1,720,977 research outputs found
Integrasi Perangkat Lunak Arcgis 9.3, Xampp, Mapserver for Window dan Geoserver dalam Rangka Penyusunan Peta Geologi Pulau Bangka Digital Berbasis Web
Geographic Information System is an information system that is used to enter, store, recall,process,analyze and output geographically referenced data or geospatial. By using GIS will be easierfor decision makers to analyze the data. In this paper, the author makes the design of GIS localhostfor the manufacture of Geographical Information Systems Geology Bangka Island using ArcGIS 9.3,Xampp, Mapserver and GeoServer.Utilization of several applications open source simple andapplicable in the form of web server used is Xampp, the database server is used MySQL andmanagement applications MySQL used PhpMyAdmin resulting Web SIG on geological aps digitalBangka Island and their attributes that can be used as information about the initial data for analysisadvanced
Interpretasi Struktur Geologi Regional Pulau Bangka Berdasarkan Citra Shuttle Radar Topography Mission (SRTM)
This paper aims to present the regional geological information related to geologic structure on the Bangka island. In this paper the processing done digitally on the image of SRTM (Shuttle Radar Topography Mission) by combining the value of azimuth and altitude in order to obtain the number of alignment able delineated and recognizable become more by incorporating N0oE, N45oE, N90oE and N315oE artificial lighting as well as the value of the slope of the sun at 45o. Based on the interpretation of the results obtained Hillshade and rose diagram direction relative straightness dominant northwest-southeast trending interpreted as a manifestation of the direction stance layers, but it also contained lineament trending northeast-southwest according Margono et al. (1995) a rock folds covering Tanjung Genting Formation and Ranggam Formation, large tilt between 18o-75o and showed great intensity and there is tectonic lineament trending north-south, according to Mangga and Djamal (1994) was a fault and the fault is in the phase of the youngest as well as the fracturing horizontal cut of older faults (Crow , 2005). Straightness morphological pattern of spread and intensity level of tectonic deformation by the force in the research area is obtained by calculating the count lineament density based Geographic Information System with ArcGIS 9.3 in order to obtain density interval straightness into three classes, 0-28.72503662 km / km2 (low), 28.72503663- 57.45007324 km / km2 (medium) and 57.45007325-86.17510986 km / km2 (height) The higher the intensity, the area is assumed to be much deformed and most likely close to the structure geology
KOMBINASI SALURAN TERBAIK CITRA LANDSAT 8 UNTUK PENARIKAN BATAS SATUAN BATUAN DI DESA LUBUK DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BANGKA TENGAH
Pemetaan digital batas satuan batuan menggunakan citra Landsat 8 dilakukan di sekitar Desa Lubuk Kabupaten Bangka Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar citra Landsat 8 mampu memberikan informasi spasial yang berkaitan dengan deliniasi batas satuan batuan, sebagaimana diketahui secara geologi regional, Pulau Bangka merupakan daerah yang memiliki tingkat pelapukan kimiawi yang sangat intensif, tidak terkecuali lokasi penelitian, hal ini dibuktik an dengan morfologi perbukitan yang relatif landai, sehingga memberikan tantangan besar terutama yang berhubungan dengan penarikan batas satuan batuan menggunakan citra Landsat 8, dimana citra penginderaan jauh hanya mampu memberikan informasi permukaan bumi. Adapun metode yang digunakan berupa pembuatan band ratio yang mampu memberikan informasi spasial sebanyak mungkin berkaitan dengan membedakan satuan batuan yang berbeda dilokasi penelitian pada skala 1:100.000. Pada bidang penginderaan jauh, pemprosesan citra digital merupakan modifikasi yang dilakukan terhadap citra, sehingga mampu memberikan informasi yang banyak didalam membantu interpretasi visual terhadap fenomena permukaan bumi, salahsatu metode pemrosesan citra yang umum dilakukan adalah pembuatan band ratio untuk identifikasi batas satuan batuan. Dalam penelitian ini, kombinasi band ratio yang terbaik dan paling sesuai membedakan satuan batuan yang berlainan di lokasi penelitian untuk dijadikan citra komposit (RGB), yaitu 5/4;6/3;4/2 selain memberikan batas yang tegas juga menunjukkan tekstur yang jelas dari satuan batuan yang berbeda. Pemetaan digital batas satuan batuan menggunakan citra Landsat 8 dilakukan di sekitar Desa Lubuk Kabupaten Bangka Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar citra Landsat 8 mampu memberikan informasi spasial yang berkaitan dengan deliniasi batas satuan batuan, sebagaimana diketahui secara geologi regional, Pulau Bangka merupakan daerah yang memiliki tingkat pelapukan kimiawi yang sangat intensif, tidak terkecuali lokasi penelitian, hal ini dibuktik an dengan morfologi perbukitan yang relatif landai, sehingga memberikan tantangan besar terutama yang berhubungan dengan penarikan batas satuan batuan menggunakan citra Landsat 8, dimana citra penginderaan jauh hanya mampu memberikan informasi permukaan bumi. Adapun metode yang digunakan berupa pembuatan band ratio yang mampu memberikan informasi spasial sebanyak mungkin berkaitan dengan membedakan satuan batuan yang berbeda dilokasi penelitian pada skala 1:100.000. Pada bidang penginderaan jauh, pemprosesan citra digital merupakan modifikasi yang dilakukan terhadap citra, sehingga mampu memberikan informasi yang banyak didalam membantu interpretasi visual terhadap fenomena permukaan bumi, salahsatu metode pemrosesan citra yang umum dilakukan adalah pembuatan band ratio untuk identifikasi batas satuan batuan. Dalam penelitian ini, kombinasi band ratio yang terbaik dan paling sesuai membedakan satuan batuan yang berlainan di lokasi penelitian untuk dijadikan citra komposit (RGB), yaitu 5/4;6/3;4/2 selain memberikan batas yang tegas juga menunjukkan tekstur yang jelas dari satuan batuan yang berbeda. 
PEMODELAN AKUIFER AIR TANAH UNTUK MASYARAKAT PESISIR LINGKUNGAN BAHER KABUPATEN BANGKA SELATAN
Keterbatasan mata air tanah dan sebarannya yang tidak merata disetiap tempat menjadi persoalan utama. Perkembangan teknologi dapat membantu menanggulangi berbagai masalah berkenaan dengan air sebagai kebutuhan pokok kehidupan, salah satunya dengan cara memetakan danmenginterpretasi keberadaan mata air tanah melalui prediksi keberadaannya dihubungkan dengan litologi atau jenis batuan yang terkandung didalamnya. Dari data-data inilah diharapkan nantinya dapat memberikan gambaran nyata akan keterdapatan akuifer ( lapisan penyimpan air tanah) untuk mencukupi kebutuhan masyarakat terutama diwilayah pesisir, dimana sulit sekali mendapatkan sumber air tawar karena impasan air asin dari lautan. Metode pemetaan akuifer ini menggunakan alat geolistrik dengan metode wenner dimana dapat diinterpretasikan pemodelan akuifer air tanah daerah penelitian. Hasil analisis data sekunder dan primer yang berupa data resistivitas batuan
PEMETAAN ZONASI AKUIFER AIR TANAH UNTUK SUMBER AIR BERSIH MASYARAKAT DESA BALUNIJUK
Pemanfaatan air tanah yang cenderung meningkat akan mengakibatkan berbagai dampak negatif, berupa penurunan muka air tanah, penurunan mutu air, dan penurunan tanah (Subsidence) akibat kosongnya rongga-rongga didalam tanah karena hilangnya air. Salah satu cara untuk mengetahui stratigrafi batuan dan kondisi akuifer di dalam tanah adalah dengan teknik geolistrik, karena geolistrik merupakan alat untuk mendeteksi perlapisan batuan di dalam bumi. Untuk mengetahui perlapisan batuan dan kondisi akuifer di Desa Balunijuk maka dilakukan pendugaan geolistrik pada 4 titik sampel dengan sebaran berdasarkan topografi Desa Balunijuk, Adapun metode geolistrik yang digunakan adalah rangkaian elektroda menurut konfigurasi Wenner. Dari ke empat titik pendugaan geolistrik tersebut maka diperoleh daerah penelitian yang diwakili penampang E-F merupakan daerah paling potensial mengandung air tanah yang tersimpan dalam akuifer dangkal, dengan demikian di daerah ini dapat dilakukan kegiatan pengeboran air tanah sedangkan untuk daerah penelitian yang diwakili penampang C-D merupakan alternatif daerah yang cukup potensial mengandung air tanah yang tersimpan dalam akuifer dangkal. Namun lapisan pasir yang mengandung air tanah di daerah ini tidak setebal lapisan pasir yang dimiliki daerah penelitian dalam penampang E-F. Sedangkan untuk Lapisan batuan di Desa Balunijuk terdiri dari 3 bagian yaitu: lapisan lempung pasiran dengan nilai tahanan jenis 165-18.207 Ωm, lapisankrikil pasiran dengan nilai tahanan jenis 22,5-258 Ωm, dan lapisan lempung dengan nilai tahanan jenis 2,04-20,5 Ωm serta hasil analisis air permukaan bahwa air permukaan yang diambil dari semua titik sampel tidak layak di jadikan sebagai sumber air baku air minum
PERENCANAAN PENAMBANGAN TRIWULAN PERTAMA MENGGUNAKAN DATA TOPOGRAFI BASED ON SURVEY DI PT ALLIED INDO COAL JAYA SAWAHLUNTO, SUMATERA BARAT
Perencanaan penambangan short term (Jangka Pendek) yang akan dilakukan penelitian di PT Allied Indo Coal Jaya terfokus pada triwulan pertama Tahun 2020 yaitu pada Bulan Januari, Februari, dan Maret. Pengolahan data menggunakan data design pit plan 2020, persebaran batubara, dan mechanical availability plan sebagai data sekunder. Data primer yang digunakan berupa produktivitas alat gali muat dan angkut, titik koordinat, dan End of Mine (EOM) Bulan Desember Tahun 2019. Metode pengolahan data dilakukan secara deskriptif, kualitatif, dan kuantitatif. Lapisan seam batubara diarea penelitian terdapat sebanyak 4 lapisan yaitu seam B1, seam B2, seam C1, dan seam C2. Berdasarkan rencana design pit dan target produksi yang telah ditetapkan pihak perusahaan untuk Tahun 2020, maka dilakukan pemotongan setiap blok penambangan untuk triwulan pertama dengan mempertimbangkan model topografi dan batasan penambangan yang hanya mencapai batas floor seam B2 berdasarkan rekomendasi perusahaan. Dari hasil tersebut diperoleh target bukaan tambang pada triwulan pertama sebanyak 1.466.825 m3, overburden sebanyak 1.366.488,46 bcm, tonnase batubara sebanyak 100.336,54 ton dengan stripping ratio 13. Berdasarkan parameter tersebut jumlah unit yang dibutuhkan untuk mencapai target yaitu sebanyak 17 unit excavator dengan 73 unit dump truck untuk material overburden dan 1 unit excavator dengan 6 unit dump truck untuk material batubara
POTENSI KONSERVASI MINERAL KASITERIT DAN LOGAM TANAH JARANG PADA SISA HASIL PENGOLAHAN DI KAPAL ISAP PRODUKSI KENCANA PACIFIC KABUPATEN BANGKA
Konservasi mineral dan batubara merupakan salah satu parameter pertambangan yang berkelanjutan sesuai Kepmen ESDM Nomor 1827 K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik. Salah satu objek konservasi dalam Kepmen ESDM tersebut adalah Sisa Hasil Pengolahan (SHP). Permasalahan yang ada berupa potensi SHP yang belum terdata di perairan Pulau Bangka. Maka dari itu dilakukan penelitian terkait pendataan potensi SHP KIP Kencana Pacific sebagai bentuk pelaksanaan konservasi. Tujuan penelitian ini yaitu perhitungan laju produksi SHP, identifikasi komposisi mineral SHP serta perhitungan potensi SHP. Data primer yang dikumpulkan berupa koordinat dan kedalaman penggalian, data produksi SHP, durasi pengamatan serta data berat basah dan kering sampel SHP. Data sekunder yang dikumpulkan berupa produksi timah, spesifikasi KIP, lokasi IUP KIP, target produksi dan jam jalan serta SOP pengujian laboratorium. Pengolahan dan analisis berupa perhitungan laju produksi, pengujian komposisi kadar mineral serta perhitungan potensi mineral dalam SHP. Laju produksi SHP KIP Kencana Pacific sebesar 54,63 kg/jam. Mineral dominan pada SHP KIP Kencana Pacific yaitu kuarsa. Pada pengujian GCA, kadar mineral kasiterit sebesar 19,50%, zirkon sebesar 4,20% dan monasit sebesar 0,08%. Pada pengujian XRD, kadar mineral kasiterit sebesar 20,2%, zirkon sebesar 3,8% dan xenotim sebesar 0,2%. Pengujian XRF sebagai validasi keberadaan mineral dengan indikasi unsur berupa Sn dengan kadar 93.088,7 ppm, Zr sebesar 20.622 ppm, Ce sebesar 2.944 ppm, La sebesar 1.484,9 ppm dan Y sebesar 2.988,8 ppm. Mineral kasiterit dan zirkon memiliki potensi yang besar dengan perkiraan perolehan setiap bulannya sebesar 4,39 – 5,52 ton untuk mineral kasiterit dan 0,86 – 1,15 ton untuk mineral zirkon.Konservasi mineral dan batubara merupakan salah satu parameter pertambangan yang berkelanjutan sesuai Kepmen ESDM Nomor 1827 K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik. Salah satu objek konservasi dalam Kepmen ESDM tersebut adalah Sisa Hasil Pengolahan (SHP). Permasalahan yang ada berupa potensi SHP yang belum terdata di perairan Pulau Bangka. Maka dari itu dilakukan penelitian terkait pendataan potensi SHP KIP Kencana Pacific sebagai bentuk pelaksanaan konservasi. Tujuan penelitian ini yaitu perhitungan laju produksi SHP, identifikasi komposisi mineral SHP serta perhitungan potensi SHP. Data primer yang dikumpulkan berupa koordinat dan kedalaman penggalian, data produksi SHP, durasi pengamatan serta data berat basah dan kering sampel SHP. Data sekunder yang dikumpulkan berupa produksi timah, spesifikasi KIP, lokasi IUP KIP, target produksi dan jam jalan serta SOP pengujian laboratorium. Pengolahan dan analisis berupa perhitungan laju produksi, pengujian komposisi kadar mineral serta perhitungan potensi mineral dalam SHP. Laju produksi SHP KIP Kencana Pacific sebesar 54,63 kg/jam. Mineral dominan pada SHP KIP Kencana Pacific yaitu kuarsa. Pada pengujian GCA, kadar mineral kasiterit sebesar 19,50%, zirkon sebesar 4,20% dan monasit sebesar 0,08%. Pada pengujian XRD, kadar mineral kasiterit sebesar 20,2%, zirkon sebesar 3,8% dan xenotim sebesar 0,2%. Pengujian XRF sebagai validasi keberadaan mineral dengan indikasi unsur berupa Sn dengan kadar 93.088,7 ppm, Zr sebesar 20.622 ppm, Ce sebesar 2.944 ppm, La sebesar 1.484,9 ppm dan Y sebesar 2.988,8 ppm. Mineral kasiterit dan zirkon memiliki potensi yang besar dengan perkiraan perolehan setiap bulannya sebesar 4,39 – 5,52 ton untuk mineral kasiterit dan 0,86 – 1,15 ton untuk mineral zirkon
Perencanaan Biaya Reklamasi Pada Lahan Bekas Penambangan Batubara Di Site MTBU PT Bukit Asam Tbk Kabupaten Muara Enim
PT Bukit Asam Tbk is a coal mining company. The ex-mining area of the MTBU site which will be reclaimed in accordance with the 2020 plan is 44 ha, but the available land is only 24.84 ha, the rest is still considered productive for mining. Therefore, it is necessary to study the planning of reclamation costs on the MTBU site land. The method of this research activity begins with determining the area of the site to be reclaimed using Argics 10.6 software. then the reclamation costs were calculated which were grouped into direct costs and indirect costs based on KEPMEN ESDM 1827 of 2018. The results of the calculation of the direct cost components and indirect costs of the reclamation plan activities covering an area of 24.84 ha, namely the direct cost of reclamation of Rp. 14,857,849,955 with details of land management costs of Rp 2,363,798,980 and revegetation costs of Rp 485,597,426. Indirect costs are Rp 3,179,579,890,37 with details of equipment mobilization and demobilization costs (2.5%) of Rp 371.446248.88, reclamation planning costs (6%) of Rp 891.470.997.30, administrative costs and profits third parties as the implementation of the reclamation stage of production operations (8.5%) amounting to Rp. 1,262,917,246.18 and supervision fees (4.4%) of Rp. 653,745,398.02. The total cost required for land reclamation of 24.84 ha is Rp. 18,037,429,845.37
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
