49 research outputs found

    Perawatan Kanker Paliatif di Rumah

    No full text

    HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN EFIKASI DIRI PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS

    No full text
    Background: Good knowledge will help patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis have good efikasi diri to overcome the symptoms and complaints experienced to improve their quality of life. This study aimed to determine the knowledge and efikasi diri of chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis and the relationship. Method:  This study is a descriptive correlational study in which 131 chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis in Padang City became research respondents. The study was conducted in two hemodialysis units in the city of Padang, namely, the hospital. M. Jamil Padang and Tk III Hospital Reksodiwiryo. The sampling technique was purposive sampling, taking into account the inclusion criteria. The study was conducted in April 2022. Spearman correlation test was used to see the relationship between knowledge and efikasi diri of chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis. Result: The results showed that the average value of knowledge of patients undergoing hemodialysis was 17.94 (2,968) (range 0-25), and the average value of efikasi diri was 43.57 (9.89) (range 6-60). The correlation test results showed a significant positive relationship between education and efikasi diri with a p-value of 0.000 (p <0.05). Conclusion: It is expected that health workers have a structured educational program to increase knowledge of chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis so that patients can increase efikasi diri in overcoming the symptoms they feel.  Latar belakang: Pengetahuan yang baik akan membantu pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis memiliki efikasi diri yang baik dalam mengatasi gejala dan keluhan yang dialami untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan efikasi diri pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis serta hubungannya. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan 131 pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di Kota Padang menjadi responden penelitian. Penelitian dilakukan di dua unit hemodialisis yang ada di Kota Padang yaitu Rumah Sakit. M. Jamil Padang dan RS Tk III Reksodiwiryo. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling dengan memperhatikan kriteria inklusi yaitu menjalani hemodialisis secara rutin minimal tiga bulan; pasien dewasa berusia 18-65 tahun; mampu membaca dan menulis bahasa Indonesia; dan bersedia untuk berpartisipasi. Penelitian dilakukan pada bulan April 2022. Uji korelasi Spearman digunakan untuk melihat hubungan pengetahuan dengan efikasi diri pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pengetahuan pasien yang menjalani hemodialisis adalah 17,94 (2.968) (rentang 0-25), dan nilai rata-rata efikasi diri adalah 43,57 (9,89) (rentang 6-60). Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara pendidikan dengan efikasi diri dengan p-value <0,0001. Kesimpulan: Diharapkan tenaga kesehatan memiliki program edukasi yang terstruktur untuk meningkatkan pengetahuan pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisa sehingga pasien dapat meningkatkan self efficacy dalam mengatasi gejala yang dirasakannya

    Hubungan Penambahan Berat Badan Interdialisis dengan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis

    No full text
    Quality of life becomes an important measure as patients undergoing renal replacement therapy such as hemodialysis. The objective of the research was to analyze the correlation interdialytic weight gain and the quality of life of a patient chronic kidney disease undergoing hemodialysis. The research used descriptive correlation design with 194 samples from RSUD dr. Pirngadi and RSUP Haji Adam Malik, Medan. The instruments of the research were observation sheets of interdialytic weight gain using weight scales Weighing Machine model ZT-120, Camry BR2015 and questionnaires on Kidney Disease Quality of Life version 1.3 (KDQOL 1.3), and conducting interviews in order to find out the spiritual domain. The result showed that mean interdialytic weight gain was 3.92% (range 0,45%-8,19). Score quality of life decreased significantly with mean 53.47 (SD 21.00). The dimension had the lowest mean was role limitation caused by physical health problems 3.16 (SD 14.15) and the highest was dialysis staff encouragement 95,81 (SD 14,15). The result of Pearson correlation test showed that p value was 0.00 (p<0.05) with r value of -0.307 which indicated that there was the significant correlation between interdialytic weight gain and the quality of life in patients. In addition, this study also found that the meaning of spirituality in patients, by being devoted to God, needed support from closed friends, had great expectation for recovery and accepted their illness sincerely. It is recommended that nurses in the hemodialysis unit assess the quality of life continuously and pay attention to the liquid management on patients undergoing hemodialysis.Kualitas hidup menjadi ukuran penting setelah pasien menjalani terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan penambahan berat badan interdialisis dengan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Desain penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan jumlah sampel 194 pasien yang berasal dari RSUD dr. Pirngadi dan RSUP Haji Adam Malik Medan. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi penambahan berat badan dengan alat ukur timbangan berat badan Weighing Machine model ZT-120, CAMRY BR2015 dan kuisioner Kidney Disease Quality of Life versi 1,3 (KDQOL 1,3) serta panduan wawancara untuk melihat domain spiritualitas. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata penambahan berat badan interdialisis adalah 3,92% (rentang 0,45%-8,19%). Nilai kualitas hidup responden mengalami penurunan yang signifikan dengan nilai rata-rata 53,47 (SD 21,00). Dimensi kualitas hidup yang mempunyai nilai rata-rata paling rendah adalah keterbatasan akibat masalah fisik yaitu 3,16 (SD 12,30) dan yang tertinggi adalah dukungan dari staf dialisis yaitu 95,81 (SD 14,15). Hasil uji korelasi Pearson diperoleh p value 0,00 (p<0,05), dengan nilai r -0,307. Hal ini berarti ada hubungan yang signifikan antara penambahan berat badan interdialisis dengan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Selain itu penelitian ini juga menemukan makna spiritualitas pada pasien yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan, butuh dukungan dari orang terdekat, mempunyai harapan besar untuk sembuh dan menerima dengan ikhlas penyakit yang diderita. Ners di unit hemodialisis diharapkan melakukan penilaian kualitas hidup secara berkelanjutan dan memperhatikan manajemen cairan pada pasien yang menjalani hemodialisis.159 Halama

    HUBUNGAN PERILAKU CARING PERAWAT DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN BPJS DI RUANG RAWAT INAP RSUD DR. RASIDIN PADANG

    No full text
    &lt;p class="Default"&gt;Perilaku &lt;em&gt;caring&lt;/em&gt; perawat sangat penting dalam memenuhi kepuasan pasien, hal ini menjadi salah satu indikator kualitas pelayanan di sebuah rumah sakit. Lebih dari saparuh yaitu 60% pasien mengeluh dengan perilaku &lt;em&gt;caring&lt;/em&gt; perawat, pasien mengatakan tidak puas dengan perilaku &lt;em&gt;caring&lt;/em&gt; perawat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan perilaku &lt;em&gt;caring&lt;/em&gt; perawat dengan tingkat kepuasan pasien BPJS di ruang rawat inap RSUD.dr. Rasidin Padang. Desain penelitian adalah &lt;em&gt;deskriptif analitik &lt;/em&gt;dengan pendekatan &lt;em&gt;cross sectional study&lt;/em&gt;.Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Agustus 2015 sampai Juli 2016.Populasi dalam penelitian ini  sebanyak 507 orang, sampel diambil secara &lt;em&gt;purposive&lt;/em&gt;&lt;em&gt; sampling &lt;/em&gt;dengan batasan waktu 2 minggu sampel sebanyak 84 orang. Data dianalisis secara distribusi frekuensi dan menggunakan uji &lt;em&gt;chi-square&lt;/em&gt; dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar 39 (46,4%) perilaku &lt;em&gt;caring&lt;/em&gt; perawat buruk, lebih dari separuh 50 (59,5%) responden tidak  puas dengan perilaku &lt;em&gt;caring&lt;/em&gt; perawat, terdapat hubungan bermakna antara perilaku &lt;em&gt;caring&lt;/em&gt; perawat dengan tingkat kepuasan pada pasien BPJS (p value = 0,002). Dapat disimpulkan bahwa semakin baik perilaku &lt;em&gt;caring&lt;/em&gt; perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien maka tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan akan semakin baik juga. Disarankan bagi Intansi RSUD dr. Rasidin Padang untuk meningkatkan perilaku &lt;em&gt;caring&lt;/em&gt; perawat dengan  mengadakan pelatihan atau seminar tentang perilaku &lt;em&gt;caring &lt;/em&gt;perawat sehingga perawat dapat menerapkan perilaku caring terhadap pasien.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;</jats:p

    Hubungan Intake Cairan dengan Peningkatan Tekanan Darah pada Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) yang Menjalani Hemodialisa

    No full text
    Intake cairan yang berlebih pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa akan menyebabkan komplikasi yang berujung kepada kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intake cairan dengan peningkatan tekanan darah pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di Rs. Tk. III Dr. Reksodiwiryo Padang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi, dengan sampel sebanyak 49 orang  yang diambil dengan teknik Total Sampling. Pengumpulan data dan Penelitian dilakukan pada bulan 15 Maret sampai 4 Juli 2018. Cara pengumpulan data dengan lembar observasi dan kuisioner. Analisis univariat dilakukan dengan menyajikan data dalam bentuk mean, standar deviasi,minimum,dan maksimum sedangkan analisis bivariat menggunakan uji korelasi dengan Rank Spearman’s. Hasil penelitian univariat peningkatan Tekanan Darah Sistole dari 49 pasien didapatkan nilai minimum adalah 0, dan nilai maksimum adalah 60, standar deviasi adalah 12.69, nilai mean 16,33. Sedangkan pada Tekanan Darah Diastole dari 49 pasien didapatkan nilai minimum adalah -20, dan nilai maksimum adalah 30. Rata-rata intake cairan nilai minimum 825,70, maksimum 2216,66, dan mean 882. Hasil bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan intake cairan dengan tekanan darah sistole (p=0,032) dan ada hubungan antara intake cairan dengan tekanan darah diastole (p=0, 013 ). Diharapkan perawat lebih menjalankan pendidikan kesehatan tentang pemantauan intake cairan pasien pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa agar tidak terjadi masalah terhadap pembatasan asupan cairan. Kata Kunci : Hemodialisa, Intake cairan, Tekanan darah

    HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN DIET PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS

    No full text
    &lt;p&gt;&lt;em&gt;Diet on &lt;/em&gt;&lt;em&gt;chronic renal failure patient is very important to avoid the appearance of uremia effect, liquid hoarding which can affect heart congestive failure and heart edema so that the death is last final. Family support is a factor that influences obedience. The aim of this research was to know the correlation of family support with diet obedience on chronic renal failure patient in Dr. ReksodiwiryoTk III hospitalPadang on year 2017. This research used descriptive analytic with the research design was cross sectional study. This research had been done on October 2016 to Mei 2017. The population in this research was 161 people and the sample was taken by accidental sampling in two weeks for 62 respondents at Hemodialisa room in Dr. ReksodiwiryoTk III hospitalPadang. The data analysis was done by computerization and analyzed in univariat with frequency distribution and bivariat used chi-square test with p value &amp;lt;0,05. The result of this research showed that more than a half respondent (62,9%) had high disobedience and more than a half respondent (61,3%) got less family support. Based on the statistic test, it showed that there was a useful relationship between family support and diet obedience (p= 0,003). To increase family support on diet obedience, it is suggested to medic and family to give the information, attention, and support to patient in doing diet therapy.   &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</jats:p

    The most frequent diagnosis on patients undergoing hemodialysis

    No full text
    Background: Hemodialysis is a routine medical intervention for patient with chronic renal failure. Patients may responds differently when they undergoing this procedure. Investigating nursing diagnosis and collaborative diagnoses during hemodialysis procedure need to be explored. The objective of this research is to determine the sequence of nursing diagnosis and the collaborative diagnosis identified among kidney disease patients who are undergoing hemodialysis.Methods: This case study research involving 62 respondents. Research was conducted between June and July 2015. The respondents’ cases were studied to determine what nursing diagnoses and collaborative diagnoses, using a six-step diagnostic reasoning method.Results: Result of this study showed 27 nursing diagnoses and 7 collaborative diagnoses experienced by the patients. The six most commonly experienced nursing diagnoses were: activity intolerance (100%), nausea (96.8%), risk for impaired skin integrity (91.9%), impaired urinary elimination (82.3%), insomnia (77.4%), and sexual dysfunction (58.1%).Conclusions: There were 27 nursing diagnoses and 7 collaborative diagnoses that were experienced by patients who were undergoing hemodialysis

    Osteoporosis : Pengetahuan, Pencegahan, dan Penatalaksanaan

    No full text
    Buku ini merupakan panduan komprehensif yang membahas secara mendalam tentang osteoporosis, sebuah kondisi yang ditandai dengan penurunan kepadatan tulang dan peningkatan risiko patah tulang. Buku ini memberikan informasi yang mudah dipahami namun tetap kaya akan pengetahuan ilmiah, menjadikannya sumber daya yang berharga baik bagi tenaga medis maupun masyarakat umum. Selain pengetahuan dasar, buku ini juga menawarkan strategi pencegahan yang efektif. Dengan fokus pada gaya hidup sehat, seperti asupan nutrisi yang tepat, olahraga yang mendukung kesehatan tulang, serta pentingnya pemeriksaan rutin, pembaca dipandu untuk mengambil langkah-langkah preventif dalam menjaga kesehatan tulang. Tidak hanya itu, buku ini juga membahas berbagai pendekatan dalam penatalaksanaan osteoporosis, mulai dari pengobatan medis, suplemen kalsium dan vitamin D, hingga terapi hormon dan prosedur medis lainnya

    Asuhan Keperawatan pada Pasien BPH (Benigna Prostat Hiperplasia)

    No full text
    Benigna prostat hyperplasia ini dapat dialami oleh sekitar 70% pria di atas usia 60 tahun. Angka ini akan meningkat hingga 90% pada pria berusia di atas 80 tahun. Benigna Hiperplasia Prostat (BPH) menyerang saluran kemih bawah dan biasa terjadi pada laki-laki, penyakit ini merupakan penyakit yang memiliki faktor resiko dua yaitu dapat diubah maupun tidak dapat diubah. Gejala yang terjadi dibedakan menjadi 4 derajat. BPH memiliki pengkajian dan pemeriksaan fisik yang tidak hanya mengenai sistem perkemihan, tetapi terkait juga dengan sistem yang lain. BPH memiliki penatalaksanaan medikamentosa dan operasi. Perawat harus memahami bagaimana pengkajian terhadap penyakit Benigna Hiperplasia Prostat (BPH), dan dilanjutkan dengan observasi yang dilakukan terutama pada saat pasien akan melakukan operasi. Buku ini membahas tentang asuhan keperawatan yang dapat diberikan pada pasien penderita BPH dengan pendekatan SDKI, SLKI dan SIKI. Buku ini juga menjelaskan terkait dengan konsep BPH seperti anatomi, fisiologi klasifikasi, gejala, patofisilogi dan konsep retensi urine yang biasa dialami oleh pasien BPH

    Terapi Komplementer dalam Keperawatan

    No full text
    Terapi komplementer adalah pengobatan yang digunakan bersamaan dengan perawatan medis konvensional, sementara terapi alternatif digunakan sebagai pengganti perawatan medis konvensional. Penggunaan terapi alternatif dan komplementer meningkat karena faktor seperti kemudahan dalam memperoleh informasi, potensi efek samping yang lebih kecil, dan ketidakpuasan terhadap pengobatan konvensional. Terapi komplementer dan alternatif semakin populer di banyak negara, termasuk Indonesia. Perawat memegang peran penting dalam memfasilitasi penyembuhan holistik pasien dan mempromosikan perawatan diri yang bertanggung jawab. Perkembangan terapi komplementer dan alternatif juga memungkinkan perawat untuk berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yang berkembang. Perkembangan terapi komplementer dan alternatif telah membuka peluang bagi perawat untuk terlibat dalam memberikan perawatan dan pengobatan yang lebih holistik. Perawat dapat memainkan peran yang penting dalam terapi komplementer sebagai caregiver, educator, konselor, koordinator, advokat, konsultan, dan kolaborator. Buku ini membahas tentang perkembangan terapi komplementer dalam fungsinya sebagai salah satu metode pengobatan. Dilengkapi dengan konsep dasar terapi komplementer, aspek legal, kekurangan dan kelebihan terapi komplementer, jenis-jenis terapi komplementer serta peran perawat dalam terapi komplementer
    corecore