebagai morfologi dominan, walaupun kehadiran lereng karang (fore slope) juga teramati terutama pada bagian barat pulau Kotok Besar. Distribusi kelimpahan Operculina dan Quinqueloculina menunjukkan bahwa kelimpahan foraminifera bentik selain dipengaruhi oleh morfologi dasar laut juga dipengaruhi oleh pasang surut dan pengaruh terestrial. Hasil perhitungan FI berdasarkan foraminifera di wilayah penelitian menunjukkan nilai FI > 4 sehingga daerah ini dapat ditinjau sebagai lingkungan yang layak untuk pertumbuhan karang dan perkembangannya

    Girls on the Line

    No full text
    Cover -- Front Flap -- Title Page -- Copyright Information -- Photo Acknowledgments -- Chapter 1 Luli -- Chapter 2 Yun -- Chapter 3 Luli -- Chapter 4 Luli -- Chapter 5 Yun -- Chapter 6 Yun -- Chapter 7 Luli -- Chapter 8 Yun -- Chapter 9 Luli -- Chapter 10 Yun -- Chapter 11 Luli -- Chapter 12 Yun -- Chapter 13 Yun -- Chapter 14 Yun -- Chapter 15 Luli -- Chapter 16 Yun -- Chapter 17 Luli -- Chapter 18 Yun -- Chapter 19 Luli -- Chapter 20 Yun -- Chapter 21 Luli -- Chapter 22 Yun -- Chapter 23 Luli -- Chapter 24 Yun -- Chapter 25 Luli -- Chapter 26 Yun -- Chapter 27 Luli -- Chapter 28 Yun -- Chapter 29 Luli -- Chapter 30 Yun -- Chapter 31 Luli -- Chapter 32 Yun -- Chapter 33 Luli -- Chapter 34 Yun -- Chapter 35 Luli -- Chapter 36 Yun -- Chapter 37 Luli -- Chapter 38 Yun -- Chapter 39 Luli -- Chapter 40 Luli -- Author's Note -- Acknowledgments -- Topics for Discussion -- About the Author -- Back Flap -- Back CoverDescription based on publisher supplied metadata and other sources.Electronic reproduction. Ann Arbor, Michigan : ProQuest Ebook Central, YYYY. Available via World Wide Web. Access may be limited to ProQuest Ebook Central affiliated libraries

    OSTRACODA SEBAGAI INDIKATOR PERUBAHAN LINGKUNGAN PERAIRAN SEKITAR PLTU TARAHAN, TELUK LAMPUNG, SUMATERA

    No full text
    Teluk Lampung terletak di bagian selatan Pulau Sumatera yang berhadapan dengan Selat Sunda.  Kualitas ingkungan perairan ini secara perlahan menurun sebagai akibat pertumbuhan berbagai aktifitas manusia di kawasan pesisir.  Tujuan dari studi ini adalah untuk memahami  struktur komunitas ostracoda sebagai komponen sedimen laut terkait dengan perubahan lingkungan perairan ini. Studi ini menggunakan  22 sub-sampel sedimen dari 4 titik lokasi di lepas pantai sekitar PLTU Tarahan dan beberapa sampel sedimen permukaan yang mewakili kondisi lingkungan saat ini. Kemudian sampel sedimen ini dicuci dalam ayakan berbukaan 0.063 mm, dikeringkan dan digunakan untuk studi ostracoda dengan bantuan mikroskop binokuler. Hasilnya menunjukkan bahwa secara vertikal kelimpahan ostracoda menurun atau tidak hadir di beberapa lapisan bawah dasar laut. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan erupsi Gunung Krakatau tahun 1883 yang ditunjang oleh keterdapatan material batu apung di lapisan-lapisan sedimen ini. Secara horizontal, ostracoda dari sampel permukaan atau dasar laut cukup bervariasi dan melimpah namun juga menemukan spesimen abnormal seperti rusak dan terisi atau tertutup oleh material berwarna gelap yang mengandung Al2O3 (17,54%) and SiO2 (37,52%). Hal ini kemungkinan berkaitan dengan menurunnya kondisi lingkungan daerah penelitian yang berpengaruh pada habitat ostracoda.Katakunci: ostracoda, spesimen abnormal, perubahan lingkungan, Teluk Lampung Lampung Bay is located in the southern part of Sumatera island that facing to the Sunda Strait. This bay is gradually degradation environment as a result of growing various human activities in the coastal area.  The purpose of this study is to understand the community structure of ostracoda as component of marine sediments related to environmental changes of this area.  This study used 22 sediment sub-samples from four sites in the offshore area of Tarahan power plant and several surface sediment samples represented the present environmental condition. These samples were then washed through 0.063 mm sieve, dried and used for  ostracod study under a binocular microscope. The result shows that,  the ostracoda assemblages, vertically, are decrease or disappear at certain layers below seafloor. It may related to the eruption of Krakatau Volcano in 1883 that was supported by finding of pumice materials in these layers. Horizontally,  ostracod from surface sediments is quite diverse and abundant but we also found abnormal specimens such as abraded and filled or covered by Al2O3 (17,54%) and SiO2 (37,52%).  It may related to decline environment in the study area that likely affect the habitat of ostracoda. Keywords: ostracoda, abnormal specimens, Tarahan power plant

    PALEOENVIRONMENTAL RECONSTRUCTION FROM BENTHIC FORAMINIFERAL ASSEMBLAGES OF EARLY HOLOCENE, SHALLOW MARINE DEPOSITS IN GOMBONG, CENTRAL JAVA

    No full text
    A 30m-long sediment core covering the Holocene period was taken from the area of Gombong in the southern part of Central Java. The sediments were deposited in a shallow marine to lagoonal environment that was confirmed by the dominance of Ammonia beccarii along the core intervals. In addition, the species Quinqueloculina poeyana, Miliolinella lakemacquariensis, and Miliolinella subrotunda were also found in the sediments that are typical of normal shallow marine conditions. The decrease and increase in the abundance of these species throughout the core is an expression of sea level change in the area, which results the environmental changes. Low sea level is expressed by the dominance of Ammonia beccarii, and the low abundances or absence of the other three species. In contrast, high sea level stands are reflected by the presence of all four species. The high sea level would imply favorable conditions for benthic foraminifera because it would result in normal shallow marine conditions in the area. Finally, from this benthic assemblages study, it can be assumed that the environmental transformation from the originally shallow marine environment into land was occurred at level 5.5m depths of the sediment core, when all benthic foraminifera were terminated, including Ammonia beccarii. These new results from the shallow marine deposits in the Gombong area are a new contribution to the understanding of paleoenvironmental change in the region, which in turn is important for understanding sea level change as well as climate change in the region. Keywords: Benthic foraminifera, Holocene, paleoenvironmental changes, sea level changes Southcoast of Central Java Sebuah percontoh sedimen bor sepanjang 30m yang berumur Holosen diambil dari daerah Gombong, bagian selatan Jawa Tengah. Percontoh sedimen diendapkan pada lingkungan laut dangkal –laguna, berdasarkan kelimpahan foraminifera bentik Ammonia beccarii di sepanjang sedimen bor. Selain itu ditemukan juga spesies-spesies Quinqueloculina poeyana, Miliolinella lakemacquariensis, dan Miliolinella subrotunda, yang merupakan penciri lingkungan laut dangkal dengan kondisi normal. Penurunan dan kenaikan dari kelimpahan masing-masing spesies foraminifera bentik di atas, dapat mencerminkan perubahan permukaan air laut daerah studi, yang menghasilkan terjadinya perubahan lingkungan. Penurunan muka air laut dapat dicirikan dengan hadirnya Ammonia beccarii yang sangat dominan, sementara spesies lainnya cenderung berkurang bahkan hampir tidak ada. Sebaliknya ketika muka air laut naik, maka keempat spesies foraminifera tersebut cenderung hadir dengan jumlah yang seimbang satu sama lainnya. Kenaikan muka air laut akan menghasilkan lingkungan laut normal yang merupakan kondisi ideal bagi foraminifera. Akhirnya, dari kajian perubahan kelimpahan foraminifera bentik ini, dapat diperkirakan bahwa pada level kedalaman bor 5,5m, terjadi perubahan lingkungan dari lingkungan laut dangkal-laguna menjadi daratan, yang ditandai dengan musnahnya semua jenis foraminifera bentik, termasuk Ammonia beccarii. HAsil kajian ini merupakan kontribusi baru untuk mempelajari perubahan lingkungan pada lokasi penelitian, terutama penting untuk lebih mengerti mengenai perubahan muka air laut dan perubahan iklim. Keywords: Benthic foraminifera, Holocene, paleoenvironmental changes, sea level change

    DISTRIBUSI FORAMINIFERA DI LAUT HALMAHERA DARI GLASIAL AKHIR SAMPAI RESEN

    No full text
    Mikrofauna foraminifera telah banyak digunakan sebagai proksi dalam penelitian paleoseanografi dan perubahan iklim purba. Kelimpahan dan komposisi kimia cangkang foraminifera merekam berbagai informasi yang dapat diinterpretasi berkaitan dengan perubahan lingkungan berdasarkan parameter-parameter paleoseanografi. Paleoseanografi Laut Halmahera sangat penting untuk dikaji karena berpengaruh terhadap dinamika iklim Indonesia dan iklim global. Perubahan-perubahan parameter oseanografi tersebut mempengaruhi sirkulasi arus global dan interaksi antara air-udara yang berperan terhadap penyebaran uap air ke lintang tinggi. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah mempelajari distribusi foraminifera untuk rekonstruksi perubahan paleoseanografi di Laut Halmahera dan sekitarnya. Data foraminifera ini didukung dengan pemodelan umur dan rekonstruksi isotop stratigrafi berdasarkan analisis d18O G. ruber dan C14 radiokarbon dating. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan foraminifera di Laut Halmahera sangat dipengaruhi oleh iklim global. Kelimpahan foraminifera terutama didominasi oleh G. ruber, G. bulloides, P. obliqueloculata, N. dutertrei, dan G. menardii dari jenis planktonic. Sedangkan jenis bentik didominasi oleh Bulimina spp., Bolivinita quadrilatera, Bolivina spp., dan Uvigerina spp. Biozonasi foraminifera menunjukkan korelasi yang sangat baik dengan data ?18O dan mencerminkan perubahan – perubahan iklim di masa lalu yang terjadi sejak 50.000 tahun yang lalu antara lain glasial akhir yang berlangsung sejak zona 1 - 4b, LGM (subzone 4b), deglasiasi (subzona 4c), kondisi seperti YD dari bumi bagian utara atau ACR dari bumi bagian selatan pada awal zona 5, interglasial (pertengahan zona 5), dan Mid Holosen Maksimum pada pertengahan subzona 5a. Kata kunci: Distribusi foraminifera, paleoseanografi, isotop oksigen, perubahan iklim global, Laut Halmahera. Microfauna foraminifera has been widely used as a potential proxy for paleoceanography and paleoclimatological changes. Its assemblages and its test geochemical composition preserve important data that could interprete various oceanographic parameters related to the paleoenvironmental changes. The paleoceanography dynamic of Halmahera sea is very important to be studied due to its great impact to Indonesian and global climate. The changes of its oceanographic parameters influence the thermohaline circulation and the air-sea interaction that contribute to the water favour distribution to the high latitudes. Therefore this research purpose is to analyze the foraminiferal distribution in order to reconstruct the paleoceanography changes of Halmahera sea and surrounded. This foraminiferal study is supported by the age model reconstruction and isotope stratigraphy analysis based on d18O G. ruber and 14C dating. The result suggests that foraminiferal assemblage was influenced by global climate changes. Planktonic foraminifera is dominated by G. ruber, G. bulloides, P. obliqueloculata, N. dutertrei, and G. menardii. Benthic foraminifera is dominated by Bulimina spp., Bolivinita quadrilatera, Bolivina spp., and Uvigerina spp. Foraminiferal biozonation indicates coherent correlation with ?18O record, and reflects global paleoclimatic changes that occurred since the 50 ka BP. Those paleoclimatic changes are last glacial (zone 1 - subzone 4b), LGM (zone 4b), deglaciation that was started from subzone 4c, condition of YD like of Northern Hemisphere climate or ACR like of the Southern Hemisphere climate (the beginning of zone 5), interglacial (middle of zone 5), and Mid Holocene Maximum at the middle of subzone 5a.Keywords: Foraminiferal distribution, paleoceanograhy, oxygen isotope, global climate changes, Halmahera sea
    corecore