1,722,198 research outputs found

    Salmoneus yoyo nov. sp., a peculiar new infaunal shrimp from Lombok, Indonesia (Decapoda, Caridea, Alpheidae)

    No full text
    Anker, Arthur, Firdaus, Muhammad, Pratama, Idham Sumarto (2014): Salmoneus yoyo nov. sp., a peculiar new infaunal shrimp from Lombok, Indonesia (Decapoda, Caridea, Alpheidae). Zootaxa 3852 (4): 489-495, DOI: 10.11646/zootaxa.3852.4.

    FIGURE 6 in On some interesting marine decapod crustaceans (Alpheidae, Laomediidae, Strahlaxiidae) from Lombok, Indonesia

    No full text
    FIGURE 6. Alpheus savuensis De Man, 1908: A—male (cl 6.4 mm) from Sira, Lombok, Indonesia (OUMNH.ZC. 2014-10- 03), dorsal view; B, C—ovigerous female (cl 7.7 mm) from Teluk Medana, Lombok, Indonesia (MZB Cru 4038), B—dorsal view; C—lateral view.Published as part of Anker, Arthur, Pratama, Idham Sumarto, Firdaus, Muhammad & Rahayu, Dwi Listyo, 2015, On some interesting marine decapod crustaceans (Alpheidae, Laomediidae, Strahlaxiidae) from Lombok, Indonesia, pp. 301-342 in Zootaxa 3911 (3) on page 310, DOI: 10.11646/zootaxa.3911.3.1, http://zenodo.org/record/25442

    FIGURE 1 in Salmoneus yoyo nov. sp., a peculiar new infaunal shrimp from Lombok, Indonesia (Decapoda, Caridea, Alpheidae)

    No full text
    FIGURE 1. Salmoneus yoyo sp. nov., holotype, non-ovigerous specimen from Sekotong Bay, Lombok, Indonesia (MZB Cru 3986): A, frontal region, dorsal; B, same, lateral; C, posterior abdominal somites and tail fan, lateral; D, telson, dorsal; E, third maxilliped, lateral; F, same, tip of ultimate article; G, second pereiopod, lateral; H, third pereiopod, lateral; I, fourth pereiopod, lateral; J, fifth pereiopod, lateral; K, second pleopod, lateral; L, same, distal portion of appendix masculina; M, uropod, dorsal. Scale bars as indicated, F and L drawn without scale.Published as part of Anker, Arthur, Firdaus, Muhammad & Pratama, Idham Sumarto, 2014, Salmoneus yoyo nov. sp., a peculiar new infaunal shrimp from Lombok, Indonesia (Decapoda, Caridea, Alpheidae), pp. 489-495 in Zootaxa 3852 (4) on page 492, DOI: 10.11646/zootaxa.3852.4.6, http://zenodo.org/record/22482

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Kelayakan Adopsi Prototipe Usaha Home Industry Pineapple Soft Candy (Kasus pada Calon Pelaksana Potensial di Jalancagak- Subang, Jawa Barat)

    No full text
    Indonesia merupakan Negara tropis yang memiliki potensi yang besar dalam menghasilkan produksi pertanian. Hortikultura merupakan salah satu sub sektor pertanian yang mampu meningkatkan pendapatan petani di Indonesia. Buah-buahan menyumbangkan lebih dari 50 persen dari persentasi PDB hortikultura per tahunnya dibandingkan sayuran, tanaman hias dan biofarmaka, akhir tahun 2009 komoditi buah-buahan menyumbangkan 50.595 Milyar Rupiah bagi PDB sektor hortikultura. Salah satu buah tropika non musiman yang banyak dikonsumsi dan diminati oleh masyarakat adalah buah nenas. LPPM PKBT IPB menghasilkan suatu terobosan baru untuk memperpanjang shelf life buah nenas yang mudah rusak dan busuk menjadi olahan pineapple soft candy yang enak dan bergizi. Subang merupakan daerah penghasil buah nenas terbersar di Jawa Barat dapat dijadikan sebagai lokasi dari replikasi produksi ini. Untuk itu perlu dinilai sejauh mana prototipe yang dimiliki PKBT layak dan dapat diadopsi oleh para pelaku usaha pengolahan dodol nenas yang ada di Jalancagak Subang untuk dapat meningkatkan nilai tambah buah nenas dan pendapatan mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Mengkaji kelayakan non finansial produksi pineapple soft candy. (2) Menganalisis kelayakan aspek finansial dari produksi pineapple soft candy. (3) Menganalisis tingkat kepekaan (sensitivitas) kelayakan produksi pineapple soft candy. Analisis dalam penelitian ini dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mengkaji aspek teknis, aspek manajemen, dan aspek sosial, aspek ekonomi serta aspek lingkungan. Analisis kuantitatif digunakan untuk mengkaji kelayakan finansial usaha berdasarkan kriteria kelayakan investasi Net Presnt value (NPV), Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP) serta analisis sensitivitas. Hasil dari analisis aspek teknis, adopsi prototipe usaha home industry pineapple soft candy pada calon pelaksana potensial di Jalancagak Subang telah mempertimbangkan hal-hal yang dianggap penting dalam kegiatan usaha tersebut. Hal tersebut adalah lokasi usaha, besarnya skala usaha, kriteria pemilihan alat dan mesin, layout produksi, proses produksi dan jenis teknologi yang digunakan. Sehingga secara teknis kegiatan adopsi prototipe home indistry pineapple soft candy dapat dan layak untuk dilaksanakan. Dimana penilaian terhadap responden bersarkan pengalaman usaha, jumlah produksi, ketersediaan tempat produksi, kapasitas listrik, jumlah tenaga kerja, dan higienitas terdapat 67 persen responden yang layak untuk mengadopsi prototipe ini. Bedasarkan analisis aspek manajemen, pelaku usaha dodol nenas di Jalancagak tergabung dalam usaha kelompok dan mereka telah menjalankan usahanya dengan manajemen sederhana yang cukup baik. Selain itu, mereka melakukan perizinan produksi untuk produknya sehingga kegiatan adopsi prototipe ini dapat dilakukan oleh para pelaku pengolahan nenas di Jalancagak. Bersarkan analisis aspek sosial dan ekonomi adopsi prototipe usaha home industry pineapple soft candy ini dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar yaitu berupa penyerapan tenaga kerja, serta kegiatan ini dapat meningkatkan pendapatan para pelaku usaha dodol nenas di Jalancagak Subang. Dalam rencana ke depannya, prospek usaha ini sangat baik dan dapat menambah pendapatan negara jika mampu memasuki pasar luar negeri. Aspek lingkungan adopsi prototipe usaha home industry pineapple soft candy tidak memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Hal ini karena limbah dari buah nenas dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk kompos, pakan ternak dan bahan pembuat serat kain. Hasil analisis finansial dari kegiatan usaha home industry pineapple soft candy diperolah NPV sebesar Rp 89.179.542,47, Net B/C sebesar 2,71, IRR sebesar 28 persen dan Payback Period 10 bulan 24 hari. Sedangkan hasil analisis kelayakan produksi dodol nenas dan pineapple soft candy dengan perbandingan 50 % : 50% diperoleh nilai NPV Rp 74.333.907,11 dengan nilai Net B/C 2,36, Payback Period 1,08 tahun dan IRR 24 persen. Jika dibandingkan dengan produksi dodol nenas saja, maka produksi dengan pineapple soft candy dapat memberikan nilai manfaat bersih sekarang yang jauh lebih besar yaitu sebesar Rp 3.868.195. Sehingga adopsi usaha ini sangat baik untuk diterapkan pada tingkat usaha pengolahan dodol nenas yang ada di Jalancagak Subang. Tingkat sensivitas perubahan penurunan harga dari usaha produksi pineapple soft candy ini adalah sebesar 6,49 persen. Sedangkan kenaikan harga bahan baku gula dan nenas adalah 70,78 persen. Penurunan ataupun kenaikan tersebut masih dapat ditoleransi sehingga usaha ini masih dapat dilakukan karena jumlah biaya yang dikeluarkan sama dengan jumlah manfaat tambahan bersih yang diterima. Maka variabel yang paling berpengaruh atau sensitif dalam usaha ini adalah tingkat harga jual

    Penetapan Harga Pokok dan Zona Fleksibilitas Harga Meises Coklat. Kasus : PT G di Bandung, Jawa Barat

    No full text
    Produksi kakao di Indonesia secara umum dikonsumsi langsung oleh industri dan pengolahan kakao biji yang memproduksi kakao butter, kakao powder dan kakao pasta. Peranan industri cokelat paling dominan dalam pemakaian kakao olahan yaitu sebesar 43,40 persen. Pada tahun 2008 konsumi kakao olahan setengah jadi diperkirakan meningkat menjadi 56.046 ton. Cokelat Butiran (meises) merupakan produk olahan cokelat yang sering digunakan dan dikonsumsi langsug oleh masyarakat. Selain itu sering digunakan oleh industri pengolah makanan seperti industri roti dan kue sebagai bahan baku pembuatan makanan. PT G merupakan salah satu industri pengolah kakao setengah jadi menjadi produk meises. Perusahaan berdiri pada tahun 2004. Lokasinya berada di wilayah Bandung Timur. Perusahaan memasarkan produknya dalam partai besar ke konsumen organisasi seperti grosir bahan kue, industri roti, industri kue, serta industri pengemasan meises. Distribusi menyebar ke kota Bandung, Jakarta, Sukabumi, Bogor, Bekasi, Depok, Lampung, Purwokerto dan lain-lain

    Kebijakan Pemerintah dan Ketimpangan antar Kota/Kabupaten pada Lima Provinsi di Pulau Jawa.

    No full text
    Kebijakan pemerataan antar wilayah sudah diimplementasikan oleh pemerintah sejak tahun 1980, dan dimulai dari Pulau Jawa. Kebijakan tersebut berupa program transmigrasi pada tahun 1980-1998, program Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) pada tahun 2011-2014, hingga program Dana Desa dan pembangunan infrastruktur secara masif pada tahun 2014 hingga kini. Selain kebijakan tersebut, ada faktor lain yang diduga mempengaruhi ketimpangan yakni PMTB, panjang jalan provinsi, dan jumlah pekerja lulusan SMTA . Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat ketimpangan pada lima provinsi di Pulau Jawa sejak tahun 1980 hingga 2015, sekaligus menganalisis pengaruh kebijakan pemerintah dan variabel pemerataan ekonomi lainnya dengan ketimpangan dalam jangka pendek dan jangka panjang. Penelitian ini menggunakan metode Indeks Williamson dan Analisis Time Series Error Correction Model (ECM), data Time Series dari tahun 1980 hingga tahun 2015 dari kelima provinsi di Pulau Jawa. Hasil penelitian menunjukkan Provinsi Jawa Timur merupakan daerah yang paling timpang di Pulau Jawa. Hasil Estimasi model ECM menunjukkan bahwa dalam jangka panjang PMTB berpengaruh signifikan dan negatif dengan ketimpangan di Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur, namun berhubungan positif di DKI Jakarta. Jumlah panjang jalan berpengaruh signifikan dan negatif pada Provinsi DI Yogyakarta dan DKI Jakarta, namun berhubungan positif di Jawa Tengah. Jumlah pekerja lulusan SMTA juga berpengaruh signifikan dan negatif terhadap ketimpangan di Provinsi Jawa Timur. Sementara itu, dalam jangka pendek jumlah penduduk mempengaruhi ketimpangan di Provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Timur, pertumbuhan ekonomi mempengaruhi ketimpangan di Jawa Barat dan Jawa Timur, serta PMTB mempengaruhi ketimpangan di Jawa Barat. Secara umum PMTB dan Panjang jalan dapat digunakan sebagai instrumen pemerataan ketimpangan antar wilayah di Pulau Jawa

    Faktor-faktor yang Memengaruhi Total Factor Productivity Sektor Industri Nonpertanian di Indonesia

    No full text
    Industrial output could be increased through the productivity of factor production. The objective of this research are to analyze the Total Factor Productivity (TFP) and to investigate the factors that affect the TFP non-agricultural industry and each sub-sector (paper, chemicals, non-metal mining, basic metals, metal products). Econometric method is used to calculate TFP by regressing data of input and output from non-agriculture industry as an agregat and as sub-sector to get the Cobb-Douglas production function, and to analyze the factors that affect TFP calculated using Error Correction Model (ECM). The results show the largest average TFP found in industrial subsector of metallic goods while the lowest is at the basic metal industry. The factors that affect non-agricultural industrial TFP in the short term are industrial GDP and industrial domestic investment (PMDN). in the long run is affected by industrial foreign investment (PMA), PMDN, and imports of capital (M)
    corecore