1,720,981 research outputs found
Biografi Intelektual dan Kiprah Alumni IAIN-UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara
Nama besar dan popularitas perguruan tinggi, sering kali tidak hanya ditentukan oleh nama besar para tenaga pendidik yang ada di dalamnya, kelengkapan fasilitas yang tersedia, ataupun banyaknya jumlah mahasiswa yang dimilikinya, tetapi juga dipengaruhi atau bahkan ditentukan oleh kesuksesan para alumninya. Dengan kata lain, semakin sukses sebuah perguruan tinggi dalam mencetak dan menghasilkan para alumni yang berprestasi dalam berbagai bidang maka semakin besar dan terkenal pula perguruan tinggi tersebut. Oleh karena itu, melacak kesuksesan para alumni dan peran penting mereka dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menjadi hal yang sangat penting. Penelitian ini mencoba mengkaji dan menelusuri peran dan kiprah yang dimainkan oleh para alumni IAIN-UIN Sunan Kalijaga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ada 20 (dua puluh) alumni IAIN-UIN yang menjadi subjek penelitian ini, yang diambil dari beragam fakultas dan juga generasi (angkatan). Berdasarkan kajian dan penelitian yang telah dilakukan diperolehlah temuan bahwa para alumni IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengambil dan memiliki peran yang beragam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegera. Beberapa dari mereka berperan sebagai akademisi, hakim, dan birokrat, sementara sebagian yang lain memilih menjadi tokoh masyarakat, politisi, seniman/sastrawan dan juga budayawan
Kajian Tentang Wanita Bagi Komunitas Masyarakat Jawa: Studi atas Kitab Risalatul Mahidh karya KH. Masruhan Ihsan
Kitab Risalatul Mahidh ini merupakan responskreatif sang pengarang kitab terhadap fenomena dan realitasyang ada di sekitarnya. Pengarang kitab ini merasa priharinterhadap semakin menipisnya ghirah (semangat) umat Islamdalam mencari dan menuntut pengetahuan agama Islam. Halseperti ini juga menimpa kaum perempuan. Banyak darimereka yang tidak lagi mementingkan belajar tentang hukum-hukum yang terkait atau yang mereka alami sendiri, sepertimasalah haidh, istihadah, nifas, cara bersuci dari hadas besar,cara merawat anak, dan lain-lain. Oleh karena itu, pengarangkitab ini berinisiatif untuk membuat suatu risalah ringan yangbisa dipelajari secara mandiri oleh siapa pun yang memangberminat belajar masalah-masalah kewanitaan.Selain itu, munculnya kitab ini juga dilatarbelakangi oleh realitas masyarakat Jawa yang kental dengan tradisidan ritual budaya dan keagamaannya. Oleh arena itu, penga-rang kitab merasa memiliki kewajiban untuk menjelaskanhal-hal yang terkait dengan ritual masyarakat Jawa tersebut;mana tradisi yang selaras dengan ajaran agama sehinggaboleh dilakukan dan mana yang bertentangan dengan ajaranagama sehingga harus ditinggalkan. Dalam hal ini, MasruhanIhsan melihat bahwa tidak semua tradisi Jawa bertentangandengan ajaran agama, sebagaimana juga tidak semua tradisiJawa sudah sesuai dengan tuntunan agama. Dalam konteksseperti inilah kitab Risalatul Mahidh ini hadir di tengahmasyarakat yang gandrung dengan tradisi lokalnya. kitab Risalatul Mahidh ditulis dengan mengguna-kan tulisan Arab Pegon, yakni bahasa Jawa yang ditulisdengan huruf Arab. Penulisan model seperti ini tentu sajabukan tanpa tujuan. Penulis tampaknya ingin menghadirkansebuah kitab panduan praktis yang mudah dipahami bagikomunitas muslim Jawa. Dari sisi substansi, kitab ini secaraspesifik membahas masalah-masalah kewanitaan atau hal-hal yang dialami kaum wanita beserta hukum-hukumnya.Ini tentu saja berbeda dengan model kajian kewanitaan yangada dalam kitab-kitab fikih pada umumnya, di manapersoalan kewanitaan hanya menjadi bagian kecil darikeseluruhan bahasan fikih dalam setiap kitab.Dari sisi kandungan atau muatan isinya, kitab RisalatulMahidh ini merupakan kitab yang berusaha menghadirkanpengetahuan fikih kewanitaan sebagaimana yang populardan telah dibahas dalam kitab-kitab fikih yang lebih awal,namun dengan penyajian yang lebih sistematis. Di dalamnyajuga memuat kajian tentang tradisi-tradisi yang berkembangdi dalam masyarakat, khususnya mayarakat Jawa, dantentunya dengan perspektif fikih.Kitab Risalatul Mahidh karya Masruhan Ihsanini, selain menghadirkan sejumlah pengetahuan dan keten-tuan hukum (fikih) tentang masalah-masalah kewanitaan,di dalamnya juga memuat masalah-masalah etika (moral/tata krama) dan unsur-unsur budaya lokal (lokalitas).Terdapat beberapa bagian dari kitab Risalatul Mahidh iniyang pembahasannya sarat dengan masalah etika dan jugaunsur-unsur lokal. Dimensi etis yang dibahas dalam kitabini, misalnya, terdapat pada pembahasan tentang masalahorang yang sedang haidh, etika merawat anak atau bayiyang baru dilahirkan, etika dalam berhubungan suami-istri(jima’), dan etika bersuci dari hadas besar. Sementara unsur-unsur lokal yang ada dalam kitab ini terdapat pada babatau pembahasan tentang kehamilan dan tata cara merawatbayi yang baru dilahirkan. Dari pembahasan tentang unsur-unsur lokalitas yangdimuat dalam kitab Risalatul Mahidh ini, terlihat bagaimanaMasruhan Ihsan ketika menulis kitab ia tidak berangkat dariruang kosong, tetapi dilatari oleh pembacaan dan responsnyaterhadap tradisi yang berkembang di dalam masyarakatnya.Ia memperhatikan, mengamati, dan tidak jarang jugaterlibat dalam praktik atau ritual yang umum dilakukanoleh masyarakat Jawa. Dalam pembahasannya, pengarangkitab sering bersikap kritis dan cenderung sangat kerasmenolak tradisi lokal yang ada disekitarnya, namun di sisilain ia juga tidak jarang menerima apa yang memang sudahbiasa dilakukan oleh masyarakat Jawa. Hal tersebut bisadisimak pada penjelasan pengarang kitab dalam masalahkehamilan serta pembahasan tentang masalah tata caramerawat dan memperlakukan bayi atau anak yang barudilahirkan
Problematika Kaum Difabel dalam Beribadah: Melacak Pandangan Para Fuqahatentang Bacaan-Bacaan Shalat bagi Difabel Wicara
Karya ini merupakan hasil penelitian atas pandangan para fuqaha terhadap Bacaan Shalat bagi orang atau komunitas Muslim yang memiliki keterbatasan dalam melafalkan Bacaan Shalat. Karya ini kemudian menjadi bagian (chapter) dari buku Fikih (ramah) Difabel yang diterbitkan oleh Prodi Perbandingan Mazhab Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Shalat merupakan ibadah dalam Islam yang memiliki posisi sangat penting dan setrategis. Ia menjadi salah satu rukun dalam Islam dan sekaligus tiang agama. Selain itu, shalat juga merupakan media bagi seorang hamba untuk beribadah, menyembah Tuhannya dengan penuh kepasrahan. Pada saat shalat itulah seorang hamba pada hakikatnya sedang berkomunikasi dengan Tuhannya. Sebagai salah satu media berkomunikasi dengan Tuhan, maka shalat pada hakikatnya bersifat sangat personal; dalam arti bahwa keseriusan dan ketulusan hati seorang mushalli hanya bisa diketahui oleh dirinya sendiri dan juga Tuhannya. Meski demikian, aturan-aturan fiqih menjadikan ibadah shalat bersifat sangat formal. Ia diatur sedemikian rupa melalui seperangkat aturan yang dirumuskan oleh para fuqaha. Aturan-aturan hukum inilah yang dijadikan standar untuk menilai apakah shalat yang dikerjakan oleh seorang hamba itu bisa dikatakan sah atau tidak. Akan tetapi sayangnya, aturan-aturan hukum yang ada dalam shalat itu tampak adanya bias normalisme, yakni aturan-aturan yang hanya merujuk atau didasarkan pada orang-orang yang memiliki kemampuan normal. Sementara mereka yang memiliki kemampuan berbeda (difabel) sering kali terabaikan. Akibatnya, kaum difabel, dalam hal ini difabel wicara, menjadi termarginalkan dan tersisihkan kepentingannya. Pada satu sisi mereka tidak saja diwajibkan untuk menjalankan shalat tetapi juga dituntut untuk mengerjakannya secara baik dan benar, namun di sisi lain mereka tidak mendapatkan pedoman atau panduan yang memadai dalam menjalankan shalat. Beberapa ketentuan fiqh tentang pelaksanaan shalat bagi difabel wicara memang sudah disinggung oleh para ulama/fuqaha terdahulu, namun demikian hal itu tidak bersifat detil, tidak sistematis, dan sangat kurang memadai. Oleh karena itu, sistematisasi dan penjelasan yang lebih detil tentang bagaimana seharusnya para difabel wicara itu menjalankan shalat secara baik dan benar menjadi sesuatu yang sangat penting dan mendesak. Tulisan singkat ini, meskipun tidak bersifat lengkap dan sistematis, telah mencoba menjelaskan aturan-aturan hukum fiqh yang terserak terkait dengan bagaimana kaum difabel wicara harus menjalankan shalatnya secara baik dan benar. Selain itu, tulisan ini juga telah mencoba meyakinkan para difabel wicara bahwa shalat yang mereka kerjakan, meskipun dengan penuh keterbatasan, tetap saja absah secara aturan hukum (fiqh) dan akan mendapatkan imbalan pahala dari Tuhannya. Sebab, nilai tertinggi dari ibadah shalat seorang hamba sebenarnya tidak hanya terletak pada terpenuhinya syarat dan rukun shalat, melainkan ada pada keseriusan dan ketulusannya dalam mengabdi kepada Allah. Dalam hal ini, Allah tentu mengetahui apa yang ada di dalam hati setiap hamba-Nya dan Dia akan menghargai dan memberikan imbalan pahala sesuai dengan usaha yang dilakukannya itu
Religious Liberalism in Indonesia A Critical Study on the Fatwa of The Council of Indonesian Ulama
Post-1998 reforms, among Indonesian Muslims appear and develop thought and ideas in the field of progressive-liberal religious. The progressive-liberal thinkers try to do the reform and simultaneously reconstruct the various concepts and teachings of Islam, which is already well established and is considered true. However, measures taken by Muslims progressive-liberal causes a lot of controversy and opposition at the same time, especially from conservative Muslims. Therefore, thoughts and ideas promoted by the progressive-liberal Muslims are often different or even contrary to common belief and understanding of Muslims. In addition, he is also considered to have disturbing the public. The measure taken by the progressive-liberals called by "the liberalization of religion", which is an interpretation of the texts or religious teachings by using the mind as a free. Therefore, the Council of Indonesian Ulama (MUI) which often represent themselves as representatives of Indonesian Muslims feel the need to give guidance to Muslims associated with the problem. In 2005, the MUI issued a fatwa stating that religious liberalism is understood that contrary to the teachings of Islam so that Muslims are forbidden to follow. MUI fatwa is of course a positive response by conservative Muslims because he is in tune with their religious views and attitudes. On the contrary, the fatwa received harsh criticism from the progressive-liberal Muslims. They even accuse MUI has stuck to the dogmatic-conservative religious ideology. This fatwa clearly reflect the differences or even contradictions among Indonesian Muslims about bagamana how to understand and live the teachings of true religion. In adittion, this fatwa also showed a tendency to think dogmatically-conservative
MUI, Dogmatisme Keagamaan dan Kekerasan Agama
Tulisan ini merupakan penyempurnaan dari Makalah Kelas di Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang kemudian dimuat dan menjadi bagian dari buku "Ketika Makkah menjadi seperti Las Vegas, yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Ahl Al-Kitab
Tulisan ini mengkaji dan menjelaskan konsep Ahl Al-Kitab, baik dari sisi pengertian, pemaknaan, penyebutan dalam Al-Qur'an dan as-Sunnah, penggunaannya dalam dunia akademik dan masyarakat umum, dan perkembangan pemaknaannya deawasa ini. Tulisan ini menjadi salah satu entry atau bagian yang dimuat dalam buku: "MENITI KALAM KERUKUNAN: Beberapa Istilah Kunci dalam Islam & Kristen" Jilid-2, yang diterbitkan oleh bpk gunung mulia bekerja sama dengan Dialogue Centre Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pusat Studi Agama-Agama Fakultas Teologi UKDW
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
