5 research outputs found

    Pelaksanaan Kerja Praktik Sebagai Perancang Interior di PT. Ritama Tunas Makmur

    No full text
    PT. Ritama Tunas Makmur merupakan salah satu perusahaan konsultan interior yang terkenal akan kualitas dan desain yang baik di Kota Semarang. Pemilihan perusahaan konsultan interior sebagai tempat pelaksanaan kerja praktik dilatarbelakangi oleh keinginan penulis untuk mempelajari hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Tentunya selama berproses penulis menemukan kendala dalam proses mendesain dan memenuhi standar perusahaan. Kendala ini disebabkan karena tidak adanya pengalaman dalam merancang interior dengan baik. Namun, dengan menghadapi kendala selama melaksanakan kerja praktik, penulis terdorong untuk terus belajar agar dapat menghasilkan desain yang lebih baik. Selama melaksanakan kerja praktik di PT. Ritama Tunas Makmur, Penulis mempelajari gaya desain yang diterima di pasaran, gambar kerja yang baik, dan hasil rendering untuk klien. Penulis selalu berupaya menyesuaikan diri dengan standar perusahaan yang ditetapkan, sehingga setelah mengikuti kerja praktik penulis dapat menerapkan segala yang telah dipelajari dalam meniti karir

    Potensi Jalan dan Taman Bermain Sebagai Ruang Bermain Anak-anak

    No full text
    It’s crucial for children’s growth to socialize and play among their peers. To accommodate children’s need to play, some housing developers, including Perumahan Graha Padma, provide playground. However, in Taman Oleander cluster, children barely use the playground as they prefer to play on the street in front of their house instead. It is important to understand the cause of the phenomenon in order to solve the root of the problem. To conduct the research, the data is collected through observation and interview with children who are playing on the street. Then the collected data will be analyzed to interpret the quality of the street and the playground as a place for children’s activities. The playground in Taman Oleander cluster is too far from the houses and too narrow for children to play. On top of that, parents don’t feel safe letting their children to play at their blind spot area. This research can be used as a reference, so in the future when developers creating more playgrounds, children will use them.Kegiatan bermain bersama dengan teman sebaya krusial bagi tumbuh kembang anak. Beberapa pengembang area perumahan, seperti Perumahan Graha Padma, menyediakan taman bermain bagi anak-anak di tiap klaster. Hanya saja, di salah satu klaster, yaitu klaster Taman Oleander, anak-anak tidak pernah memanfaatkan fasilitas taman bermain dan memiliki kecenderungan untuk bermain di jalan. Penting untuk diketahui alasan anak-anak lebih memilih untuk bermain di jalan agar kelak ditemukan solusi agar anak-anak tidak lagi bermain di jalan, melainkan bermain di taman bermain. Proses pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan lapangan dan wawancara anak-anak yang menjadi sasaran diadakannya taman bermain. Data yang diperoleh kemudian akan digunakan untuk memaknai kualitas yang dimiliki oleh jalan dan taman bermain sebagai ruang beraktivitas bagi anak-anak. Taman bermain yang berada di sudut klaster dirasa terlalu jauh dan sempit untuk dijadikan titik kumpul. Orang tua merasa bahwa anak bermain di taman bermain tidak lebih aman dibandingkan bermain di jalan karena tidak dapat diawasi dari dalam rumah. Penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi para pengembang kawasan hunian agar dapat menciptakan ruang beraktivitas bagi anak-anak yang mengundang anak-anak untuk bermain

    Perancangan Pusat Kuliner dan Cinderamata di Gombel, Kota Semarang

    No full text
    Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang juga merupakan kota destinasi wisata yang memiliki peminatnya sendiri. Keberagaman daya tarik wisata di Kota Semarang yang semakin berkembang dan bertambah setiap tahunnya mendukung peningkatan jumlah wisatawan dari tahun ke tahun. Kekayaan Kota Semarang yang dapat menjadi daya tarik wisata diantaranya adalah sejarah Kota Semarang, bangunan-bangunan bersejarah, kuliner, dan kerajinan. Umumnya, ketika para wisatawan mengunjungi Kota Semarang, mereka memiliki agenda tetap untuk mencicipi kuliner khas dan membeli cinderamata. Sayangnya, Kota Semarang belum memiliki fasilitas yang mendukung kedua aktivitas tersebut dengan konsep yang menarik dan berkesan. Mengatasi ketiadaan fasilitas tersebut, penulis mendesain sebuah kawasan yang memaksimalkan pengalaman wisatawan dalam menikmati makanan dan membeli kerajinan khas Kota Semarang. Desain yang ditawarkan hendak mengajak wisatawan untuk terlibat langsung dalam proses pengadaan kuliner dan cinderamata berupa kerajinan. Sehingga, sepulang dari mengunjungi fasilitas ini, pengunjung tidak hanya membawa pulang barang, melainkan pula pengalaman dan pengetahuan baru terkait Kota Semarang, kekayaan, dan seni yang dimiliki

    STUDI PENCAHAYAAN ALAMI HUNIAN TIPIKAL BERDERET DI PERUMAHAN GRAHA PADMA TAMAN RAFFLESSIA

    No full text
    Abstract: A small house tends to have good quality natural lighting due to its small span between walls. Because of that, natural lighting will be available to spread evenly and illuminate every corner of the room. This article will discuss the quality of natural lighting inside the row houses that has small span. By conducting research, it will answer questions regarding how good the quality of natural lighting inside the row houses in comparison to well-lighted single small house with the same type and design is. The data was obtained through direct observation on the field, which was Graha Padma Taman Rafflessia. It was done by measuring the intensity of natural lighting inside the three houses at the same time using luxmeter. Data will be compared with the intensity of natural lighting inside the single house. The result of the analysis will explain the effects of natural lighting due to houses placement.Keyword: Design, Housing, Natural LightingAbstrak: Rumah berukuran kecil yang berdiri sendiri umumnya memiliki kualitas pencahayaan alami yang baik, bahkan condong berlebih. Hal tersebut diakibatkan oleh bentang kecil di tiap ruang yang memungkinkan persebaran cahaya matahari secara merata. Topik ini menjadi menarik apabila pengamatan dilakukan terhadap rumah tinggal yang berukuran kecil tadi disusun secara berderet. Penelitian akan menjawab pertanyaan bagaimana perbedaan kualitas pencahayaan alami di dalam rumah tinggal berderet terhadap rumah tinggal yang berdiri sendiri dengan tipe yang sama. Data diperoleh dari hasil pengamatan langsung di lapangan, yaitu kawasan Perumahan Graha Padma Taman Rafflessia. Pengukuran dilakukan dengan cara pengukuran tiga rumah sederet di waktu yang bersamaan. Kemudian, data yang telah diperoleh tersebut dikomparasi dengan intensitas cahaya matahari rumah kecil yang berdiri sendirian tanpa dikelilingi oleh tetangga. Hasil dari analisis dapat diketahui bagaimana pengaruh peletakan rumah yang berderet terhadap kualitas pencahayaan alami di dalam bangunan.Kata Kunci: Desain, Pencahayaan Alami, Perumaha

    REVIVING THOUGHTS: IN SEARCH OF SUWONDO’S RELEVANCE IN MODERN CONTEXT

    No full text
    Suwondo Bismo Sutedjo is a name that resonates deeply within the Indonesian architectural community. As an academic, architect, and thought leader, his work from the 1960s to 1990s reflects a strong commitment to both architectural practice and the socio-cultural responsibilities that surround it. His legacy lives on not only through built projects but also through a rich body of writings on architecture, urban planning, and education. In January 2024, a significant portion of Suwondo’s archives—comprising articles, photographs, sketches, and personal notes—was acquired by the Museum of Indonesian Architecture. This acquisition provided an opportunity to revisit his ideas through a contemporary lens. This article explores the relevance of Suwondo’s thoughts today through creative curatorial practices that challenge traditional archival exhibitions. A central aim of the project was to dissolve the conventional distance between archive and audience. Visitors were encouraged to interact directly with reproduced archived—turning passive viewing into active engagement. Through workshops and open-ended interpretation of the exhibition, the curatorial process invited public participation in reactivating Suwondo’s legacy and relevance in modern context. In doing so, it demonstrates how archives can become sites of dialogue, where historical architectural thought resonates within present-day contexts
    corecore