16 research outputs found

    PEMANFAATAN PESAWAT UDARA NIR AWAK (PUNA) UNTUK PEMANTAUAN MITIGASI BENCANA GUNUNG BERAPI

    No full text
    Wilayah Indonesia merupakan bagian dari Lingkaran Api Pasifik. Ini ditandai dengan banyaknya gunung berapi aktif yang menghiasi kontur wilayah Indonesia dari timur ke barat. Berdasarkan sejarah, rangkaian gunung berapi ini terbukti memiliki peranan penting dalam mempengaruhi iklim dunia. Hal ini masih berlangsung sampai hari ini hingga waktu yang akan datang. Oleh karena itu, pengetahuan yang cukup mendalam mengenai keberadaan rangkaian gunung berapi ini sangatlah penting untuk keberlangsungan hidup masyarakat di sekitar wilayah Indonesia maupun masayarakat dunia. Pemantauan rangkaian gunung berapi ini merupakan tugas yang membutuhkan banyak tenaga dan fasilitas yang memakan biaya besar. Penggunaan pesawat tak berawak (PUNA) menawarkan solusi alternatif untuk pemenuhan tugas ini. Efisiensi dalam melaksanakan pemantauan seperti pengumpulan gambar termal di area sekitar gunung berapi serta pengumpulan data dan gambar yang lebih spesifik dapat dilakukan dengan biaya yang relatif lebih kecil. Hal ini bisa dilakukan karena biaya operasi PUNA yang lebih murah dan mudahnya mengatur sendiri jadwal pemantauan PUNA sesuai dengan kebutuhan. Kata Kunci: PUNA, UAV, Gunung berapi, Gambar termal</jats:p

    A Study of the Terms of 'Yuch'imi 留置米''Yomi 餘米, ' and 'Choch'imi 儲置米, ' in the Uniform Land Tax Law (Taedongbop 大同法)

    Get PDF
    As a preliminary study into the specific relations between the Uniform Land Tax Law, put into force in the late Yi dynasty, and local government finances, the author, in this paper, reflects on the three legislative terms of 'yuch'imi, ' 'yomi, ' and 'choch'imi.' They referred to the part of taedongmi 大同米 not to be remitted to the central government but to be stored in each do 道. 'Yuch'imi' was the general term which referred to the portion of taedongmi stored within the provinces. On the other hand, 'yomi' meant the remainder of 'yuch'imi, ' which had been left after deduction of the expenses necessary for the dynasty to govern each province. It was divided among the kunhyon 郡縣s to be appropriated for all sorts of expenses, and a part of the 'yomi' was also stored up for years of famine. These terms were mainly used during the early period of the Uniform Land Tax Law in force, in the first half of the 17th century. The term 'choch'imi' began to be generally used towards the latter half of the 17th century. It was also being referred to as 'yomi, ' but, in this case, it implied the portion of taedongmi stored in the kunhyons in, the years previous to a certain fiscal year. The revenue from taedongmi in a fiscal year alone had become inadequate for the necessary expenditures on local government level owing to the rapid increase of the amount of taedongmi remitted to the central government and subsequent decrease of the amount saved at local level. It is probable that the part of the former 'yomi' which had been expected to make up for the lack of revenue in famine years was turned into newly established regular resources. This new resources were called 'yomi, ' because its origin was the former 'yomi, ' but they were also called 'choch'imi, ' as it was stored for many years. Behind the term 'choch'imi' was the above-mentioned transformation of the Uniform Land Tax Law at local level

    Penerapan Antena Mikrostrip di Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Sriti

    Get PDF
    Unmanned aerial vehicle (UAV) di Indonesia lebih dikenal sebagai Pesawat Udara Nir Awak (PUNA). Data link dari pemantauan udara diperlukan komponen pendukung transmitter yang dipasang di PUNA yaitu antena. Antena harus berukuran kecil dan ringan dikarenakan keterbatasan kapasitas dari payload PUNA. Saat ini PUNA menggunakan antena dipole yang masih memiliki beberapa kelemahan, termasuk kerentanan terhadap gesekan angin (drag effect). Oleh karena itu digunakan antena mikrostrip untuk meningkatkan kinerja transmisi sinyal dari PUNA ke Ground Control Station (GCS). Antena mikrostrip dipilih karena memiliki hambatan gesekan yang rendah, ringan, mudah untuk dipabrikasi dan biaya murah. Penempatan antena harus diperhatikan untuk memastikan transmisi yang baik. Dalam penelitian ini, antena mikrostrip bekerja di frekuensi 2,35 GHz untuk aplikasi video yang ditempatkan di dalam badan pesawat (fuselage). Simulasi co-site interference dilakukan pada frekuensi kerja data link di 900 MHz dengan penempatan antena data link di permukaan atas (canopy) PUNA. Hasil pengukuran di ruang anechoic chamber, antena mikrostrip di dalam badan pesawat (fuselage) mampu bekerja pada frekuensi 2,35 GHz dengan bandwidth 60 MHz, rentang frekuensi dari 2,31 GHz sampai dengan 2,37 GHz. Hasil pengukuran return loss pada frekuensi 2,35 GHz adalah -23,85 dB dan gain antena sebesar 3,81 dBi

    Kajian Medis Nirkabel pada Daerah Rural di Indonesia

    No full text
    Kesehatan menjadi salah satu perhatian manusia di masa kini terutama dengan cakupan wilayah yang sangat luas dan bervariasi karakteristik geografisnya. Di sisi lain jumlah jumlah tenaga kesehatan dan distribusinya masih kurang merata. Sehingga perlu adanya suatu sistem pemantauan medis pasien yang mampu untuk membantu kinerja tenaga kesehatan dan sudah terintegrasi secara nirkabel. Pada makalah ini, diusulkan sistem yang mengintegrasikan jaringan sensor nirkabel berteknologi bluetooth yang dilengkapi terminal pemantauan yang terhubung pada jaringan GSM dan USB. Terminal ini akan terhubung dengan pangkalan data dan sistem rumah cerdas. Pangkalan data akan terhubung dengan jaringan internet dengan protokol IPv6 dan HTTP sehingga dokter dapat dengan mudah memantau dan memberikan saran tindakan kepada pasien dari jarak secara remote. Usulan sistem ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan efisiensi tenaga kesehatan serta membantu pemantauan medis bagi pasien yang berada jauh dari rumah sakit

    Potensi Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Alap-Alap Sebagai Teknologi Artificial Intelegence Untuk Pemetaan Lahan Pertanian Produktif

    No full text
    Informasi sumber daya lahan berupa data digital merupakan salah satu data yang menjadi pertimbangan utama pembuat kebijakan dalam menentukan arah pembangunan yang berkelanjutan. Sebagai negara agraris, pelayanan informasi mengenai produktivitas lahan yang cepat dan akurat diperlukan untuk memantau pemanfaatan lahan di Indonesia. Salah satu upaya penyediaan informasi produktivitas lahan adalah melalui implementasi teknologi 4.0 di sektor pertanian. Artificial intelligence (AI) merupakan teknologi utama yang mendukung implementasi teknologi 4.0. Keberadaan AI dinilai sangat potensial dan prospektif untuk memantau lahan pertanian produktif di Indonesia. Pengembangan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Alap-Alap yang dilengkapi dengan muatan sensor kamera berpotensi diaplikasikan sebagai teknologi AI untuk pemetaan lahan pertanian produktif. Sensor kamera PUNA Alap-Alap berkemampuan 24 Mega Pixel mampu mendapatkan data kondisi lahan pertanian bahkan kondisi tanaman atau vegetasi yang tumbuh di lahan pertanian. Penggunaan sensor kamera mempunyai kelebihan dibandingkan sensor satelit yaitu tidak terkendala tutupan awan, data yang diperoleh realtime dan mempunyai akurasi yang sangat baik. PUNA Alap-Alap menawarkan solusi alternatif untuk melakukan indraja dalam mendukung kegiatan pertanian. Salah satu kelebihan teknologi ini adalah biaya operasional relatif murah dan pengaturan operasi fleksibel sesuai dengan kebutuhan, sehingga operasional PUNA Alap-Alap untuk menghasilkan gambar orthopoto di lahan pertanian produktif cukup efesien. Data akurasi yang dihasilkan oleh PUNA Alap-Alap yaitu Ground Sampling Distance (GSD) 10 cm/pixel dengan sapuan pengambilan data pemetaan 1700 Ha per jam pada ketinggian terbang 1500 ft. Kelebihan lain adalah PUNA Alap-Alap mampu terbang secara mandiri selama 6 jam tanpa henti, hal ini memungkinkan data pemetaan yang diperoleh mempunyai kualitas dan kuantitas yang baik.Informasi sumber daya lahan berupa data digital merupakan salah satu data yang menjadi pertimbangan utama pembuat kebijakan dalam menentukan arah pembangunan yang berkelanjutan. Sebagai negara agraris, pelayanan informasi mengenai produktivitas lahan yang cepat dan akurat diperlukan untuk memantau pemanfaatan lahan di Indonesia. Salah satu upaya penyediaan informasi produktivitas lahan adalah melalui implementasi teknologi 4.0 di sektor pertanian. Artificial intelligence (AI) merupakan teknologi utama yang mendukung implementasi teknologi 4.0. Keberadaan AI dinilai sangat potensial dan prospektif untuk memantau lahan pertanian produktif di Indonesia. Pengembangan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Alap-Alap yang dilengkapi dengan muatan sensor kamera berpotensi diaplikasikan sebagai teknologi AI untuk pemetaan lahan pertanian produktif. Sensor kamera PUNA Alap-Alap berkemampuan 24 Mega Pixel mampu mendapatkan data kondisi lahan pertanian bahkan kondisi tanaman atau vegetasi yang tumbuh di lahan pertanian. Penggunaan sensor kamera mempunyai kelebihan dibandingkan sensor satelit yaitu tidak terkendala tutupan awan, data yang diperoleh realtime dan mempunyai akurasi yang sangat baik. PUNA Alap-Alap menawarkan solusi alternatif untuk melakukan indraja dalam mendukung kegiatan pertanian. Salah satu kelebihan teknologi ini adalah biaya operasional relatif murah dan pengaturan operasi fleksibel sesuai dengan kebutuhan, sehingga operasional PUNA Alap-Alap untuk menghasilkan gambar orthopoto di lahan pertanian produktif cukup efesien. Data akurasi yang dihasilkan oleh PUNA Alap-Alap yaitu Ground Sampling Distance (GSD) 10 cm/pixel dengan sapuan pengambilan data pemetaan 1700 Ha per jam pada ketinggian terbang 1500 ft. Kelebihan lain adalah PUNA Alap-Alap mampu terbang secara mandiri selama 6 jam tanpa henti, hal ini memungkinkan data pemetaan yang diperoleh mempunyai kualitas dan kuantitas yang baik

    Enslaved Interactivity

    Get PDF
    This article argues that no longer are players passive while playing video games, but play active roles in forming the narratives within video games. Using Every Day the Same Dream as a case study, the author writes that video games should empower players to act and shape narratives, fostering awareness that extends beyond the game

    Characterization of A2G UAV communication channels under rician fading conditions

    Get PDF
    The variation in the k-factor value significantly influences the performance of unmanned aerial vehicle (UAV) air-to-ground point-to-point line of sight (A2G PTP LOS) communications over a Rician channel at 1,800 MHz using quadrature phase shift keying (QPSK) modulation and orthogonal frequency division multiplexing (OFDM) techniques. The research emphasizes the impact of the k-factor, which quantifies the dominance of the line-of-sight component over multipath scattering. The variation in the k-factor significantly influences UAV A2G PTP LOS communication performance for the empirical model (EM), as it involves precise measurements of the received power level in dBm from UAV to ground control station (GCS) across varying distances and altitudes. We introduce a method to compute the k-factor by assessing the ratio of the line-of-sight signal power to the multipath signal power, thereby enhancing channel modeling accuracy. Empirical analysis shows a strong correlation between bit error rate (BER) and signal-to-noise ratio (SNR) with differing k-factor values; a higher k-factor of 16.3 markedly improves performance, virtually eliminating errors at a 10 dB SNR, while a lower k-factor of 2.39 still shows significant errors at a 30 dB SNR. These results highlight the necessity of optimizing the k-factor in UAV A2G PTP LOS systems to ensure stable and reliable communication under diverse operational conditions

    Cultures of glass in the late nineteenth-century European novel and contemporary Sinophone film

    No full text
    In my dissertation, I compare how the novelists and filmmakers utilize glass as a material, medium, and artistic trope to explore the relations between the city and the urban dweller, the public and the private, the perceiver and the things perceived in Western and Chinese modernity. I analyze at length the following English and French novels: Charlotte Brontë’s Villette, Émile Zola’s The Lady’s Paradise, Henry James’s The Princess Casamassima, Theodore Dreiser’s Sister Carrie, and Virginia Woolf’s Night and Day, Mrs. Dalloway, and To the Lighthouse, as well as Sinophone films: Xia Gang’s As Light as Glass, Ning Ying’s I Love Beijing, and Edward Yang’s Yi Yi: A One and a Two. In these novels and films, glass changes the urban fabric that it also reflects, unsettles existing conceptions of domestic and public spaces, and helps to define urban dwellers’ identity, spectatorship, affects, and desires. I associate the appearance of a glass-soaked culture with urban modernity in the West, arguing that the Sinophone world’s relatively late use of glass manifests a desire to take on a Western modernity in its own cities. Glass is also frequently evoked as a trope to reflexively examine how these cultural productions are structured in relation to reality. The novel is often compared to a mirror that honestly reflects the real world; and film, through the lens-framed images, shows life in a series of transitory windows. While the nineteenth-century novel paints one portrait of urban reality in the West, film performs a similar task in the late twentieth-century Sinophone world. We currently lack a comprehensive and cross-cultural scholarship on glass culture and its representation in literary and film studies. My dissertation fills this gap by demonstrating the significant role of glass in shaping both urban experiences and cultural productions in Europe and Asia.Ph. D.Includes bibliographical referencesIncludes vitaIncludes filmography (p.. 192)Chia-Chieh Tsen

    A Study of the Theory “Author Concept” On “Critical Reading” by Nobuyoshi MORITA

    Get PDF
    要約本稿は,森田信義の「評価読み」に見られる筆者概念の整理と検討を主眼としている。「評価読み」に関する森田の論考には,出発点となる1984年から2011年までの27年間で,少しずつではあるが変化が見られる。本稿では,便宜上,森田の論考を三つの時期に分けた上で,「評価読み」に見られる筆者概念を考察する。 「評価読み」に見られる筆者概念の特徴は,次の三点にまとめることができる。第一は,個性的である「筆者の認識」に着目したことである。第二は,「学習者の反応」から学習を構築しようとする発想をしたことである。学習者の反応は,「内容・ことがら」「論理構造」や「筆者の立場」など様々であるが,この反応は,必然的に「筆者」に向かうものである。第三は,教材の文章が「分かりやすかったかどうか」を問うことで,学習者に価値判断を委ね,そのように考える根拠を明らかにさせている点である。つまり,「筆者の工夫」に対して「学習者の考えを持つ」過程を設定することで,従来の「何が」「どのように」書かれているかを問う指導からの脱却を図ったものといえる。 The purpose of this paper is to explicate the characteristics and problems of “Author Concept”on the Theory of “Hyouka-Yomi” (-Critical reading). MORITA’s theory The characteristics of MORITA’s theory are (1)-MORITA focuses on “Author Concept” to design critical reading, (2)-he points out the importance of response by reader to design critical reading,(3)-on the process of critical reading, reader makes a choice (the text is easy to understand or thetext is difficult to understand) and writes own opinion about “logical” “rhetoric” “logical consistency”.departmental bulletin pape
    corecore