MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
    645 research outputs found

    ESTIMASI PERUBAHAN STOK KARBON DAN SERAPAN CO2 PADA EKOSISTEM MANGROVE TAHUN 2019 – 2024 DI KARAWANG MENGGUNAKAN SENTINEL 2A

    Full text link
    Gas rumah kaca mengakibatkan perubahan pola curah hujan, peningkatan frekuensi badai, naiknya permukaan air laut,menurunnya salinitas, dan meningkatnya sedimentasi di wilayah pesisir dan laut. Mangrove sebagai ekossitem pesisir mempunyai peran penting dalam mengurangi dampak gas rumah kaca melalui penyerapan karbon di lingkungannya yang lebih baik dari hutan biasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estimasi kerapatan vegetasi, biomassa atas tanah, biomassa bawah tanah, total akumulasi biomassa, stok karbon total, serta jumlah serapan CO2 pada ekosistem mangrove di Kecamatan Cilebar dan Tempuran, Karawang. Pada penelitian ini dilakukan analisis terintegrasi melalui pengolahan data Sentinel 2A, survei lapangan dan perhitungan estimasi stok dan serapan karbon menggunakan rumus allometrik . Hasil penelitian menunjukkan estimasi stok karbon mangrove pada tahun 2019 dengan nilai 38,912 – 48,64 pada area seluas 121,81 Ha. Pada tahun 2021 stok karbon mangrove  bernilai 41,58 – 51,975 seluas 148,81 Ha Pada tahun 2024 stok karbon mangrove bernilai 45,032 – 56,29 seluas 179,47 Ha. Hasil analisis lanjutan menunjukkan serapan CO2 di Kecamatan Cilebar dan Tempuran, Karawang  pada tahun 2019 bernilai 127,08- 169,46 dengan seluas 121,81 Ha Pada tahun 2021 serapan CO2 bernilai 132,395 – 176,52 seluas 148,81 Ha Pada tahun 2024 serapan CO2 bernilai 137,04 – 182,72 seluas 179,47 Ha Penambahan serapan karbon terjadi karena keberhasilan rehabilitasi, pencegahan perusakan, serta lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan mangrove.

    GEOCHEMISTRY OF SEABED AND COASTAL SEDIMENTS IN LIMAU WATERS AREA

    Full text link
    Sediment provenance and weathering history are used to understand sedimentary processes and to explore mineral potential in coastal–marine systems in the Limau Waters. Therefore, the characteristics of seabed and coastal sediments need to be determined. This study aims to identify the source rocks, paleoweathering signatures, and sediment maturity of both seabed and coastal sediments through a geochemical approach. A geochemical approach that integrates major oxide and rare earth element (REE) analyses, the paleoweathering, and sediment maturity indices, is used to identify the source rocks of these sediments. Major oxides elements were measured using X-ray fluorescence (XRF) and REE concentrations were determined using inductively coupled plasma - optical emission spectrometry (ICP-OES) and inductively coupled plasma optical - mass spectrometry (ICP-MS). Geochemical discrimination diagrams indicate that seabed sediments are mainly derived from intermediate to felsic igneous rocks with higher compositional maturity, whereas coastal sediments are influenced by mafic volcanic rocks and are comparatively immature in composition. Both sediment types exhibit weak chemical weathering (CIA < 70), suggesting limited alteration of young volcanic sources. The CIA–ICV relationships portray contrast sediment transport and depositional processes between the coastal and marine environments. This study is expected to provide a geochemical-based framework for provenance analysis and to support the development of insights for future marine mineral exploration in the Limau Waters area

    FORAMINIFERA DISTRIBUTION AS AN INDICATOR OF PALEOCEANOGRAPHY IN WAIPOGA WATERS, NORTHERN PAPUA

    Full text link
    Foraminifera are widely used as indicators for reconstructing past marine environmental conditions. This study aims to investigate the ecological conditions of Waipoga waters, North Papua, by analyzing the distribution of foraminifera during the late Middle Holocene to Late Holocene. The study area plays an important role in the dynamics of the Indonesian Throughflow (ITF/ITF) and ENSO. Sediment core samples were prepared and identified for foraminifera, followed by quantitative analyses including relative abundance, P/B ratio, and ecological indices. In addition, sortable silt analysis was applied as an environmental proxy to support the reconstruction of past environmental changes. The results show that foraminiferal abundance throughout the sediment core varies. Planktonic foraminifera are more dominant, comprising 12 genera with 22 species. The most dominant species are Globigerinoides ruber (41,7%), Neogloboquadrina dutertrei (11%), Neogloboquadrina incompta (13,2%), Pulleniatina obliquiloculata (4%), Hastigerina pelagica (6,65%), and Globigerinoides immaturus (6,7%). Meanwhile, benthic foraminifera consist of 42 genera with 62 species, dominated by Bulimina marginata (1,8%), Cibicidoides pachyderma (1,89%), and Lenticulina calcar (1,3%). During the late Middle Holocene to Late Holocene, the Waipoga waters were influenced by variations in bottom current intensity and thermocline stability. Zones I and III reflect oligotrophic conditions with weak circulation, while Zone II indicates increased bottom current intensity, high productivity, and dysoxic conditions, suggesting possible intensification of upwelling events

    IMPACT OF SIGNIFICANT WAVE HEIGHT, WIND SPEED, AND PRECIPITATION VARIABILITY ON SHIPPING SAFETY IN INDONESIAN ARCHIPELAGIC SEA LANES

    Full text link
    Unexpected and unpredictable extreme weather poses significant risks to maritime activities, particularly in Indonesian waters and the Indonesian Archipelagic Sea Lanes, known as ALKI, which have been internationally recognized for shipping and aviation since 1985. This study assesses these risks by analyzing patterns of wave height, wind speed, and rainfall along ALKI to improve shipping safety and mitigate accident risks. Data from the European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) ERA5 for the period 1993 to 2023 and Global Precipitation Measurement (GPM) for 2001 to 2020 were processed using descriptive statistics and Empirical Orthogonal Function (EOF) methods. The results reveal high waves (1-2.5 m) and strong winds at Beaufort scale 4 prevailing in northern Indonesian waters from December to February and southern waters from June to August. Higher rainfall (350-600 mm) occurs in the northern region from September to November and in the southern from December to February. Extreme waves (90th percentile) reach up to 3 m in open ocean areas such as the Natuna Sea, western Sumatra, southern Java, the Maluku Sea, and northern Papua Sea. Extreme winds are observed over open ocean areas, with slight spatial shifts, as seen in the Arafura Sea (9-10 m/s). Extreme rainfall (250-350 mm) is concentrated in the northwestern region. EOF analysis identifies global climate phenomena and regional oceanographic dynamics as the primary drivers of significant wave height variability. Improved understanding of weather variability can enhance navigation safety along the ALKI routes and inform more effective regulation, law enforcement, and monitoring

    PEMETAAN SPASIAL TINGKAT RISIKO BENCANA TSUNAMI DI UNESCO GLOBAL GEOPARK CILETUH-PALABUHANRATU

    Full text link
    Geopark Ciletuh - Palabuhanratu merupakan wilayah yang memiliki luas 1261 km2 dan secara administratif mencakup 8 kecamatan dari Kabupaten Sukabumi. Selain sebagai kawasan konservasi, salah satu pemanfaatan lain dari geopark ini adalah sebagai kawasan wisata bertaraf internasional. Terdapat 70 situs geologi dan 30 situs geoheritage yang dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Penelitian mengemukakan bahwa terdapat potensi tsunami setinggi 20 meter di pesisir selatan Kabupaten Sukabumi yang akan berdampak pada wilayah Geopark Ciletuh - Palabuhanratu.Wilayah yang rentan terdapat potensi tsunami sudah seharusnya memiliki tindakan mitigasi untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan. Salah satu bentuk tindakan mitigasi yang bisa dilakukan adalah pembuatan peta risiko. Pada penelitian ini dilakukan penelitian dan pemetaan tingkat risiko bencana tsunami secara spasial di wilayah UNESCO Global Geopark Ciletuh-Palabuhanratu. Metode yang digunakan adalah Multi Criteria Weighted Overlay (MCE-WO) dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Tingkat risiko bencana tsunami 7 Kecamatan di wilayah kerja UNESCO Global Geopark Ciletuh-Palabuhanratu secara umum termasuk dalam kategori sangat rendah. Secara keseluruhan wilayah UNESCO Global Geopark Ciletuh - Palabuhanratu memiliki nilai tingkat risiko yang cukup beragam dari sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Secara spasial, daerah dengan luasan tingkat risiko terhadap bencana tsunami yang sangat tinggi terletak pada wilayah Kecamatan Ciracap yaitu sebesar 1102,97 hektar

    DINAMIKA PANTAI KOTA SEMARANG, JAWA TENGAH

    Full text link
    Wilayah pesisir Kota Semarang, bagian dari pantai utara Jawa, menghadapi dinamika pantai yang kompleks akibat abrasi, akresi, banjir pesisir, dan perubahan garis pantai yang signifikan dalam dua dekade terakhir. Permasalahan ini diperburuk oleh intensitas pembangunan yang tidak mempertimbangkan kondisi geomorfologi, topografi, dan sistem drainase, yang mengakibatkan kerentanan terhadap abrasi dan sedimentasi tidak merata. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan garis pantai, memahami pengaruh faktor oseanografi dan antropogenik terhadap dinamika pantai, serta memberikan dasar untuk perencanaan pengelolaan pesisir yang berkelanjutan. Penelitian menggunakan metode integrasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan Digital Shoreline Analysis System (DSAS) untuk memetakan perubahan garis pantai berdasarkan data multi-temporal dari citra satelit selama 20 tahun. Selain itu, dilakukan analisis energi fluks gelombang melalui metode hindcasting menggunakan data angin selama 10 tahun dari National Centers for Environmental Information (NCEI) NOAA. Data angin dianalisis menggunakan koreksi elevasi, stabilitas, durasi, lokasi pengamatan, serta klasifikasi berdasarkan arah dan kecepatan menggunakan Beaufort Scale. Selanjutnya, energi fluks gelombang dihitung untuk mengidentifikasi pola distribusi sedimen dan pengaruhnya terhadap proses abrasi dan akresi. Verifikasi lapangan dilakukan melalui survei langsung untuk mengamati karakteristik pantai, termasuk jenis sedimen, morfologi pantai, dan pola vegetasi di berbagai lokasi strategis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Genuk mengalami abrasi paling luas, sedangkan akresi terbesar terjadi di Kecamatan Semarang Barat. Faktor oseanografi seperti arus sejajar pantai (longshore current), gelombang, serta reklamasi yang dilakukan di beberapa titik turut memengaruhi distribusi sedimen. Analisis energi fluks gelombang mengungkapkan pola transportasi sedimen yang dominan dari timur ke barat, menyebabkan perubahan geomorfologi pantai yang dinamis. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa pemanfaatan SIG dan DSAS memberikan gambaran komprehensif tentang dinamika pantai, yang dilengkapi dengan hasil analisis energi fluks untuk memahami transportasi sedimen. Studi ini merekomendasikan penerapan kebijakan mitigasi berbasis data untuk mengurangi dampak abrasi, memaksimalkan manfaat akresi, dan meningkatkan ketahanan pesisir Kota Semarang terhadap perubahan iklim dan aktivitas manusia.

    KAJIAN PERUBAHAN GARIS PANTAI DI PESISIR PANTAI AMPENAN KOTA MATARAM

    Full text link
    Pantai Ampenan merupakan pantai yang berada di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Saat ini, telah terjadi peristiwa abrasi dan akresi pantai di Pulau Lombok terutama di Kota Mataram khususnya meliputi sepanjang Pantai Ampenan.  Pembangunan struktur pantai untuk melindungi sebagian Pantai Ampenan, ternyata dapat menyebabkan erosi dan sedimentasi yang parah pada sisi pantai yang lain. Pemantauan terhadap perubahan garis pantai sangat diperlukan untuk kajian dinamika pesisir, perlindungan lingkungan pantai, dan pembangunan lingkungan pesisir. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pola perubahan garis pantai yang terjadi di pesisir Pantai Ampenan sepanjang tahun 2003-2023 menggunakan metode Digital Shoreline Analysis System (DSAS). Metode statistik untuk sampling area yang digunakan dalam penentuan stasiun pengamatan yaitu menggunakan metode purposive sampling dengan mempertimbangkan berbagai aktivitas penduduk di setiap stasiun dimana lokasi penelitian dibagi menjadi 4 stasiun yang mewakili kondisi pesisir Pantai Ampenan. Data primer berupa informasi garis pantai indikatif diperoleh melalui analisis multitemporal citra satelit Landsat 7, 8, 9 serta observasi lapangan berupa data kemiringan pantai dan butiran sedimen. Sedangkan, data yang diperoleh dari sumber yang sudah ada sebagai data sekunder berupa data arus, gelombang laut dan data pasang surut. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode DSAS, abrasi terjadi di lokasi yang berdekatan dengan lahan pekarangan dan pemukiman warga. Sedangkan, akresi terjadi dominan di lokasi muara Sungai Meninting dan Jangkok

    BACK COVER

    No full text
    BACK COVE

    IDENTIFICATION OF EARTHQUAKE AND TSUNAMI RISK ZONES IN SOUTHERN JAVA USING GRAVITY METHOD

    Full text link
    The southern part of Java has a high level of disaster risk because it is affected by a subduction zone where the Indo-Australian plate thrusts beneath the Eurasian plate. Six tsunami events occurred in the southern part of Java, caused by earthquakes in the area, based on BMKG catalogue data from 416 to 2023. Given the very large population on the island of Java, the possibility of causing more casualties is greater. Therefore, it is very necessary to have thorough mitigation preparation to estimate the possibility of areas experiencing a large earthquake that triggers a tsunami. This study aims to determine areas with a high level of earthquake and tsunami risk distribution using the gravity method with data from the TOPEX satellite in the form of free air anomaly data and topographic data. After data processing and an anomaly map were obtained, it showed that areas with a high level of earthquake risk were located around the subduction zone and Java Trench. This is due to the geological conditions of the southern part of Java, located in the subduction zone where many active faults were found

    FRONT COVER

    No full text
    FRONT COVE

    449

    full texts

    645

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇