1,721,013 research outputs found

    PENGEMBANGAN PROGRAM PEMBEKALAN ASESMEN AUTENTIK PADA PEMBELAJARAN IPA BERBASIS KONTEKS BAGI MAHASISWA CALON GURU SD

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan program pembekalan asesmen autentik pada pembelajaran IPA berbasis konteks bagi mahasiswa calon guru sekolah dasar. Program pembekalan tersebut dikembangkan melalui metode penelitian dan pengembangan. Penelitian dan pengumpulan informasi awal dilakukan untuk memperoleh bentuk awal program pembekalan. Pengujian terbatas dilakukan dengan melibatkan mahasiswa semester 7 tahun ajaran 2015/2016 dan sejumlah alumni. Program pembekalan diimplementasikan kepada 82 mahasiswa PGSD semester 7 tahun ajaran 2016/2017 di wilayah Tasikmalaya, Jawa Barat yang mengikuti mata kuliah pengembangan pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Tahapan pembekalan dibagi menjadi 4 bagian. Bagian 1 dan 2 dilakukan secara tatap muka. Bagian 1 berkaitan dengan pengembangan pembelajaran IPA berbasis konteks dan bagian 2 berkaitan dengan pengembangan asesmen autentik pada pembelajaran IPA berbasis konteks. Setiap pertemuan tatap muka dilakukan dengan tahapan: penugasan awal, pemahaman, perancangan dan workshop, review/refleksi hasil rancangan, dan perbaikan. Bagian 3 dilakukan melalui penerapan produk mahasiswa di sekolah. Bagian 4 dilakukan dalam bentuk refleksi dan evaluasi terhadap pelaksanaan program pembekalan dan hasil implementasi produk. Hasil menunjukkan bahwa program pembekalan dapat meningkatkan pemahaman untuk seluruh aspek dalam mengembangkan pembelajaran IPA berbasis konteks. N-gain tertinggi (0,77) dengan kategori tinggi pada aspek memberikan penjelasan pembelajaran IPA dengan melibatkan konteks dan hubungannya dengan asesmen autentik, dan N-gain terendah (0,59) dengan kategori sedang pada aspek pengembangan pembelajaran IPA berbasis konteks dengan strategi REACT. Begitu pula Pemahaman terhadap pengembangan asesmen autentik pada pembelajaran IPA berbasis konteks mengalami peningkatan untuk seluruh aspek. N-gain tertinggi (0,81) dengan kategori sangat tinggi pada aspek pengembangan asesmen pada pembelajaran IPA berbasis konteks, dan N-gain terendah (0,59) dengan kategori sedang pada aspek pengembangan soal tes tertulis berbasis HOTS. Hasil produk mahasiswa mengalami peningkatan skoring, dengan skor 3 untuk rentang skor 1-3 dan skor 4 untuk rentang skor 1-4. Hasil tersebut selanjutnya diuji secara statistik, dan hasilnya menunjukkan adanya perbedaan kemampuan memahami dan hasil produk mahasiswa secara signifikan antara sebelum dan sesudah pembekalan dilakukan. Keunggulan dari program ini adalah melatih kemampuan mahasiswa calon guru yang profesional dalam mengembangkan asesmen autentik pada pembelajaran IPA berbasis konteks. Sedangkan keterbatasannya, peserta pembekalan lebih diutamakan mahasiswa tingkat akhir dan penggunaan waktu pembekalan yang cukup lama. ..... This study aims at developing authentic assessment debriefing programs for context-based science learning for students of prospective primary school teacher (hereinafter abbreviated PGSD). The debriefing program was developed through research and development method. Furthermore, initial research and information collection were conducted to create the initial form of the program. Limited testing was conducted by involving 7th semester students of the 2015/2016 Academic Year and a number of alumni. The debriefing program was implemented to 82 PGSD students in Tasikmalaya City, West Java who attended the science learning development for Elementary Schools course. Moreover, the debriefing stage was divided into 4 parts, part 1 and 2 were conducted face-to-face. Part 1 dealt with the development of context-based science learning and part 2 dealt with the development of authentic assessments in context-based science learning. Each face-to-face meeting was held in stages; initial assignment, comprehension, design and workshop, review/reflection on the results of the design, and improvement. Later on, part 3 was conducted by implementing students’ products in schools. Lastly, part 4 was conducted in the form of reflection and evaluation of the debriefing program and the product implementation. The results showed that the debriefing program could improve the comprehension for all aspects in developing context-based science learning. The highest N-gain (0.77), with a high category was in the aspect of providing explanation of science learning by involving the context and its relation to authentic assessment. Meanwhile, the lowest N-gain (0.59), with the medium category was in the aspect of developing context-based science learning with REACT strategies. Therefore, the comprehension of the development of authentic assessments on context-based science learning had increased for all aspects. The highest N-gain (0.81), with a very high category was in the aspect of assessment development in context-based science learning, while the lowest N-gain (0.59) was in the medium category in the aspect of developing HOTS-based written test questions. The results of students’ products implementation improved scoring, with a score of 3 for a score range of 1-3 and 4 for a range of 1-4. The results were then tested statistically, and they showed a significant difference in the ability to understand and produce students’ products before and after debriefing. This program is beneficial in training the professional skill of prospective primary teacher in developing authentic assessments in context-based science learning. In term of the limitations, the program participants were preferably final semester students and provided with a longer debriefing period

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TEMA BERMAIN DENGAN BENDA-BENDA DI SEKITAR

    Get PDF
    Penelitian ini mendeskripsikan perancangan media pembelajaran berbasis masalah sebagai media pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir dan kemampuan mengatasi masalah bagi siswa kelas V. Media pembelajaran berbasis masalah ini diperuntukkan pada pembelajaran tematik Tema Bermain dengan Benda-benda di Sekitar. Menurut Piaget, kemampuan berpikir siswa Sekolah Dasar berada pada tingkat operasional konkret. Siswa belum mampu memahami simbol dengan mudah. Menurut Edgar Dale dalam Kerucut Pengalamannya menjelaskan bahwa manusia memperoleh pengetahuannya berawal dari pengalaman langsung, mengamati dunia di sekitarnya, belajar melalui benda tiruan dan sampailah pada kemampuan tertingginya memahami simbol. Hal ini berarti bahwa pembelajaran konvensional yang selama ini banyak diterapkan di Sekolah Dasar kurang tepat bagi siswa.Untuk menerjemahkan simbol-simbol dalam pembelajaran, guru perlu bantuan media pembelajaran sebagai saluran atau bentuk yang menjadi perantara antara sumber pesan ke penerima pesan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di tiga Sekolah Dasar di UPT Dinas Pendidikan Wilayah Utara Kota Tasikmalaya, penggunaan media pembelajaran masih jarang dilakukan. Penggunaannya pun masih sebatas pada penerjemah simbol. Maka dari itu, peneliti bermaksud untuk merancang media pembelajaran berbasis masalah yang membantu proses penyelidikan siswa guna mencari jawaban dari setiap masalah yang diajukan guru. Hasil penyelidikan inilah yang digunakan siswa untuk merekonstruksi pengetahuannya.Dalam membuat media pembelajaran berbasis masalah ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian Design-Based Research (DBR). Praktikan dan siswa kelas V SD dilibatkan sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara, observasi dan kuesioner. Dari hasil uji coba, disimpulkan bahwa media pembelajaran berbasis masalah cocok menjadi wadah penyelidikan bagi pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM). Kehadiran guru sebagai tutor dalam PBM hendaknya mengetahui potensi media yang digunakan dan memahami benar materi ajar yang harus dipahami siswa sehingga guru dapat mengoptimalkan peran media dalam pembelajaran

    PEMBELAJARAN HIDROLISIS GARAM DENGAN MODEL INKUIRI UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN DASAR BEKERJA ILMIAH SISWA KELAS XI

    Get PDF
    Tesis berjudul * Pembelajaran Hidrolisis Garam dengan Model Inkuiri untuk Mengembangkan Kemampuan Dasar Bekerja Ilmiah Siswa Kelas XI, bertujuan memperoleh gambaran hasil penerapan model pembelajaran tersebut dalam hal pemahaman konsep, kemampuan dasar bekerja ilmiah dan sikap ilmiah siswa. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan eksperimen one group pre tes - pos tes. Subyek penelitian terdiri dari 37 orang siswa kelas XI di salah satu SMA di Kota Bandung. Instrumen yang digunakan antara lain: model pembelajaran, tes, LKS, angket, pedoman observasi dan wawancara. Hasil pre tes dan pos tes diolah dengan perhitungan persentase dan nilai N-gain. Data kerja ilmiah, observasi sikap ilmiah, keterampilan laboratorium dan angket diolah dengan perhitungan persentase terhadap nilai ideal, sedangkan hasil wawancara diolah berdasarkan tanggapan dari siswa dan guru terhadap model pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan penerapan model pembelajaran ini dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa secara umum serta mengembangkan kemampuan dasar bekerja ilmiah dan sikap ilimiah siswa. Pemahaman konsep tertinggi diperoleh pada konsep membedakan tipe dari larutan dan kerja ilmiah tertinggi diperoleh pada indikator observasi. Perolehan sikap ilmiah tertinggi pada indikator bekerja sama. Sedangkan hasil keterampilan laboratorium tertinggi pada indikator menghomogenkan larutan. Pengujian secara statistik menunjukkan peningkatan pemahaman konsep dan kerja ilmiah antara kelompok sedang dan rendah tidak berbeda secara signifikan, sikap ilmiah dari ketiga kelompok tidak berbeda secara signifikan, dan keterampilan laboratorium siswa rendah mendapatkan nilai tertinggi. Secara umum siswa dan guru memberikan tanggapan yang positif terhadap pembelajaran dengan model inkuiri

    Pengembangan Mobile Learning Video Pembelajaran Berbasis STEM (Science, Technology, Engineering And Mathematics) Di Sekolah Dasar

    Get PDF
    Abstrak: Pengembangan aplikasi mobile learning ini dilakukan untuk memberikan pemahaman  kepada guru dengan memberikan contoh video pelaksanaan pembelajaran STEM di sekolah dasar. Focus Group Discussion (FGD) digunakan sebagai metode dalam mengembangan produk  tersebut dengan melakukan sejumlah diskusi dalam tim pengembang perangkat pembelajaran STEM, dan konfirmasi konten isi dari aplikasi tersebut. Hasil pengembangan dari aplikasi mobile learning ini berisikan video tayangan pelaksanaan pembelajaran STEM yang berdasarkan pada perangkat pembelajaran dengan komponen di aplikasi mobile learning  dalamnya seperti modul pengayaan, rencana pelaksanaan pembelajaran, media, lembar kerja siswa, soal tes dan penilaian kineja. Hasil aplikasi ini diharapkan dapat memberikan contoh nyata mengenai pelaksanaan pembelajaran khususnya pembelajaran STEM di sekolah dasar.Abstract: The development of mobile learning applications is done to provide understanding to teachers by providing video examples of STEM learning in elementary schools. Focus Group Discussion (FGD) is used as a method of developing the product by holding discussions in the STEM learning device development team and ensuring the content of the application. The results of the development of the mobile learning application contain a video display of STEM learning implementation based on learning applications with components applied to mobile learning using enrichment modules, learning implementation planning, media, student worksheets, test questions, and performance discussion. STEM in elementary school

    KOMPETENSI GURU PADA DOMAIN FASILITAS PEMBELAJARAN BERBASIS PENDIDIKAN UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

    Get PDF
    Teachers are an important component in determining the learning process in Education for Sustainable Development (ESD). The second report of the teacher education project for ESD Asia – Pasific held on 17th – 19th September 2019 in Bangkok produced a competency framework for ESD teachers. This framework defines the competencies required by teachers to be involved in ESD which are implemented, developed, and evaluated by teacher education institutions. There are three domains in the teacher competency framework for ESD: facilitate learning, continue to learn and create, as well as connect, collaborate, and engage. However, this study only focused on one domain, which was learning facility. A total of 25 teachers from nine elementary schools provided their best answers based on the existing reality through a questionnaire distributed by the researchers about ESD-based teacher competence in the domain of lthe earning facility. This study aimed to determine the extent to which teachers understand and implement ESD-based competence in the domain of learning facilities in elementary schools. The data were processed with the rasch model through the winsteps application. The results of this study indicated that the teachers were able to implement it very well, but the idea was that the teachers still did not know that what they did led to ESD-based teachers' competence in the domain of learning facility

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN TATA SURYA BERBASIS KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SD BERBANTUAN APLIKASI WORDWALL

    Get PDF
    Rendahnya keterampilan berpikir kritis siswa sekolah dasar dalam pembelajaran IPA, khususnya materi Tata Surya, masih menjadi persoalan dalam pendidikan abad ke-21. Pembelajaran yang dominan berbasis hafalan serta minim penggunaan media interaktif menyebabkan siswa cenderung pasif, kurang mampu menganalisis informasi, dan kesulitan menghubungkan konsep dengan fenomena sehari-hari. Kondisi ini menuntut adanya inovasi pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga menstimulasi proses berpikir tingkat tinggi. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah pengembangan media pembelajaran berbantuan aplikasi Wordwall yang dirancang untuk memfasilitasi keterampilan berpikir kritis siswa. Penelitian ini bertujuan mengembangkan media pembelajaran Tata Surya berbasis keterampilan berpikir kritis dengan memanfaatkan aplikasi Wordwall. Pendekatan penelitian menggunakan Design-Based Research (DBR) yang meliputi empat tahap: analisis kebutuhan, desain media, implementasi dua siklus, serta refleksi dan revisi. Data diperoleh melalui angket kebutuhan, validasi ahli materi dan media, observasi, wawancara, serta analisis hasil aktivitas Wordwall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media Wordwall yang dikembangkan valid secara isi maupun desain, serta mampu meningkatkan keterlibatan siswa secara afektif, kognitif, dan perilaku. Indikator berpikir kritis menurut Facione—interpretasi, analisis, evaluasi, dan inferensi—muncul nyata dalam aktivitas siswa, seperti memahami konsep, mengidentifikasi pola, menilai argumen, hingga menarik kesimpulan berbasis bukti. Revisi antarsiklus menghasilkan instruksi lebih jelas, tampilan visual lebih kontekstual, dan interaktivitas lebih tinggi. Disimpulkan bahwa Wordwall berfungsi bukan hanya sebagai media interaktif yang menyenangkan, tetapi juga sebagai sarana pedagogis yang efektif untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa. Penelitian ini memberi kontribusi praktis berupa alternatif media pembelajaran IPA yang adaptif sesuai kurikulum, sekaligus kontribusi teoretis dengan memperkuat literatur pengembangan media digital berbasis keterampilan berpikir tingkat tinggi di pendidikan dasar. The low level of critical thinking skills among elementary students in science learning, particularly the Solar System topic, remains a challenge in 21st-century education. Learning practices dominated by memorization and limited interactive media make students passive, less capable of analyzing information, and struggling to connect concepts with real-life phenomena. This condition requires innovations that not only deliver content but also stimulate higher-order thinking processes. One proposed solution is the development of Wordwall-assisted learning media designed to foster students’ critical thinking skills. This study aims to develop Solar System learning media based on critical thinking skills using the Wordwall application. The research applied a Design-Based Research (DBR) approach consisting of four stages: needs analysis, media design, two-cycle implementation, and reflection with revision. Data were collected through needs questionnaires, expert validation, classroom observations, interviews, and analysis of Wordwall activities. The findings indicate that the developed Wordwall media is valid in terms of content and design, and effectively enhances student engagement across affective, cognitive, and behavioral dimensions. Critical thinking indicators proposed by Facione—interpretation, analysis, evaluation, and inference—were evident in student activities, such as understanding concepts, identifying patterns, assessing arguments, and drawing evidence-based conclusions. Revisions between cycles improved clarity of instructions, contextual visualization, and interactivity. It can be concluded that Wordwall functions not only as an engaging interactive tool but also as an effective pedagogical medium for developing students’ critical thinking skills. The study provides practical contributions by offering adaptive learning media aligned with the curriculum, and theoretical contributions by strengthening literature on digital media development based on higher-order thinking skills in elementary education

    Kebutuhan dan Ketersediaan Aplikasi Mobile-Learning Video Pembelajaran Berbasis ESD Untuk Guru Sekolah Dasar

    No full text
    Abstract: The purpose of this study was to find information about the needs of elementary school teachers in ESD-based learning and the availability of mobile learning applications for ESD-based learning videos as learning references. The descriptive method used is interviews with elementary school teachers, and literature study. The results show that teachers still have difficulty in obtaining ESD-based learning reference sources, both through mobile learning applications and learning implementation videos accompanied by complete learning tools. The availability of mobile learning applications for ESD-based learning videos in particular is not yet available either in schools or other sources commonly used by elementary school teachers to find reference sources for learning implementation. However, there has been the development of similar mobile learning applications but in different discussion and learning materials.Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah mencari informasi mengenai kebutuhan guru sekolah dasar dalam pembelajaran berbasis ESD dan ketersediaan aplikasi mobile learning video pembelajaran berbasis ESD sebagai referensi pembelajaran. Metode deskriptif yang digunakan adalah wawancara terhadap guru sekolah dasar, dan studi kepustakaan. Hasil menunjukkan bahwa guru masih kesulitan dalam mendapatkan sumber referensi pembelajaran berbasis ESD baik melalui aplikasi mobile learning maupun video pelaksanaan pembelajaran yang disertai dengan perangkat pembelajaran yang lengkap. Ketersediaan aplikasi mobile learning video pembelajaran berbasis ESD secara khusus belum tersedia baik di sekolah maupun sumber lainnya yang biasa digunakan oleh guru sekolah dasar untuk mencari sumber referensi pelaksanaan pembelajaran. Akan tetapi sudah terdapat pengembangan aplikasi mobile learning sejenis tetapi dalam materi pembahasan dan pembelajaran yang berbeda. &nbsp

    PEMBELAJARAN BERBASIS ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM MATERI STRUKTUR TUBUH HEWAN DI SEKOLAH DASAR

    Get PDF
    Kemampuan belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan menengah di Indonesia masih rendah. Kondisi ini terlihat pada hasil PISA (2021) yang menunjukkan bahwa sekitar 70% peserta didik memiliki kompetensi literasi membaca di bawah minimum. Begitu juga dengan keterampilan matematika dan sains, 71% peserta didik memiliki kompetensi berada di bawah minimum pada keterampilan matematika dan 60% peserta didik di bawah kompetensi minimum untuk keterampilan IPA. Kondisi ini juga terjadi di SD Negeri Mojokerto 1 Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen. Untuk memperbaiki keadaan dilakukan sebuah dengan menerapkan pembejaran berbasis assesmen. Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui dan memahami pembelajaran berbasis AKM secara umum; mengetahui rancangan pembelajaran berbasis AKM pada materi Struktur Tubuh Hewan di sekolah dasar; mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran berbasis AKM pada materi Struktur Tubuh Hewan di sekolah dasar; dan untuk mengetahui bentuk pelaksanaan pembelajaran berbasis AKM pada materi Struktur Tubuh Hewan di sekolah dasar. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas IV dan V SD Negeri Mojokerto 1 yang berjumlah 35 peserta didik. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Research and Development. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa a) pembelajaran berbasis AKM dilaksanakan komprehensif sejak dini; b) rancangan pembelajaran berbasis dibuat dengan penetapan tujuan, pemilihan materi, menyusun rencana pembelajaran, menyiapkan soal latihan dan test, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi; c) pelaksanaan pembelajaran dibagi dalam tiga tahap yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan penutup; dan d) kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik. Guru berperan sebagai motivator, fasilitator dan moderator. Students learning ability of elementary, yunior and senior high school in Indonesia is in low grade. This condition was reported in PISA (2021) that students with competency literation under minimum standard is 70%. 71% students are under minimum mathematic competency and 60% students are under minimum competency science. This condition can be seen in SD Negeri Mojokerto 1 Kedawung, Sragen as well. A Learning based on minimum competency assesment research is held to make this condition better. This research is aimed to comprehend the learning based on minumum competency assesment in general; to comprehend the planning of learning based on minimum competency assesment with animal body structur topic in Elementary school; to comprehend the implementation of learning based on minimum competency assesment and to find the design of learning based on minimum competency assesment with animal body structur topic in elementary school. Subjects in this research is 35 students of clas IV and V SD Negeri Mojokerto 1. This research is held by using Research and Development method. Results of this research are: a) learning base on minimum competency assesment is better applied comprehensively as early as possible; b) learning plan based on minimum competency assesment is consisted of the purpose, topic selection, lesson plan, preparing test, learning activity and evaluation; c) learning activity is devided in three steps namely opening, learning activity and closing; and d) Learning activity is based on student center, while teacher is a motivator, fasilitator and moderator

    PENGARUH METODE BELAJAR MIND MAPPING TERHADAP PEMAHAMAN SISWA PADA MATERI GAYA IPA DI SEKOLAH DASAR

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Metode belajar Mind Mapping terhadap kemampuan pemahaman menafsirkan siswa SD, khususnya di kelas IV pada materi IPAS “Gaya di Sekitar Kita”. Penelitian kuasi eksperimen dengan desain intact- group comparison. Sampel yang digunakan seluruh siswa kelas IV A dan IV B SDN 2 Setiamulya yang ditentukan dengan kelompok kontrol yaitu kelas IV A dan kelas eksperimen yaitu kelas IV B. Data kemampuan pemahaman menafsirkan dikumpulkan dengan teknik tes pilihan ganda dan uraian. Hasil penelitian ini menunjukan nilai rata-rata kelompok eksperimen (66,97) lebih tinggi daripada nilai rata-rata kelompok kontrol (56,67). Berdasarkan hasil analisis uji-t dengan α = 0,05 diperoleh thitung > ttabel (5,059>1,668 ) maka Ho ditolak, dapat disimpulkan bahwa metode belajar Mind Mapping berpengaruh terhadap kemampuan pemahaman menafsirkan siswa. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disarankan kepada guru agar menerapkan metode belajar Mind Mapping sebagai model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan pemahaman menafsirkan siswa. This research aims to determine the effect of the Mind Mapping learning method on elementary school students' ability to understand and interpret, especially in class IV on the science material "Style Around Us". Quasi-experimental research with an intact-group comparison design. The sample used was all students in class IV A and IV B at SDN 2 Setiamulya which was determined by the control group, namely class IV A and the experimental class, namely class IV B. Data on interpreting comprehension ability was collected using multiple choice and description test techniques. The results of this study show that the average value of the experimental group (66.97) is higher than the average value of the control group (56.67). Based on the results of the t-test analysis with α = 0.05, tcount > ttable (5.059>1.668) means that Ho is rejected. It can be concluded that the Mind Mapping learning method has an effect on students' ability to understand and interpret. Based on these results, it can be suggested to teachers to apply the Mind Mapping learning method as a learning model to improve students' interpretive understanding abilities

    PENGEMBANGAN SOAL TES BERPIKIR KRITIS BERBASIS EDUCAPLAY MATERI SIFAT MAKHLUK HIDUP DI SEKOLAH DASAR

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya penggunaan media evaluasi yang mampu mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) sekaligus menyenangkan dan sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar. Kebutuhan akan media interaktif yang mendukung pembelajaran bermakna dan menumbuhkan keterampilan berpikir kritis mendorong pengembangan soal tes berbasis digital yang inovatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan soal tes berpikir kritis berbasis Educaplay pada materi sistem gerak makhluk hidup di sekolah dasar. Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif media evaluasi yang menarik, adaptif, dan relevan dengan pendekatan Kurikulum Merdeka. Metode yang digunakan adalah Design-Based Research (DBR) yang terdiri atas empat tahap, yaitu: analisis kebutuhan, desain, implementasi, dan refleksi. Instrumen yang digunakan meliputi lembar observasi aktivitas siswa, kuesioner siswa, panduan wawancara untuk guru dan siswa, serta lembar validasi ahli materi dan media. Soal tes dikembangkan berdasarkan indikator berpikir kritis dalam Taksonomi Bloom revisi, yakni analisis (C4), evaluasi (C5), dan inferensi (C6), dan dikemas dalam berbagai aktivitas interaktif di platform Educaplay seperti kuis, puzzle, matching pairs, dialogue cards, dan video quiz. Hasil validasi menunjukkan bahwa soal dan media yang dikembangkan tergolong sangat valid dan layak digunakan. Implementasi media melalui dua tahap uji coba menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterlibatan siswa, kemandirian belajar, serta skor tes berpikir kritis. Perbaikan desain seperti penyederhanaan bahasa, visualisasi yang ramah anak, dan penambahan fitur interaktif terbukti efektif meningkatkan fokus dan antusiasme siswa. Wawancara mendalam menguatkan temuan ini, menunjukkan bahwa media tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran aktif. Temuan ini selaras dengan tujuan Kurikulum Merdeka, khususnya dalam menumbuhkan Profil Pelajar Pancasila pada dimensi berpikir kritis dan kemandirian. This study was motivated by the limited use of evaluation media that promotes Higher-Order Thinking Skills (HOTS) while being enjoyable and suitable for elementary school students. The need for interactive media that supports meaningful learning and fosters critical thinking encouraged the development of innovative digital-based test items. This research aimed to develop Educaplay-based critical thinking test items for the topic of the human and animal movement system in elementary science. The research is expected to provide an alternative evaluation tool that is engaging, adaptive, and aligned with the Merdeka Curriculum approach. The study employed a Design-Based Research (DBR) method, consisting of four stages: needs analysis, design, implementation, and reflection. The instruments included student activity observation sheets, student questionnaires, interview guides for teachers and students, and expert validation sheets for content and media. The test items were developed based on critical thinking indicators in the revised Bloom’s Taxonomy—analysis (C4), evaluation (C5), and inference (C6)—and were integrated into various interactive activities on the Educaplay platform such as quizzes, puzzles, matching pairs, dialogue cards, and video quizzes. Validation results indicated that the developed media and test items were highly valid and feasible. The implementation in two trial stages showed significant improvement in student engagement, learning independence, and critical thinking test scores. Design improvements such as simplified language, child-friendly visuals, and added interactivity effectively enhanced students' focus and enthusiasm. In-depth interviews confirmed these findings, revealing that the media functioned not only as an evaluation tool but also as a medium for active and reflective learning. These findings align with the objectives of the Merdeka Curriculum, particularly in cultivating the Profil Pelajar Pancasila, especially the dimensions of critical thinking and independence
    corecore