23 research outputs found

    ANALISIS PERAN FKUB DALAM MERAWAT KERUKUNAN BERAGAMA MELALUI PENYELESAIAN KONFLIK RUMAH IBADAH DALAM PERSPEKTIF MULTIKULTURALISME WILL KYMLICKA

    No full text
    Skripsi dengan judul “Peran FKUB Dalam Merawat Kerukunan Umat beragama Melalui Penyelesaian Konflik Rumah Ibadah Dalam Perspektif Multikulturalisme Will Kymlicka” ini ditulis oleh Aura Fatimah Azzahro, NIM 126302211002, dengan pembimbing Dr. Akhol Firdaus, M.Pd. Kata Kunci: FKUB, rumah ibadah, multikulturalisme, Will Kymlicka, kelompok minoritas Konflik pembangunan rumah ibadah tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari tarik-ulur antara suara mayoritas dan kelompok minoritas yang sering kali tidak punya ruang untuk bersuara. Dalam situasi seperti ini, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) hadir dengan tugas menjaga hubungan antarumat beragama tetap harmonis. Namun menjadi penengah bukan berarti selalu berada di posisi yang netral atau adil. Penelitian ini melihat bagaimana FKUB Tulungagung menangani kasus penyendatan pembangunan gereja di Desa Moyoketen, dengan pendekatan yang cenderung lebih menekankan aspek administratif daripada substansi keadilan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi lapangan dan pustaka, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teori multikulturalisme Will Kymlicka digunakan untuk memahami dinamika tersebut. Bagi Kymlicka, keadilan tidak cukup hanya berdasarkan perlakuan yang sama, tetapi harus memberi pengakuan dan perlindungan khusus pada kelompok rentan. FKUB terlihat lebih fokus memenuhi persyaratan formal seperti jumlah tanda tangan, sementara ruang dialog terhadap aspirasi kelompok minoritas kurang mendapat perhatian. Penelitian ini memberi ruang refleksi bahwa membangun kerukunan tidak cukup dilakukan dibalik meja rapat dan aturan yang kaku. Diperlukan keberanian untuk mendengar suara kecil, dan berpihak pada mereka yang sering diabaikan. Sebab kerukunan sejati bukan sekadar absennya konflik, melainkan hadirnya rasa adil dalam relasi sosial yang sering kali tidak seimbang

    MENJAHIT KAIN PERCA: GUSDURIAN DAN KONSOLIDASI GERAKAN PLURALISME DI INDONESIA

    No full text
    The Gusdurian Movement is the embodiment of the normative ideals of Nusantara Islam which promotes tolerance and peace, justice and humanity. This idea became a manifestation of all ideas and actions of Gus Dur - Abdurrahman Wahid. It was his ideological fellows who later created this movement. In this presentation, the article aims to look again at the history and progress of Gusdurians in the contestation of religious life in Indonesia. I think this effort is important to be reviewed considering that there are many religious movements that against the real Islamic values such as tolerance,  peace, justice and humanity. The result shows that in the context of religious life, through interviews with various key figures in the Gusdurian Network and adequate content analysis, we come to understand that what Jaringan Gusdurians do is like sewing patchwork. They gathered key figures to make Indonesia a paradise for religious life that is friendly to all, rohmatan lil 'alamin. Key word: Gusdurian, Islam Nusantara, tolerance, peace, justice, humanity Gerakan Gusdurian adalah perwujudan cita-cita normatif Islam Nusantara yang mengedapankan toleransi dan perdamaian, keadilan dan kemanusiaan. Ide ini menjadi manifestasi dari seluruh pergulatan pemikiran dan sepak terjang Gus Dur—Abdurrahman Wahid. Adalah para pewaris ideologinya yang kemudian membidani lahirnya gerakan ini. Dalam paparan ini, artikel berupaya untuk melihat kembali bagaimana sejarah dan kiprah Gusdurian dalam kontestasi kehidupan beragama di Indonesia. Upaya ini saya kira menjadi penting untuk diulas mengingat akhir-akhir ini mulai menguat gerakan keagamaan yang memunggungi cita-cita Islam seperti toleransi dan perdamaian, keadilan dan kemanusiaan. Dan hasilnya dalam konteks kehidupan beragama yang seperti ini, melalui wawancara dengan berbagai tokoh kunci dalam Jaringan Gusdurian dan analisis konten yang memadai, kita jadi mengerti bahwa yang dilakukan oleh para inisiator Jarinan Gusdurian layaknya menjahit kain perca. Mereka mengumpulkan tokoh-tokoh kunci sebagai upaya untuk kembali menjadikan Indonesia sebagai surga bagi kehidupan beragama yang ramah bagi semua, rohmatan lil ‘alamin. Kata Kunci : Gusdurian, Islam Nusantara, toleransi, perdamaian, keadilan, dan kemanusiaa

    AGAMA AGEMING AJI: KEKAYAAN SPIRITUALITAS KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YME DAN TANTANGAN PENERIMAANNYA

    No full text
    Abstract This article presents the spiritual wealth developing in the archipelago. Using a historical approach, the spiritual wealth of the archipelago, particularly in Java, is highlighted as part of the mystical culture of sentesis that has developed over thousands of years. That is what gave birth to the variety of spiritual expressions that have developed to this day in what is known as the local religion or the Believers in Java and the Archipelago. This article also presents a distortion of understanding of this spiritual wealth due to the colonialism project which was normally continued by the post-independence government. The article was submitted in a clustered discussion organized by the Directorate of Beliefs and Indigenous Peoples with the title "Spiritual Wealth of Belief in God and the Challenge of Acceptance". Keywords: Spiritual Wealth; Indigenous/Local Religion; Mystical Synthesis; Colonialism; Marginalization of Local Religions

    GENDER AND ACADEMIA

    No full text
    Artikel ini mengupas gender dan akademia, diskrimiansi dan revitalisasi organisasi penghayat kepercayaan serta posisi mereka di tengah masyarakat. Artikel ini berargumen bahwa, kendati berada pada posisi terdiskriminasi, keluarga Penghayat mampumelestarikan ajaran luhur kepada generasi berikutnya sangat ditentukan oleh kemampuan perempuan. Banyak keluarga yang terbukti mampu mewariskan nilai luhur kepada anak-anak mereka dengan mengandaikan kekuatan perempuan. Kemampuan perempuan dalam menjalankan tugas pengasuhan dan sosialisasi, menjadi faktor kunci dalam melestarikan ajaran luhur mereka kepada generasi berikutnya. Keberadaan kelompok Penghayat yang terbukti ditentukan oleh peran perempuan dalam menjaga dan merawat ajaran luhur mereka. Keberadaan perempuan telah menjadi faktor penting bagi organisasi Penghayat dalam mengkonsolidasikan diri, kekuatan soft power perempuan telah menjadi faktor kunci pelestarian komunitas dan ajaran luhurnya

    SENSITIFITAS GENDER PADA BUKU POKOK STUDI DAN PENGAJARAN KURIKULUM 1994 SEKOLAH DASAR

    No full text
    Isu gender selalu berbicara atas nama ketimpangan dan pertentangan sosio- kultural. Akan tetapi pandangan konvensional patriarki sangatlah mapan sehingga akan menjadi penghalang bagi setiap usaha memutus berbagai ketimpangan relasi gender dalam masyarakat. Reposisi tersebut menjadi pilihan penulis dalam melakukan penelitian teks buku pendidikan yang berkaitan dengan ketimpangan gender. Pada penelitian ini penulis mengambil judul “Sensitifitas Gender Pada Buku Pokok Studi Dan Pengajaran Kurikulum 1994 Sekolah Dasar” dengan rumusan masalah: Apakah system nilai yang diwakili oleh kurikulum 94 berperan menjustifikasi ketimpangan gender atau sebaliknya berperan mentransfirmasi wacana gender?, Apa alternative yang bias dimanfaatkan oleh lembaga pendidikan bila hasil akhir penelitian ini menyimpulkan bahwa buku pokok Bahasa Indonesia kurikulum 1994 lebih mewakili konstruksi sistem sosial yang patriarkis?. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan buku pelajaran di Sekolah Dasar memang sengaja tidak diniatkan untuk memutus ketimpangan relasi gender karena dalam persepsi kerangka berfikir penguasaan ternyata penyusunnya tidak bias berartikulasi secara baik. Dengan demikian buku- buku pelajaran yang diterbitkan olek Depdikbud dianggap seksis dan misoginis (melecehkan peserta didik perempuan)

    KIDUNG DARMAWEDHA (Representasi Ajaran Memayu Hayuning Bawana)

    No full text
    Penelitian ini mengkaji Kidung Darmawedha, khususnya stanza ketiga yang terdapat dalam kitab primbon Atassadhur Adammakna, sebagai representasi dari ajaran Jawa Memayu Hayuning Bawana. Kidung ini, yang juga dikenal dalam pementasan wayang sebagai suluk Pathet Sanga Wantah, sarat dengan bahasa metaforis yang menggambarkan kosmologi Jawa. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi pustaka (library research), penelitian ini menerapkan teori metafora Paul Ricoeur untuk membongkar makna filosofis di balik lirik kidung yang alegoris. Analisis menunjukkan bahwa metafora "pohon kehidupan" dalam kidung ini tidak hanya sekadar hiasan linguistik, melainkan sebuah inovasi semantik yang meredefinisi realitas. Struktur pohon kosmik ini, dari akar (bayu båjrå), batang (wit buwana), hingga puncaknya (akasa), secara sistematis memetakan falsafah Sangkan-Paraning Dumadi (asal dan tujuan keberadaan), yang menjelaskan perjalanan jiwa dari dan kembali kepada Yang Tunggal. Lebih lanjut, visi kosmologis ini melahirkan mandat etis Memayu Hayuning Bawana, yaitu kewajiban manusia untuk secara aktif menjaga, merawat, dan memperindah keharmonisan alam semesta (bawana). Dengan demikian, kidung ini menyajikan sebuah pandangan dunia yang holistik, di mana pengetahuan ontologis tentang realitas dan kewajiban etis manusia menyatu dalam satu kebenaran utuh yang diekspresikan melalui citra puitis yang agung. Kata Kunci: Kidung Darmawedha, Metafora Paul Ricoeur, Memayu Hayuning Bawana

    REPRESENTASI NILAI SPIRITUALITAS MASYARAKAT BOJONEGORO DALAM TARI THENGUL SEBUAH KAJIAN ETNOKOREOLOGI

    No full text
    Abstract Thengul dance is cultural preservation of the motion of the Thengul wayang play, which is staged in the form of a dance. Thengul dance has become synonymous with Bojonegoro regency, and it is well known both locally and nationally. In this case, the Thengul dance created conventionally by combining the artist’s experience, resulting in a dance expression with symbols and meanings derived from the dance. This dance movement from the Thengul shadow puppet show is expressed in this way. This study was created to provide answer to yhe formulation of the problem regarding the representation of the spirituality value of the Thengul dance, that is how is the transformation of the thengul puppet play which is created in the form of a dance? Why is the Thengul dance able to represent the spirituality value of the Bojonegoro community? This study’s data was gathered using a qualitative method based on an etnochoreology approach. The goal of this reseach is to use an etnochoreology approach to broaden the understanding an representation of spirituality value of the Bojonegoro to community in Thengul dance, including the form of history, presentation, movement/accompaniment, and make-up/custume in the Thengul. Research findings in the form of, the existence of the Bojonegoro community can represent the spirituality value of the Bojonegoro community. “Thengul Jejer dance movement/march means that life must be harmonius, modest, or simple with other humans regardless of caste”. Keywords: Thengul Dance, Etnochoreology, Spirituality Value

    PENERIMAAN CROSS-GENDER PADA SINDEN JARANAN DI DESA SUMBEREJO KECAMATAN DURENAN KABUPATEN TRENGGALEK

    No full text
    Fenomena Cross-gender baik itu penari, penyanyi maupun teater masih memiliki citra diri miring di mata masyarakat. Kehadiran dari Cross-gender tidak selalu dipandang dalam sudut seniman namun lebih kepada sebuah penyimpangan. Cross-gender pada sinden jaranan mengalami konflik di keluarga maupun lingkungan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menilik mengenai fenomena cross-gender pada sinden jaranan yang ada di Desa Sumberejo Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek. Terdapat empat fokus penelitian yaitu: bagaimana pembentukan identitas dari cross-gender pada sinden jaranan? bagaimana kehidupan menjadi cross-gender pada sinden jaranan? bagaimana eksistensi cross gender pada sinden jaranan? bagaimana penerimaan cross gender pada sinden jaranan di masyarakat?. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Data serta analisis akan digunakan untuk menganalisa teori Identitas dan interaksionisme simbolik mengenai kehidupan, eksistensi dan penerimaan masyarakat mengenai hadirnya cross-gender pada sinden jaranan. Teknik Analisa data yang digunakan adalah model analisa interaktif yang meliputi empat komponen yaitu pengumpulan data, reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil yang ditemukan adalah cross�gender pada sinden jaranan mengalami pembentukan identitas secara nuture atau dipengaruhi oleh faktor sosial. Perilaku feminim yang ditampilkan di atas panggung merupakan sebuah bentuk dari penyaluran hobi menyanyi yang telah dimiliki sejak kecil. Proses sosialisasi (primer dan sekunder) yang kurang sempurna membentuk identitas baru bagi cross-gender pada sinden jaranan. Menjadi cross-gender bukanlah hal yang mudah, proses yang dilalui penuh dengan tantangan dari masyarakat. Asingnya gender ketiga bagi masyarakat membuat vi cross-gender pada sinden jaranan serta keluarga mengalami diskriminasi untuk beberapa waktu. Namun, ada pula masyarakat yang menerima keberadaannya sebagai pelaku seni. Citra yang dibangun oleh cross-gender pada sinden jaranan ini menunjukkan eksistensi dirinya serta membangun kesan yang baik bagi masyarakat sehingga untuk ke depan keberadaannya akan tetap diterima. Cross-gender pada sinden jaranan memiliki identitas yang berbeda ketika berada di atas panggung dan di belakang panggung. Hal itu menjadi salah satu upaya darinya untuk membangun citra yang baik

    PEMBENTUKAN SPIRITUALITAS PENGANUT SAPTA DARMA TULUNGAGUNG DALAM PERSPEKTIF ETIKA JAWA FRANZ MAGNIS SUSENO

    No full text
    Ketertarikan peneliti terhadap topik ini berangkat dari kegelisahan atas semakin terkikisnya spiritualitas dan etika lokal di tengah arus modernisasi. Kerohanian Sapta Darma menjadi salah satu ajaran yang tetap bertahan dan diamalkan oleh sebagian masyarakat di Tulungagung. Ajaran ini bukan hanya mengajarkan relasi spiritual dengan Tuhan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Etika Jawa yang luhur, seperti tepa selira, unggah-ungguh, dan nrimo ing pandum. Relevansi ajaran ini dalam konteks kekinian menarik untuk diteliti sebagai bentuk perlawanan terhadap krisis identitas budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses pembentukan spiritualitas penganut Sapta Darma melalui ajaran dan praktik keagamaannya serta bagaimana nilai-nilai Etika Jawa menurut Franz Magnis Suseno berperan dalam membentuk karakter spiritual para penganutnya. Fokus utama penelitian ini adalah menggali makna spiritualitas yang terbentuk dari integrasi ajaran lokal dan etika budaya Jawa. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatan spiritual warga seperti sujud keseharian, sujud sanggaran, dan sujud penggalian yang dilakukan di Sanggar Candi Busana Tulungagung. Data dianalisis secara tematik melalui teknik kondensasi, penyajian data, serta penarikan kesimpulan yang divalidasi melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas penganut Sapta Darma dibentuk melalui kombinasi antara laku spiritual dan penghayatan terhadap nilai-nilai etika Jawa. Integrasi ini membentuk karakter religius yang rendah hati, inklusif, dan harmonis. Etika Jawa tidak hanya hidup sebagai kearifan lokal, tetapi juga menjadi fondasi spiritualitas yang kontekstual dan relevan dalam kehidupan modern
    corecore